Setan selalu mengintai, maka dari itu Baca Qur’an Harus Serius

Alhamdulillah,
Tilawah hari ini pas bagian surat Al Hajj ayat 52-53 membawa pada memahami Dua hal,
Dua Ilmu yang tertancap kuat hari ini : pertama khudz Al Kitaab bi quwwah … Belajar kitab Allah itu harus sangat serius, sepenuh daya upaya, trus harus serius membaca ta’awudz sebelum tilawah Al Qur’an …

Kedua : memahami bahwa generasi sahabat benar-benar generasi terbaik, ketika keimanan mereka diuji aneka prahara, yang ternyata bukan sekedar siksaan fisik dan psikis, tapi diuji dari arah pemikiran dan konsistensi,,, ketika wahyu Allah bagi orang-orang kafir tampak berubah-rubah dan tidak konsisten, Para sahabat Rasulullah tetap teguh dalam keimanan

Surat al hajj ayat 52-53 itu :

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun, dan tidak pula seorang nabi, kecuali ketika ia mengharapkan wahyu turun padanya, Setan turun melemparkan kata-katanya pada wahyu yg dinanti-nanti. Allah kemudian menghapus pencemaran yang setan lakukan, dan Allah menetapkan apa yang benar-benar merupakan ayat-ayatNya.
Allah Maha Mengetahui dan Maha Memutuskan.
Hal demikian dibiarkan terjadi, sebagai ujian bagi orang-orang yang dihatinya ada penyakit dan bagi mereka yang hatinya keras, Sesungguhnya orang-orang yang zhalim berada dalam kesesatan yang sangat jauh”

Wah membayangkan situasi saat itu, ketika terjadi ralat,
Riuh rendah, dan pastinya kaum mukminin menghadapi “bullying” hebat.

Jadi ayat ini , pertama menimbulkan tekad untuk menegakkan adab dalam membaca al Qur’an.

Tilawah Al Qur’an adalah satu waktu yang sangat istimewa,
Tatkala bibir dibasahi oleh gerakan membaca perkataan Allah Yang Maha Tinggi,

Ternyata setan ga tinggal diam,
Setiap kali manusia membaca Al qur’an ia akan mengintai melakukan godaan,

Dikisahkan para pemuka Quraisy menantang Rasulullah, bahwa mereka ingin menyaksikan bagaimana wahyu langsung turun pada Rasulullah,
Mereka pun berkumpul,
Waktu berjalan, semakin siang, semakin siang,
Orang semakin banyak berkumpul, dan matahari terus naik menuju puncaknya,
Ketika orang telah berdesakan,
Wahyu tidak kunjung turun juga,
Tatkala sumpah serapah mulai keluar dan terus keluar, bahwa Rasulullah berdusta, dan majelis hampir bubar,
Allah menurunkan surat An Najm
Rasulullah mulai membacakan, dan orang-orang Quraisy seksama mendengarkan,
Hingga tiba di ayat 19-20 :
“Apakah kalian tidak memperhatikan Latta dan ‘Uzza, dan Manat Tuhan Ketiga selain (dua yang disebut diawal)…

Setan kemudian menyelipkan dua ayat, membuat Rasulullah mengatakannya,
Dan Kaum Kafir Quraisy jelas mendengar selipan itu :
#Dan (ketiga hal itu : latta, ‘Uzza, Manat) adalah zat lembut yang memberi manfa’at pertama kali, #Sesungguhnya syafa’at (pertolongan) dari mereka bisa diharapkan”

Dua Selipan tadilah yang memukau orang-orang kafir sehingga turut sujud diakhir pembacaan surat An Najm.

Adapun dari sisi Rasulullah,
Rasulullah sangat galau hingga berkali-kali pingsan,
Rasulullah, tahu 2 ayat itu, jelas-jelas pastinya bukan firman Allah,
Rasulullah gelisah dan menyalahkan diri sendiri, bahwa telah mengatakan sesuatu yang bukan perkataan Allah…
Rasulullah baru dapat tenang setelah Allah menurunkan surat Al Hajj ayat 52-53 dan seterusnya…

Mari membaca Al Qur’an dengan memenuhi adab-adabnya,
Serius dalam membaca ta’awudz,
Setan terus mengintai agar kita mengatakan sesuatu yang tidak benar,

Jangan lengah, waspadalah-waspadalah

Plus salam takzhim dan penghormatan,
Bagi Para Sahabat Rasulullah, yang kokoh perkasa keimanannya,

Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali,
Para mubasysyir bi al jannah, para ahli perang badr, dan seterusnya,
Mereka sahabat setia Rasulullah,
Yang Allah telah meridhai mereka

Alhamdulillah atas ilmu hari ini

Advertisements

Kenapa “tilka ar rusulu” ? bukan “dzalika? ” atau “ulaaika” _(bahasan awal juz 3)

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Bismillah ar Rahmaan Ar Rahiim

awal juz 3 (surat Al Baqarah : ayat 253), bercerita tentang para Rasul, yang Allah bedakan derajat mereka satu sama lain.
Kenyataan bahwa para Rasul itu laki-laki, meninggalkan tanya, kenapa kata ganti penunjuk dalam ayat tersebut “tilka” dan bukan “ulaaika” atau “dzalika”

penjelasan yang paling gampang dicerna oleh saya, ada di tafsir “Nazhm ad Durar” karya Imam Al Biqqa’i.

Tilka : adalah kata ganti penunjuk bagi sesuatu yang jauh dan bersifat feminim

dalam kasus “tilka ar rusul” : kata “tilka” dipakai untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat para Rasul itu dan sangat jauh di atas derakat manusia lainnya. Posisi Kerasulan bukan posisi yang dapat diupayakan atau dijadikan ajang kompetisi untuk meraihnya.

dalam hal ini, memakai “tilka” sebagai penunjuk “jauh” dapat dipahami,

Akan tetapi kenapa harus memiliki sifat feminim?

Abu Al hasan Al Hirali memberikan penjelasan :
“Pemakaian Tilka dan bukan Ulaika adalah sebagai pembukaan atas kisah yang akan terjadi sesudah datangnya para Rasul, yaitu perpecahan ummat.

Satu kata yang bisa memiliki efek lahirnya sesuatu, maka kelahiran sesuatu itu memiliki urutan-urutan.
Setiap Rasul diutus pada ummat tertentu, disetiap ummat yang Rasul itu diutus ada yang beriman ada yang menentang, oleh karena itu kehadiran Rasul malahirkan tumbuhnya Ummat baru.

Ummat baru yang tumbuh ini sejatinya berada pada sifat “teguh dalam pendirian dan memiliki kontinuitas beramal”, tetapi ternyata ummat yang baru tumbuh ini punya potensi turun derajat menjadi memiliki sifat “berpecah belah dan terputus amalan”

maka tilka dipakai, makna pemakaian kata ganti penunjuk jauh adalah disebabkan ketinggian derajat para Rasul,
adapun kefeminiman dipakai bahwa objek utama perhatian disini bukan pada para Rasul, tetapi pada tingkah polah ummat dari para Rasul tersebut

Untuk lebih memahami hal ini,
harus membaca pada ayat-ayat sebelum ayat 253 dari surat Al Baqarah,
Surat Al Baqarah menceritakan laku lampah bani Israil, dimulai dari :

1. Minta adanya sembahan selain Allah (2:51)
2. Minta melihat Allah langsung (2:55)
3. kafir kepada tanda-tanda Allah, membunuh nabi, bermaksiat, melampaui batas (2:61)
4. Tidak mempelajari dan melaksanakan kitab dengan seluruh kemampuan, tenaga, kekuatan, dan daya upaya yang dimiliki (2 : 63-64)
5. Mengulur-ngulur pelaksanaan perintah Allah (2: 71)
6. Berbohong atas nama Allah, mengatakan apa yang mereka tulis berasal dari Allah, padahal berasal dari diri mereka sendiri (2: 79)
7. Keyakinan bahwa mereka tidak akan di adzab neraka (2:80)
8. Saling membunuh dan saling mengusir satu sama lain dari rumah-rumah dan kampung halaman (2:85)
9. Menjadikan ayat-ayat Allah sebagai alat merayu Allah untuk meraih kemenangan lalu mencampakkan ayat Allah sesudah menang ( 2:89)
10. Hanya mau beriman pada apa yang Allah turunkan langsung kepada mereka, tanpa mau beriman kepada apa yang jelas-jelas turun dari Allah, tetapi tidak diturunkan pada mereka (2: 91)
11. Mengikuti setan, belajar sihir (2;102)
12. Mengatakan bahwa Allah memiliki anak (2:116)
13. Suka mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka ketahui (2 : 142 dan 2: 146)
14. menyembunyikan apa yang Allah turunkan (2:174)
15. Takut Mati (2:243)
16. Mengkhianati pemimpin (2:249)

dll, bisa jadi masih banyak laku lampah lain bani Israil yang disebut di surat Al Baqarah, namun belum saya cerna

Atas semua laku lampah yang buruk itu, maka keberadaan para Rasul yang mulia itu, menjadi tak memiliki manfa’at bagi mereka, mereka malah semakin terjerumus dalam perbedaan cara menyimpulkan teks-teks agama yang berujung saling berperang.

Untuk keluar dari stigma tilka, Allah memberi resep di surat Al An’am,
hal ini terlihat bahwa di surat Al An’am ayat 90 yang dipakai adalah “Ulaaika”
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka adalah orang-orang yang Allah berikan petunjuk, maka dengan petunjuk yang mereka miliki itulah kamu mengambil teladan. Katakanlah (wahai Muhammad) : Aku tidak meminta pada kalian upah, sesungguhnya al Qur’an adalah peringatan bagi Semesta Alam”

Rasulullah Muhammad salam sejahtera baginya dan keputusasaan

Bismillahirrahmaanirrahiim

saya punya janji hutang untuk mempertanggungjawabkan statement saya,
bahwa logika Dr Quraish Shihab pada acara di metro tanggal 12 juli “sesat”

saya coba cari-cari ceramah tersebut secara utuh tetapi belum saya dapatkan.
rekaman yang ada adalah rekaman sesudah memasuki segmen pertanyaan.

1. Pertanyaan pertama yang saya dengar :
“Riki Renaldi : Dalam menyebarkan ajaran islam, pernahkah Rasul ingin menyerah? dan bagaimana cara Rasul untuk kembali istiqamah”

Jawaban :
“Dr Quraisy Syihab : “menyerah tidak pernah | tidak pernah menyerah, antara lain karena Allah menguatkan hati beliau, ya kan menurut ayat kita ini

Kritisi saya :
dari jawaban, yang dimaksud “ayat kita ini, adalah ayat yang dibahas sebelumnya, yaitu surat al Isra ayat 74. yaitu
“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka”

kalau di cek ke surat al isra ayat 74, surat itu menceritakan bahwa Rasulullah hampir berkompromi dengan kaum kafir dalam urusan agama, tetapi Allah meneguhkan hati Rasulullah dengan isyarat-isyarat yang jelas bahwa kompromitas dalam keimanan tidak diperbolehkan, atas peristiwa ini maka Rasulullah berdo’a “Ya Allah jangan buat diriku bertumpu pada diri sendiri satu kedipan matapun”
Jadi ayat 74 menceritakan bahwa Allah menguatkan hati Rasulullah dari “menyerah” kepada kompromitas.

Adapun pertanyaan Riki Renaldi mengarah pada “apakah Rasulullah pernah menyerah (yaitu ingin berhenti berdakwah?)
ya ini sifatnya tebakan, perlu ditanyakan kepada Riki maksudnya apa?

Rasulullah sangat menginginkan bahwa “seluruh dunia menjadi muslim”,
keinginan ini melahirkan dua sikap yang keduanya ditegur Allah dengan cara yang berbeda,

1. Sikap pertama : Rasulullah marah dan bersedih atas sikap ingkar kaumnya, puncak dari kemarahan dan kesedihan ini digambarkan AL Qur’an dengan keinginan “bunuh diri”, bisa kita cek di surat al Kahfi ayat 6.

Rasulullah meyakini semua janji surga dan ancaman neraka, merasa sangat bersedih hati jika manusia terjatuh pada kubangan neraka yang abadi. Kesedihan yang amat sangat.
Keinginan bunuh diri Rasulullah ini kemudian disindir oleh Allah, dicela bahwa perbuatan “putus asa” hingga meniatkan bunuh diri itu tidak benar.

nah kalau menurut hemat saya pertanyaan Riki mengarah kesini, bahwa Rasulullah pernah “menyerah” hingga hampir bunuh diri, dan kemudian solusi yang datang dari Allah berupa sindiran keras atau teguran pedas.

Jadi Rasulullah sangat menginginkan kebaikan bagi manusia, tetapi manusia yang sangat dikhawatirkan keadaannya oleh Rasulullah malah enggan, lahirlah sikap Rasulullah hingga ingin bunuh diri.

2. sikap kedua Rasulullah, selain ingin bunuh diri, adalah yang dibahas di surat al Isra ini, bahwa Rasulullah hampir melakukan beberapa kompromitas keagamaan.
yaitu diantaranya keinginan orang-orang Thaif untuk diberikan waktu tangguh dalam beriman, mereka ingin membuktikan kesalahan sistem ibadah mereka dalam jangka waktu tertentu, jika terbukti bahwa “keagungan sembahan-sembahan mereka ternyata palsu, barulah mereka akan beriman”
kompromitas lain adalah mengganti banyaknya ayat-ayat ancaman menjadi ayat-ayat yang menghadirkan kasih sayang, dan sebaliknya, pada ayat kasih sayang menjadi suatu ancaman.
Hal-hal tersebut hampir disetujui oleh Rasulullah,
disaat tersebutlah Allah memberikan “kekuatan atau peneguhan hati dengan isyarat yang sangat jelas”
(Tafsir surat al isra ayat 72-74 yang saya tulis, disarikan dari Tafsir Ath Thabary)

Ini diantara maksud dari yang saya bilang,ada kesesatan dalam logika berpikir,
kalau bahasa Ustadz bachtiar natsier “salah framing”

hal tampak sepele tetapi sesungguhnya sangat krusial dalam kehidupan
kalau kita benar “menaruh frame” pada suatu ayat, maka banyak solusi praktis kita dapatkan
misalnya
1. bagi orang yang gampang putus asa kita bisa mengembangkan sindiran-sindiran yang tepat

2. Kalau berdakwah jangan sok hebat hingga menyanggupi mengkompromikan banyak hal termasuk apa-apa yang terkait dengan keMaha Kuasaan Allah.

insyaAllah kritisinya berlanjut

wallahu ‘alam bish showab

Meraih kesempurnaan Ala Dzulqarnain

Meraih kesempurnaan Ala Dzulqarnain
Journey of ODOJ 1154 – Day 1

Bismillahirrahmaanirrahim

Pagi ini membaca juz 16 dan selalu ada kejutan-kejutan di setiap putaran membaca al Qur’an. Kepenasaran akan beberapa hal yang ditemui membuat membuka tafsir an Naisabury untuk memperoleh sudut pandang yang semakin jelas.
Pada kisah Dzulqarnain, Imam an Naisabury memberikan takwil atas ayat-ayat yang tersusun dengan indahnya.

Imam an Naisabury berkata bahwasanya Dzulkarnain adalah orang yang sempurna sebagai pribadi dan menjadi penyempurna bagi orang lain.
Kenapa disebut demikian?
Dzulqarnain memiliki kekuasaan fisik, yaitu menjadi raja yang menjalankan fungsi kekhilafahan
Dzulqarnain mengetahui ilmu makna terdalam dari segala sesuatu, mengetahui sebab, asal muasal suatu kejadian

Petualangan Dzulqarnain ke seluruh penjuru bumi adalah merupakan rangkaian arah pencarian manusia agar mengetahui sebab terdalam dari segala sesuatu.

Untuk sampai kepada alam yang terbawah, maka harus menggapai ujung matahari.
Maka perjalanan itu adalah kebarat, yaitu saat jiwa dan ruh tenggelam dalam tubuh dan materi. Jika jiwa dan ruh tenggelam, maka kita akan menemukan kekuatan fisik dan keinginan-keinginan bersifat materi keduniaan.
Sifat-sifat keduniaan ini harus diberikan dua treatment, yaitu treatment keras dan lembut.
Jika sifat-sifat keduniaan yang muncul maka harus diberikan reaksi keras.
Apakah yang dimaksud dengan rekasi keras? Yaitu pengarahan menuju TuhanNya untuk kemudian mendapat larangan dan pencegahan sempurna dari berlaku zhalim.

Saat terdeteksi dalam jiwa ada kecenderungan berlaku zhalim , pada hal-hal keduniaan, tidak jujur, serakah, diktatorisme, dsb maka sikap keras itu adalah bersikap bagai rantai, belenggu dan penghalang agar mengarahkan pandangan pada Allah Rabb semesta alam.

Bagaimanakah rupa training untuk hal ini?
Saya membayangkan kurikulum pendidikan tentang asmaul husna, memperbanyak kisah-kisah cerita kehidupan, lalu memaksa jiwa untuk mengenali dimanakah muncul suatu sifat Allah dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Mau ga mau harus dipaksa mau menyelami setiap sifat-sifat Allah yang muncul dari suatu peristiwa.
Kemudian membangun kebiasan dzikir, memaksa diri untuk menyebut Allah secara lisan, dan mengingatnya dalam pikiran.

Malam tenggelam, jika membiarkan tenggelam, maka tenggelam dalam nafsu keduniaan, nafsu paling ringannya tidur nafsu terberatnya berbuat maksiat. Ada juga yang tidak tidur dan tidak menyengaja berbuat maksiat, tetapi benar-benar mengejar dunia demi sesuap nasi dan sekantong berlian. Betapa dunia usaha telah menggeliat sejak sebelum maghrib, hingga pasar-pasar telah dipenuhi ditengah malam.
Oh jangan sampai salah alokasi waktu

Jika semua kerja keras mengarahkan jiwa pada yang semestinya berhasil, maka akan sampailah pada suatu terminal dengan mudah dan diberikan rasa santai yang nikmat.

Itulah pencarian ke barat

Lalu pencarian ke timur, maka saat matahari terbit itulah simbol dimana kita akan mendapatkan alam ruhani yang terang benderang, jauh dari unsur-unsur keduniaan yang merusak.

Jadi baca tafsir ini kesimpulannya ‘PERSIAPKAN MALAMMU UNTUK PAGIMU’
Supaya diPAGI hari jiwa kita SIAP menempuh segala kesulitan terbebas dari syahwat dunia yang membelenggu.

SIANG hari adalah alam pertengahan,
Dimana kehidupan akan memperlihatkan adanya aneka ragam manusia yang diliputi dengan kejahilan, sehingga hampir-hampir kita tidak mengerti dan tidak bisa memahami arah-arah keinginannya.
Kaum tengah-tengah ini adalah kaum yang gampang tertimpa badai dan menjadi korban kerusakan,
Diantara kaum tengah-tengah ini ada yang memahami permasalahan dan segera mendiskusikan solusi dengan Dzulqarnain.

Solusi pertama yang Dzulqarnain sebutkan adalah hati, hati yang disimbolkan dengan besi.
Besi itu keras, apa yang harus dilakukan dalam menempuh dunia tengah?
Ya harus seimbang, menyesuaikan dengan keadaan dunia tengah.

LALU TATKALA TELAH SEIMBANG, apa yang harus dilakukan?

Isilah dengan dzikir dan wirid, panaskan dengan keletihan keta’atan kepada Allah SWT.

Saat hati telah panas dan berletih-letih berdzikir maka hati itu siap diisi dengan cinta dan kemurnian penyembahan kepada Allah SWT.

Hati yang demikian akan bersih dari tipu daya setan
Hati yang akan terus naik meninggi, dan diatasnya hanya ada Allah Subhaanahu wa ta’ala

Cukuplah Allah bagiku.

Jadi?

Realisasi dalam pembagian aktifitas sehari-hari seperti apa
Misal untuk kehidupan pribadi?

Aktifitas dimulai justru saat matahari terbenam
Jadi 30 menit sebelum adzan maghrib harus sudah bersiap dirumah atau dimushala
Mempersiapkan tenggelamnya jiwa dan ruh, menyelamatnya agar tidak tenggelam.
Bersiap dengan cara mengobrol dengan keluarga , saling mengingatkan, saling memberikan peringatan dengan menghadirkan rasa takut dan menghadirkan kegembiraan.
Saling membicarakan harapan dan keinginan yang akan dipanjatkan sesudah shalat maghrib.

Jika adzan maghrib tiba lalu mengucapkan do’a menyambut adzan Maghrib, shalat maghrib, dizikir, memohon dalam do’a-do’a.

Lalu makan malam

Lalu renungan asmaul husna

Lalu setelah itu shalat isya, dzikir sesudah shalat, lalu tidur

Lama waktu tidur?
Jika ingin sukses dipagi hari, maka tidur tidak boleh lebih lama dari dzikir.
Kalau begitu kira-kira 4 jam, waktu terbaik untuk tidur
Langsung sesudah shalat isya.

Bangun tidur, qiyamul lail
Sifat pekerjaan malam ini adalah harus “dipaksa”
Tiba di pagi hari
Dengan aktifitas pembuka yaitu dzikir, saat matahari akan naik hiasi hari dengan dzikir
Lalu bersih-bersih

Lalu bersiap dengan penyeimbangan aktifitas “dunia dan akhirat”
10 jam disiang hari ini harus seimbang antara dunia dan akhirat, supaya sukses dalam menempuh alam tengah

Kalau sebagai pembuat kurikulum,berarti pelajaran harus dibagi dua 5 jam- 5 jam

Apakah seimbang itu harus berarti alokasi waktu yang sama?
Sepertinya iya
Kok pake sepertinya?
Perlu dibuktikan

10 jam itu adalah asumsi dari jam 6.30 – 16.30
Kalau misal 2 jam habis di jalan
Berati jam kerja itu baiknya 4 jam aja,
Semaksimal-maksimalnya 5 jam, hehe
Wah ngamuk-ngamuk deh pemilik pabrik kapitalisme

Kalau jadi seksi kurikulum, 4 jam pelajaran terkait “menaklukan dunia”
Maka 4 jam harus ilmu tentang akhirat

Nahhh kalau tidak bisa begitu
Pastinya itu idealnya
Sementara problematika hidup banyak
Permasalahan ummat menanti untuk diselesaikan
Maka harus lebih jernih lagi memandang keseimbangan

Sing penting
Kalau waktu sedang lapang
Demikianlah pembagian yang ideal

Alhamdulillah, surat al Kahfi mengajarkan ilmu gamblang tentang pembagian waktu

Tiada akan beriman Kecuali Allah berkehendak

Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah,
yang memberikan kesempatan membaca lembar-lembar tafsir an Naisabury ….

banyak hal yang njelimet, atau hal yang bikin waswas,
dapat dijelaskan oleh imam an Naisabury dengan logika yang sederhana dan dapat dipahami oleh saya,

sebagaimana ayat berikut ini :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al an’am :111)

ayat ini, terutama bagian yang ditebalkan dan dimiringkan ….
menjadi bahasan panjang lebar dalam sekte-sekte akidah dikalangan ummat islam,
tentang takdir,
tentang maksud dari “kecuali jika Allah menghendaki”

penjelasan Imam an naisabury benar-benar cahaya dalam kegelapan

Imam an Naisabury menyimpulkan bahwa keimanan itu terdiri atas dua jenis, yaitu keimanan sukarela dan keimanan dipaksa.

Dua jenis iman itu berlaku dalam memahami ayat ini,

pemahaman ayat ini adalah, bahwa andaipun semua bukti dikeluarkan, tentang kebenaran Rasulullah Muhammad SAW dengan risalah yang diembannya, maka mereka tidak akan pernah beriman dengan keimanan yang berasal dari kerelaan mereka.

Mereka hanya akan beriman jika “dipaksa” oleh Allah untuk beriman

Mereka yang dimaksud dalam sabab nuzul ayat ini adalah 5 orang dedengkot penindasan kepada kaum muslimin sewaktu di Mekkah, yaitu : Al Walid bin Mughirah (ayahnya Khalid bin Al Walid), Al ‘Ash bin Al Wail (ayahnya ‘Amr bin al ‘Ash), Al Aswad bin ‘Abd Yaghuts, AL Aswad bin Al Muththalib, dan al Hirts bin Hanzhalah.

#sungguh brillian imam an Naisabury ini, cahaya ^_^

jadi,
Orang-orang yang dihatinya ada sifat takabbur, tidak akan pernah percaya, tidak akan pernah beriman dengan kerelaan,
mereka baru akan beriman jika dipaksa untuk beriman.

DISARIKAN dari tafsir an Naisabury jilid 3 hal 147

Gejala Murtad pada berlimpahnya musibah (an Nisaa 78-79)

Bismillahirrahmaanirrahim

alhamdulillah, seneng banget dapat pertanyaan tentang tadabbur qur’an,
jadi kembali membuka pemahaman ….

kali ini pertanyaan tentang dua ayat berikut dari surat An Nisaa

78 . Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan , mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

79 Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Dua ayat tersebut tampak bertentangan , terutama bagian yang ditulis tebal
pemahaman utuh atas dua ayat itu saya peroleh sesudah membaca 3 tafsir :
1. Tafsir ath Thabary
2. Tafsir an Nasafiy
3. Tafsir at Tahrir wa at tanwir

ayat 78 dan 79 ini turun dalam rangkaian ayat yang menjelaskan psikologis ummat Islam terkait “jihad berperang”

ayat 77 sebelumnya menceritakan, bagaimana Allah menahan tangan para sahabat mulia dari menumpahkan darah ….. semua peristiwa yang terjadi di Mekkah selama 13 tahun, penyiksaan terhadap kaum lemah, budak dan mereka yang bukan quraisy
lalu penyiksaan terhadap anggota klan yang masuk islam oleh tetua klan nya masing-masing,
lalu boikot pada bani Hasyim dan bani Muththalib, dan lainnya
semua peristiwa yang menyebabkan keinginan kuat untuk mengangkat senjata.
Para sahabat terus meminta agar Rasulullah mengizinkan peperangan
izin yang tak kunjung keluar, dinanti dan terus dinanti

Islam terus tersebar,
tatkala tampak beberapa keajaiban, seperti ath Thufail bin ‘Amr ad Dausiy, yang tangannya mengeluarkan cahaya bak senter.
atau perempuan Nahdhiah yang dapat melihat kembali,
masuk islam pula mereka yang suka keajaiban walau hati mereka tidak diliputi keimanan.

hingga kemudian Allah memerintahkan hijrah ke Medinah …..
para sahabat terus meminta izin untuk berperang
dan Allah tetap menyatakan dalam ayat 77 ‘tahanlah tangan kalian’
dan menyampaikan jika saatnya tiba, “kewajiban berperang datang”
maka akan dengan serta merta kemunafikan tampak

diantara penyakit kemunafikan adalah takut pada manusia, dan juga takut mati

kemudian kewajiban berperang sungguh-sungguh datang, dan nyatalah sikap kaum munafik

ayat 78 kemudian turun, mengajarkan bahwa kematian itu pasti datang, walau kita tinggal di istana-istana kokoh.

saat kaum mukminin mendapat kemenangan, bahasa yang menjadi opini adalah “alhamdulillah, kemenangan dari sisi Allah”

tapi Allah tidak menguji dengan kemenangan saja
datanglah kesusahan yang amat sangat menimpa Madinah, kekeringan, panas, demam

musibah-musibah yang ternyata menyebabkan dua hal.
pertama orang-orang munafiq berkata bahwa semua musibah ini adalah akibat mereka masuk islam mengikuti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam pembawa sial ….. maka mereka menjadi murtad
kedua, orang yahudi yang sikap kedengkiannya menjadi-jadi, menganggap sial kedatangan nabi Muhammad ke Medinah

musibah yang berbalut kekalahan dalam peperangan, dan mereka kaum kafir dan Munafiq menuduh sebab kesialan dan kekalahan adalah karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah lalu memerintahkan nabi Muhammad menyatakan dengan tegas bahwa semua itu adalah ujian dari Allah, semuanya berasal dari sisi Allah

Allah ingin meluruskan sikap “penyalahan” pada keberadaan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas musibah-musibah dan kekalahan yang terjadi

semua kebaikan atau musibah adalah dari sisi Allah,

kemudian Allah mengabarkan,
bagaimana bisa Allah menghendaki suatu kebaikan dan suatu keburukan?
maka Allah mendetilkan dalam ayat 79,
bahwa setiap kebaikan adalah anugerah dari Allah
mengajarkan manusia agar terjauh dari sikap sombong

dan kemudian Allah menyebut
bahwa keburukan adalah akibat perilaku manusia
perilaku yang dipengaruhi oleh pertarungan antara yang haq dan yang bathil
perilaku yang bersumber dari penyikapan atas peristiwa-peristiwa
setiap sikap memiliki konsekuensi-konsekuensi

jadi tidak ada yang bertentangan dalam dua ayat ini,
dahulu kaum munafiq dan orang yahudi suka menimpakan kesalahan pada Rasulullah,
bahwa setiap derita adalah kesialan yang dibawa Rasulullah
kebaikan atau keburukan datangnya dari Allah,
cara datang kebaikan adalah karena Allah ingin memberi kebaikan
cara datang keburukan adalah karena konsekuensi logis dari perbuatan yang dilakukan orang yang tertimpa

ayat-ayat yang indah,
bahwa ternyata adanya kemiskinan, adanya musibah, adanya kekalahan dalam masyarakat beriman
adalah suatu proses penyaringan

gejala-gejala murtad dan penyalahan pada islam akan hadir pada situasi terjepit
dan tentu saja, yang akan semakin jelas adalah sifat kemunafikan yang mendera……

sebagaimana seruan kaum liberal, mereka yang gagal paham ketika membaca peristiwa mesir,
ada model pa menteri yang menyalahkan Dr Mursi

al muzzammil – mengajar sabar dalam perjuangan

Bismillahirrahmaanirrahim

melanjut tadabbur surat al Muzzammil,
dalam 9 ayat sebelumnya ada kejutan,
ketika bahwa Rasulullah bersiap-siap mengenakan jubahnya untuk shalat ditengah malam
jubah yang tetap dipakai hingga ke Medinah.

sentakan kali ini bahwa dalam situasi yang demikian, Mesir, Rab’ah Rabu kelabu
dihentak oleh ayat sepuluh
“Dan bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara menjauh yang baik”

ayat ini memang konon telah dihapus dengan perintah jihad qitali (perang)…..
tetapi suatu ibrah dalam bersikap bisa kita ambil

hari-hari dimana lisan bagai pedang, bahkan lebih keras dari pedang ….
tuduhan-tuduhan dilontarkan …..

ketika tuduhan terlontar alangkah indahnya kita bersikap sebagaimana yang disampaikan surat al Muzzammil ini,
“bersabarlah terhadap apa yang dikatakan mereka yang menjadi lawan, atau tidak bersimpati terhadap perjuangan kita”

sungguh, hari-hari ini, aku banyak menemukan saudara-saudaralu tercinta, yang dipersatukan dalam do’a rabithah, tidak menunjukkan sikap yang demikian …..
cacian dan makian pada lawan pemikiran lebih kentara, tanpa akal, logika dan adab

bersabarlah,
jikapun membalas tuduhan dengan kata yang baik

yang mulia perdana menteri turki, berkata-kata pedas, tetapi kata-kata pedasnya masih mengandung norma dan etika.
lalu kata-kata beliau dikutip, paling sedih kalau udah ditambahi dengan “makian ala indonesia” yang jauh dari tata bicara

dapat suatu berita, langsung diupload, tanpa dipikir
dikomentari tanpa dicerna….

do’aku semoga Allah memberikan kesempatan membuka sekolah, yang mampu meluluskan mereka yang tidak mudah mengeluarkan kata, tiada berkata kecuali kebaikan, menebar kebenaran, isi berbobot.
bersabarlah terhadap perkataan yang membuat telinga merah, amarah bergejolak, bersabarlah.

lihatlah bahwa Allah menjamin :
“biarkanlah mereka dan kalangan yang mendustakan ayat-ayat Allah, biarkan mereka, mereka itu urusanKu”

surat al muzzammil ini tidak turun sekaligus, dan ayat 11 turun sebelum perang badar beberapa saat.

mereka akan diberi keleluasaan berkata-kata sekejap saja, sesungguhnya Allah memiliki rantai-rantai yang disiapkan sebagai balasan atas “kebebasan” yang sekarang mereka miliki
sebagaimana neraka panas yang telah Allah siapkan ….kemudian juga makanan berduri dan siksa yang memilukan.

nabi pingsan ketika mendengar ayat ini, jiwanya yang penuh dengan kasih sayang tak kuasa menahan rasa sakit atas adzab-adzab yang dipersiapkan.

lalu kita dalam berdakwah pada “musuh”, telahkah bersikap bahwa kita mengkhawatirkan mereka terkena neraka, atau justru merasa puas jika mereka terjatuh pada adzab?

sungguh, selama nafas masih ada, berikanlah harapan yang terbaik,
perasaan boleh panas, tetapi pikiran dan kata tetap harus dijaga.

sesungguhnya semua balasan akan tampak terlihat pada hari yang sangat berat, hari penuh guncangan, ketika gunung-gunung tanahnya mengering dahsyat menjadi debu-debu yang mengalir

apa yang terjadi hari-hari ini, pas banget rasanya kalau melihat ayat 15 dan 16
Sesungguhnya telah hadir kepada mereka seorang Rasul, yang akan menjadi saksi atas perilaku mereka
sebagaimana Allah mengutus kepada Fir’aun seorang Rasul
jika Fir’aun mendustakan, dan mereka mendustakan, apakah mau kita ikut-ikutan mendustakan?

kita adalah kaum beriman, yang mengimani apa-apa yang dibawa oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
betul bahwa kita harus bersikap “keras” terhadap kaum kafir dan lembut sesama kaum mukmin,
tetapi tentu ada cara-caranya, ada tempatnya, ada waktunya saat bersikap keras tersebut.

jika kita merasa benar, sudah barang tentu menjadi pihak yang paling bijak dalam menyikapi segala sesuatu adalah hal yang utama

ayat 10 – 19, mengajariku kesabaran

kesabaran itu telah nyata dimiliki pejuang mesir, maka kemenangan itu semakin dekat

Shalat (4)

Alhamdulillah,
artikel shalat ini telah mencapai judul ke 4, insyaallah semuanya 5

Shalat, adalah ibadah utama yang menjadi tujuan.
Bahwa peradaban yang kita bangun adalah peradaban yang memperlihatkan keindahan menyembah Allah.
Bahwa alat-alat teknis, kemajuan peradaban material yang ditemukan adalah terutama untuk membuat mereka yang menegakkan shalat semakin mudah nyaman dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Allah gariskan.
Ketika shalat harus tepat waktu maka dunia hitung langit, astronomi berkembang,
ketika shalat harus berwudhu, dengan baik tanpa boros air, maka teknologi-teknologi tentang tekanan air dan tempat wudhu berkembang dizaman lampau,
demikian, bahwa ibadah-ibadah yang Allah gariskan menjadi rukun islam, adalah sentral yang mengarahkan gerak langkah kehidupan.
Peradaban materi, kemajuan teknis-teknis yang kita capai adalah agar rukun islam tegak dengan sebaik-baiknya
ketika shalat harus tepat waktu pekerjaan banyak dimana-mana,
maka transportasi yang baik menjadi tuntutan, agar waktu bisa efisien, selalu tepat ^_^

demikianlah tujuan peradaban yang dibangun oleh para sahabat, kita perhatikan ayat berikut ini :
“orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”

ayat ini adalah ayat yang memberikan penjelasan atas sifat sahabat Rasulullah, kita lihat ayat sebelumnya ini :

“orang-orang yang diusir dari rumah-rumah mereka tanpa alasan yang benar, yaitu sebab mereka berkata Rabb kami adalah Allah. Dan jikalah Allah tidak menahan kebengisan manusia atas manusia lainnya maka akan dihancurkan biara-biara, kuil-kuil, shalat-shalat, dan mesjid-mesjid yang didalamnya disebut nama Allah dengan banyak. Sesungguhnya Allah selalu menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa”

Orang-orang yang dimaksudkan disini adalah orang-orang Muhajirin, kaum yang telah membuat Allah yakin, bahwa saat mereka berkuasa maka mereka akan menegakkan shalat, zakat, dan memerintah manusia untuk bertauhid, serta mencegah manusia dari kemusyrikan

Jadi tugas utama kita dalam membangun peradaban adalah membuat Allah yakin bahwa saat Allah memberikan hidup yang digjaya di muka bumi, maka kita akan mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan dan memerintah manusia untuk bertauhid, serta mencegah manusia dari kemusyrikan.

hal-hal yang mendasar ini harus selalu kita hadirkan,
mungkin saja kita menghadirkan takwil-takwil lain pada shalat,
adanya mukjizat gerakan shalat, adanya penelitian waktu shalat yang pas dengan waktu biologis tubuh, dll,
tetapi inti beragama adalah keta’atan pada kalimat yang Rasulullah sampaikan,
jangan sampai pencarian tambahan melupakan yang utama.

esok tentang shalat adalah berporos pada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum dituliskan

insyaAllah

do’aku semoga allah menolong para mujahidin di Mesir, kaum yang saat Allah meneguhkan posisi politik sosial ekonomi mereka di muka bumi, maka mereka adalah kaum yang menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menyeru pada tauhid serta mencegah kemusyrikan, Aamien

Al muzzammil – ketika (terlanjur) memahami yang berselimut

Al muzzammil,, surat yg ketiga turun pada Rasulullah,

Nah ingatan makna muzammil langsung terasosiasi selimut,
Tapi abis baca beberapa tafsir jadi memilih arti al muzzammil adalah ‘yang memakai mantel’

Seru banget baca maksud mantel disini
1. Mantel yg dimaksud adalah mantel yg dipakai Rasulullah untuk shalat
2. Mantel tersebut sebuah majaz, yaitu mantel kenabian dan risalah

Nah loh klo gitu setting surat ini bukan manggil Rasulullah yg lagi tidur pake selimut untuk bangun terus shalat malam,
Tapi Rasulullah udah bangun sedang siap2 mau shalat dengan mengenakan mantelnya.

Masyaallah jadi kebayang dinginnya malam trus siap siap shalat dengan jubah mantel keren

Kata aisyah jubah mantel itu panjangnya sekitaran 7 meter, menjuntai hingga kalau dipakai shalat Rasulullah juntaiannya bisa menyelimuti aisyah yg tertidur

Jadi penerjemahan bebas ayat2 awal surat al muzzammil adalah : “wahai orang yg bermantel untuk shalat, tetaplah bersikap demikian, laksanakan selalu yang demikian, bangunlah untuk melaksanakan shalat diseluruh malam kecuali sedikit untuk tidur, yaitu setengah malam, atau kurangi sedikit, atau tambahkan dari setengah, dan bacalah Al quran dengan tartil”

Itu semua adalah persiapan untuk dapat menerima sesuatu yang besar, yaitu al quran.
Betapa pentingnya sebuah persiapan
Mempersiapkan segala sesuatu dan bisa jadi persipan lebih lama dari acara intinya

Ini falsafah pendidikan dasar ke empat yang akan melekat di sekolah yg insyaallah akan saya bangun

Pertama falsafah basmalah

Kedua falsafah mencatat, bahwa pena adalah pemburu ilmu dan kemahiran mencatat menjadi pengajaran. Kisah antara ibnu syihab az zuhri dan shalih bin kisan sangat menginspirasi dimana ibnu syihab lebih mahir mencatat daripada shalih, maka az zuhri menjadi terdepan

Ketiga falsafah pengajaran, bahwa sekolah itu tempat mengajarkan ‘yang benernya’,

Keempat, falsafah persiapan, persiapkanlah segala sesuatu

Empat landsan yg didapat dari tadabbur al’alaq, Al qalam, al muzzammil

Trus selain itu akan ditanamkan perbedaan malam dan siang, perbedaan hari-hari, perbedaan bulan-bulan.
Bulan2 haram itu bukan harus dihormati orang arab saja, tapi seluruh ummat islam.
Kalau kita menganggap seluruh hari itu sama, semua bulan itu sama, kejadian deh kaya semalam,
Pas nisfu sya’ban, di ibukota negeriku malah digelar pesta pora

Memakmurkan waktu2 sebagaimana yang Allah ajarkan
Awal malam cepet tidur, terus bangun, biar dapet gelaran kata ‘nasyiatul lail’ penumbuh malam, hingga tanaman amalan malamnya menjulang hingga ke angkasa.
Jadi malam itu tidur 2-4 jam trus isi deh ama shalat

Siangnya?
Ini yg heboh, klo imam an naisabury bilang 3 hal di siang hari : tidur, istirahat dan pemenuhan kebutuhan.

Kegiatan malam yg paling baik adalah dzikir mengingat Allah dan mengkhususkan waktu untuk Allah,
Allah pemilik timur dan barat, maka berikanlah waktu-waktu khusus untuk beribadah dengan segenap jiwa raga
Jika kita mampu mengelola malam dengan benar, maka akan tampak nyata dari sikap tawakkal yang menghiasi pribadi

Hanya berserah diri kepada Allah

Ohw membongkar hidup, memanage waktu, sebagaimana yang Allah mau
Bismillah

Tadabbur al muzzammil 1-9

Al Qalam – Tinta Menuliskan Pemahaman (3)

Bismillahirrahmaanirrahiim

lanjut lagi yuuk,

kemaren sampai surat al Qalam ayat 16

jangan lupa Shalawat pada Rasulullah yaa

Allahumma Shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad

 

mulai ayat 17, menceritakan tentang derita yang dapat menghinggapi mereka yang ga percaya, ketika masih berada didunia, keadaan derita yang ditujukan sebagai ujian.

Trus, dalam rangkaian ayat 17-33 digambarkan, dalam barisan musuh, pasti masih akan kita temui kebaikan,

ini seni bertarung yang sering kita saya lupa,

seringkali saya menganggap semua musuh jahat,

Padahal mereka terdiri juga dari orang-orang baik, namun berbeda pandangan dan pendapat dengan kita.

Alkisah seorang kayaraya dengan hektaran kebun, memiliki banyak anak dan keturunan. Ia adalah seorang yang dermawan, sangat dermawan, termasuk pada hewan yang tak pernah dilarang mengais rizqi di kebun-kebunnya.

Saat sang kayaraya ini wafat, anak-anaknya ternyata punya sikap lain, kikir menjangkiti. berujar lah : “Tak seorang miskin pun boleh merasakan hasil panin, mari kita panen diwaktu pagi banget, kebun dikunci dan dijaga, besok ya kita panen, pagi banget”

Nah pas besok paginya : ternyata kebun sudah hancur tak bersisa. tak ada panen. ANak-anak sang dermawan itu kecele, bukan panen yang mereka dapat, tapi kesedihan, trus diantara yang jahat-jahat itu saling mencela satu sama lain.

(serasa denger kejadian kemaren: alat bukti tidak bisa dibeberkan disini, besok ya di pengadilan….. ehhh ternyata apa yang ada dipengadilan jauh berbeda dari yang diharapkan)

ayat 34, alhamdulillah, sesudah gambaran kengerian, Allah memberi janji indah bagi kaum yang mempercayaiNya, bagi manusia yang menjaga diri dari berlaku musyrik.

yaitu bagi orang bertaqwa, kelak ada kebun-kebun yang isinya semuanya kenikmatan, tanpa cape berkebun dengan segala macam problemanya.

Adalah diantara “keukeuhnya” kafir quraisy saat itu, bahwa mereka merasa ketika di dunia, Allah telah melebihkan kenikmatan pada mereka dibanding kenikmatan dunia yang ada pada kaum mukminin. maka jikapun akhirat ada maka merekapun tetap akan diberi kenikmatan yang lebih, atau minimal setara dengan apa yang didapat orang-orang yang percaya pada kenabian Muhammad.

Allah langsung menyanggah perkiraan orang-orang kafir Quraisy,

ayat 35 bilang : “Apa benar kami akan menjadikan orang-orang Muslim semisal orang-orang pendosa?”

trus dilanjutin 36 : “bisa ga sih kalian menyimpulkan dengan benar?”

trus dilanjutin ayat 37-38 : “apa kalian udah mempelajari suatu kitab dari langit, trus mendapat sesuai dengan yg dipelajari?

trus dilanjutin ayat 39 : “emangnya pendapat kalian itu bersumber pada janji Kami yang kemudian wajib Kami tepati dihari kiamat?

trus dilanjutin ayat 40-41 : “atau emangnya kalian punya pemimpin yang akan membela?”  atau punya sekutu-sekutu? kalau emang punya sekutu, nah datengin dong?

kapan didatengin para sekutu itu?

Allah berfirman dalam ayat 42-43 nya :

“ntar ya di hari yang beraaaaaat banget, hari dimana kalian disuruh sujud, tapi pada kagak bisa karena keadaan fisik mereka ga memungkinkan”

“mata-mata tertunduk, terhina, karena dulu mereka waktu didunia waktu masih pada segar bugar disuruh sujud, pada kagak mau”

ngeri duh baca ayat 44 ini, Astaghfirullah ya Allah jagalan keimanan hambaMu ini

kata Allah dalam ayat 44 : “Tinggalkan Aku dan orang yang ga percaya dengan al Qur’an, mereka akan tertimpa istidraj tanpa disadari

Istidraj itu adanya suatu kondisi baik yang kemudian kondisi baik ini memudar sedikit demi sedikit tanpa terasa

di ayat 44 ini para mufassir bilang : “udah jangan disibukkan diri dalam membalas cemoohan dan kejahatan mereka kaum yang ga percaya, serahin aja pembalasannya pada Allah” Fokuslah! pada pencapaian tujuan”

Allah memberi tangguh pada mereka, karana makar Allah sangat kuat.

makar Allah dan Istidraj adalah cara hukuman yang tidak terasa sebagai hukuman

na’udzubillah- semoga Allah melindungi kita semua

terus, unik banget yang sesudah  ayat 45

ayat-ayat yang mempertanyakan kenapa sih mereka kok bisa pada kafir?

Wahai kaum Mukmin “Apakah kalian dalam Berdakwah meminta upah, sehingga mereka merasa berat untuk beriman?

atau

mereka ga beriman karena mereka merasa tahu akan yang ghaib dan mereka punya akses pada lauh mahfudz?

 

nahhh, ayat 47 cakep deh

‘sabar ya dalam berhadapan dengan mereka, jangan gampang ngambek kaya nabi Yunus”

kisahnya udah pernah saya tulis, ini link nya : http://www.facebook.com/notes/tutik-hasanah/kisah-nabi-yunus/10150812456877293

kisah nabi Yunus nya masih di fb, nanti qta pindahin ke wordpress ya

 

sampe deh pada dua ayat terakhir,

Di zaman itu, dikenal kekuatan mata, pandangan yang memiliki efek mematikan, kemampuan yang ada pada bani Asad,

Kekuatan pandangan yang bisa naik berkali lipat karena adanya hasad dalam jiwa.

Allah menjaga nabi Muhammad dari bencana pandangan yang mematikan.

mereka hasad akan kenikmatan kenabian yang ada pada nabi Muhammad,

karena hasad itu pulalah tuduhan gila dialamatkan

betapa indahnya surat ini

ditutup penegasan bahwa al Qur’an penyebab manusia memiliki daya akal yang luar biasa dan bukan sebagaimana yang dituduhkan mereka bahwa yang dekat dengan al Qur’an menjadi gila

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia dan jin

 

Alhamdulillah

wallahu ‘alam bishshowab