Terhempas Badai (Dua: Kegemparan Bermula)

Dua : Kegemparan bermula

Dua puluh tahun memendam rindu, ya, hampir dua puluh dia yang diliputi keselamatan dan kesejahteraan telah pergi dari suka duka kehidupan dunia. Derita kehilangan masih mendera hati-hati kami. Utusan Tuhan semesta yang mengasihi kami telah menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang, ia meninggalkan kami agar kami dapat membuktikan pada dunia keabadian kasih sayangnya.

Ia manusia terpuji, semesta menyebut namanya, Sang Terpuji. Kehidupan dizamannya bukanlah kehidupan kesenangan, hidup bersamanya adalah gelombang masalah yang kemudian dapat ia selesaikan sesuai kemampuan manusia. Keistimewaannya adalah ketika kebijaksanaannya sanggup menuntun manusia melaksanakan kehendak langit dengan sederhana dan mudah diikuti.

Aku menyaksikan keputusan-keputusan kontroversial yang tidak disenangi pernah terjadi di zamannya. Kadang keputusan itu tidak memuaskan penghuni Madinah yang tak beriman padanya, dan pernah pula keputusannya membuat berduka keluarga-keluarga Madinah yang beriman padanya. Tapi itu semua bukan keputusannya sendiri, bukan berdasarkan hawa nafsunya. Ia adalah pembawa pesan Tuhan yang Maha Adil Maha Bijaksana.

Di suatu ketika tatkala luka uhud belum mengering, Yahudi Bani Nadhir akan mendapat hukumannya. Bani Nadhir melakukan pengkhianatan tak termaafkan. Bani Nadhir adalah bagian utuh masyarakat Madinah. Kami dengan mereka berbeda keyakinan, tapi telah bersumpah setia untuk membela tanah air yang sama, saling membantu dalam menghadapi permasalahan bersama.

Adalah seorang pria muslim Madinah membunuh dua orang lelaki yang telah dalam perlindungan Rasulullah. Denda untuk kasus pembunuhan (diyat) harus dibayarkan oleh kami penduduk Madinah pada keluarga korban. Denda yang sangat besar dimana denda untuk satu orang terbunuh adalah sejumlah 100 ekor unta, dan kesalahan seorang Muslim bernama ‘Amr Bin Umayyah harus kami tanggung bersama.

Rasulullah datang tak bersenjata menemui para pemimpin Bani Nadhir untuk meminta bantuan. Hari itu hari sabtu, ketika mulut manis kaum Yahudi menyatakan kesediaan untuk membantu pembayaran diyat, tetapi ternyata mereka menyiapkan perangkap pembunuhan terhadap Rasulullah. Niat busuk yang segera tersingkap, ketika malaikat jibril mengabarkan kebusukan para pemimpin Bani Nadhir. Mereka hendak menghantam kepala Rasulullah dengan batu, yang mereka lemparkan dari lantai dua tepat diatas kepala Rasulullah saat duduk bersama mereka. Rasulullah menyingkir dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi.

Selamat dari rencana pembunuhan, Rasulullah mengutus Muhammad Bin Maslamah kepada mereka untuk membacakan sebuah ultimatum, bahwa komunitas Bani Nadhir harus keluar dari Madinah. Waktu yang diberikan untuk persiapan adalah 10 hari. Sesudah sepuluh hari, maka siapapun Bani Nadhir yang masih terlihat dirumahnya akan dihukum kehilangan nyawanya,

Ahh, Bani Nadhir, semestinya mereka tak semena-mena pada sesama penghuni Madinah, tidak melakukan pengkhianatan dengan melakukan rencana pembunuhan pada pemimpin kami. Tak ada lagi yang dapat diharapkan dari tetangga yang senang berkhianat, siapakah yang mau bertetangga dengan jenis manusia demikian? tatkala mereka ada disamping kita dan kita tak mendapatkan rasa aman atas kehormatan, harga diri, harta dan nyawa.

Abdullah bin Ubay hampir membuat perang pecah, ketika ia melakukan propaganda bahwa Bani Nadhir tak sendiri, ada ia dan pasukannya, lalu Bani Ghaththafan dan Bani Quraizhah yang siap mengangkat senjata demi keberadaan Bani Nadhir didalam kota Madinah. Sepuluh hari hampir berlalu tatkala Bani Nadhir tak menjumpai siapapun datang untuk mengokohkan keberadaan mereka di kota Madinah. Rasa takut mulai menyergap, apalagi Rasulullah dan pasukannya telah mengepung perkampungan Bani Nadhir.

Hiruk pikuk terjadi didalam perkampungan, pun dirumah-rumah kaum anshar. Banyak wanita-wanita anshar gelisah, anak-anak mereka berada dibalik benteng Bani Nadhir. Merupakan adat turun temurun anak-anak dari suku Aus dan Khazraj disusukan oleh wanita-wanita Yahudi, termasuk oleh wanita-wanita Bani Nadhir. Banyak pemuda Aus dan Khazraj memiliki kedekatan psikologis pada kabilah-kabilah yahudi, bahkan mengikuti agama mereka. Hingga ketika ultimatum mencapai masanya, bumi Madinah dihujani tangisan wanita Anshar yang anak-anak mereka memilih ikut keluarga susuan meninggalkan Madinah.

Hari itu diperkampungan Bani Nadhir asap mengepul dimana-mana, pohon-pohon kurma diluar benteng ditumbangkan dan dibakar. Seorang wanita berusaha menarik anaknya dari rombongan Bani Nadhir yang terusir. Anak itu meraung menolak tarikan ibunya. Keluarga perempuan itu mendatangi Rasulullah, ia mengadu “anak-anak kami, bagaimana anak-anak kami wahai Rasulullah? Mengapakah mereka ikut terusir bersama keluarga susuannya?”

Lalu datang keluarga lainnya dan lainnya, mencoba memaksa anak-anak mereka tinggal dikota Madinah. Keadaan yang semakin bertambah kacau ketika kobaran api yang semakin menyala-nyala dan suara pohon-pohon yang ditebang terhenti sejenak. Kaum yahudi Bani Nadhir melancarkan propaganda ditengah-tengah kegentingan.

Pohon-pohon kurma yang ditebang dan dibakar adalah suatu strategi pengepungan, ketika benteng-benteng mereka dikelilingi rimbunnya pohon-pohon kurma. Mereka mengirim juru bicara-juru bicara yang pandai bersilat lidah. Rasulullah mengeluarkan suatu perintah umum, agar pohon-pohon yang mesti ditebang, ditebang saja. Pelaksanaannya berbeda-beda, orang semisal Abdullah Bin Salam memperhatikan dua hal dalam penebangan pohon kurma yaitu letak dan jenis pohon, ia menebang pohon selain kurma ‘ajwah, ia berniat bahwa kurma ‘ajwah sebagai kurma terbaik harus dapat dinikmati kaum muslimin. Abu Laila memiliki timbangan yang sama, yaitu posisi pohon dan jenis pohon, namun ia justru menebang kurma ‘ajwah, tujuannya adalah agar hati orang-orang yahudi hancur melihat pohon-pohon yang mereka cintai rusak dan hangus terbakar. Jika demikian berat kecintaan orang-orang Yahudi pada kemegahan dunia, maka lebih besarlah kecintaan kami pada Rasulullah, mereka harus merasakan kepedihan yang bersemayam didalam hati kami jika rencana mereka membunuh Rasulullah berhasil.

Juru bicara propaganda bekerja ditengah kekacauan, mereka menebar issue bahwa kaum muslimin menyukai kerusakan, tidak mencintai lingkungan. Mereka berkata pembangunan dan perbaikan dikalangan ummat islam sekedar slogan semata. Propaganda yang berhasil ketika seketika pandangan dilayangkan ke seluruh area, tampak kerusakan dimana-mana. Hati kaum mukmininpun melemah, lalu kami menjadi berbantah-bantahan satu sama lain, satu pihak membenarkan perkataan orang Yahudi, dan pihak lainnya menyatakan ini adalah strategi menghancurkan musuh hingga kedasar kecintaan dan kebanggaannya.

Pemandangan yang semakin menyayat hati ketika disisi lain, jerit tangis wanita-wanita anshar meratapi pilihan anak-anak mereka, yang lebih memilih turut serta terusir dari kampung halaman.

Dalam kegelapan kepulan asap dan kesesakan dada, Rasulullah membawa keputusan Allah yang adil bagi kami. Penebangan pohon ataupun meninggalkannya tetap kokoh berdiri keduanya adalah diperbolehkan. Perintah Allah yang semakin membuat murka orang-orang yahudi dan membuat mereka memiliki amunisi yang semakin banyak untuk memperolok-olok kami.

Lalu keputusan bagi anak-anak anshar yang memilih terusir adalah tiada paksaan dalam beragama, ayat yang menorehkan duka dan menyedot seluruh pemahaman. Bagi kabilah-kabilah arab seorang anak sangat berharga, dan kini ratusan kesetiaan terlepas dari ikatan rahimnya. Keadilan kadang meninggalkan jejak kepedihan dalam jiwa, semoga upaya hati-hati manusia menyembuhkan kepedihan yang terjadi akibat tegaknya keadilan adalah sesungguhnya limpahan pahala dari Yang Maha Kuasa bagi jiwa-jiwa yang lemah dan penggugur dosa-dosanya.

Situasi yang demikian selalu berulang terjadi, dizaman ayahku, dizaman Amirul Mukminin Umar, dan kini dimasa dua cahaya. Lima tahun pertama kepemimpian Utsman Bin Affan seolah tanpa permasalahan kontroversi yang demikian, dan kini perjalanan waktu seakan telah mengantar kepada awal suatu kegemparan besar. Ya, aku telah berfirasat bahwa apa yang terjadi hari-hari ini adalah awal kegemparan.

Seorang wanita Juhainah melahirkan sesudah 6 bulan pernikahannya. Suaminya mengajukan tuntutan dan tuduhan atas kesucian istrinya. Khalifah Utsman telah memutuskan hukuman rajam bagi wanita itu. Berita akan keputusan yang kemudian menjadi gunjingan seantero kota, dan ketika permasalahan sampai ditelingan Ali dan Ibnu Abbas, suasana kontroversi semakin menjadi-jadi. Ali yang tidak mendengar langsung dari Sang Dua Cahaya pemimpin Kaum Mukminin segera bergegas menuju tempat eksekusi rajam, dan semua itu telah terlaksana. Ketika disisi lain Utsman pun mendengar pendapat Ibnu Abbas yang sama dengan pendapat Ali. Keduanya berkata bahwa waktu hamil dan menyusui itu adalah 30 bulan, dan al Qur’an menyebut bahwa kesempurnaan menyusui adalah 24 bulan, berarti sesingkat-singkatnya hamil adalah 6 bulan. Maka tidak bisa semena-mena dilayangkan tuduhan perzinahan bagi wanita yang mengalami kehamilan hanya 6 bulan setelah hari pernikahannya.

Situasi gaduh dalam perbincangan di masyarakat terjadi, apalagi saudari perempuan yang dirajam itu berkata bahwa saudarinya bersumpah, hanya suaminyalah satu-satunya lelaki yang pernah menyentuhnya, dan sang bayi yang telah berusia 2 tahun menampakkan tanda-tanda bahwa ia akan sangat mirip dengan ayahnya. Nyatalah di masyarakat bahwa keputusan Khalifah Utsman adalah keputusan kontroversi.

Aku meyakini ini adalah suatu pertanda akan tuduhan-tuduhan yang tidak benar pada khalifah Utsman, kritikan dan celaan atas keputusan-keputusan sang Dua Cahaya akan banyak didengar dan digunjingkan. Saat itu telah tiba, dan ini adalah awalnya, disinilah kegemparan bermula.

Advertisements

Para Pencerabut Keberkahan

Saat tak semua mata memiliki kekuatan yang sama
Saat Rasionalitas meraja, dan mereka para pengindera keajaiban tak lagi didengar kisah-kisah uniknya
Itulah masa berjayanya para pencerabut keberkahan.

Ada kekecawaan mendalam dimata Abu Hurairah kepada para Pencerabut Keberkahan
Kantung kurma ajaibnya telah terjatuh
Kantung kurma yang telah sanggup membuatnya berderma lima belas juta liter kurma
Semuanya adalah derma bagi keluhungan agama Islam, derma untuk menggapai cinta Allah.

Kantung kurma yang ikut terkulai bersama terbunuhnya Sang Dua Cahaya
Ketika malaikat-malaikat pengusung keberkahan tak sudi lagi memenuhi kota Medinah, kota cahaya.
Hingga malaikat penjaga kantung ajaib Abu Hurairah turut pergi, kembali ke langit tinggi

Tugas malaikat-malaikat keberkahan itu telah selesai tepat disaat para pencerabut keberkahan menusuk-nusuk Sang Dua Cahaya di urat-urat nadinya, hingga hampir-hampir saja seluruh malaikat keberkahan meninggalkan Madinah, andai Nailah tidak berhasil mencegah Para Pencerabut keberkahan memenggal kepala Sang Dua Cahaya.

Nailah, jeritannya di subuh itu telah menyelamatkan kepala mulia milik Sang Dua Cahaya,
Lengkingan yang membuat beberapa sudut kota Madinah masih dijejaki malaikat keberkahan.

Abu Hurairah bersenandung lirih menyaksikan kerobohan rumahnya :
Tiga keburukan besar yang menimpa hidupku
Telah terjadi semuanya
Adalah keburukan bagiku saat aku menyaksikan wafat Rasulullah
Betapa celaka aku ketika Sang Dua Cahaya terbunuh dan aku ada di dekatnya
Lalu keburukan ketiga tak ingin lagi menunda kedatangannya
Kantung kurma ajaib telah terjatuh dan terbang entah kemana

Senandung yang mengingatkan pada suatu peristiwa kelaparan
Hari itu kami tak memiliki apa-apa
Kelaparan tengah melanda
Ketika Rasulullah bertanya pada Abu Hurairah : “apa yang kau miliki?”
ABu Hurairah lalu datang dengan kantung berisi beberapa biji kurma
Rasulullah lalu memasukkan tangannya kedalam kantung
dan yang keluar adalah segenggam kurma
Rasulullah lalu meminta ABu Hurairah memanggil sepuluh tentara
Para tentara itu melahap kurma hingga mereka kenyang

Lalu Rasulullah memasukkan kembali tangannya kedalam kantung
dan mengeluarkan segenggam kurma, kembali memanggil sepuluh tentara, terus demikian hingga seluruh anggota pasukan tak lagi kelaparan

Sejak hari itu, kantung ajaib yang diberkahi itu tak pernah berhenti mengeluarkan kurma
Hingga ia sampai pada takdirnya di hari ini, tugasnya telah selesai.
Takdirnya hingga Sang Dua Cahaya menghembuskan nafas terakhirnya

Terhempas Badai – 50 (Rasa Takut yang Berguna)

Lima Puluh : Rasa Takut yang Berguna
    Pembicaraanku dengan Hafshah belum selesai ketika Ibnu Umar datang, wajahnya gusar, kegusaran yang tidak akan ditangkap banyak orang, namun selalu aku lihat, ia yang tidak pernah bisa memutuskan untuk berada di pihak mana. Keberpihakannya adalah hanya pada rangkaian kata-kata Rasulullah yang terhujam dalam pikiran dan hatinya.
    Tapi itu semua sesungguhnya adalah puzzle yang belum tersusun dengan rapih, seringkali kita menemukan dibagian mana sesungguhnya satu kata dari baginda Rasulullah harus diletakkan dan dipergunakan dalam kehidupan justru ketika kesalahan telah dilakukan. Kesalahan demikian telah dirasakan dengan mendalam oleh adikku, Aisyah. Semua ucapan-ucapan Rasulullah tentang rentetan peristiwa mulai dari terbunuhnya Khalifah Utsman hingga fitnah-fitnah yang terjadi sesudahnya tak dapat dipahami Aisyah kecuali setelah semua terjadi. Duhai penyesalan yang tidak pernah menjadi pembuka suatu peristiwa.
    Dan kini Ibnu Umar, Ia yang seakan tidak menunjukkan sikap apa-apa pada setiap peristiwa yang terjadi. Berdiam saat peristiwa Jamal, hening saat peristiwa Shiffin. Kini keadaan memuncak. Awan telah teramat hitam pekat dan berat, siap memenuhi bumi dengan tetesan-tetesan yang bisa jadi adalah justru kucuran darah. Ia datang pada Hafshah bertanya dengan tatapan yang menggambarkan “apa yang harus aku lakukan?”
    Kami semua telah mengetahui bagaimana Hasan putra Ali akan bersikap, penghulu pemuda surga itu lebih mencintai akhirat. Kata-kata Hasan telah membuat Habib menyadari batas-batas keberpihakan. Ia mencintai Muawiyah, sangat.
    Bagi Habib, Muawiyah adalah sesosok pemimpin yang melahirkan kemenangan, ketajaman menganalisa dan memutuskan, seluruh kelihaian Bani Umayyah tertumpah pada pribadi Muawiyah. Jika tanah mesir bangga dengan para Fir’aunnya, kedigjayaan Romawi kagum dengan para Kaisarnya, bumi Persia takjub dengan para Kisranya, maka Muawiyah adalah jelmaan semua harapan dan mimpi bangsa arab akan karakter pemimpin.
    Habib selalu mengingat ejekan-ejekan orang Persia bagi bangsanya, bangsa arab. Saat itu ia baru berusia lima atau enam tahun, udara Mekkah masih diliputi api permusuhan pada baginda Rasul, ia melihat bagaimana kafir Quraisy ketika itu menyiapkan pasukan perang Parit.
    Habib bertanya-tanya akankah kota kosong, semua ingin menyerbu kota kecil di utara Mekkah, mengapa? Pertanyaan yang menghantarkannya mengenal sosok Rasulullah, orang yang meniupkan udara kedigjayaan. Suatu kedigjayaan atas nama Allah yang diliputi kesetaraan dan keadilan. Bahwa kota-kota Persia akan ditaklukan, bahwa kota-kota Romawi akan ditaklukan.
Mungkinkah?
    Sementara orang-orang Thaif jika bercakap di kedai-kedai kopi mereka mengisahkan perjalanan Harits bin Kildah ke Madain di negeri Paris, Harits seorang dokter arab dari Thaif yang bisa menjumpai Kisra Anusyirwan.
“apa pekerjaanmu?” Kisra bertanya
“aku seorang dokter” Harits menjawab
“Bukankah kamu seorang arab kampung?” Kisra keheranan dengan jawaban Harits
“ya, aku orang arab kampung, dari jantungnya arab kampung” Harits tetap menjawab dengan tenang
“memangnya orang arab menghormati profesi dokter, mereka kan bodoh, lemah akal, makan makanan yang tidak bergizi, bagaimana?”
    Ucapan yang seharusnya sudah membuat Harits naik pitam, tapi kisah ini pun selalu kukenang, akupun mendengarnya dari orang-orang Thaif yang bangga dengan cara Harits menghadapi kepongahan Kisra. Jika kisah yang Habib dengar sama dengan seperti yang aku dengar maka kelanjutannya akan seperti ini
“Wahai tuan raja, jika benar orang arab memiliki sifat-sifat seperti yang engkau katakan, maka mereka sangat memerlukan kehadiran dokter yang akan mengobati kebodohannya, meluruskan kebengkokannya, serta membimbing jiwa dan raganya. Sesungguhnya seseorang yang berakal akan mengetahui hal-hal yang benar dan baik dengan sendirinya, mengetahui letak-letak penyakit dan menyembuhkannya sendiri, dan demikianlah orang pintar mengatur segala sesuatu untuk dirinya sendiri”
Kisra Anusyirwan terbelalak kagum dengan ucapan Harits, ia lalu berkata
“bagaimana kamu bisa mengetahui hal-hal yang engkau sebutkan, bukankah kebijaksanaan tidak cocok berada pada tempat-tempat kebodohan?”
Harits masih memiliki kata-kata untuk menjawab : “Akal dan kecerdasan adalah pemberian Allah, ia dibagi-bagi sebagaimana rizqi dibagi-bagi, maka ada suatu bangsa yang secara umum mereka digjaya, tetapi kita tetap saja akan menemukan adanya diantara mereka berbagai tipe manusia, kalangan pandai, kalangan kaya, kalangan miskin dan kalangan bodoh, ada kalangan kuat dan ada kalangan lemah. Semua itu adalah ketetapan dari yang Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.
“wow, wow, wow, eloknya yang engkau katakan, lalu apa yang engkau banggakan sebagai orang arab?” Kisra menyelidik
“mereka adalah bangsa yang dermawan, memberikan seluruh apa yang dimiliki, bangsa yang jelas dan benar nasabnya, bangsa yang fasih bahasanya, dan lisan yang tepat sasaran dalam menyampaikan, tutur kata mulia yang lebih lembut dari terpaan angin musim semi. Bangsa yang tiada gentar dalam peperangan, tekad yang tidak pernah menciut jika telah dipancang, hingga tiada yang sanggup melewati batas-batas kehormatannya, dan tidak dihinakan orang-orang mulianya”
    Kisra Anusyirwan terdiam dan mengakui semua ucapan Harits, lalu mereka bercakap-cakap tentang ilmu kedokteran, maka Harits mendapat tempat terpuji dimata Kisra.
    Kisah ini kudengar dihari-hari beliaku di Mekkah, apa yang Habib pikirkan bisa jadi adalah seperti yang aku pikirkan sewaktu aku mendengar kisah ini, ilmu, ilmu dan ilmu. Tiada jalan kesetaraan dengan bangsa-bangsa kecuali dengan ilmu. Lalu semua itu ada pada diri Muawiyah. Ia telah mengaguminya sejak masa kecilnya.
    Penaklukan Mekkah adalah kebingungan bagi Habib kecil, apa makna semua kemenangan baginda Rasul dan para pengikutnya? Habib tak mengerti.
    Habib menyaksikan bahwa idola kecilnya, Muawiyah mengucap dua kalimat syahadat, persaksian akan adanya satu sembahan dan adanya utusan Tuhan. Ini keimanan.
Keimanan, suatu titik yang hingga hari ini masih menjadi kubu ekstrim dalam pikiran dan hati Habib. Pikiran Habib didalamnya ada tiga sisi : keimanan, ilmu dan kekuasaan.
    Hasan dan Habib selepas Shiffin, mereka bertatapan tajam. Kata-kata Hasan sudah dapat dipastikan mengganggu pikirannya, titik-titik keimanannya tepat dikenai kata-kata Hasan.
    “Seseorang berjalan, tanpa terasa berjalan di jalan tidak ta’at pada perintah Allah dan RasulNya” Hasan membuka kata
    “Sungguh, apa yang aku lakukan dengan memerangi ayahmu, bukanlah dalam jalan ketidak ta’atan pada Allah dan RasulNya” Habib menjawab antara yakin dan tidak.
    “hei, hei, hei, wahai Habib, bagaimana kau berkata tidak, sedangkan engkau menta’ati Mu’awiyah untuk urusan dunia, tidakkah kau mengerti akan sifat urusan dunia? Kelak Engkau adalah orang yang sebagaimana ayat ini gambarkan “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(At taubah : 102). Adapun dirimu hari ini adalah sebagai mana yang ayat ini gambarkan : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (Al Muthaffifin : 14)
    
    Ohh, Hasan, engkau berhasil merubah warna wajah Habib, tetapi kau tidak dapat merubah rasa cinta Habib pada Muawiyah. Dari bincangmu dengan Habib justru kami telah dapat mengira apa yang akan engkau putuskan, tentang ini, tentang kepemimpinan yang kini ada dipundakmu.
    Dan kini, disini, Ibnu Umar menatap kakak perempuannya tertua, menatap Hafshah dalam-dalam. Berdiri tegak dalam rapuh, dengan beribu tanya diwajahnya.
“Pergilah, sesungguhnya orang-orang menunggumu, aku khawatir tatkala engkau lagi-lagi terdiam tak memperlihatkan batang hidungmu, maka kesatuan yang didepan mata akan terpecah kembali”
    Ibnu Umar tak beranjak, ia hanya menatap Hafshah, dan Hafshah tak berhenti mengucapkan kata-kata yang sama.
“Pergilah, sesungguhnya orang-orang menunggumu, aku khawatir tatkala engkau lagi-lagi terdiam tak memperlihatkan batang hidungmu, maka kesatuan yang didepan mata akan terpecah kembali”
    Airmata tanpa terasa membasahi pipi-pipi kami, ini adalah keputusan yang sangat berat, 30 tahun berlalu sejak baginda Rasul wafat, kata-katanya akan menjadi kenyataan. Kami menyaksikan dan tidak dapat berbuat apa-apa. Syarat apapun yang disampaikan Hasan pada Muawiyah, tidaklah akan merubah makna hari ini. Detik bergantinya corak kepemimpinan.
    Ibnu Umar membalikkan badan, langkahnya tak pasti, ia harus menelan pil pahit atas sikap-sikapnya terdahulu. Sifat takdir yang semakin dipahaminya.
    Lalu bagaimana dengan putra-putraku, bagaimana putra-putra az Zubayr yang lainnya? Mereka tak akan bisa memahami Muawiyah sebagaimana Habib mencintainya. Abdullah tidak pernah mengenal rasa tidak percaya diri bangsa arab. Ia adalah putra tanah cahaya. Harga dirinya ditegakkan dengan kebenaran islam. Siapa yang layak memimpin adalah siapa yang Allah restui, jalan-jalan menegakkan kepemimpinan yang benar sangat jelas dihadapannya. Sumber kebenaran itu dari Allah, kekuatan itu dari Allah. Selera manusia dalam kepemimpinan bisa benar dan bisa salah, maka tidak bisa mengikuti selera manusia.
    Sepertinya peristiwa yang menimpa Abu Al Hasan dalam kepemimpinannya, belum dapat dicerna dengan benar oleh Abdullah. Ali adalah gerbang ilmu, tapi ternyata tidak cukup menjadi perayu manusia untuk ta’at dan tunduk padanya.
    Adapun Muawiyah, segalanya seakan berkumpul padanya, ilmu, kekuasaan, keimanan. Tiada sulit baginya menaklukan hati manusia hingga bisa menguasainya. Rahasia kekuasaan yang perlu dipelajari seorang pemimpin.
    Air mata masih membanjiri pipi-pipi kami, Diwaktu itu sewaktu pulang haji, ditahun Utsman terbunuh, hampir-hampir saja aku dan Hafshah ikut serta bersama Aisyah, melaju ke medan Jamal. Kata-kata keras dari Ummu Salamah menyelamatkan kami dari terhempas dalam badai, dan kamipun teringat pada ucapan Aisyah yang menyayat-nyayat jiwanya “seandainya aku telah diwafatkan sebelum peristiwa Jamal”, tangis yang semakin menjadi menghadapi kenyataan bahwa ujung semua kegaduhan ini adalah lahirnya raja yang memimpin ummat Islam. Beginilah ternyata kelahirannya.
    Sekonyong-konyong Ibnu Umar telah kembali berada di ruangan ini bersama kami, kehadirannya baru kami sadari tatkala pintu diketuk dengan cukup keras. Habib datang mengikuti Ibnu Umar dan Hafshahpun masuk ke kamarnya.
    Habib memeluk Ibnu Umar, ada kekaguman dimatanya.
    “Wahai putra al Faruq, aku tahu engkau ingin mengatakan sesuatu, kenapa kau tidak menjawab pidato Muawiyah sebagaimana yang ia minta?” Habib menyelidik
    Ibnu Umar menghela nafas panjang
“kata-kata itu hampir keluar dari kerongkonganku, aku akan berkata : “wahai Muawiyah sesungguhnya yang lebih berhak dalam urusan kepemimpinan ummat Islam adalah orang-orang yang memerangimu dan memerangi ayah dan kakekmu dengan alasan islam” tapi aku takut mengucapkan kata-kata yang memecah belah kesatuan, kata-kata yang menumpahkan darah, dan orang-orang memahamiku secara salah. Maka aku mengingat surga dan apa-apa yang Allah janjikan”

ujung terhemas badai ….. bismillah

Terhempas Badai (Empat_ Kata-kata Sang Ilmu Pengetahuan)

Empat : Kata-kata sang ilmu pengetahuan

 

Cyprus yang ditaklukan, armada laut pertama yang dimiliki kaum mukminin berhasil dengan gilang gemilang. Aisyah berbahagia karena akhirnya ia menerima kabar tentang komentar Abu Darda pada penaklukan Cyprus. Sesuatu yang ia tunggu dua tahun lamanya sejak penaklukan Cyprus.

Abu Darda berkata saat Cyprus ditaklukan : “Ini adalah pemandangan yang tak menyenangkan bagiku, tetesan air mata tak kuasa kutahan, ketika jeritan dan rintihan memenuhi angkasa Cyprus. Para tawanan yang diseret-seret, perbudakan adalah masa depan mereka. Demikianlah nasib kesudahan bangsa yang melalaikan urusan Allah, mereka adalah bangsa kuat yang sanggup memakmurkan bumi, dan kini kelalaian pada hukum Allah menjadikan mereka bangsa yang diperbudak, bangsa yang Allah tak akan lagi menggunakan mereka untuk memperjuangkan kalimatNya”

Aisyah lalu memandangku dan berkata : “Wahai Asma, lihatlah potongan kalimat terakhir ini : bangsa yang Allah tak akan lagi menggunakan mereka untuk memperjuangkan kalimatNya. Tentang kita Asma, tentang bangsa Quraish bangsa Arab, Allah telah memberikan kemuliaan menjadikan manusia terbaik pilihannya berasal dari kita, bilakah tiba atau akankah datang masa ketidakpedulian pada urusan Allah menimpa bangsa kita?”

Aku tersenyum menjawab Aisyah : “Bagaimana dengan perkataan Rabbku : “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian, dan Aku telah ridhai islam menjadi agama kalian”

Mata Aisyah semakin mengerucut, dan menjawabku : “bagaimana dengan ayat ini: Dan hari kekuasaan itu dipergilirkan diantara manusia”

Aku menatap Aisyah, dalam hati kuberkata  ini adalah sesuatu yang sesungguhnya tiada bercampur aduk, “Wahai putri ayahku, yang dimaksudkan Abu Darda adalah tentang perbudakan, suatu bangsa besar seperti bangsa Yunani diperbudak. Jika bangsa arab sudah tak peduli lagi akan urusan Allah mungkin saja itu terjadi. Kekuasaan adalah satu sisi yang lain,  adapun ia adalah Allah pergilirkan sebagai ujian pada tiap-tiap ummat”

“Wahai Asma, tempat, waktu, manusia, kenapa Umar melarang Abu Darda tinggal di Homs dan menyuruhnya melakukan perjalanan hingga Damaskus dan menetap disana?”

“Lihatlah keseluruhan surat Umar, semoga Allah menyayanginya, pada Abu Darda. Kemampuan kita menempatkan suatu teks pada tempat dan waktu yang benar adalah hal yang dapat menjaga keberkahan hidup. Homs, kota tua, yang bangsa romawi menghiasnya dengan hiasan dunia. Lalu Allah telah mengizinkan kehancurannya. Abu Darda belum memilik sensitifitas seperti Umar, ketika ia menghias rumahnya dengan pagar dan sangkar-sangkar. Orang seperti Abu Darda tidak boleh melakukan yang demikian di kota Homs, ia mengundang kerusakan”

“Jadi benar adanya sikap Sa’id bin ‘Amir al Jumahi saat menjadi walikota Homs, hidup dalam kesederhanaan tanpa simbol-simbol kemegahan dan kedigjayaan”

“Lalu kita lihat kota Damaskus, dan apa yang Muawiyah lakukan di kota itu adakah teguran Umar sang pembeda kebenaran dan kebathilan yang dialamatkan pada Muawiyah”

“Ya, demikian yang aku pikirkan, tentang wahyu Allah dan sunnah baginda Rasulullah SAW, bagaimana keduanya dalam ruang, waktu, dan manusia, hingga manusia tidak tersesat dalam kehidupan” Aisyah mengangguk-angguk

Aku memperhatkan Urwah yang ada bersama kami, ia menyimak setiap perkataanku dengan bibinya, aku tahu sesungguhnya Aisyah telah mengetahui semua yang aku ungkapkan, ia hanya mengkonfirmasi pemikiranku, dan aku senang hati memperlihatkan ini semua didepan Urwah.

“Wahai Asma, aku mau bertanya padamu tentang satu hal lagi, saat itu saat kau katakan bahwa Abu Darda akan keluar dari Cyprus dengan selamat, bahwa ia berada pada garis takdir penjaga Al Qur’an dari Bani Khazraj, sesungguhnya apa yang engkau maksudkan?”

“lihatlah pada Aus, garis takdir mereka adalah Syahid, empat syuhada istimewa mereka miliki : Sa’ad Bin Mu’adz dimana arsy bergoncang dengan syahidnya, ada Hanzhalah bin ABi ‘Amir, dimana malaikat memandikan jenazah tubuh syahidnya, ada ‘Ashim bin ABi Tsabit, dimana daging tubuhnya terjaga dari pembusukan, Khuzaimah bin Tsabit, dimana syahidnya dihitung sebagai kesyahidan 2 orang, mendapat pahala dua orang syuhada”

Aisyah meandangku seakan berkata tak usah diteruskan aku mengerti sekarang “ya, ya, ya, dan suku Khazraj memiliki garis takdir para penjaga al Qur’an yang teristimewa, ada Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zayd bin Tsabit, dan tentu saja suami Ummu Darda sang ilmu pengetahuan”

Suara Barirah memecahkan percakapan kami, ketika ia datang dengan berita membumbungnya ilmu ke angkasa hingga tak menjejak bumi lagi, Ubay Bin Ka’ab telah wafat. Berita yang membuat Aisyah meneteskan air mata.

“Ubay, wahai Asma, Ubay, lelaki yang namanya disebut oleh Allah. Aku melihat bagaimana bergetarnya kaki Ubay saat baginda Rasulullah menyampaikan bahwa Allah memerintahkannya agar mengajarkan surat al Bayyinah pada Ubay. Ubay meyakinkan pada Rasulullah :”Allah menyebut namaku?” Rasulullah menjawab “Ya”, Ubay menangis sejadi-jadinya, Tuhan semesta alam menyebut nama Ubay didepan utusannya terkasih”

Kami menanti berita berikutnya tentang shalat bagi jenazah Ubay, Aisyah lalu bertanya padaku tentang lamaran Abdullah bin Abi Rabi’ah al Makhzumy pada Khadijah putriku.

“Wahai Asma, Sudahkah ada kabar tentang kepulangan wali-wali Khadijah, siapakah yang akan datang lebih dulu?’

“Semuanya akan hadir dan menyaksikan pernikahan Khadijah. Aku mendapat kabar az Zubayr akan tiba dua hari lagi, dan saudara-saudara lelakinya nanti malam”

Aisyah lalu memanggil Barirah

“Wahai Barirah berita apa yang kau bawa dari rumah Utsman? Apa yang Utsman katakan akan pertanyaanku tentang istri barunya”

“Ohw Aisyah, bersaing dengan wanita arab Kilabiyah dari Iraq” aku meledek Aisyah

“Wahai Asma, ini tentang Amirul Mukminin, dengan gadis belasan tahun dari Iraq, seorang Nashrani yang kini telah masuk islam”

“Dan engkau gadis kurang dari belasan tahun mendampingi seorang manusia pilihan, seorang nabi yang mendapat wahyu dari Rabb semesta alam”

“aku seorang wanita Quraish, sebaik-baik wanita, begitulah yang Rasulullah sampaikan pada kita”

“dan ia seorang wanita Kilabiyah Aisyah, kerasnya kehidupan, tempaan didikan Kristen, kukira akan membuat dia menjadi wanita yang memiliki akal”

“Tetapi wahai Asma, yang memilihkan untuk Utsman adalah al Walid bin Uqbah bin Abi Mu’aith, itu adalah selera al Walid”

Barirah memotong “Khalifah Utsman menjawab ia adalah istrinya yang paling cerdas dari yang mendampinginya saat ini”

“dengarlah Aisyah, Utsman memberi kesaksian tentang kecerdasannya, Nailah putri al Farafishah adalah gadis cerdas”

Aisyah tersenyum mendengar pembelaanku bagi Nailah

“Wahai Barirah, apalagi pesan yang disampaikan Utsman untukku?”

“Tentang perseteruan Hudzaifah dan Ibnu Mas’ud, Amirul Mukminin akan membuat keputusan berdasarkan laporan dan pandangan Hudzaifah”

Aisyah mengangguk-angguk tanda persetujuan

“Wahai Asma jika kia telah menunaika hak jenazah menyolatkannya, maka kita akan menemui Hafshah putri Umar, kita akan membantu Utsman meyakinkan Hafshah agar menyerahkan Mushhaf yang ada ditangannya”

Aku menghela nafas, lalu aku berseloroh lirih “Ibnu Mas’ud, bacaan al Qur’annya adalah sebagaimana Rasulullah mendengar dari jibril”

Aisyah mendengar suara kecilku

“Wahai Asma, Dua puluh tahun sejak Rasulullah wafat, semua keadaan telah berubah. Saat Rasulullah hidup  jika Umar membaca al Furqan dengan suatu cara pembacaan huruf lalu seseorang lain membacanya dengan cara pembacaan huruf yang berbeda, mereka berdua dapat mengkonfirmasi pada Rasulullah. Dan kini Rasulullah tiada, hari ini Ibnu Mas’ud masih hidup, jika kita mendengar bacaan yang berbeda darinya, kita mempercayainya. Tapi jika Ibnu Mas’ud tiada, semua akan menjadi kacau balau”

“Jadi bijak menurutmu mengumpulkan pada satu bacaan?”

“Wahai Asma, satu bacaan yang kita membenarkannya, Utsman telah menghafal al Qur’an saat ayah kita, Abu Bakar dan ayah Hafshah, Umar tidak. Kita masih punya Zayd Bin Tsabit, aku yakin Utsman akan memilihnya memikul tanggung jawab ini”

“Legitimasi negara”

“sungguh wahai Asma, adalah lebih baik, daripada kita membuka peluang tangan-tangan kotor menulis sesuatu yang bukanlah al Qur’an. Setan-setan akan gentayangan menggoda kejahatan untuk berkata ini adalah bacaan sahabat fulan sementara fulan telah tiada dan kita tak bisa lagi mencari konfirmasi”

“Tapi Ibnu Mas’ud masih hidup melukai hatinya, jika kebenaran yang ia terima dari Rasulullah SAW tak kita anggap apa-apa”

“Wahai Asma, dengarlah, yang melakukan semua ini adalah Utsman bin Affan, Amirul Mukminin, Pemimpin kaum beriman. Jika aku yang melakukannya maka aku telah kurang ajar pada Ibnu Mas’ud. Tapi ini Utsman wahai Asma, ia sahabat yang telah dikabari surga, kemuliaannya melampaui kemuliaan Ibnu Mas’ud, Semoga Allah memberikan hidayah kepada semuanya”

“Zayd adalah kain putih, bersih, Perkataan Tuhanku menelusup daam kehatinya dimasa kanak-kanaknya”

“Kau telah mengerti wahai Asma, sesuatu yang dipandang Ibnu Mas’ud sebagai kekurangan Zayd adalah justru kelebihannya”

Barirah lalu menyela kami “Khalifah Utsman menyampaikan tugas penulisan Mushhaf al Quran akan dibebankan pada Zayd bin Tsabit sebagai ketua tim, yang anggotanya Abdullah putra Az Zubayr bin Awwam, juga Sa’id bin al ‘Ash, dan juga Abdurrahan Bin al Harits Bin Hisyam”

“Benarkah? Putraku? Sedemikiankah pengakuan Utsman pada kapasitas putraku” Aku bahagia dan memandang Urwah yang tampak kegirangan

“Wahai Asma, lihatlah tentang hakikatnya, tidak ada orang yang memanggimu Ummu Abdillah, tapi aku adalah Ummu Abdillah”

Aku mencubit Aisyah dan kami segera bergerak menuju mesjid hendak menyolatkan Ubay bin Ka’ab. Dan segera suasana terasa bagai kehilangan, Madinah bergoncang dengan perginya Ubay, angin bertiup dengan kencangnya, debu-debu menyampaian kabarnya duka kehidupan akan wafatnya seorang penghafal al Qur’an.

Terhempas Badai – (Tiga – Hati)

Tiga : Hati

Khadijah putriku tak pernah dapat tersenyum dengan lega pada Ummu Kultsum saudariku. Kembali pada masa kecilnya tatkala seluruh perhatian bibinya terenggut oleh Ummu Kultsum, semakin menjadi ketika Thalhah menikahi saudariku dengan mahar fantastis 100 ribu dirham. Mahar yang saat dipindahkan dari rumah Thalhah, iring-iringannya menjadi perhatian, kereta dirham. Umar sempat menyitanya meski keesokan hari diberikan pada Ummu Kultsum.

Tentang Khadijah putriku, yang kumengerti adalah ia risau tentang pernikahannya, belumlah seseorang datang mengkhitbahnya, mencintainya seperti cinta Thalhah pada Ummu Kultsum, tetapi sesekali ia meledek Ummu kultsum “sesungguhnya yang Thalhah cintai adalah bibinya Aisyah dan bibikecil saingannya Ummu Kultsum”

Dan kini bagaimana aku menyampaikannya? Akadpun tak dapat dilaksanakan, tak seorangpun walinya berada di Medinah,  seorang Bani Makhzum melamarnya, tentu itu akan mengobati persaingannya dengan Ummu Kultsum. Seringkali putriku bertanya, mengapa ia mesti dijaga nenek Shafiyyah, nenek yang pernah murka padanya karena aku. Ia bertanya mengapa ia tak dijaga bibi Aisyah?

Tentang Abdullah putra Abi Rabi’ah al makhzumi yang melamarnya, akan kusampaikan jika ayahnya telah kembali ke Medinah, ataukah aku berkirim surat pada az Zubayr tentang ini? hingga az Zubayr dapat mempercepat perjalanan atau mewakilkan perwalian.

Beberapa hari sebelum Abdullah menyampaikan niatannya sesungguhnya Jubair bin Muth’im terdengar menyebut nama putriku, al Mundzir menyampaikan, ia mendengarkan pecakapan kafilah dagang Mekkah yang Jubair ada didalamnya. Tapi Jubair tak berbicara apa-apa ia berlalu begitu saja menuju Mekkah. Bisa jadi lamaran Jubair akan lebih membahagiakannya karena akan berupa skor seri dalam persaingannya dengan Ummu Kultsum. Thalhah dan Jubair adalah pria-pria yang karena takdir tidak dapat menikahi Aisyah.

Tentang hati dan pernikahan, sesugguhnya tujuan pernikahan lebih tinggi dari pemenuhan cinta belaka, akan tetapi jika cinta bersatu dalam pernikahan maka sungguh membantu menyatukan dua sejoli yang saling mencintai dalam pernikahan adalah sebaik-baik pertolongan.

Semua itu mengisi pikiranku saat aku mempersiapkan makan malam. Urwah ingin dibuatkan Tsarid, Urwah berkata jika tantenya Aisyah adalah bagai Tsarid diatas semua makanan, maka ia harus tahu kelezatan Tsarid. Beberapa kali ia encoba Tsarid yang dibuat selainku, ia katakan semua itu tak mengundang penilaian makanan terenak dalam benaknya.

Urwah duduk disampingku menunggu Tsarid selesai  dimasak, jika aku memikirkan Khadijah, makaUrwah menunggu tsarid dengan ayat-ayat Al Qur’an. Ahh putraku, wajahmu adalah wajahku, jika ayahmu mengambilmu untuk tinggal bersamanya sungguh cinta itu ada dihati az Zubayr untukku.

Malam-malam yang jika dihinggapi kerinduan, maka ada engkau disisinya, dan ada al Mundzir bersamaku. Kalian adalah replika-replika cinta.

Urwah, putra bungsuku ia baru berusia 7 tahun, tetapi keinginan bermain telah hilang dari jiwanya. Urwah tak pernah memeluk erat dengan tangannya apapun kecuali Mushhaf, ia membolak-baliknya, kakaknya adalah inspirasinya. Abdullah menjadi teladan hebat bagi dirinya. Ia hanya ingin diajarkan shalat oleh kakaknya, ingin menghafal al Qur’an seperti kakaknya, alangkah indahnya jika kebaikan terkumpul pada anak pertama, kemudian adik-adiknya menjadikannya idola.

Pintu rumahku bergetar dengan suara khas yang aku kenal, itu suara budaknya Aisyah, mengabarkan apakah ia sore ini?

Khadijah membukakan pintu, yang segera sesudah itu budak aisyah masuk menemuiku, jika demikian berita ini adalah tentang Ummu kultsum, persaingan yang telah tersebar kemana-mana. Berita gembira yang jika didengar Khadijah belum tentu menjadi berita gembira, jika itu tentang Ummu Kultsum.

“Wahai putri As Shiddiq, adikmu telah melahirkan seorang bayi perempuan, Thalhah telah memberinya nama, Aisyah”

Aku bertakbir dan mengucap hambalah, aneka senyum menghias wajahku, ahh ini tentang hati, Thalhah takkan pernah bisa menutupi cintanya pada adikku, Aisyah. Hingga putrinya pun ia berinama Aisyah.

“aku akan segera menjumpai adikku dan keponaan baruku, aku akan datang bersama Khadijah” aku mengerlingkan mata pada Khadijah, ia tak berkutik, ia harus ikut menengok putri bibi saingannya.

Pelayan Aisyah kemudian menambahkan :

“berita gembira lainnya adalah bahwa Aisyah putri Thalhah telah dikhithbah Abdurrahman bin Abu Bakar untuk putranya, bayi yang telah mencuri hati Abdurrahman”

Ohw, berita apakah ini? kabar yang membuat wajah Khadijah putriku berhias mendung, bayi merah telah dilamar, sedangkan ia telah berjalan dimuka bumi, belum satupun pria melamarnya, “ohw putriku aku mengerti rasamu”

Aku merasa takjub ketika Urwah memahami tentang apa yang terjadi, ia menarik-narik tangan kakaknya, mengajaknya duduk

“Wahai saudariku, janganlah hati dipenuhi luka, janganlah hati dipenuhi dengki, kita terlahir dari rahim mulia, pemilik dua sabuk. Ada darah Hawari Rasulullah dalam tubuh kita, mengapakah engkau membiarkan setan mengusai hubunganmu dengan bibi Ummi Kultsum?”

Aku memandang takjub pada Urwah, tetapi tidak dengan Khadijah, mata kesal yang seakan berkata “dasar anak kecil, kamu tidak tahu apa-apa!”

Aku mengusap kepala Khadijah dengan lembut, ia memandangku dan berkata

“Wahai Ibunda, persaingan dan dengki, bagaimanakah aku membuat pemisah diantara keduanya meskipun tipis?”

“lihatlah wanita idolamu dan madu saingannya!”

“apakah maksud ibunda antara bibi Aisyah dan Ummu Salamah?”

“ya, aku menyusui putri Ummu Salamah dengan susu Abdullah, persaingan yang dibumbui kekerabatan susuan, dalam banyak hal aku selalu bersama Aisyah, tetapi tidak menghanguskan pikiran jernihku jika kebenaran ada pada Ummu Salamah”

Khadijah berkerut

“Wahai ibunda, jika aku berbicara denganmu, kau datang dengan segala hal yang merenggut pemikiran, tidakkah kau ingin memberi sedikit saja pemahamana gratis buatku?”

Aku tertawa terbahak mendengar ungkapan Khadijah, dan akupun memeluknya erat

Terhempas Badai (2 – Tak Berjejak)

Dua : Tak Berjejak

Al Mundzir bolak-balik menuliskan sesuatu dan kemudian kembali keluar, aku melihat apa yang dia tuliskan, lagi pula mengapa ia tidak membawa saja lembaran-lembaran ini dan menulis setiap keterangan yang ia dapatkan saat itu seketika. Beberapa saat kemudian Al Mundzir datang dengan tergopoh-gopoh, aku hanya memperhatkannya, tak bertanya apapun padanya. Melihatku al Mundzir langsung berkata :

“Wahai Ibunda, aku berjumpa ayah, ia berkata akan mengantarkan Urwah nanti sore, ayah akan melakukan sesuatu ke Kufah”

Aku hanya mengangguk, hatiku berkecamuk apa maksud az Zubayr menyampaikan pesan demikian, seolah aku tidak memperhatikan Urwah putra kami. Kalau bukan atas permintaannya agar Urwah tinggal bersamanya tentu putra bungsuku akan selalu bersamaku. Tapi aku tak memperdulikan pancingan emosi yang demikian, biarlah saja, sesungguhnya aku masih bertemu Urwah setiap hari, aku bertemu dengannya di rumah Aisyah.

“Wahai Ibunda, akankah cincin Rasulullah ditemukan?

“Sebegitu menarikkah bagimu, tentang desas desus yang beredar, bahwa sebuah pertanda akan kita diesok hari?”

“Bukan-bukan begitu maksudku wahai ibunda, hanya saja sumur Aris adalah sumur yang sedikit airnya, tetapi penggalian dalam radius yang tidak wajar tetap tidak membuahkan hasil, cincin Rasulullah tak meninggalkan jejak”

“Mungkin malaikat telah membawanya, sebagaimana akan membawa Utsman menuju surga, sumur Aris, kenangan akan kabar surga”

“kabar surga?” Al Mundzir menyelidik

“disumur itu dikabarkan surga, bagi kakekmu, bagi Umar, semoga Allah menyayangi keduanya, dan bagi Amirul Mukminin Utsman bin Affan, tidakkah kau pernah mendengarnya?”

“aku mendengarnya wahai Ibunda, surga bagi amirul mukminin Utsman Bin Affan dengan melalui cobaan”

“Jika demikian kau dapat membuat suatu garis hubungan antara peristiwa-peristiwa, saat cincin Rasulullah terjatuh di sumur Aris dari tangan Mu’aiqib, mungkinkah itu pertanda buruk bagi Utsman?”

“wahai ibunda, ajarilah putramu ini tentang takwil mimpi dan mengambil benang merah dari peristiwa-peristiwa”

“Menurutku, kesulitan bagi Utsman akan ditandai dengan masalah air, jika ia mendapati permasalahan dengan air, maka disanalah kesabarannya diuji, semoga Allah memberikan keberkahan bagi Utsman”

“Permasalahan air? Amirul Mukminin Utsman? Ia selalu menyelamatkan ummat Islam dari bencana kekeringan dan kehausan? Dan pertanda ujiannya tentang air?” AL Mundzir tampak tidak terlalu mengerti dengan penjelasanku

“wahai al Mundzir, mengapa engkau menggambar peta sumur-sumur yang Rasulullah pernah menggunakannya?”

“Ini tentang al Furu’, bukankah engkau menyuruh kami memakmurkannya, jika kita menganggap mesjid Rasulullah sebagai titik pusat, maka kita dapat melihat jarak setiap sumur ke Mesjid. Kita akan membutuhkan semua data ini untuk menentukan titik-titik sumur di tanah al furu’”

“Sudah kau bicarakan tentang besaran uang yang kita butuhkan untuk menghijaukan al Furu’?”

“ya wahai Ibunda, saudaraku Abdullah telah merencanakan perniagaan kami ke Syam, sepulang dari sana jika Allah mengizinkan keuntungan yang berlipat, maka kami akan memulai mengolah al Furu’ menjadi tanah pertanian”

“Semoga Allah memberahimu, memberkahi saudaramu karena kalian telah merencanakan sesuatu yang besar menghijaukan bumi, sungguh aku melihat al Furu’ dalam perjalanan hijrahku, aku melihat tanah itu penuh keberkahan”

“Aamien, semoga Allah mengabulkan do’a ibunda, ahh wahai ibunda, satu lagi pertanyaan tentang cincin Rasulullah yang terjatuh di sumur Aris, berikan aku gambaran, pertanda tentang apalagikah semua itu, supaya aku bisa mengikuti ilmumu dalam mentakwilkan mimpi dan peristiwa”

Aku tersenyum pada al Mundzir tapi lalu merubah wajahku seketika “Orang-orang akan berubah akhlaqnya, satu persatu akan menunjukkan rasa tidak hormat kepada Amirul Mukminin Utsman bin Affan, pemberontakan”

“Benarkah wahai Ibunda? ”  Wajah al Mundzir memerah

“Tetaplah tenang dalam keimananmu wahai putraku, Allah telah menjamin Utsman dengan surga” aku mengusap dada al Mundzir

Terhempas Badai (1-Bukan Suatu Akhir) – lanjutan Pengikat Surga

Satu : Bukan Suatu Akhir

“Kumandang Adzan menyadarkan aku yang tengah tenggelam dalam tangis. Apakah ini bencana bagiku? Perceraian ini, apakah boleh aku memandangnya sebagai bencana?
Apakah pernikahan itu karunia? Apakah menjadi sendiri itu mengurangi kemuliaan?”

Hari ini, sebelum kumandang adzan,aku merenungkan perceraianku dan seluruh kehidupanku berubah.

Sejak kehadirannya dalam hidupku aku begitu terpengaruh oleh dirinya. Saat-saat berada disampingnya, lelaki yang malaikat bahagia berpenampilan sepertinya, aku merasakan duniaku terpisah dari masa laluku, terenggutkan dari dunia yang pernah aku jalani. Namun meskipun aku merasakan pikiranku tercerai berai, seluruh keberadaanku tetap terpusat pada dirinya, sehingga kehadirannya menjalarkan pengaruhnya tidak saja pada jiwaku tapi pada setiap aspek kepribadianku.

Pengaruhnya begitu kuat sehingga sinar malaikat yang ada pada dirinya memancar menerangi relung jiwaku. Pijarannya tidak hanya indah tetapi memberikan kegemerlapan pada intelektualitasku.
Didalam cahaya seperti inilah aku menata hidupku, menenggelamkan diri, dan merasakan sentuhan sosok malaikat dibumi. Aku duduk diatas sajadah, memutar seluruh kenangan yang dapat kuhadirkan, pikirannku nyaris tak menyadari bahwa aku telah bercerai. Ketika semua kenangan itu sampai pada titik terendah, aku menemukan kata “aku menceraikanmu”.

Seluruh hidupku tengah berubah tatkala aku mengingat kembali kata-kata itu.Aku merasa sungguh-sungguh tak siap menghadapi segala apa yang menimpaku ini, dan begitu tak berdaya sehingga sejenak kemudian, sehingga beberapa saat sejak kata-kata itu kudengar aku menarik diri menuruti naluriku yang melindungi diriku dari kilatan petir kesedihan.
Dengan penuh rasa takut aku mulai menyadari perubahan yang terjadi disekelilingku, kemudian aku dikuasai perasaan kesepian yang mungkin saja pernah kualami, berbulan aku terdampar disuatu ruangan yang tidak aku ketahui dimana pintu-pintunya

Khadijah, putri sulungku mengetuk pintu, membuyarkan pikiranku.
Putriku seorang gadis cantik yang sepi, Aku merasa bersalah karena terpusatnya diriku pada dunia ayahnya menjauhkanku dari dunianya.

“Akankah ibunda shalat di Masjid Rasul?” Putriku bertanya

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, menyeka air mata dan mencoba tersenyum.
Ia menggenggam tanganku dengan erat, putriku kini mencoba mengenalku.

Kami bergegas menuju Masjid Rasulullah, AL Mundzir telah menunggu didepan pintu rumah, dan kami berangkat bersama.

Seusai shalat subuh aku memikirkan dua surat yang tadi dibaca imam, Al Hadid dan al Fajr. Dari potongan al Hadid sesuatu yang sederhana menjadi pemikiranku, apa yang dilihat mata adalah satu sisi, kita tidak bisa melihat sisi dibaliknya. Dalam falsafah kemunafikan yang tampak muka adalah kasih sayang, sedangkan dibalik semua kemanisan ada kedengkian dan kekejaman. Sehingga Allah mengabarkan, kelak bagi orang beriman sisi kasih sayang, sedangkan bagi orang munafik sisi penuh derita. Demikianlah segala sesuatu selalu memiliki dua sisi.

Lalu persepsi kita terhadap sisi yang dapat kita pandang, adakalanya sebuah persepsi yang benar, dan ada kalanya persepsi yang salah, Al Fajr mengingatkanku, seseorang yang berlimpah harta akan berpersepsi Allah memberinya karunia, dan jika hartanya berkurang akan berpersepsi Allah membuatnya terhina. Memiliki cara persepsi seperti itu adalah sesuatu yang harus dihindari.

Lalu bagaimana berpersepsi? Bagaimana memberikan pendapat pada keadaan-keadaan?

Khadijah menggoyang-goyang bahuku, aku menghentikan sejenak apa yang aku pikirkan.

“Ibunda, akankah mendengar kajian selepas subuh, atau kita berjalan-jalan?”

Aku menatap Khadijah, ia pun menatapku. Pandangannya dalam menembus pikiranku, putriku mencoba membaca setiap sudut kepala dan hatiku.

“sepertinya kita akan menikmati pagi Madinah bersama” aku bangkit dan mengulurkan tanganku padanya agar ia pun bangkit.

Khadijah tak melepaskan genggaman tangannya, semakin erat ia menggenggam, dan ia membuka bincang

“Aku dapat membaca pikiran ibunda, pikiran ibunda tentang aku, aku adalah anak yang hilang, bagaimana jika kukatakan justru ibundalah ibunda yang hilang?”

Aku menghela nafas, sejenak berpikir dan bergumam dalam hati “jika aku hilang, kemanakah aku selama ini? Dan jika putriku yang hilang, kemanakah ia selama ini? Jika kami sama-sama merasa kehilangan, siapakah yang merebut kebersamaan dari kami?”

Khadijah menekan telapakku dengan keras : “apa yang ibunda pikirkan? Jawablah yang aku tanyakan!”

“Mungkin persepsi kita yang salah tentang keadaan satu sama lain, telah menyebabkan kita merasa kehilangan” mendengar jawabanku Khadijah melepaskan genggaman tangannya dan berhenti melangkah.

“bagaimana jika kukatakan, aku memang sungguh-sungguh menjauh darimu, masihkah engkau akan berkata, saat engkau merasa kehilangan aku, itu adalah persepsi yang salah?”

“kau tidak menjauh dariku, yang terjadi adalah kau mencoba mengenal dirimu sendiri dan juga mengenal aku” kata-kata ini meluncur begitu saja dariku

“lalu tentang perceraian ini, tentang berpisahnya ibunda dengan ayah?” Khadijah menyelidik

“ahhh” aku menghela nafas, lalu kukatakan lelaki-lelaki bani taim, klan dimana aku berasal adalah lelaki yang penuh kelembutan, bahkan kukatakan flamboyan. Dan karakter ayahmu adalah karakter keras, pukulan yang sering mendarat ditubuhku adalah sesuatu yang tidak dapat aku terima di awal-awal pernikahan. Aku sering mengeluh pada ayahku, Abu Bakr, bahwa aku ingin bercerai”

“Ibu!! Benarkah?”

“jadi, ini adalah tentang manusia, aku mengeluh pada kakekmu” aku menatap putriku

“Dan nenek Shafiyyah mengeluhkan tentangmu pada ayahku” Khadijah mengucapkan ini parau

“Sudahlah jangan lagi kau ingat semua itu” wajahku sungguh memohon putriku

“Bagaimana aku tidak mengingat peristiwa yang membuatku dicampakkan nenek Shafiyyah, aku memilihmu ibunda” Khadijah menekan kalimatnya

“Tak ada permusuhan antara aku dan ibu ayahmu, aku mencintainya”

“Tapi ia selalu mengeluhkan sikapmu, mengapakah itu semua?”

“Ini adalah tentang hubungan manusia, terkadang mencapai puncak keindahan, tetapi mungkin juga tersungkur ke titik terendahnya” nafasku panjang dan dalam

“Bagaimana kakek Abu Bakr berpendapat tentang ayah”, raut penasaran memenuhi wajah Khadijah

“ayahku mencintainya, sebagaimana Rasulullah mencintainya” aku menatap Khadjah dalam

“tapi ayahku tidak berba’iat pada kakek, kecuali setelah Fathimah, pemimpin kaum wanita di surga wafat, iya kan? Kenapa ayah bersikap demikian?” Khadijah menyelidik

“kenapa engkau berbicara kesana kemari, bukankah kita ingin berjalan bersama memperbaiki hubungan kita. Maafkan aku, engkau berpikiran demikian kacau karena kita benar-benar tak pernah memiliki waktu bersama, kepalamu sangat kusut, ribuan permasalahan bercampur menjadi satu, kemarilah putriku, biarkan aku memelukmu”

Khadijah tak menyandarkan dirinya di pelukku, ia melanjutkan kata-katanya

“iya, aku kacau, aku sangat kacau, tapi jawablah dulu pertanyaanku, apakah kakek peduli dengan keluhan ibu tentang ayah?”

Aku menghela nafas, lalu aku menjawab Khadijah

“Hari berganti, dan Al Qur’an mendidik ayahmu, Rasulullah mencontohkan bagaimana bersikap pada keluarga, lalu sikap keras ayahmu semakin hari semakin hilang. Tapi dalam selang waktu itu, aku seringkali masih mengadu pada kakekmu, bahwa aku ingin bercerai”

“apa yang kemudian kakek lakukan”

“kakekmu bertanya berulang pada Rasulullah, dan kemudian satu kata yang kakekmu sampaikan padaku : “bersabarlah, istri lelaki shalih, dimana suaminya meninggal dan tidak menikah lagi, maka akan dikumpulkan di surga bersamanya”, ayahmu, penghuni surga, kakekmu ingin aku menghuni surga pula”

“apakah masih ada kesempatan bagi ibu menghuni surga? ibunda bukan istri ayahku lagi, ibunda bukan istri penghuni surga”

Aku menengadah ke langit, aku bertanya pada diriku sendiri : “Bisakah wanita meniti jalan kesurga tanpa menjadi pasangan seseorang?” Khadijah kini menggoyang bahuku, aku pun menjawabnya

“Allah tak pernah mengingkari janjiNya wahai putriku, aku beriman padaNya dan selalu berusaha mengerjakan amalan terbaik, sungguh Allah tidak mengingkari janjiNya”

“ya tentu saja surga bukan milik ayahku” Khadijah memainkan mimik wajahnya, lalu Kami tertawa terbahak bersama.

Kamipun melanjutkan perjalanan, dan menjalin ikatan seorang ibu dan putrinya yang tak pernah terjalin diantara kami. Bunda Shafiyyah, mertuaku mengasuhnya sejak bayi. Masa-masa kecilnya adalah masa dimana aku sangat tertarik dengan dunia luar, keinginan bunda Shafiyyah mengasuhnya tidaklah kukira sebagai sesuatu yang menyebabkan aku merasa Khadijah, putriku kehilangan.

“Khadijah! Apakah aku benar-benar ibu yang hilang?”

“ibu ingin mendengar kejujuranku?”

“tentu saja” aku meyakinkannya

“ibu tak pernah ada, dalam tangisku, bahkan dalam tangis bayi sekalipun, begitu yang terjadi pada kami kan? Terlebih aku dan al Mundzir. Berjihad lebih menarik bagi ibu, daripada merawat kami, aku mendengar ceritanya, ibu pergi ke Yarmuk begitu saat menanti kelahiran al Mundzir, bagaimana bisa? Tidakkah engkau mengkhawatirkan keselamatan bayi yang dalam rahimmu?” aku terkekeh mendengarnya lalu menjawabnya :

“Putra-putraku terlahir dalam perjuangan, aku mendaki bukit Tsur dalam kehamilan pertamaku, maka tidaklah sulit bagiku pergi ke medan Yarmuk dan aku dalam keadaan hamil. Yarmuk Madinah bukanlah perjalanan berbulan, aku pun dapat melahirkan dengan selamat di kota ini, kota penuh cahaya, dan apakah nenek Shafiyyah yang harus pergi berjihad?” Khadijah antara terkagum dan merenggut mendengar jawabku, ia lalu berkata

“Bagaimanalah engkau mengaturnya, tapi aku sungguh memerlukan ibuku, ibu yang berada disampingku dalam risauku, nenek Shafiyyah sama persis seperti ayah, tidak mengerti hati, aku wanita ibu!!”

“medan pertempuran mungkin telah berakhir bagiku, aku pasti akan selalu bersamamu, kita akan bersama-sama mempelajari banyak hal”

“benarkah?” Khadijah sangat girang

“Khadijah! Camkanlah, kita wanita muslim, adalah wanita mandiri yang saling bekerja sama, ada peran-peran yang bisa saling mengisi dan menggantikan, meski kau tak meminum air susuku, tapi wanita hebat lain memberikannya untukmu, Hasan cucu pertama Rasulullah bukanlah Fathimah yang menyusuinya, tapi Ummu Fadhl. Hasan terpisah jarak Mekkah Medinah untuk mendapat air susu terbaik dari wanita yang melahirkan seorang ahli agama. Dan kau pun tetap anak manusia, bukan anak kambing”

“ibuuuu! Aku kira ibu akan menasihatiku sesuatu yang sangat serius, ibuuuu” Khadijah memukuliku dan kami kembali tertawa bersama

Perjalanan tanpa terasa telah membawa kami kembali ke area mesjid Rasulullah. Kami melintas dipekarangan Aisyah, ia tengah bersama Ummi Kultsum, adik kami, mereka melambaikan tangan, Khadijah tak terlalu menyambut lambaian itu, ia sangat cemburu pada Ummi Kultsum, baginya seluruh perhatian bibinya terpusat pada Ummi Kultsum.

Aku menarik Khadijah untuk mendekati Aisyah, lalu aku bertanya pada Aisyah

“pelajaran apakah yang kau punya hari ini?”

“aku akan membacakan ayat ini : “hari itu bumi diganti dengan bumi yang lain dan lapisan langit yang lain pula , manusia-manusia menampakkan diri pada Allah yang Esa dan Maha Perkasa”

Aku lalu menyela perkataan Aisyah

“perasaan diganti dengan perasaan yang lain dan kebahagiaan yang lain pula, jika demikian segala sesuatu yang masih berganti maka itu bukan suatu akhir, sungguh bukan suatu akhir. Bukankah begitu?”

“apa berganti apa?” Aisyah balik bertanya padaku

“Kemarin aku merasa kehilangan, hari ini aku mendapatkan, maka perceraian yang menimpaku bukan suatu akhir” aku berkata dengan menelan ludah pahit

“Seperti penaklukan lautan, Umar melarangnya dan Utsman telah mengeluarkan izinnya” Aisyah berkata antara bahagia dan cemas

“Akhirnya kita memiliki armada laut, dan kau seakan memendam kerisauan, mengapakah?”

“Jika ilmu belum mendapatkan pewarisnya, maka hilanglah ia dengan wafatnya para cendekia” Aisyah menghela nafas panjang

“Abu Darda, pastilah ia yang engkau risaukan, tentu saja ia tak akan melewatkan kesempatan jihad yang ada dihadapan, menjadi pasukan laut pertama” aku seakan menginginkan berada dalam kapal-kapal digjaya itu

“Sesungguhnya aku tak merisaukan kematiannya, tetapi aku risau tiada yang mendengar apa yang ia sampaikan saat ketetapan Allah terjadi, apakah itu suatu kemenangan dari sisi Allah, atau tertahannya penaklukan”

“Entahlah Aisyah, tapi kukira Abu Darda akan kembali dari medan jihad ke Damaskus, kematiannya atas idzin Allah ada pada garis takdir kaum pemuka Khazraj, Para penjaga al Qur’an”

“Dan tentang yang kau katakan bukan suatu akhir, kau kehilangan, dan apa yang engkau dapatkan?” Tiba-tiba saja Aisyah bertaya

“aku mendapatkan kedekatan dan cinta dari putriku, Khadijah”

“kukira perceraian bukan akhir cintamu dengan az Zubayr, kukira bukan suatu akhir” Aisyah meledekku

Cuplikan Pengikat Surga (Pembuka Bahagia)

Pembuka Bahagia

 

“Apa jawaban atas kegelisahan itu, Ayah?”

Berhari-hari Ayah masih menjawab hal yang sama, “Jawabannya akan semakin jelas beberapa saat lagi.” Begitulah jawaban Ayahku.

Hari itu, sewaktu Ayah pulang dari Syam dan langsung menuju rumah ayah Ruqayyah, Ayah tidak menemukannya. Ayah Ruqayyah sedang tidak di rumahnya. Sesudah itu Ayah tampak tidak serius dengan perniagaannya hingga hari ini. Aku memperhatikan apa yang dilakukan Ayah. Ayah hanya mengamati gerak-gerik ayah dan bunda Ruqayyah. Aku, dan juga Ayah, dalam beberapa hari ini menemukan ayah Ruqayyah melakukan sesuatu di depan Ka’bah. Sesuatu yang lain dari biasanya. Semacam ritual penyembahan, tetapi berbeda dengan yang biasanya dilakukan kaumku.

Selama ini, penyembahan patung-patung pahatan di sekeliling Ka’bah sebagaimana yang orang-orang lakukan, tidak pernah dilakukan ayah Ruqayyah, sebagaimana tidak pernah dilakukan Ayahku. Aku melihat Ayah mengamati dengan seksama semua perubahan yang terjadi pada ayah Ruqayyah.

Saat menyantap fathur, Ayah menatapku dengan lembut dan tegas.

“Hari ini kau tidak boleh mengikuti Ayah.”

“Ayah mau kemana?”

“Sesuatu yang dapat engkau perkirakan, Asma.”

“Ayah akan mengatakannya padaku jika Ayah telah mengetahui jawaban atas kegelisahan itu?”

“Tentu saja.” Ayah mengiringi jawaban dengan senyum dan tatapan mantap. Aku pun tersenyum.

Aku tetap pergi ke pasar membantu kakakku, Abdullah. Meski hanya sebentar, dalam gelisah aku memutuskan untuk menjumpai Ruqayyah di rumah suaminya. Beberapa saat sebelum sampai di rumah Ruqayyah seseorang memanggilku dari belakang.

“Asma, putri Abu Bakar, hentikanlah langkahmu!” Aku menghentikan langkahku dan membalik badan. Rupanya sepupu Ayahku, Thalhah Putra Ubaidillah.

“Asma, bukankah kau selalu menjejaki setiap sudut Mekkah?”

“Kenapa? adakah yang ingin kau ketahui? Dan engkau ternyata telah kembali dari Syam, seperti Ayah.”

“Apa? Ayahmu telah kembali?”

“Ya. Dan apa gerangan yang membawamu cepat pulang?”

“Ketika aku di pasar Bushra, seorang lelaki berpakaian rahib menanyai setiap yang tampak datang dari Mekkah. Ketika aku katakan bahwa aku dari Mekkah, ia mengatakan kata-kata yang membuatku gelisah.”

“Gelisah? Kata-kata yang membuatmu gelisah?” Aku membuka mataku lebih lebar.

“Ya. Ia katakan, inilah bulannya. Bulan yang dinanti. Di mana seseorang bernama Ahmad ditetapkan sebagai utusan langit. Diutus di kota ini. Ia adalah nabi terakhir.”

“Ahmad? Siapa Ahmad? Adakah orang bernama Ahmad?”
“Rahib itu berkata putra Abdullah Putra Abdul Muthallib.”

“Berarti putra kakeknya Ruqayyah. Ayah Ruqayyah tidak memiliki saudara. Apakah Ahmad sama dengan Muhammad? Ahmad? Muhammad?”

“Begitu yang kukira, Asma. Muhammad Putra Abdullah Putra Abdul Muthallib-lah yang dimaksud rahib itu.”

“Nabi terakhir, penyampai pesan langit terakhir. Mungkinkah jawaban atas kegelisahan itu datang dari langit?”

“Apakah kau telah mendengar sesuatu telah terjadi pada Muhammad Putra Abdullah?”

“Entahlah. Itu sesuatu yang sedang diyakinkan oleh Ayahku. Tapi sesuatu yang berbeda telah ditunjukkan ayah Ruqayyah. Ia thawaf di sekeliling Ka’bah, lalu melakukan ritual yang berbeda di depan Ka’bah. Dalam beberapa hari ini.”

“Kalau begitu aku harus mencari Ayahmu. Kau tahu di mana Ayahmu?” Aku merenung sejenak. Ayah sedang di rumah ayah Ruqayyah. Ayah tak ingin aku mengikutinya, berarti tak ingin pula orang lain tahu Ayah sedang berada di mana sekarang.

“Aku tidak tahu di mana Ayahku saat ini.”

Kami berpisah arah. Aku berbalik badan, kembali menuju rumah suami Ruqayyah. Melihat kedatanganku, Ruqayyah menyunggingkan rembulan indah di bibirnya. Ia menyajikan aneka kue-kue lezat dan segelas ‘ashir.

“Tak kusangka engkau pandai mengolah tepung, Ruqayyah.”
Ruqayyah hanya tersenyum dan bahagia melihat lahapnya aku menyantap kue-kuenya.

“Apa kau sudah tahu perubahan yang terjadi pada ayahmu?” Ruqayyah menjawab dengan gelengan kepala. “Ayahmu melakukan sesuatu di depan Ka’bah dalam beberapa hari ini, seperti suatu ritual penyembahan. Tetapi ini berbeda dan bukan menyembah patung. Ayahmu tidak pernah melakukannya sebelumnya bukan?”

“Bagaimana reaksi orang-orang atas perilaku ayahku, bahwa ia melakukan sesuatu yang berbeda?”

“Bukankah ayah kita berdua memang telah berbeda sejak dulu Dan kukira klan ibumu, adalah klan yang selalu berbeda. Bukankah banyak dari paman-pamanmu yang tak puas dengan agama nenek moyang kita?”

“Aku pernah memikirkannya, Asma. Tentang pamanku. Waraqah Putra Naufal, misalnya. Kau mengenalnya? Aku ingin berdiskusi tentang itu semua. Tentang keyakinan. Tapi saat aku mulai memikirkan hal itu, aku menikah, dan suamiku adalah orang yang tak suka berbincang masalah-masalah demikian.”

“Aku tahu Waraqah dan pamanmu lainnya, Utsman Putra Huwairits. Mereka memeluk Nashrani.”

“Kau tahu tentang Paman Utsman? Bagaimana kau tahu?” Ruqayyah menyelidik.

“Ayahku, Abu Bakar Putra Abi Quhafah adalah ahli nasab. Ahli sejarah. Cendekiawan terhebat saat ini. Apakah engkau tak tahu itu?” Aku mengerlingkan mata menggodanya. “Jadi, bagaimana aku tidak mengetahui hal-hal ini? Pamanmu, Utsman, kini menetap jauh di barat daya sana. Di daratan yang berbeda dengan daratan kita. Daratan berbeda dari semenanjung Arabia. Pamanmu kini menetap di jantung Romawi Barat, di kota Roma.”

“Engkau luar biasa! Aku mencintaimu, Sahabatku.” Ruqayyah menggoyang-goyang hidungku dengan jemarinya.

“Ayah kita menyebutnya kegelisahan.” Aku memunculkan kata ‘kegelisahan’ pada Ruqayyah.

“Kegelisahan apa?” Ruqayyah bertanya.

“Kegelisahan yang mendera kaum cendekiawan menjelang usia 40an. Seperti kegelisahan ayahmu, kegelisahan Ayahku, kegelisahan paman-pamanmu terdahulu.” Ruqayyah mengangguk-angguk mendengar pernyataanku.

“Ya. Kegelisahan itu. Kegelisahan tentang hidup dan kematian.”

“Kau tahu itu, Ruqayyah?” Aku membuka lebih lebar mataku, tanda bahwa aku sangat antusias dengan itu semua.

“Aku mendengarnya dalam bincang ayah dan ibu. Ayah juga semakin gelisah dengan banyaknya mimpi beliau yang menjadi kenyataan. Ar ru’yah ash-shadiqah. Itulah mengapa ayahku berkhalwat ke Gua Hira, mencari jawab atas semua kegelisahan itu.” Ruqayyah menatapku dalam-dalam.

“Ayahku sedang menemui ayahmu, Ruqayyah. Mungkinkah perilaku aneh ayahmu beberapa hari ini jawaban atas semua kegelisahan itu?”

“Mungkin saja. Semoga demikian. Aku akan meminta izin suamiku untuk menemui ayah dan ibu segera.” Ruqayyah tersenyum.

“Apa kau mendengar kabar Zayd Putra ‘Amr Putra Nufail?”

“Tidak, Asma. Siapakah gerangan?”

“Dia sahabat pamanmu, Waraqah Putra Naufal dan Utsman Putra Huwairits. Dia pun sama-sama tak dapat memahami hakikat penyembahan patung. Dia turut serta mencari agama yang terkenal dan berkelana ke negeri-negeri religius.”

“Apa yang terjadi padanya? Apakah menemukan kebenaran?”

“Ia tidak merasa tenang dengan penjelasan para rahib-rahib Yahudi. Juga tidak tenang dengan penjelasan rahib-rahib Nasrani.”

“Lalu?”
“Ia terus meneliti sejarah ritual di dunia.”

“Apa yang Zayd temukan?”

“Agama Ibrahim yang lurus. Zayd hanya tertarik pada agama Ibrahim yang lurus. Menelusuri jejak-jejak ritual Ibrahim, ritual penyembahan satu Tuhan.”

“Ibrahim. Kau pernah berkata padaku, ayahmu mengajarkan ilmu nasab dan nenek moyang kita adalah Ibrahim. Nenek moyang yang sangat jauh. Jadi, kerja Zayd adalah kerja yang amat berat. Perjalanan panjang. Apa yang terjadi pada Zayd kemudian?”

“Zayd mencoba mempraktekan apa-apa yang ditemukannya dan meninggal beberapa tahun lalu.”

Obrolan lalu berganti pada hal-hal tentang kami, tentang wanita. Ruqayyah tak kunjung hamil. Saat matahari Zawal, aku pamit. Memeluk Ruqayyah sepenuh cinta dan bergegas menuju rumah. Aku tak sabar mendengar jawaban atas kegelisahan itu. Semoga Ayah telah pulang.

Hingga larut aku menanti, Ayah tak kunjung pulang. Aku menantinya hingga tertidur di sofa.

Saat fajar menjelang dan mataku terbuka, Ayah telah pergi ke luar lagi. Sesudah membantu Abdullah sebentar di pasar, aku berkeliling mencari Ayah. Aku tak menemukannya. Kecuali samar-samar ucapan sekelompok orang yang berkata bahwa Ayahku, pada hari ini, dalam terik mentari dhuha melakukan ritual seperti ayah Ruqayyah.

Ketika aku menyusulnya ke beranda Ka’bah, aku sama sekali tak menemukannya, dan tak kutemukan jejaknya di mana pun. Satu yang pasti dan kuyakini, mereka, ayah Ruqayyah dan Ayahku telah menemukan jawaban atas kegelisahan itu. Jawaban penghilang gelisah pembuka bahagia.

 

 

47rb, pesan ke 087824198700
47rb, pesan ke 087824198700