Terhempas Badai – 50 (Rasa Takut yang Berguna)

Lima Puluh : Rasa Takut yang Berguna
    Pembicaraanku dengan Hafshah belum selesai ketika Ibnu Umar datang, wajahnya gusar, kegusaran yang tidak akan ditangkap banyak orang, namun selalu aku lihat, ia yang tidak pernah bisa memutuskan untuk berada di pihak mana. Keberpihakannya adalah hanya pada rangkaian kata-kata Rasulullah yang terhujam dalam pikiran dan hatinya.
    Tapi itu semua sesungguhnya adalah puzzle yang belum tersusun dengan rapih, seringkali kita menemukan dibagian mana sesungguhnya satu kata dari baginda Rasulullah harus diletakkan dan dipergunakan dalam kehidupan justru ketika kesalahan telah dilakukan. Kesalahan demikian telah dirasakan dengan mendalam oleh adikku, Aisyah. Semua ucapan-ucapan Rasulullah tentang rentetan peristiwa mulai dari terbunuhnya Khalifah Utsman hingga fitnah-fitnah yang terjadi sesudahnya tak dapat dipahami Aisyah kecuali setelah semua terjadi. Duhai penyesalan yang tidak pernah menjadi pembuka suatu peristiwa.
    Dan kini Ibnu Umar, Ia yang seakan tidak menunjukkan sikap apa-apa pada setiap peristiwa yang terjadi. Berdiam saat peristiwa Jamal, hening saat peristiwa Shiffin. Kini keadaan memuncak. Awan telah teramat hitam pekat dan berat, siap memenuhi bumi dengan tetesan-tetesan yang bisa jadi adalah justru kucuran darah. Ia datang pada Hafshah bertanya dengan tatapan yang menggambarkan “apa yang harus aku lakukan?”
    Kami semua telah mengetahui bagaimana Hasan putra Ali akan bersikap, penghulu pemuda surga itu lebih mencintai akhirat. Kata-kata Hasan telah membuat Habib menyadari batas-batas keberpihakan. Ia mencintai Muawiyah, sangat.
    Bagi Habib, Muawiyah adalah sesosok pemimpin yang melahirkan kemenangan, ketajaman menganalisa dan memutuskan, seluruh kelihaian Bani Umayyah tertumpah pada pribadi Muawiyah. Jika tanah mesir bangga dengan para Fir’aunnya, kedigjayaan Romawi kagum dengan para Kaisarnya, bumi Persia takjub dengan para Kisranya, maka Muawiyah adalah jelmaan semua harapan dan mimpi bangsa arab akan karakter pemimpin.
    Habib selalu mengingat ejekan-ejekan orang Persia bagi bangsanya, bangsa arab. Saat itu ia baru berusia lima atau enam tahun, udara Mekkah masih diliputi api permusuhan pada baginda Rasul, ia melihat bagaimana kafir Quraisy ketika itu menyiapkan pasukan perang Parit.
    Habib bertanya-tanya akankah kota kosong, semua ingin menyerbu kota kecil di utara Mekkah, mengapa? Pertanyaan yang menghantarkannya mengenal sosok Rasulullah, orang yang meniupkan udara kedigjayaan. Suatu kedigjayaan atas nama Allah yang diliputi kesetaraan dan keadilan. Bahwa kota-kota Persia akan ditaklukan, bahwa kota-kota Romawi akan ditaklukan.
Mungkinkah?
    Sementara orang-orang Thaif jika bercakap di kedai-kedai kopi mereka mengisahkan perjalanan Harits bin Kildah ke Madain di negeri Paris, Harits seorang dokter arab dari Thaif yang bisa menjumpai Kisra Anusyirwan.
“apa pekerjaanmu?” Kisra bertanya
“aku seorang dokter” Harits menjawab
“Bukankah kamu seorang arab kampung?” Kisra keheranan dengan jawaban Harits
“ya, aku orang arab kampung, dari jantungnya arab kampung” Harits tetap menjawab dengan tenang
“memangnya orang arab menghormati profesi dokter, mereka kan bodoh, lemah akal, makan makanan yang tidak bergizi, bagaimana?”
    Ucapan yang seharusnya sudah membuat Harits naik pitam, tapi kisah ini pun selalu kukenang, akupun mendengarnya dari orang-orang Thaif yang bangga dengan cara Harits menghadapi kepongahan Kisra. Jika kisah yang Habib dengar sama dengan seperti yang aku dengar maka kelanjutannya akan seperti ini
“Wahai tuan raja, jika benar orang arab memiliki sifat-sifat seperti yang engkau katakan, maka mereka sangat memerlukan kehadiran dokter yang akan mengobati kebodohannya, meluruskan kebengkokannya, serta membimbing jiwa dan raganya. Sesungguhnya seseorang yang berakal akan mengetahui hal-hal yang benar dan baik dengan sendirinya, mengetahui letak-letak penyakit dan menyembuhkannya sendiri, dan demikianlah orang pintar mengatur segala sesuatu untuk dirinya sendiri”
Kisra Anusyirwan terbelalak kagum dengan ucapan Harits, ia lalu berkata
“bagaimana kamu bisa mengetahui hal-hal yang engkau sebutkan, bukankah kebijaksanaan tidak cocok berada pada tempat-tempat kebodohan?”
Harits masih memiliki kata-kata untuk menjawab : “Akal dan kecerdasan adalah pemberian Allah, ia dibagi-bagi sebagaimana rizqi dibagi-bagi, maka ada suatu bangsa yang secara umum mereka digjaya, tetapi kita tetap saja akan menemukan adanya diantara mereka berbagai tipe manusia, kalangan pandai, kalangan kaya, kalangan miskin dan kalangan bodoh, ada kalangan kuat dan ada kalangan lemah. Semua itu adalah ketetapan dari yang Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.
“wow, wow, wow, eloknya yang engkau katakan, lalu apa yang engkau banggakan sebagai orang arab?” Kisra menyelidik
“mereka adalah bangsa yang dermawan, memberikan seluruh apa yang dimiliki, bangsa yang jelas dan benar nasabnya, bangsa yang fasih bahasanya, dan lisan yang tepat sasaran dalam menyampaikan, tutur kata mulia yang lebih lembut dari terpaan angin musim semi. Bangsa yang tiada gentar dalam peperangan, tekad yang tidak pernah menciut jika telah dipancang, hingga tiada yang sanggup melewati batas-batas kehormatannya, dan tidak dihinakan orang-orang mulianya”
    Kisra Anusyirwan terdiam dan mengakui semua ucapan Harits, lalu mereka bercakap-cakap tentang ilmu kedokteran, maka Harits mendapat tempat terpuji dimata Kisra.
    Kisah ini kudengar dihari-hari beliaku di Mekkah, apa yang Habib pikirkan bisa jadi adalah seperti yang aku pikirkan sewaktu aku mendengar kisah ini, ilmu, ilmu dan ilmu. Tiada jalan kesetaraan dengan bangsa-bangsa kecuali dengan ilmu. Lalu semua itu ada pada diri Muawiyah. Ia telah mengaguminya sejak masa kecilnya.
    Penaklukan Mekkah adalah kebingungan bagi Habib kecil, apa makna semua kemenangan baginda Rasul dan para pengikutnya? Habib tak mengerti.
    Habib menyaksikan bahwa idola kecilnya, Muawiyah mengucap dua kalimat syahadat, persaksian akan adanya satu sembahan dan adanya utusan Tuhan. Ini keimanan.
Keimanan, suatu titik yang hingga hari ini masih menjadi kubu ekstrim dalam pikiran dan hati Habib. Pikiran Habib didalamnya ada tiga sisi : keimanan, ilmu dan kekuasaan.
    Hasan dan Habib selepas Shiffin, mereka bertatapan tajam. Kata-kata Hasan sudah dapat dipastikan mengganggu pikirannya, titik-titik keimanannya tepat dikenai kata-kata Hasan.
    “Seseorang berjalan, tanpa terasa berjalan di jalan tidak ta’at pada perintah Allah dan RasulNya” Hasan membuka kata
    “Sungguh, apa yang aku lakukan dengan memerangi ayahmu, bukanlah dalam jalan ketidak ta’atan pada Allah dan RasulNya” Habib menjawab antara yakin dan tidak.
    “hei, hei, hei, wahai Habib, bagaimana kau berkata tidak, sedangkan engkau menta’ati Mu’awiyah untuk urusan dunia, tidakkah kau mengerti akan sifat urusan dunia? Kelak Engkau adalah orang yang sebagaimana ayat ini gambarkan “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(At taubah : 102). Adapun dirimu hari ini adalah sebagai mana yang ayat ini gambarkan : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (Al Muthaffifin : 14)
    
    Ohh, Hasan, engkau berhasil merubah warna wajah Habib, tetapi kau tidak dapat merubah rasa cinta Habib pada Muawiyah. Dari bincangmu dengan Habib justru kami telah dapat mengira apa yang akan engkau putuskan, tentang ini, tentang kepemimpinan yang kini ada dipundakmu.
    Dan kini, disini, Ibnu Umar menatap kakak perempuannya tertua, menatap Hafshah dalam-dalam. Berdiri tegak dalam rapuh, dengan beribu tanya diwajahnya.
“Pergilah, sesungguhnya orang-orang menunggumu, aku khawatir tatkala engkau lagi-lagi terdiam tak memperlihatkan batang hidungmu, maka kesatuan yang didepan mata akan terpecah kembali”
    Ibnu Umar tak beranjak, ia hanya menatap Hafshah, dan Hafshah tak berhenti mengucapkan kata-kata yang sama.
“Pergilah, sesungguhnya orang-orang menunggumu, aku khawatir tatkala engkau lagi-lagi terdiam tak memperlihatkan batang hidungmu, maka kesatuan yang didepan mata akan terpecah kembali”
    Airmata tanpa terasa membasahi pipi-pipi kami, ini adalah keputusan yang sangat berat, 30 tahun berlalu sejak baginda Rasul wafat, kata-katanya akan menjadi kenyataan. Kami menyaksikan dan tidak dapat berbuat apa-apa. Syarat apapun yang disampaikan Hasan pada Muawiyah, tidaklah akan merubah makna hari ini. Detik bergantinya corak kepemimpinan.
    Ibnu Umar membalikkan badan, langkahnya tak pasti, ia harus menelan pil pahit atas sikap-sikapnya terdahulu. Sifat takdir yang semakin dipahaminya.
    Lalu bagaimana dengan putra-putraku, bagaimana putra-putra az Zubayr yang lainnya? Mereka tak akan bisa memahami Muawiyah sebagaimana Habib mencintainya. Abdullah tidak pernah mengenal rasa tidak percaya diri bangsa arab. Ia adalah putra tanah cahaya. Harga dirinya ditegakkan dengan kebenaran islam. Siapa yang layak memimpin adalah siapa yang Allah restui, jalan-jalan menegakkan kepemimpinan yang benar sangat jelas dihadapannya. Sumber kebenaran itu dari Allah, kekuatan itu dari Allah. Selera manusia dalam kepemimpinan bisa benar dan bisa salah, maka tidak bisa mengikuti selera manusia.
    Sepertinya peristiwa yang menimpa Abu Al Hasan dalam kepemimpinannya, belum dapat dicerna dengan benar oleh Abdullah. Ali adalah gerbang ilmu, tapi ternyata tidak cukup menjadi perayu manusia untuk ta’at dan tunduk padanya.
    Adapun Muawiyah, segalanya seakan berkumpul padanya, ilmu, kekuasaan, keimanan. Tiada sulit baginya menaklukan hati manusia hingga bisa menguasainya. Rahasia kekuasaan yang perlu dipelajari seorang pemimpin.
    Air mata masih membanjiri pipi-pipi kami, Diwaktu itu sewaktu pulang haji, ditahun Utsman terbunuh, hampir-hampir saja aku dan Hafshah ikut serta bersama Aisyah, melaju ke medan Jamal. Kata-kata keras dari Ummu Salamah menyelamatkan kami dari terhempas dalam badai, dan kamipun teringat pada ucapan Aisyah yang menyayat-nyayat jiwanya “seandainya aku telah diwafatkan sebelum peristiwa Jamal”, tangis yang semakin menjadi menghadapi kenyataan bahwa ujung semua kegaduhan ini adalah lahirnya raja yang memimpin ummat Islam. Beginilah ternyata kelahirannya.
    Sekonyong-konyong Ibnu Umar telah kembali berada di ruangan ini bersama kami, kehadirannya baru kami sadari tatkala pintu diketuk dengan cukup keras. Habib datang mengikuti Ibnu Umar dan Hafshahpun masuk ke kamarnya.
    Habib memeluk Ibnu Umar, ada kekaguman dimatanya.
    “Wahai putra al Faruq, aku tahu engkau ingin mengatakan sesuatu, kenapa kau tidak menjawab pidato Muawiyah sebagaimana yang ia minta?” Habib menyelidik
    Ibnu Umar menghela nafas panjang
“kata-kata itu hampir keluar dari kerongkonganku, aku akan berkata : “wahai Muawiyah sesungguhnya yang lebih berhak dalam urusan kepemimpinan ummat Islam adalah orang-orang yang memerangimu dan memerangi ayah dan kakekmu dengan alasan islam” tapi aku takut mengucapkan kata-kata yang memecah belah kesatuan, kata-kata yang menumpahkan darah, dan orang-orang memahamiku secara salah. Maka aku mengingat surga dan apa-apa yang Allah janjikan”

ujung terhemas badai ….. bismillah

Advertisements

Syuhada itu mengajarkan cinta

Bismillahirrahmaanirrahim

apa ini pernah ditulis di blog ini,
lupa,
tapi sering tersampaikan
sesungguhnya aku sampai kelas 3 Tsanawiyah bingung dengan konsep nasionalisme dan islam
ga ngerti, asli

maka dari itu dari kecil, saat udah mulai ngeh dengan hal-hal nasioanalisme, cinta tanah air, tanah air islam, kira-kira kelas 4 sd, kalau ada pertandingan antara tim indonesia dengan tim negara lain, aku belum tentu membela indonesia, heheh, aku cari agama atlit-atlit itu

maka, kalau pertandingan bulu tangkis, Sidek bersaudara dari Malaysia lah yang suka dibela…
tuing-tuing

tapi kemudian semua itu memudar ketika foto imam Syahid Hasan al Banna dan agus salim,
terpampang di buku merah yang kutemukan di perpus sekolah
buku yang telah lupa judulnya, foto yang mengguncang nalar nasionalisme ku

“AKU HARUS MENCINTAI NEGERIKU, HARUS MENCINTAI BANGSAKU, IDENTITASKU SEBAGAI BANGSA INDONESIA”
identitas muslim ku justru hasrus menambah ragam kecintaan pada bumi Indonesia, karena Allah telah menjadikan setiap jengkal bumi boleh dijadikan tempat bersujud ummat Islam,
dmana bumi dipijak disitu langit dijunjung

studi berlanjut, Mesir yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia, palestina ….. Konferensi Asia Afrika ____ deretan kisah indah yang membentuk nalar nasionalisme ku

Imam Syahid Hasan al Banna telah mengajarkan aku cinta ….
seorang Muslim Arab, yang tak pernah berjumpa mengajarkan cinta

lalu dimasa kerja kini, seorang arab muslim lainnya kembali mengajarkan cinta
Syaikh Muhammad Muhammad Thayyib Khoory, seorang muslim arab bekerja untuk dakwah dan islam di Indonesia,
Ma’had bahasa arab, ma’had tahfidz, pondok yatim, da’i ….
betapa banyak desa yang telah terislamkan
syaikh yang ketika ditawari bisnis di Indonesia malah berkata “bisnis di dubai aja, di Indonesia untuk beramal”
beda deh sama hiruk pikuk di papua sana, atau migas kita, perusahaan asing yang berlomba ingin menguasai
oh sangat mengingat di tahun 1998 saat ingin belajar bahasa arab, hanya ada al Hikmah yang menyediakan pendidikan intensif dengan kurikulum LIPIA,,,, kini di kota dekatku ada dekat, menebar bahasa al Qur’an
Syaikh KHoory membangun di Bandung

ketakjuban akan suatu bangsa, bangsa arab yang telah Allah pilih menjadi bangsa pertama bersemainya Islam.

kini ketakjuban makin menjadi : Mesir

Jalan ini telah dipilih, jalan demokrasi, dengan semua resiko dan konsekuensinya.
mesir, bangsa muslim arab yang mengajarkan keteguhan….. mengguncang nalar

tulisan ini tulisan pembuka, untuk membuka sudut pandang kita tentang
“mengapa Allah menciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku”
Allah sampaikan dalam surat al Hujuraat “agar saling mengenal”

Rasulullah menyampaikan : “tiada keutamaan bangsa arab atas bangsa non arab, tidak pula ada keutamaan bangsa non arab atas arab, kecuali keutamaan atas dasar taqwa”
dimanakah kita menempatkan hadits persamaan ini?

lalu bagaimana dengan konsep bahwa Allah melebihkan satu atas lainnya?
dimana pula kita menerapkannya?

supaya kita mengenal, ketika menuliskan keutamaan suatu tempat, suatu adat,
juga menuliskan kekurangannya , bukan berarti rasis, atau berasal dari jahiliyah
tetapi kita belajar “agar mengenal”

di negeri kita tercinta Indonesia, misal
adalah fakta bahwa daerah yang pertama mengenal dan bersemainya kehidupan bernegara adalah daerah jawa barat : salakanagara, banten tepatnya ….
dalam kisah pendirian Indonesia pun …… mayoritas tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dari seantero nusantara pernah meminum air bandung
sukarno, M Natsir , de el el ….

mengenal agar kita mengerti,
bagaimana bisa Allah membuka pintu syahid di Mesir sana,
mengapa ini, mengapa itu?
bagaimana ini , bagaimana itu
belajar pertama-tama dengan hadits-hadits yang Rasulullah sampaikan
frame besar mengenal geografis, suku, geopolitik

agar tak tersesat mengarungi kemajemukan dan perbedaan

sungguh nikmat malam ini membuka suatu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“orang-orang non arab itu seandainya keimanan menggantung dilangit pada bintang-bintang, maka mereka akan mengejarnya mendapatkannya. manusia yang paling berbahagia”
dikutip dari Hadits NO 8194 – Al Mustadrak ‘alaa shahiihaini- Al Hakim
redaksi yang paling aku suka, hehehe, soalnya redaksi di buku lain mengkhususkan pada orang non arab : Persia ^_^

betapa jauhnya medan syahid itu, bumi Musa bertumbuh (walau pasti ada yang berkomentar “di Indonesia juga banyak masalah)
betapa jauhnya negeri rebutan berbagai budaya itu,
tapi ilmunya, keimanannya, pemikiran terbaiknya akan kugapai
do’aku : semoga Allah mengumpulkan aku bersama para syuhada itu, aamien

oh iya redaksi hadits no 8194 itu lengkapnya adalah :
“Hakim berkata : mengabarkan pada kami abul Husein, Ahmad bin ‘Utsman bin Yahya al Bazzar yang tinggal di Baghdad, ia berkata : berkata kepada kami al ‘Abbas bin Muhammad ad Duwary, ia berkata : berkata kepada kami al Hasyim bin al Qasim, ia berkata : berbicara padaku Abdurrahman dari Abdullah bin Dinar, dari Zaid bin Aslam dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma : Berkata an Nabiyy Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Aku melihat kambing hitam yang banyak, masuk ke wilayah mereka kambing putih yang banyak.
Orang-orang berkata : “apa takwil engkau tentang itu wahai Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam)”
Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata : orang non arab menjadi sekutu kalian dalam agama kalian dan nasab kalian”

orang-orang berkata : orang-orang non arab wahai Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) ?
Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata : “orang-orang non arab itu seandainya keimanan menggantung dilangit pada bintang-bintang, maka mereka akan mengejarnya mendapatkannya. manusia yang paling berbahagia”

Hadits ini shahih sesuai syarat Imam Bukhari, tetapi Imam Bukhary dan Imam Muslim tidak mengeluarkannya

oh aku sungguh suka ini :

“orang-orang non arab itu seandainya keimanan menggantung dilangit pada bintang-bintang, maka mereka akan mengejarnya mendapatkannya. manusia yang paling berbahagia”

lisan yang terarabkan

Lisan yang menjadi arab,

Sungguh harus menjadi kebanggaan dan cita, saat al qur’an kitab suci kita diturunkan Allah swt dalam bahasa arab.

Allah bangga mensifati Al Qur’an dengan arab, redaksi “qur’aanaan ‘arabiyyan”
Maka betapa indahnya jika dapat memahami bahasa yang Allah pilih ini.

Jadi mimpi besarnya tentang al qur’an dan kepahamannya, dimulai dengan target utama anak, dan bisa juga dipakai remaja dan dewasa.
Mimpi ini akan diuraikan dalam dua kerja besar bidang penerbitan,
Pertama : menerbitkan buku-buku motivasional, pola pemikiran, dan wawasan… Misal buku komik ulumul qur’an yang diterbitkan tiga ananda (tiga serangkai)

Kedua : menerbitkan buku teknis dan sumber belajar…
Rencana nya untuk tipe buku ini ada 38 buku, yaitu :
6 buku buat belajar dari nol sampai siap belajar bahasa arab dan siap tahsin. Terima kasih untuk kyai as’ad human dengan ide iqra nya. Konsep buku nya mengadopsi iqra, tambahannya adalah 6 buku ini mecoba mengajak agar memahami apa yang dibaca, ia mirip kamus bergambar, asyik deh pokoknya, insyaallah.
Penerbit tiga ananda (tiga serangkai) siap meluncurkan bulan agustus

2 buku untuk latihan tahsin. Jadi buku ini menyebut sedikit teori tahsin (makhraj dan tajwid)… Tapi intinya ini buku isinya ayat-ayat al qur’an yang dikelompokkan berdasar tingkat kesulitan dan pembagian bab dalam pelajaran tahsin

30 buku untuk belajar bahasa arab,
30 buku ini adalah buku cerita bergambar, terdiri atas 10 tingkat dengan 3 kawan paralel di setiap tingkatnya,
Maksudnya bakal ada jilid 1a, 1b, 1c.
2a, 2b, 2c hingga 10a, 10b, 10c

Semoga Allah menghadirkan surga buat mam fifi, konseptor, founder dan ruler Jakarta Islamic School yang mengenalkan ke peter and jane… Konsep yang kemudian di adopsi…
Kesulitan utama dalam hal membuat seperti buku peter and jane untuk bahasa arab adalah

pertama, tentang tujuan pembelajaran,ini akan terkait kalimat yang dipilih untuk dikenalkan.
Kedua, pembagian level kata ganti,
Ketiga, pembagian level nahwu dan sharaf, dan
Keempat, keindahan bahasa

Kesulitan berikutnya adalah tentang tema cerita yang menarik sesuai dengan kata yang ingin dikenalkan
Dan masalah berikutnya tentang proses ilustrasi.

Masalah-masalah lambat laut teratasi (lambat laun, maksudnya telat… Hiks)

30 judul buku itu, judul-judulnya bakal begini :
1 : (a) bermain tanah, (b) mandi cahaya, (c) kembang api di malam rembulan.
2 : (a) tamasya ke sungai, (b) berlayar di lautan, (c) memecah air
3 : (a) ulang tahun mama, (b) senyum untuk papa, (c) pecahnya piala kaca
4 : (a) teka-teki gulungan coklat, (b) mama yang lembut kali ini marah, (c) kaki papa yang bengkak
5 : (a) crayon ajaib, (b) kapur bicara, (c) tinta penyihir
6 : (a) membuat kliping perang, (b) cinta perdamaian, (c) tetangga kami bu Maria
7 : (a) gadis cantik di hati az zubair, (b) nyanyian sa’da, (c) pesta meriah
8 : (a) mesin waktu, (b) aku mau sepotong roti, (c) pengemis yang menghilang
9 : (a) rahasia kakek umar, (b) terminal malaikat, (c) janji kami
10 : (a) batu terkutuk, (b) meneropong matahari, (c) robot perkasa

Cerita-cerita ini isi penceritaannya dibimbing 2buku imam baihaqy : syu’ab al iman dan fadhail al awqaat, plus tanbih al ghafilin nya imam as samarqandy

Klo kosakata yang diajarkannya adalah 1544 kata (klo ga salah itung)
Yang dicantumkan dalam mufradaat al qur’an karya imam ar raghib al ashfahani…

Klo pembagian level kata ganti, nahwu dan sharaf, insyaallah semoga mudah-mudahan bener-bener sesuai dengan karakter linguistik orang indonesia, jadi grammar arab yg diajarkan dengan memahami psikologis “kebahasaan” kita.
Tentang ini, terimakasih buat asatidzahku di stiu di alhikmah pada pelajaran nahwu dan sharaf, ustafz rasyid bakhbazy, ustaz mas’ud dan ustadz djadjat… Terima kasih juga buat syaikh khoory yg bangun ma’had al imarat di bandung, hingga bisa mengajarkan nahwu yg memperkokoh pemahaman.

Meramu semua itu menjadi suatu pekerjaan ilmiah dengan artwork yang menarik adalah pekerjaan yang semoga Allah mencatatnya sebagai amalan shalih,

Terima kasih buat penerbit tiga serangkai yang sangat sabar, dengan seseorang “telatan” seperti aku….

Aku itu ya udah telat paham, telat nikah, telat mengerjakan, telat deh hehe …Astaghfirullah…

Semoga penerbit tiga serangkai, pendirinya, dan seluruh pasukan pegiat bukunya, semoga senantiasa berjaya, menghadirkan jalan pencerahan bagi bangsa … Amal ibadah yang diterima Allah….

Semua ini, adalah saat Allah mengkaruniakan waktu enam tahun mengenal jalan bangka 3a pela mampang, jakarta selatan
Saat-saat nan indah menimba ilmu dari para pemangku dakwah mulia,
Ohh dirasat al hikmah tercinta…
Semoga menjadi kuliahan yang semakin besar, menjadi mercu suar ilmu… Ustadz Bukhary support untuk bikin paska sarjananya, dengan pengantar bahasa arab ^_^

Bismillahiirahmaanirrahim
Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad
Do’aku memohon kebaikan pada Allah dari apa yang aku kerjakan,
Dan berlindung pada Allah dari keburukan apa yang aku kerjakan

islam bukan arab? apa iya?

a’udzubillah min asy syaithan ar rajiim

Aku berlindung pada Allah dari setan yang terkutuk,

Saya mulai tulisan kali ini dengan ta’awudz, karena apa yg akan saya tulis tentang ayat… Pemahamannya masih berat di otak saya,,,
Mudah2an dengan menulis ada para ahli yang ikut nimbrung supaya semakin memperjelas struktur berpikir yang harus kita miliki.

Tulisan ini berawal dari kritik saya pada suatu redaksi dalam sebuah buku, dari redaksi berikut ini :
“islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Yang saya kritik dalam tulisan sebelumnya adalah kata : “hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Redaksi demikian, bagi saya, terasa menyepelekan keberadaan “arab” dalam takdirnya menjadi bahasa dan bangsa yang dipilih Allah menerima langsung kebenaran islam,

Maka dari itu, redaksi pengganti yang saya usulkan adalah :
“Islam adalah agama internasional, kasih sayang bagi semesta alam, dimana Allah memuliakan bangsa arab dengan menjadikan nabi ummat islam dari bangsa arab dan menjadikan orang-orang pelopor penyeru islam dari bangsa ini, bangsa arab”

Redaksi tulisan yang saya sarankan diganti, telah ada dibuku yang tercetak, dan semoga saja andai buku tersebut di cetak ulang, mba Afifah Afra berkenan mempertimbangkan koreksi tersebut.

Tetapi yang kemudian menjadi sorotan, adalah hal yang saya sedang perhatikan, beberapa saat sebelum ini…

Mba afifah afra sebagai penulis menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah

Yuuk kita lihat …. Check it out

Ketika tadabbur ayat-ayat al qur’an, sampai pada ayat 37 surat ar ra’du,
Klo terjemahan versi depag :
“Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan menolong engkau dari (siksaan) Allah.

Dan namanya juga tadabbur, terjemahan versi depag ini saya coba cek dari sisi kaidah bahasa arab dan kemudian buku-buku tafsir yang dapat saya akses.
Saya membaca kitab-kitab tafsir berikut ini:
1. Tafsir thabary
2. Tafsir ibnu katsier
3. Tafsir ar razy
4. Tafsir an nasafiy
5. Tafsir imam syafi’I
6. Tafsir an naisabury
7. ‘Irab qur’an wa bayaanih

Sesudah membaca tafsir2 tersebut, terjemahan saya atas ayat 37 surat ar ra’du adalah seperti berikut :
“Dan demikianlah kami turunkan ia (al qur’an) dalam kondisi sebagai agama arab, sekiranya kamu mengikuti keinginan mereka (orang yahudi dan nashrani) setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tiada bagimu dari siksa Allah penolong dan tiada pula pelindung”

Al qur’an adalah hukman ‘arabiyyan: hukum arab, agama arab, sistem arab.

Begitu yang tercantum dalam tafsir thabary.
Imam thabary menulis : “Allah yang tinggi sebutanNya berkata : sebagaimana kami turunkan kepadamu kitab ini wahai Muhammad. Maka mengingkarinya beberapa golongan.
Demikian pula kami menurunkan hukum dan agama sebagai hukum arab, menjadikannya bersifat arab, memberikan sifat arab padanya dengan sifat tersebut karena agama ini turun pada Muhammad SAW dan ia adalah orang arab, maka agama ini dinisbatkan kepada arab. Karena agama ini diturunkan padanya, maka golongan-golongan mendustakannya. (Tafsir thabary, jilid 16 hal 475, cetakan syakir)

Apa mesti dikata?
Islam adalah agama arab, demikian yang imam thabary sampaikan….

Lalu bagaimana korelasi dengan : “islam adalah rahmatan lil ‘aalamien”

Brilliannya imam syafi’i, tafsirnya tidak menyebutkan hal demikian,
Imam syafi’I hidup sebelum imam ath thabary.
Pemahaman seperti yang diatas dianggap akan menjadi pemahaman otomatis, karena nabi Muhammad SAW adalah orang arab, maka agama ini agama arab, dengan bahasa arab,
Dalam tafsir ayat ini imam syafi’I menyebutkan kewajiban mempelajari bahasa arab,
Begini cuplikan tafsir imam syafi’I (tafsir imam syafi’I ini adalah kumpulan perkataan imam asy syafi’I dalam buku-buku nya yang terkait al qur’an)
Dari kitab ar risaalah : “sesungguhnya nabi Muhammad diutus kepada seluruh ummat manusia, kita dapat anggap bahwa nabi Muhammad diutus dengan lisan kaumnya, maka kewajiban seluruh ummat manusia agar mempelajari lisan nabi Muhammad dan apa-apa yang mampu mereka lakukan”

Imam an Naisabury, menggambarkan hal yang lebih mendalam, menceritakan psikologis nabi Muhammad ketika ayat ini turun.
Orang yahudi sebagai ahli kitab selalu melancarkan serangan-serangan pada setiap ketetapan dalam agama islam yang Allah turunkan lewat al Qur’an.
Diantara serangan yahudi ini adalah mempertanyakan kearaban nabi Muhammad, tatkala kiblat shalat ummat Islam dipindah ke mesjidil haram, nuansa kearaban dalam agama islam semakin kental.
Bertambahlah dengki orang yahudi, mereka berusaha memindahkan kembali kiblat ummat islam. Issue yang digulirkan adalah “rendahnya nilai kearaban”, mereka kaum yahudi menyebut bahwa penghalang mereka mengakui kenabian nabi Muhammad adalah tradisi-tradisi arab yang “tidak manusiawi”, “menindas wanita misal pernikahan poligami”,etc.

Ejekan orang yahudi saat itu pada nabi Muhammad adalah “tidak mungkin ia (Muhammad) seorang nabi, lihat aja perhatiannya hanya pada kawin dan perempuan, kalau benar ia seorang nabi maka ia akan sibuk dengan wahyu kenabian”

Saat nabi Muhammad SAW melihat kondisinya, ada hal-hal yg benar dari ucapan ini, yaitu banyaknya istri yang dimilikinya.
Ejekan yang Allah balas dengan keterangan yang menentramkan nabi Muhammad, bahwa nabi adalah manusia yang makan dan menikah, nabi bani israil seperti Sulaiman, memiliki 360 wanita, baik istri maupun budak, nabi Daud ayahnya sulaiman memiliki 100 wanita”

Ayat ini mempertegas, tidak ada masalah dengan kearaban, sebagaimana yang kaum yahudi permasalahkan,
Islam adalah hukman ‘arabiyyan

Sesudah membaca semua ini,
Bagi saya, saya harus lebih berhati-hati memisahkan antara arab dengan islam,
Karena sampe hari kiamat al qur’an akan selalu berbahasa arab,
Sampe hari kiamat, pernyataan syahadat harus dengan bahasa arab,
Sampe hari kiamat, shalat harus ditegakkan memakai bahasa arab.

Jadi justru ketika mba afifah afra menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah,

Bagaimana dengan surat ar ra’du ayat 37 tersebut?

Tadinya saya belum mau menyentuh masalah ini, hanya fokus pada penghormatan pada bangsa arab, dan melakukan kritik atas kalimat : “hanya ditakdirkan di arab”

Jadi kalau semakin mengkaji,
Versi ganti atas redaksi ini “islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Adalah justru lebih ekstrim lagi :
“Islam adalah agama arab, ditakdirkan diturunkan di arab, untuk menjadi risalah yang menginternational”

Saya memahami awal kemunculan istilah islam bukan arab, dari banyak pemikir, pemisahan arab dan islam adalah karena carut marut kebudayaan arab, yang kemudian pemisahan ini terjadi, maksud hati menyelamatkan islam, memisahkan ketinggian islam dari keburukan kebudayaan arab, tapi jika upaya pemisahan tersebut bertentangan dengan al qur’an?

Kenyataan bahwa islam adalah agama arab, tidak menghalanginya menjadi risalah yang menginternational

Berada dalam posisi sulit, jika dalam kelemahan kemudian harus “menaklukan” peradaban tinggi.

Betapa sulitnya fir’aun mengimani Musa, karena Musa adalah seorang buronan dengan kasus pembunuhan, Musa juga berasal dari kaum budak.
Kenyataan yang sulit diterima Fir’aun untuk memeluk agama kaum yang diperbudaknya.
Sulit bagi fir’aun untuk menyembah tuhan yang disembah kaum yang diperbudaknya.

Betapa sulit bagi Abu Jahal beriman pada nabi Muhammad SAW, yang tidak lebih kaya darinya, tidak memiliki kebun-kebun seperti pamannya Abu Jahal (al walid bin al mughirah),
betapa berat bagi abu jahal mengakui bahwa Allah memilih nabiNya dari klan hasyim yang jelas-jelas merupakan rival utama klan makhzum.

Lalu tantangan kita zaman ini?
Apapun carut marut pada bangsa arab kini, atau dahulu ….

Saya mengimani agama islam adalah hukman ‘arabiyyan, sebagai satu-satunya agama yang benar, menunjukkan pada Allah,
Agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia
Tiada masalah bagi saya beriman pada satu risalah kebenaran yang turun di tanah mulia, tanah arab.

Islam dan arab, kata yang digunakan musuh-musuh islam sebagai senjata dua mata.
Pertama, digemborkan islam adalah arab, supaya orang tidak mau masuk islam saat melihat perilaku negatif orang arab.
Kedua, digemborkan islam bukan arab untuk memisahkan para pemeluknya dari agama ini, agama yang seluruh ajarannya turun dengan bahasa arab, pada bangsa arab, di tanah arab.

Aku menghormati arab dan kearaban,
Beriman pada kebenaran islam, islam adalah agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia.

Demikian pemahaman dari tadabbur yang pastinya tiada pernah henti hingga datang ajal yang telah pasti