Ayat yang menguji hingga ia pun murtad

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari sekian banyak membaca, dan tadabbur,

diantara hal yang paling mencengangkan adalah kondisi “murtad”

diantara murtad yang paling bikin sedih adalah murtadnya Abdullah Bin Abi Sarhin, dan Ubaidillah Bin Jahsy.

Adapun Ubaidillah Bin Jahsyi, ia adalah seorang pencari kebenaran, tak mau menyembah berhala, bersama sahabat-sahabatnya berkelana. Yahudi dan Kristen tak menarik perhatiannya.
Tatkala datang islam, ia bersegera beriman, pun demikian istrinya Ummu Habibah putri Abu Sufyan.
Tribulasi dakwah menghantarkannya hingga hijrah ke Habasyah, dan kali ini melihat kebesaran budaya Habasyah, ia yang selama pengembaraan kebenaran dalam hidupnya, tak pernah tertarik dengan kristen, kini terkagum-kagum, dan menjadi pemeluk kristen di Habasyah.

saya ucapkan “Na’udzubillah dari kejadian macam ini”
Adapun Ummu Habibah, terselamatkan akidahnya, ia dijauhkan dari keburukan suaminya, Allah pun menganugerahinya pernikahan dengan manusia paling agung. Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah.

Adapun Abdullah Bin Abi Sarhin, ia adalah termasuk orang yang masuk islam di awal-awal dakwah, boleh jadi masuk Islam sebelum Rasulullah bersembunyi di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
Ia adalah orang kepercayaan Rasulullah, dipercaya menulis wahyu.
Hingga suatu ketika, tatkala surat Al Mukminun turun, sampai di ayat 14 dan Rasulullah salam sejahtera baginya memerintahkan kepada Abdullah Bin Abi Sarhin untuk menuliskan.
begini surat Al Mukminun ayat 14
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik

kata-kata yang ditebalkan, menimbulkan kegaduhan dan interpretasi yang bermacam-macam
Ditengah seruan tauhid, datang ayat yang demikian adanya.

Bagi ABdullah Bin Abi Sarhin ayat tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya akan keesaan Allah,
tetapi “penafsiran” yang dibumbui setan mengelabuinya

Jika Allah yang Esa, mengakui adanya kreasi-kreasi manusia,
lalu mensifati diriNya sebagai “pencipta yang terbaik” karena sifat-sifat ciptaan Allah
maka Abdullah mencoba mengambil kesimpulan antara dirinya dan Rasulullah

Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah dengan perantaraan makhuk yang tidak dapat dilihat manusia lain.
Terkadang ketika sedang bercakap dengan orang-orang, tiba-tiba saja Rasulullah bercakap dengan sesuatu yang tidak terlihat, yaitu Malaikat, pada titik inilah ejekkan menyesakkan dada pada Rasulullah terlontar, kaum kafir berkata bahwa beliau gila.

Turunnya wahyu, proses turunnya dipikirkan Abdullah, apakah wahyu itu berupa ilham, wangsit atau bagaimana?

Kelebihan kecerdasan yang dimiliki Abdullah Bin Abi Sarhin menggodanya, antara “wahyu ” dan “ide”
sebagai orang cerdas, ide-ide selalu berkelabatan dalam dirinya, respon-respon atas peristiwa sosial dimilikinya.
Dan pengalamannya sebagai penulis wahyu menambah ragam rupa kecerdasannya

hingga kesimpulannya : “wahyu” = “ide”

jika nabi Muhammad adalah seorang nabi yang diberi “wahyu”
maka ia pun seorang nabi yang diberi “wahyu”

maka murtadlah Abdullah Bin Abi Sarhin
setelah murtad propaganda yang dilancarkannya luar biasa
anti keimanan
ia yang saudara sesusu Utsman, bahkan mempropaganda Utsman untuk tak menginfakkan hartanya di jalan Allah

(saya kembali ucapkan na’udzubillah dari terjerumus pada kondisi demikian)

Zaman berlalu, hingga futuh Mekkah dan Rasulullah memerintahkan pembunuhannya

tapi ternyata, Allah masih memberikan kesempatan baginya untuk bertaubat dan berkarya nyata
semoga Allah menerima taubatnya

Advertisements

Bunda Asiyah, i love you

Taktik Asiyah dalam mendapatkan apa yang diinginkan

Masya Allah, semakin membuka lembaran tentang contoh pribadi wanita terbaik
Semakin sadar diri kalau diri ini ga tahu apa-apa

Ayat-ayat indah yang Allah berikan
Bahwa contoh wanita terbaik yang disebut dalam al Qur’an adalah Asiyah dan Maryam

Asiyah masih keturunan raja Mesir yang mengangkat Yusuf menjadi menteri perbendaharaan negara.
Sebagai ningrat Mesir, Asiyah mengikuti takdirnya dan menjaga kehormatannya, tidak melanggar batas-batas yang dianut kaumnya, hingga ia dipersunting raja diraja bangsa Mesir Fir’aun.

Asiyah tidak dikaruniai anak lelaki, anak perempuannya sangat disayangi Fir’aun.
Ketika mendapati tabut berisi anak lelaki dan telah terdeteksi sebagai bayi dari kalangan bani israil, Allah telah menghadirkan cinta di hati Asiyah.
Pasukan penjagal datang ke kamarnya, dan merayunya agar menyerahkan bayi untuk dibunuh.

Asiyah harus berpikir cerdas, agar semuanya dapat berjalan dengan baik
Ia tetap berkata sopan kepada para tentara dan berkata dengan jujur bahwa ia mencintai bayi itu

Asiyah lalu memberikan pilihan yang masuk akal, bahwa ia akan membawa bayi itu pada Fir’aun dan meminta Fir’aun memberikan bayi itu padanya.
Jika Fir’aun memberikan bayi itu padanya nya maka itu adalah kebaikan para tentara padanya
Dan jika Fir’aun memerintahkan membunuhnya, maka Asiyah tidak akan mencela perbuatan para tentara.

Para tentara penjagal mengabulkan permintaan Asiyah.
Kecerdikan Asiyah dalam berkomunikasi, ditunjukkan dalam kisah bagaimana Aisyah mengambil hati para penjagal

Kecerdasan dan ketepatan strategi ini terlihat kembali dari cara Asiyah menunjukkan bayi pada Fir’aun
Asiyah menaruh kembali Musa kedalam tabut dan mengalirkannya di sungai pada aliran yang akan tepat masuk kedalam tempat Fir’aun biasa berkumpul di pagi hari

Tahap awal rencana berhasil, tabut mengalir ke arah kebun tempat Fir’aun menikmati pagi, ketika putri tunggal Fir’aun bermain-main di sungai bersama dayang-dayangnya mereka melihat tabut yang tersangkut di belukar sungai Nil. Para dayang lalu membawa tabut ke hadapan Fir’aun.
Tak ada yang bisa membukanya, tabut baru terbuka setelah Asiyah menedekatinya dan hanya ialah yang bisa membukanya.
Beberapa detik sesudah kejadian aneh adalah sesuatu yang melenakan, Fir’aun akan lupa pada kebijakan yang sedang dilaksanakannya, turut larut dalam euforia kebahagiaan menemukan bayi lelaki.
Asiyah tahu pasti meski Fir’aun sangat mencintai putrinya tetapi tentu saja kehadiran bayi lelaki dinantikannya pula.

Anak perempuan Fir’aun turut larut dalam bahagia, ia memegang bayi dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lengan bayi, spontanitasnya adalah memegang luka-luka borok yang terdapat di tubuhnya, dan itulah yang ia lakukan setelah memegang bayi, keajaiban terjadi, lukanya seketika itu hilang.
Euporia terjadi untuk kedua kalinya, kesembuhan yang dinanti selama ini.
Euporia kedua ini bukan tanpa rencana, cara penyembuhan seperti yang terjadi telah dikisahkan banyak peramal.

Asiyah merekam semua dengan baik, ketika melihat sosok bayi Musa, pikiran terletak antara harapan dan taktik. Rasa cinta pada musa yang telah tumbuh melahirkan harapan, bahwa makhluk yang pernah diombang-ambing lautan yang keringatnya bisa menyembuhkan putri Fir’aun adalah bayi yang baru saja ditemukan dayang-dayangnya.
Rencana mencipta euporia yang berhasil.

Euporia itu tidak lama, para algojo penjagal selalu bersiaga dengan kabar bayi yang terlahir ditahun itu.
Mereka kemudian mendatangi Fir’aun dan membuat Fir’aun tersadar.
Bayi diperiksa dengan seksama, dan teridentifikasi dengan jelas bahwa itu adalah dari kalangan Bani Israil.
Namun apa daya, euporia telah tercipta, menutupi hati dengan keraguan, putri kesayangan telah sembuh. Taktik jitu Asiyah berhasil

Tarikan antara rayuan wanita pendamping dan gemuruh para menteri dan algojo,
Para algojo kehilangan kengototan, kini tawaran menjadi dua, tidak hanya membunuh bayi yang ada dihadapan, mereka mendengungkan “bunuh atau buang kembali ke sungai”
Fir’aun sesungguhnya teguh pada titahnya, ia menetapkan bahwa keputusannya adalah membunuh bayi bani Israil, yang ternyata masuk jantung pertahanannya.
Jurus pamungkas diketahui Asiyah, ia tahu bahwa Fir’aun mendamba hadirnya seorang Qurrata ‘Ayun, seorang penyejuk hati, maka Asiyah berujar dengan lembut
“Jangan membunuhnya, bisa saja ia bermanfa’at buat kita, kita jadikan ia anak angkat, agar ia menjadi penyejuk hati untuk ku dan untukmu”

Rayuan wanita yang tak dapat ditolaknya, wanita beretika tinggi, yang memiliki pesona luar biasa,
Akhirnya jawaban Fir’aun : “bayi itu untukmu”

Ini benar-benar cara komunikasi yang elegan
Bisa dipakai juga dalam dunia pengajaran

Cinta Asiyah, love you bunda, semoga berkumpul denganmu
Semoga mengunjungi rumah yg pernah engkau minta kepada Allah

Semoga Allah menjadikan aku mengikuti jejakmu

Kisah mereka yang Murtad di zaman Rasulullah (1)

ini kisah yang paling menyadarkan saya, tentang pentingnya “mengenal” dan memahami kedudukan setiap manusia.

Manusia sebagai makhluq Allah, apapun agamanya
lalu memahami hak setiap muslim
memahami hak-hak setiap mukmin
mencoba mengenal kedudukan setiap mukmin dihadapan Allah

kisah ini, benar-benar membuka mata
kisah yang membuat memahami betapa suatu kondisi adalah kompleksitas
kisah yang mengajarkan bahwa kita harus mempelajari bagaimana merespon suatu peristiwa
kisah yang membuka mata bahwa setiap pribadi memiliki posisi dan kedudukan dimata Allah
menyadarkan kesejatian bahwa semua urusan kelak dikembalikan kepada Allah
adapun di dunia, maka semua berjalanlah sesuai dengan batasan yang telah Allah tetapkan

Utsman bin Affan punya saudara susuan yang bernama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin
Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin, ia telah masuk islam sewaktu di Mekkah,
bahkan memiliki tugas mulia : mencatatkan wahyu.
Ternyata Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin “mempermainkan keislamannya”
ia mencatat wahyu sekehendak hatinya, Jika Rasulullah menyampaikan bahwa ayat tersebut ‘aziizun hakiim
Abdullah suka menulis ‘aliimun hakiim
lalu murtad, dan berkata kepada orang-orang kafir bahwa “agama jahiliyyah” lebih baik daripada islam.

saat futuh Mekkah, Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin lari, takut dibunuh dan kemudian meminta jaminan keamanan kepada Utsman.
Utsman lalu menyembunyikannya hingga keadaan tenang.
setelah kondisi tenang, Utsman membawa Abdullah kepada Rasulullah SAW.
Saat datang Rasulullah terdiam tidak menjawab dalam jangka waktu yang sangat lama.
keadaan menegang ….. tetapi kemudian tegangan menurun dan Rasulullah mengeluarkan jaminan keamanan bagi Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin.
Utsman dan Abdullah kemudian pamit.
Setelah keduanya pergi, Rasulullah kemudian berkata : “aku terdiam sangat lama, karena berharap salah satu dari kalian berdiri membunuh Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin”
Seseorang diantara mereka berkata : “kenapa engkau tidak memberi tanda kepada kami”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Adalah haram bagi seorang nabi untuk membunuh dengan cara memberi tanda, Seorang nabi diharamkan berkhianat didepan mata”

(AL Kamil Fi at Taarikh, Ibnu Al Atsier, jilid 2 hal 123… cetakan Daar el kutub el arabi)

Peristiwa ini bisa ditafsirkan macam-macam,
bisa dangkal, bisa menyimpang

adalah tugas kita menyuarakan kejernihan.
memahami teks dan konteks
memahami dengan integral

dari kisah ini, banyak yang dapat saya ambil
1. Pentingnya memahami prosedur dan adab-adab yang Allah tetapkan dalam segala sesuatu, dan lalu menerapkannya setiap keadaan yang sesuai terjadi
2. menjaga batas-batas kewenangan, memahami peran dan posisi

ahhh, malam ini titik kritis itu kembali ditemukan

Abdullah bin Sa’d Abi Sarhin menjadi kunci ditaklukannya Afrika, menjadi kunci penyebaran islam di Afrika
sungguh semakin ingin melihat apa yang akan terjadi di esok hari
saat semakin takjub dengan keadilan dan kebijaksanaan di pengadilan Allah

kisah unik ini, semakin membuat mau membaca kompleksitas kehidupan
mengenal manusia dan prahara-prahara yang menimpanya

Allahumma Shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad
dan
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada seluruh kaum beriman

jangan “kerja” 8 jam, hidup bukan hanya untuk kerja!!!!

ketika pemahaman kita tidak bisa membedakan antara diskriminasi dengan klasifikasi
ketika pemahaman kita tidak sanggup mengenal pembagian waktu dan peruntukan
ketika jargon “semua yang diniatkan ibadah adalah ibadah” menelusuk hati

tertegun di muka kisah Dawud ‘alaihi as salaam, saat membagi hari-harinya menjadi tiga
satu hari untuk rakyat, satu hari untuk keluarga, satu hari untuk Allah

apalagi kalau udah terngiang surat al Kahfi ayat 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“bersabarlah dengan segenap jiwamu, bersama orang-orang yang berdo’a pada Allah dipagi dan petang hari, yaitu mereka yang menginginkan keridhaan Allah, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menginginkan perhiasan dunia, dan jangan ta’ati orang-orang yang Kami lalaikan hati mereka dari berdzikir kepada kami dan mengikuti keinginannya, sedang urusan mereka akan lenyap dan mereka menyesal

ya Allah

waktu 24 jam ini ….
betapa eloknya yang dapat membagi waktu sesuai dengan yang Allah ridhai

siang malam,
ketika siang lebih panjang sedikit
12 jam ….

apa kerja 8 jam cukup adil dalam pembagian waktu?????

menyimak cara Harun al Rasyid membagi waktu ….. jam 07.00-11.30 melayani rakyat
ba’da dzuhur untuk diri sendiri
ba’da ashar untuk keluarga
malamnya???
bagi 3 juga, dengan porsi yang tidak sama, bagian waktu untuk Allah lebih lama … waktu untuk keluarga dan diri sendiri lebih sedikit
itu yang waktu harian ….
terus agenda tahunannya
setahun jihad, setahun haji …..

semoga Allah menganugerahiku, kemampuan membagi waktu sebagaimana yang Allah ridhai
juga untuk engkau , yang Allah masih menyembunyikanmu dariku

aku tak menginginkan engkau “membanting tulang” 8 jam apalagi lebih dari itu, untuk menafkahi aku dan anak-anakmu….
dzikir pagi dan petang memiliki hak atasmu, yang jangan engkau selingi dengan hal lainnya
berdakwah memiliki hak atasmu
menuntut ilmu memiliki hak atasmu
silaturahim memiliki hak atasmu

dan jika malam tiba,
yang aku mau ,habiskanlah setengah malam lebih untuk Rabbmu
dengan bacaan-bacaan panjang al Qur’an

cukuplah bagi kita memberikan waktu 5 jam untuk urusan uang, meminta rizqi kemudahan pada Allah, meminta kemudahan berstrategi, dan semoga Allah berkahi, Allah cukupi kebutuhan kita, lalu ada kelebihan yang dapat diinfaqkan dijalan Allah
dan jika Allah menahan rizqi, maka kita bersabar dan tetap membagi siang kita, tidak hanya untuk urusan uang.

dan suatu-waktu
pastilah ada keadaan yang tidak biasa
ada kegentingan
ada ujian-ujian khusus yang Allah berikan
ada jihad

maka tetaplah teguh dalam malam-malammu
teguh dalam malam-malam kita
berhias al Qur’an yang panjang
dalam berdiri ruku dan sujud, menyembah Allah Rabb semesta

Shalat (4)

Alhamdulillah,
artikel shalat ini telah mencapai judul ke 4, insyaallah semuanya 5

Shalat, adalah ibadah utama yang menjadi tujuan.
Bahwa peradaban yang kita bangun adalah peradaban yang memperlihatkan keindahan menyembah Allah.
Bahwa alat-alat teknis, kemajuan peradaban material yang ditemukan adalah terutama untuk membuat mereka yang menegakkan shalat semakin mudah nyaman dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Allah gariskan.
Ketika shalat harus tepat waktu maka dunia hitung langit, astronomi berkembang,
ketika shalat harus berwudhu, dengan baik tanpa boros air, maka teknologi-teknologi tentang tekanan air dan tempat wudhu berkembang dizaman lampau,
demikian, bahwa ibadah-ibadah yang Allah gariskan menjadi rukun islam, adalah sentral yang mengarahkan gerak langkah kehidupan.
Peradaban materi, kemajuan teknis-teknis yang kita capai adalah agar rukun islam tegak dengan sebaik-baiknya
ketika shalat harus tepat waktu pekerjaan banyak dimana-mana,
maka transportasi yang baik menjadi tuntutan, agar waktu bisa efisien, selalu tepat ^_^

demikianlah tujuan peradaban yang dibangun oleh para sahabat, kita perhatikan ayat berikut ini :
“orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”

ayat ini adalah ayat yang memberikan penjelasan atas sifat sahabat Rasulullah, kita lihat ayat sebelumnya ini :

“orang-orang yang diusir dari rumah-rumah mereka tanpa alasan yang benar, yaitu sebab mereka berkata Rabb kami adalah Allah. Dan jikalah Allah tidak menahan kebengisan manusia atas manusia lainnya maka akan dihancurkan biara-biara, kuil-kuil, shalat-shalat, dan mesjid-mesjid yang didalamnya disebut nama Allah dengan banyak. Sesungguhnya Allah selalu menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa”

Orang-orang yang dimaksudkan disini adalah orang-orang Muhajirin, kaum yang telah membuat Allah yakin, bahwa saat mereka berkuasa maka mereka akan menegakkan shalat, zakat, dan memerintah manusia untuk bertauhid, serta mencegah manusia dari kemusyrikan

Jadi tugas utama kita dalam membangun peradaban adalah membuat Allah yakin bahwa saat Allah memberikan hidup yang digjaya di muka bumi, maka kita akan mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan dan memerintah manusia untuk bertauhid, serta mencegah manusia dari kemusyrikan.

hal-hal yang mendasar ini harus selalu kita hadirkan,
mungkin saja kita menghadirkan takwil-takwil lain pada shalat,
adanya mukjizat gerakan shalat, adanya penelitian waktu shalat yang pas dengan waktu biologis tubuh, dll,
tetapi inti beragama adalah keta’atan pada kalimat yang Rasulullah sampaikan,
jangan sampai pencarian tambahan melupakan yang utama.

esok tentang shalat adalah berporos pada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum dituliskan

insyaAllah

do’aku semoga allah menolong para mujahidin di Mesir, kaum yang saat Allah meneguhkan posisi politik sosial ekonomi mereka di muka bumi, maka mereka adalah kaum yang menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menyeru pada tauhid serta mencegah kemusyrikan, Aamien

keutamaan ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (3)

yuk ah lanjut lagi
mengenali keutamaan-keutamaan kita , ummat islam, ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

809. Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : sesungguhnya yang dipanggil pertama kali hari kiamat Nuh dan ummatnya, kemudian Nuh (‘alaihi as salaam) disidang ditanya : “apakah engkau menyampaikan risalah yang engkau diutus dengannya?”
Nuh menjawab : iya wahai Rabb.
kemudian Allah bertanya pada kaumnya : Apakah Nuh menyampaikan risalah Allah?”
kaum Nuh menjawab : tidak demi tuhan, sekiranya Engkau mengirim kepada kami seorang utusan, maka kami akan mengikuti ayat-ayatMu, dan kami menjadi orang beriman. Sesungguhnya dia tidak menyampaikan kepada kami.

kemudian Allah berkata kepada nabi Nuh ‘alaihi as salaam :
“sesungguhnya kaummu mengklaim bahwa engkau tidak menyampaikan risalah pada mereka, apakah kamu punya saksi?
Nuh menjawab : ya
ditanyakan pada Nuh : siapa?
Nuh menjawab : mereka ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata : ya kami bersaksi, bahwa Nuh telah menyampaikan risalah pada kaumnya.
Kaum Nuh terperanjat dan mengingkari penunjukkan saksi ini, mereka berkata : “bagaimana kalian menjadi saksi melawan kami, kami adalah ummat pertama sedangkan kalian adalah ummat terakhir?”
ummat islam berkata : kami bersaksi bahwasanya Allah mengirim kepada kami seorang Rasul dan menurunkan padanya kitab, dan diantara yang diturunkan padanya adalah kisah kalian

berkata Abu Hurairah : kita terakhir dan kita pertama dihari kiamat.

sebagimana firman Allah : dan demikianlah kami menjadikan kalian ummat pertengahan agar menjadi saksi bagi ummat manusia dan Rasulullah menjadi saksi bagi kalian (al Baqarah : 143)

alhamdulillah semua hadits dibab ini telah diterjemahkan
menggapai kemuliaan sebagaimana yang Allah sampaikan
abis ini bikin edisi, satu dua tiga nya

alhamdulillah

Shalat (1)

Bismillah

marilah bersiap siaga untuk Ramadhan tahun 1435, semoga Allah membuat kita sampai
sebagaimana surga, bersiap siaga, berhias untuk Ramadhan tahun depan …..

shalat tiang agama, rukun islam yang berupa bangunan, lalu tentang atap? apakah atap itu sebagai puncak, tujuan utama, ataukah atap itu sebagai pelindung?

tekad memperbaiki ritual-ritual,
dimana ibadah “ritual” adalah esensi, penyembahan kepada Allah dalam makna terdalamnya

Shalat,
pake buku tanbihul ghafilin biahaadits sayyid al anbiyaa wa al mursaliin
agar shalat semakin berasa sebagai cara menyembah Allah yang paling utama
membahas shalat, akan terkait masalah ‘dalil pensyariatannya dan hukum fiqih” …. tapi dua masalah ini ga dibahas khusus, buku dan tulisan yang bahas 2 hal ini udah banyak

disini saya mau mengetengahkan tentang shalat dari 4 sisi…..
pertama : surat Thaha ayat 14 :
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku

kedua : surat an Nisa ayat 103 :
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

ketiga : surat al ankabut ayat 45 :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

keempat : surat al Hajj ayat 41 :
“orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”

sesudah dari sudut empat ayat tadi, kita akan membahas hadits-hadits tentang shalat

malam ini, kita bahas dua hal dari empat diatas, yaitu tentang shalat yang bertujuan mengingat Allah dan tentang shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya

sebelum membahas dua hal ini, saya kutip apa yang ditulis imam as samarqandy, tentang shalat

[sesungguhnya Allah ketika menciptakan tujuh langit dan menghiasinya dengan malaikat, kemudian membuat mereka menyembah Allah dengan cara shalat, maka mereka tidak lemah dan bosan dalam shalat meskipun sekejap.

Setiap penduduk langit berbeda cara menyembah Allah, ada yang ibadah dengan berdiri hingga hari kiamat, ada yang ibadah dengan ruku, ada yang ibadah dengan cara sujud, ada yang membentangkan sayapnya, adapun para penjaga ‘illiyiin dan arsy melakukan wuquf dan thawaf sekeliling arsy, bertasbih memuji Allah, dan memohonkan ampun bagi penduduk bumi.

Allah mengumpulkan itu semua dalam ibadah kaum beriman, sebagai tanda pemuliaan, sehingga kaum beriman memiliki bagian ibadah setiap penduduk langit, dan menambahkan al Qur’an untuk dibaca dalam shalat.

Maka Allah menuntut agar kaum beriman mensyukuri karunia cara penyembahan ini, dengan jalan menegakkannya sesuai syarat-syarat nya dan hukum-hukumnya]

kemudian imam as Samarqandy juga menulis :

[Dahulu kala dizaman-zaman awal manusia menempati bumi, iblis terlihat kasap mata, kemudian seorang laki-laki berkata pada iblis : wahai abu Murrah, bagaimana aku berperilaku sehingga aku menjadi sepertimu? Iblis menjawab : “celaka engkau, belum pernah ada yang meminta dariku seperti ini, bagaimana bisa engkau meminta, engkau anak manusia?”

lelaki itu berkata : sesungguhnya aku mencintai pertanyaan itu.

Iblis menjawab : adapun jika engkau ingin seperti aku, maka rendahkanlah shalat dan bersumpahlah atas sesuatu tidak peduli hal itu benar atau dusta

Lelaki itu berkata : mulai detik ini aku tidak akan meninggalkan shalat, dan tidak akan pernah bersumpah karena takut terjatuh dalam dusta

Iblis terbelalak dan berkata : tidak pernah ada yang menipuku sebelum ini, sungguh aku tidak akan pernah lagi menasihati anak Adam]

wuihhh, kereen nih lelaki, moga nanti di surga ketemu

a’udzubillah min asy syaithan ar rajiim
bismillahirrahmaanirrahim,
Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad

masuk bahasan :
pertama, tentang mendirikan shalat untuk mengingat Allah

Dalam tafsir ath Thabary, ada dua pendapat tentang makna ayat ini, pertama mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah. Kedua, mendirikan shalat itu adalah saat ingat akan shalat.
Dari dua pendapat ini, imam Thabary cenderung pada yang pertama, bahwa shalat adalah untuk mengingat Allah.

Kaum Mukminin, yang meyakini keberadaan Allah, percaya dengan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad, adalah mereka yang menegakkan shalat, al Qur’an selalu menyebutkan tentang mendirikan shalat dengan kata “iqamah” “shalat”.
Al Qur’an tidak mensifati kaum beriman yang menegakkan shalat dengan bahasa tukang shalat (mushallin)

kata-kata mushallin (tukang shalat) adalah kata yang terdapat dalam surat al ma’un untuk menggambarkan shalatnya orang munafik.

Hal yang paling mengganggu tegaknya mengingat Allah adalah urusan dunia, khususnya perniagaan,

Allah mengabarkan hal itu didalam surat an Nuur ayat 37 :
“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula dilalaikan) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”

Cara Allah mengingatkan disini sangat unik, bahwa Allah memuji mereka yang berniaga, menjadi kaya, tetapi semua itu tidak menyebabkan mereka lalai dari mengingat Allah.
jadi tujuan shalat itu mengingat Allah.

kedua, tentang shalat adalah kewajiban yang ditetapkan waktu-waktunya.

cerita dikit diluar topic ya, waktu mencari tentang kenapa waktu shalat wajib ada di 5 waktu di waktu yang Allah tentukan itu,
bahasan diawal babnya dalam buku tanbih al ghafilin adalah tentang keutamaan ummat Muhammad,
salah satu disebut dari ummat Muhammad ada 70 ribu orang masuk surga tanpa hisab,,,, hiks masih ada ga ya kuota nya ….
doa yuk , do’aku “semoga Allah menjadikan aku satu dari 70ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, aamien”

ini bab, yang didalamnya terdapat yang kucari, tentang waktu-waktu shalat, adalah bab tentang keutamaan ummat islam…. bab ini wajib diterjemahkan khusus lengkap, bukan dicomot kaya tulisan artikel tentang shalat…. bab yang bisa menentramkan para pegiat Indonesia Tanpa JIL, supaya dapat memandang permasalahan lebih komprehensif dan tidak linear …. banyak sekali dialog-dialog dengan nabi Musa,,, keren dan menguras air mata…..

semua yang nabi Musa inginkan ada pada ummat Muhammad, tapi Allah telah membuat nabi Musa ridha …. syukur tiada terhingga menjadi ummat nabi Muhammad …. karunia Allah …. dan dari ummat nabi Musa itu ada yang tetap dalam petunjuk dan ada pula yang bengkok.

balik lagi tentang waktu shalat….

kita mulai dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan ABu Darda
“yang terbaik diantara ummatku adalah para pengamat langit dan matahari”
Abu Darda menjelaskan : mereka yang senantiasa menanti dan menjaga waktu shalat

Maka ketika dikatakan bahwa ihsan itu adalah “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatnya, dan apabila kamu tidak melihatnya maka Allah melihatmu”

jika dipraktekkan dalam shalat, ketepatan waktu dalam shalat sangat urgent. Ketika bumi berputar, waktu adalah sudut-sudut putaran, maka shalatlah saat pintu langit terbuka untuk dimensi ruang dan waktu yang terkait dalam sudut yang tepat, agar kita menyembah Allah dalam keadaan melihat atau terlihat

kenapa 5 waktu dipilih sebagai waktu shalat wajib, dulu kala suka nemu jawaban “ga perlu dipertanyakan?”

nah ternyata sekarang, alhamdulillah ketemu jawabannya

Haditsnya diriwayatkan Ali radhiyallahu ‘anhu

[Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk dengan kaum Muhajirin dan Anshar, datang padanya sekelompok Yahudi, mereka berkata : Wahai Muhammad sesungguhnya kami bertanya kepadamu, tentang kalimat-kalimat yang Allah Subhaanahu wa ta’alaa berikan pada Musa putra Imran, tidaklah kalimat-kalimat tersebut diberikan kecuali kepada para nabi yang diutus atau para malaikat muqarrabun.
an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “bertanyalah.”

Mereka berkata : kabarkanlah tentang shalat lima waktu yang Allah wajibkan kepada ummatmu.

anNabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “adapun shalat dzuhur, maka ia adalah waktu dimana neraka Jahannam dinyalakan, tidaklah seorang mukmin shalat diwaktu ini kecuali Allah mengharamkan atasnya bara Jahannam di hari kiamat.

adapun shalat ashar, ia adalah diwaktu adam memakan pohon, maka tidaklah seorang Mukmin mengerjakannya kecuali keluar dari dirinya dosa-dosa hingga bersih bagai hari dilahirkan ibunya, kemudian Rasulullah membaca : jagalah shalat-shalat dan shalat wustha”.

Adapun shalat Maghrib, maka ia adalah waktu dimana Allah menerima taubat Adam, maka tidaklah seorang muslim melaksanakannya dengan penuh pengharapan kemudian meminta sesuatu kepada Allah kecuali Allah berikan padanya.

Adapun shalat ‘atmah atau shalat isya,sesungguhnya kuburan itu gelap, dan hari kiamat itu gelap. Maka tidaklah seorang mukmin berjalan di kegelapan menuju shalat ‘atmah kecuali Allah mengharamkan atasnya bahan bakar neraka dan membuatnya sanggup melewati ash shirath.

Adapun shalat fajar, tidaklah seorang mukmin melaksanakn shalat fajar dalam jama’ah sepanjang 40 hari, kecuali ia terbebas dari dua hal : terbebas dari api neraka, dan terbebas dari kemunafikan.

Para rombongan berkata : benarlah engkau. wahai Muhammad mengapa Allah mewajibkan atas ummatmu puasa 30 hari?

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab : sesungguhnya Adam ‘alaihi as salaam ketika memakan pohon tersisa ruang diperutnya kadar 30 hari, maka Allah mewajibkan keturunannya untuk berlapar-lapar selama 30 hari. dan boleh makan dimalam hari sebagai karunia Allah kepada hambanya
rombongan berkata : engkau benar, kini kabarkanlah kepada kami ganjaran bagi ummatmu yang berpuasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Tidaklah seorang hamba shaum dibulan Ramadhan kecuali satu harinya dibalas dengan tujuh rupa imbalan, pertama meluruhnya daging-daging haram dari tubuhnya, kedua kedekatan terhadap kasih sayang Allah, ketiga dianugerahi amalan terbaik, keempat dijaganya dari kelaparan dan kehausan, kelima diringankan adzab kubur, keenam diberi cahaya dihari kiamat hingga bisa melewati shirath, ketujuh diberi karamat dalam kehidupan surga”
para rombongan menjawab : engkau benar wahai Muhammad, lalu kabarkanlah tentang keutamaan engkau atas para nabi,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : Tidaklah seorang nabi kecuali berdo’a meminta hukuman atas kaumnya, adapun aku menabung do’a untuk ummatku, yakni syafa’at dihari kiamat”
para rombongan menjawab : engkau benar wahai Muhammad “kami bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Engkau adalah utusan Allah”

orang-orang yahudi yang kemudian memutuskan berislam di saat itu , bersikap mengecek kenabian nabi Muhammad sesuai apa yang mereka terima dari kitab suci yang ada pada mereka.

menelusuri jejak keagungan ritual, bahwa inilah esensi ibadah, dan kemudian ada perintah-perintah Allah lainnya, keta’atan kepada Allah, totalitas penghambaan.

membangun peradaban berarti memperbaiki ritual kita pada Allah, menyembah Allah sebagaimana yang Allah gariskan buat ummat islam.

nah tentang tentang shalat

sebetulnya masih ada satu lagi kabar berita tentang waktu shalat ini, biar saja menjadi pembuka tulisan yang kedua esok insyaallah

tentang tulisan ini, tentang shalat,
mungkin ada yang berkata padaku : “kenapa aja loh selama ini? baru tahu yang beginian”
sesungguhnya aku berkata : astaghfirullah wa atuubu ilaihi

maklumlah gadis kampung yang tak pernah menjejak dunia (tapi berani-berani menganalisa dunia)

ahh, aku menganalisa dunia sesuai anugerah yang telah Allah limpahkan

dan karunia Allah bagi setiap orang itu berbeda-beda

Subhaana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘amma yashifuun, wasalaamun ‘alaa al mursaliin
walhamdulillahi rabbil ‘aalamien

idul fithri

semalam ada diskusi menarik…. heee menarik pisan…
membongkar rasa, konon meneror lawan bicara ….

tentu dengan maksud dan tujuan,,,
tapi sebelum bicara tentang diskusi yang lari kemana-mana…..
yuk ahh kita lihat teks-teks hadits idul fithri

diskusi berawal dari makna idul fithri, apakah “sekedar” berbuka
atau kembali ke “fithrah”

fithri, fithrah …. dua kata yang berasal dari huruf “fa” “tha” “ra”
denga asal huruf yang sama boleh jadi punya keterkaitan langsung atau tidak langsung, baik terkait positif atau oposannya ….

Fithri, adalah berbuka, iedul fithri adalah hari berbuka…..
lalu secara falsafah nya Rasulullah mengabarkan “hari bagi-bagi hadiah, hadiah utamanya pemaafan dari Allah, hadiah plusnya sesuai permintaan”…… dan hadiah ini diberikan dilapangan saat rangkaian shalat ied.

zaman dahulu kala,,,,, ketika belum banyak mengakses buku-buku klasik,
cenderung menyatakan idul fithri adalah kembali ke fithrah…..
sesuatu yang tidak salah…. tapi maka a sense nya kurang…..
dengan terminologi “iedul fithri” kembali ke fitrah, seringkali menghantarkan idul fithri sebagai tujuan ….

klo kita cek, hadits pertama yang banyak dikutip para ulama terdahulu tentang idul fithriy, adalah hadits berikut ini, hadits tentang bagi-bagi hadiah atau bagi-bagi imbalan :

“Di pagi hari idul fithri Allah mengirim malaikat ke setiap penjuru negeri mendarat di tanahnya lalu berdiri dipinggir-pinggir jalan (di kedua sisinya, membentuk rel menyambut para yang berpuasa menuju tempat shalat), kemudian menyeru dengan suara yang didengar seluruh makhluk Allah, kecuali jin dan manusia, seruan itu adalah : wahai ummat Muhammad, keluarlah MENUJU Rabb yang Maha Pemurah, Yang mengampuni dosa-dosa besar. Jika Ummat Muhammad keluar dengan bersegera menuju tempat shalat ied, Allah berkata kepada malaikat : wahai malaikatku apa hadiah bagi pekerja jika telah menyelesaikan tugasnya?
para malaikat menjawab : “Tuhan kami, pemimpin kami, balasannya adalah agar Engkau memenuhi imbalannya”
Allah berkata : wahai Malaikatku, aku mempersaksikan pada kalian bahwa aku telah menjadikan imbalan atas shaumnya mereka, dan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berdiri yang panjang, adalah imbalan berupa keridhaanKu dan ampunanKu”
lalu Allah berkata pada mereka yang hadir di tempat shalat ied : “mintalah kepadaKu, Demi KemuliaanKu dan keagunganKu, tidaklah kalian meminta padaKu dihari ini, permintaan saat berada dalam jama’ah shalat ied ini, berupa permintaan tentang akhirat , kecuali aku berikan, dan tidaklah kalian meminta tentang dunia, kecuali aku mempertimbangkan bagi kebaikan kalian, pulanglah dalam keadaan terampuni, sungguh kalian telah membuat aku ridha, hingga aku ridha pada kalian”

bagiku betapa dahsyatnya hadits ini,
betapa menunjukkan yang utamanya adalah “pekerjaan bulan Ramadhan, yaitu shaum, dan membaca al Qur’an yang panjang dalam shalat, berdiri yang panjang hingga letih”
dua amalan yang mendatangkan pahala dahsyat, ampunan dan keridhaan Allah….
betapa nuansa “ritual yang sangat kental”

terminologi idul fithri kembali ke fithrah bukan sesuatu yang salah, tetapi bagi saya “not make a sense”

di hari Fithri, atau dihari berbuka, hari makan, yang Rasulullah inginkan adalah sebanyak-banyaknya memberi makan, masak yang banyak, bikin open house, semakin banyak yang makan hidangan “fithri” semakin ok, sesuai budget kemampuan
haditsnya : barang siapa memberi makan orang miskin di hari ied, memberi makan satu orang dibebaskan dari api neraka, barang siapa memberi makan dua orang dibebaskan dari sifat kemusyrikan dan kemunafikan, barang siapa memberi makan 3 orang diwajibkan atasnya surga”

di hari idul fithri, sebelum shalat ied, memakai pakaian terbaik, pagi hari mandi dan berwewangian, lalu sarapan, lalu ke luar, merasakan kehadiran malaikat di pinggir-pingir jalan, menyambut manusia-manusia mulia yang selesai melaksakan tugas dari Allah…. bulu kuduk merinding serasa jadi orang penting,
lalu pulang disuruh cari jalan lain, biar malaikat tambah banyak yang do’ain, ahhh lebih kereeen dari selebritis red carpet”
Lalu bersalaman dengan setiap yang ditemui menggenggam erat tangan-tangan mereka sambil saling mendo’akan “Taqabbalallahu minna wa minkum – semoga Allah menerima amal ibadah kita” hiks, hiks, hiks, pasti banjir air mata

dan semua ini tiada kasap mata, adalah keimanan pada Allah yang dapat membuat menjadi berasa, hingga tetes-tetes airmata tidak terbendung tumpah ruah dihari idul fithri,

sungguh dalam waktu segera pemandangan lapangan-lapangin idul fitri akan berubah menjadi ladang meminta akhirat dengan sungguh-sungguh dipenuhi deraian air mata kesyahduan…
do’a, minta yang banyak, minta yang keren sama Allah,
semakin syahdu saat meninggalkan lapangan mendengar Allah mengatakan : “pulanglah kalian telah terampuni”

dengan struktur berpikir begini, baru terasa makna dalam idul fithri sebagai “kembali ke fithrah”

nah di buku at tabshirah ibnu al jauzy disebutkan, hendaknya hari idul fithri menyiapkan roti, daging, susu, mentega (makanan berkarbohidrat, berprotein, berlemak, bervitamin)

cukup sehari ini saja, satu syawal, berbuka….. esoknya ikutilah dengan shaum 6 hari dibulan syawal, sempurnalah shaum bagai shaum seluruh tahun.

lisan yang terarabkan

Lisan yang menjadi arab,

Sungguh harus menjadi kebanggaan dan cita, saat al qur’an kitab suci kita diturunkan Allah swt dalam bahasa arab.

Allah bangga mensifati Al Qur’an dengan arab, redaksi “qur’aanaan ‘arabiyyan”
Maka betapa indahnya jika dapat memahami bahasa yang Allah pilih ini.

Jadi mimpi besarnya tentang al qur’an dan kepahamannya, dimulai dengan target utama anak, dan bisa juga dipakai remaja dan dewasa.
Mimpi ini akan diuraikan dalam dua kerja besar bidang penerbitan,
Pertama : menerbitkan buku-buku motivasional, pola pemikiran, dan wawasan… Misal buku komik ulumul qur’an yang diterbitkan tiga ananda (tiga serangkai)

Kedua : menerbitkan buku teknis dan sumber belajar…
Rencana nya untuk tipe buku ini ada 38 buku, yaitu :
6 buku buat belajar dari nol sampai siap belajar bahasa arab dan siap tahsin. Terima kasih untuk kyai as’ad human dengan ide iqra nya. Konsep buku nya mengadopsi iqra, tambahannya adalah 6 buku ini mecoba mengajak agar memahami apa yang dibaca, ia mirip kamus bergambar, asyik deh pokoknya, insyaallah.
Penerbit tiga ananda (tiga serangkai) siap meluncurkan bulan agustus

2 buku untuk latihan tahsin. Jadi buku ini menyebut sedikit teori tahsin (makhraj dan tajwid)… Tapi intinya ini buku isinya ayat-ayat al qur’an yang dikelompokkan berdasar tingkat kesulitan dan pembagian bab dalam pelajaran tahsin

30 buku untuk belajar bahasa arab,
30 buku ini adalah buku cerita bergambar, terdiri atas 10 tingkat dengan 3 kawan paralel di setiap tingkatnya,
Maksudnya bakal ada jilid 1a, 1b, 1c.
2a, 2b, 2c hingga 10a, 10b, 10c

Semoga Allah menghadirkan surga buat mam fifi, konseptor, founder dan ruler Jakarta Islamic School yang mengenalkan ke peter and jane… Konsep yang kemudian di adopsi…
Kesulitan utama dalam hal membuat seperti buku peter and jane untuk bahasa arab adalah

pertama, tentang tujuan pembelajaran,ini akan terkait kalimat yang dipilih untuk dikenalkan.
Kedua, pembagian level kata ganti,
Ketiga, pembagian level nahwu dan sharaf, dan
Keempat, keindahan bahasa

Kesulitan berikutnya adalah tentang tema cerita yang menarik sesuai dengan kata yang ingin dikenalkan
Dan masalah berikutnya tentang proses ilustrasi.

Masalah-masalah lambat laut teratasi (lambat laun, maksudnya telat… Hiks)

30 judul buku itu, judul-judulnya bakal begini :
1 : (a) bermain tanah, (b) mandi cahaya, (c) kembang api di malam rembulan.
2 : (a) tamasya ke sungai, (b) berlayar di lautan, (c) memecah air
3 : (a) ulang tahun mama, (b) senyum untuk papa, (c) pecahnya piala kaca
4 : (a) teka-teki gulungan coklat, (b) mama yang lembut kali ini marah, (c) kaki papa yang bengkak
5 : (a) crayon ajaib, (b) kapur bicara, (c) tinta penyihir
6 : (a) membuat kliping perang, (b) cinta perdamaian, (c) tetangga kami bu Maria
7 : (a) gadis cantik di hati az zubair, (b) nyanyian sa’da, (c) pesta meriah
8 : (a) mesin waktu, (b) aku mau sepotong roti, (c) pengemis yang menghilang
9 : (a) rahasia kakek umar, (b) terminal malaikat, (c) janji kami
10 : (a) batu terkutuk, (b) meneropong matahari, (c) robot perkasa

Cerita-cerita ini isi penceritaannya dibimbing 2buku imam baihaqy : syu’ab al iman dan fadhail al awqaat, plus tanbih al ghafilin nya imam as samarqandy

Klo kosakata yang diajarkannya adalah 1544 kata (klo ga salah itung)
Yang dicantumkan dalam mufradaat al qur’an karya imam ar raghib al ashfahani…

Klo pembagian level kata ganti, nahwu dan sharaf, insyaallah semoga mudah-mudahan bener-bener sesuai dengan karakter linguistik orang indonesia, jadi grammar arab yg diajarkan dengan memahami psikologis “kebahasaan” kita.
Tentang ini, terimakasih buat asatidzahku di stiu di alhikmah pada pelajaran nahwu dan sharaf, ustafz rasyid bakhbazy, ustaz mas’ud dan ustadz djadjat… Terima kasih juga buat syaikh khoory yg bangun ma’had al imarat di bandung, hingga bisa mengajarkan nahwu yg memperkokoh pemahaman.

Meramu semua itu menjadi suatu pekerjaan ilmiah dengan artwork yang menarik adalah pekerjaan yang semoga Allah mencatatnya sebagai amalan shalih,

Terima kasih buat penerbit tiga serangkai yang sangat sabar, dengan seseorang “telatan” seperti aku….

Aku itu ya udah telat paham, telat nikah, telat mengerjakan, telat deh hehe …Astaghfirullah…

Semoga penerbit tiga serangkai, pendirinya, dan seluruh pasukan pegiat bukunya, semoga senantiasa berjaya, menghadirkan jalan pencerahan bagi bangsa … Amal ibadah yang diterima Allah….

Semua ini, adalah saat Allah mengkaruniakan waktu enam tahun mengenal jalan bangka 3a pela mampang, jakarta selatan
Saat-saat nan indah menimba ilmu dari para pemangku dakwah mulia,
Ohh dirasat al hikmah tercinta…
Semoga menjadi kuliahan yang semakin besar, menjadi mercu suar ilmu… Ustadz Bukhary support untuk bikin paska sarjananya, dengan pengantar bahasa arab ^_^

Bismillahiirahmaanirrahim
Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad
Do’aku memohon kebaikan pada Allah dari apa yang aku kerjakan,
Dan berlindung pada Allah dari keburukan apa yang aku kerjakan

islam bukan arab? apa iya?

a’udzubillah min asy syaithan ar rajiim

Aku berlindung pada Allah dari setan yang terkutuk,

Saya mulai tulisan kali ini dengan ta’awudz, karena apa yg akan saya tulis tentang ayat… Pemahamannya masih berat di otak saya,,,
Mudah2an dengan menulis ada para ahli yang ikut nimbrung supaya semakin memperjelas struktur berpikir yang harus kita miliki.

Tulisan ini berawal dari kritik saya pada suatu redaksi dalam sebuah buku, dari redaksi berikut ini :
“islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Yang saya kritik dalam tulisan sebelumnya adalah kata : “hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Redaksi demikian, bagi saya, terasa menyepelekan keberadaan “arab” dalam takdirnya menjadi bahasa dan bangsa yang dipilih Allah menerima langsung kebenaran islam,

Maka dari itu, redaksi pengganti yang saya usulkan adalah :
“Islam adalah agama internasional, kasih sayang bagi semesta alam, dimana Allah memuliakan bangsa arab dengan menjadikan nabi ummat islam dari bangsa arab dan menjadikan orang-orang pelopor penyeru islam dari bangsa ini, bangsa arab”

Redaksi tulisan yang saya sarankan diganti, telah ada dibuku yang tercetak, dan semoga saja andai buku tersebut di cetak ulang, mba Afifah Afra berkenan mempertimbangkan koreksi tersebut.

Tetapi yang kemudian menjadi sorotan, adalah hal yang saya sedang perhatikan, beberapa saat sebelum ini…

Mba afifah afra sebagai penulis menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah

Yuuk kita lihat …. Check it out

Ketika tadabbur ayat-ayat al qur’an, sampai pada ayat 37 surat ar ra’du,
Klo terjemahan versi depag :
“Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan menolong engkau dari (siksaan) Allah.

Dan namanya juga tadabbur, terjemahan versi depag ini saya coba cek dari sisi kaidah bahasa arab dan kemudian buku-buku tafsir yang dapat saya akses.
Saya membaca kitab-kitab tafsir berikut ini:
1. Tafsir thabary
2. Tafsir ibnu katsier
3. Tafsir ar razy
4. Tafsir an nasafiy
5. Tafsir imam syafi’I
6. Tafsir an naisabury
7. ‘Irab qur’an wa bayaanih

Sesudah membaca tafsir2 tersebut, terjemahan saya atas ayat 37 surat ar ra’du adalah seperti berikut :
“Dan demikianlah kami turunkan ia (al qur’an) dalam kondisi sebagai agama arab, sekiranya kamu mengikuti keinginan mereka (orang yahudi dan nashrani) setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tiada bagimu dari siksa Allah penolong dan tiada pula pelindung”

Al qur’an adalah hukman ‘arabiyyan: hukum arab, agama arab, sistem arab.

Begitu yang tercantum dalam tafsir thabary.
Imam thabary menulis : “Allah yang tinggi sebutanNya berkata : sebagaimana kami turunkan kepadamu kitab ini wahai Muhammad. Maka mengingkarinya beberapa golongan.
Demikian pula kami menurunkan hukum dan agama sebagai hukum arab, menjadikannya bersifat arab, memberikan sifat arab padanya dengan sifat tersebut karena agama ini turun pada Muhammad SAW dan ia adalah orang arab, maka agama ini dinisbatkan kepada arab. Karena agama ini diturunkan padanya, maka golongan-golongan mendustakannya. (Tafsir thabary, jilid 16 hal 475, cetakan syakir)

Apa mesti dikata?
Islam adalah agama arab, demikian yang imam thabary sampaikan….

Lalu bagaimana korelasi dengan : “islam adalah rahmatan lil ‘aalamien”

Brilliannya imam syafi’i, tafsirnya tidak menyebutkan hal demikian,
Imam syafi’I hidup sebelum imam ath thabary.
Pemahaman seperti yang diatas dianggap akan menjadi pemahaman otomatis, karena nabi Muhammad SAW adalah orang arab, maka agama ini agama arab, dengan bahasa arab,
Dalam tafsir ayat ini imam syafi’I menyebutkan kewajiban mempelajari bahasa arab,
Begini cuplikan tafsir imam syafi’I (tafsir imam syafi’I ini adalah kumpulan perkataan imam asy syafi’I dalam buku-buku nya yang terkait al qur’an)
Dari kitab ar risaalah : “sesungguhnya nabi Muhammad diutus kepada seluruh ummat manusia, kita dapat anggap bahwa nabi Muhammad diutus dengan lisan kaumnya, maka kewajiban seluruh ummat manusia agar mempelajari lisan nabi Muhammad dan apa-apa yang mampu mereka lakukan”

Imam an Naisabury, menggambarkan hal yang lebih mendalam, menceritakan psikologis nabi Muhammad ketika ayat ini turun.
Orang yahudi sebagai ahli kitab selalu melancarkan serangan-serangan pada setiap ketetapan dalam agama islam yang Allah turunkan lewat al Qur’an.
Diantara serangan yahudi ini adalah mempertanyakan kearaban nabi Muhammad, tatkala kiblat shalat ummat Islam dipindah ke mesjidil haram, nuansa kearaban dalam agama islam semakin kental.
Bertambahlah dengki orang yahudi, mereka berusaha memindahkan kembali kiblat ummat islam. Issue yang digulirkan adalah “rendahnya nilai kearaban”, mereka kaum yahudi menyebut bahwa penghalang mereka mengakui kenabian nabi Muhammad adalah tradisi-tradisi arab yang “tidak manusiawi”, “menindas wanita misal pernikahan poligami”,etc.

Ejekan orang yahudi saat itu pada nabi Muhammad adalah “tidak mungkin ia (Muhammad) seorang nabi, lihat aja perhatiannya hanya pada kawin dan perempuan, kalau benar ia seorang nabi maka ia akan sibuk dengan wahyu kenabian”

Saat nabi Muhammad SAW melihat kondisinya, ada hal-hal yg benar dari ucapan ini, yaitu banyaknya istri yang dimilikinya.
Ejekan yang Allah balas dengan keterangan yang menentramkan nabi Muhammad, bahwa nabi adalah manusia yang makan dan menikah, nabi bani israil seperti Sulaiman, memiliki 360 wanita, baik istri maupun budak, nabi Daud ayahnya sulaiman memiliki 100 wanita”

Ayat ini mempertegas, tidak ada masalah dengan kearaban, sebagaimana yang kaum yahudi permasalahkan,
Islam adalah hukman ‘arabiyyan

Sesudah membaca semua ini,
Bagi saya, saya harus lebih berhati-hati memisahkan antara arab dengan islam,
Karena sampe hari kiamat al qur’an akan selalu berbahasa arab,
Sampe hari kiamat, pernyataan syahadat harus dengan bahasa arab,
Sampe hari kiamat, shalat harus ditegakkan memakai bahasa arab.

Jadi justru ketika mba afifah afra menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah,

Bagaimana dengan surat ar ra’du ayat 37 tersebut?

Tadinya saya belum mau menyentuh masalah ini, hanya fokus pada penghormatan pada bangsa arab, dan melakukan kritik atas kalimat : “hanya ditakdirkan di arab”

Jadi kalau semakin mengkaji,
Versi ganti atas redaksi ini “islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Adalah justru lebih ekstrim lagi :
“Islam adalah agama arab, ditakdirkan diturunkan di arab, untuk menjadi risalah yang menginternational”

Saya memahami awal kemunculan istilah islam bukan arab, dari banyak pemikir, pemisahan arab dan islam adalah karena carut marut kebudayaan arab, yang kemudian pemisahan ini terjadi, maksud hati menyelamatkan islam, memisahkan ketinggian islam dari keburukan kebudayaan arab, tapi jika upaya pemisahan tersebut bertentangan dengan al qur’an?

Kenyataan bahwa islam adalah agama arab, tidak menghalanginya menjadi risalah yang menginternational

Berada dalam posisi sulit, jika dalam kelemahan kemudian harus “menaklukan” peradaban tinggi.

Betapa sulitnya fir’aun mengimani Musa, karena Musa adalah seorang buronan dengan kasus pembunuhan, Musa juga berasal dari kaum budak.
Kenyataan yang sulit diterima Fir’aun untuk memeluk agama kaum yang diperbudaknya.
Sulit bagi fir’aun untuk menyembah tuhan yang disembah kaum yang diperbudaknya.

Betapa sulit bagi Abu Jahal beriman pada nabi Muhammad SAW, yang tidak lebih kaya darinya, tidak memiliki kebun-kebun seperti pamannya Abu Jahal (al walid bin al mughirah),
betapa berat bagi abu jahal mengakui bahwa Allah memilih nabiNya dari klan hasyim yang jelas-jelas merupakan rival utama klan makhzum.

Lalu tantangan kita zaman ini?
Apapun carut marut pada bangsa arab kini, atau dahulu ….

Saya mengimani agama islam adalah hukman ‘arabiyyan, sebagai satu-satunya agama yang benar, menunjukkan pada Allah,
Agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia
Tiada masalah bagi saya beriman pada satu risalah kebenaran yang turun di tanah mulia, tanah arab.

Islam dan arab, kata yang digunakan musuh-musuh islam sebagai senjata dua mata.
Pertama, digemborkan islam adalah arab, supaya orang tidak mau masuk islam saat melihat perilaku negatif orang arab.
Kedua, digemborkan islam bukan arab untuk memisahkan para pemeluknya dari agama ini, agama yang seluruh ajarannya turun dengan bahasa arab, pada bangsa arab, di tanah arab.

Aku menghormati arab dan kearaban,
Beriman pada kebenaran islam, islam adalah agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia.

Demikian pemahaman dari tadabbur yang pastinya tiada pernah henti hingga datang ajal yang telah pasti