Kewajiban Seorang Muslim pada Negerinya (1)

Bismillahirrahmaanirrahin

Fase Mekkah,
Semakin ditadabburi, semakin melahirkan decak kagum, dan melahirkan kefahaman.

13 tahun dakwah Mekkah, berbalut kesabaran

Dakwah Islam hadir pertama kali, hadir pada masyarakat tanpa raja.
Masyarakat Mekkah tegak diatas kepemimpinan kolektif kabilah-kabilah Quraisy.
Dimana semakin kuat suatu kabilah, semakin didengar suara kabilah tersebut dalam menentukan sikap politik Mekkah.
Kekuatan kabilah ditentukan oleh :
1. Peranan Kabilah terkait ka’bah dan urusan Mekkah
2. Jumlah anggota kabilah
3. Harta kekayaan

Pada masyarakat Mekkah yang demikian, dakwah islam dimulai

Rasulullah memulai dakwahnya dengan seruan kalimat tauhid :
Tiada ilaah (sembahan) kecuali Allah.

Dan pernyataan keimanan atas kenabian, bahwa “Muhammad adlah nabi dan utusan Allah”

Suatu seruan yang dipahami masyarakat Mekkah sebagai seruan menyeluruh yang menyerang sendi-sendi “kekuasaan”
Dimana loyalitas kesetiaan pada kelompok kabilah akan bergeser kepada kesetiaan loyalitas pada agama.

Ketakutan kehilangan kekuasaan segera menyergap para penguasa Mekkah.

Ketakutan yang pada kenyataan tidak terbukti, sebab Rasulullah memfokuskan dakwah pada :

1. Pemurnian ritual penyembahan, bahwa menyembah Allah haruslah dengan cara yang Allah ridhai, sebagaimana cara yang Allah ajarkan.
Shalat telah diajarkan jibril sejak pertama kali wahyu turun

2. Mengubah mindset.
Masyarakat Mekkah adalah masyarakat “kelas dua”. Masyarakat yang tidak berani bermimpi besar, tidak memiliki daya saing melawan kebudayaan adidaya.
Mindset lemah ini dikikis habis Rasulullah,
Maka cita yang digelorakan adalah “kita akan menaklukan Romawi dan Persia”
Perhatikanlah gelora semangat ini “menaklukan Romawi dan Persia”
Seruan Rasulullah sama sekali bukan “mengislamkan Mekkah, atau merebut kekuasaan politik Mekkah”

3. Mengubah pandangan hidup.
Bahwa hidup bukan hanya di dunia, tetapi ada kehidupan sesudah mati. Manusia akan dibangkitkan dihari kemudian

Adapun bidang sosial politik, secara lebih mendetil terjabarkan pada sikap-sikap spesifik.

Dalam bidang sosial Rasulullah mengajarkan 4 sikap
1. Menjaga dan mendorong akhlaq mulia yang dimiliki masyarakat Mekkah

2. Mendukung pranata dan peristiwa sosial yang bertujuan menjaga keluhuran masyarakat, seperti pernikahan

3. Memerangi pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti : zina

4. Mendiamkan (sementara) pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti minum khamr, riba

Dalam bidang politik, atau kekuasaan,
Masa Mekkah mengajarkan bersikap elegan

Rasulullah adalah anggota masyarakat Mekkah, yang ta’at kepada konsensus masyarakat zamannya.

Dakwah Islam adalah dakwah anti “pemberontakan”
Kita mendapati bahwa saat dakwah merebak, para kepala kabilah tidak menerima, dan lalu melancarkan siksaan dan kekerasan,
Seruan Rasulullah kepada para sahabat adalah bersabar
Bukan seruan perlawanan, bukan seruan angkat senjata.

Kenapa?

Keta’atan Rasulullah pada norma-norma kekuasaan zamannya benar-benar ditunjukkan,

Bani Hasyim melindunginya, apapun agama mereka,
Muththalib yang saudara Hasyim, keturunan mereka, turut melindungi nabi Muhammad.
Kekuasaan zaman itu adalah kekuasaan kabilah, tidak ada yang berani melanggar batas-batas kekuasaan masing-masing.

Ketika kabilah-kabilah bersepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib.
Tidak boleh berdagang, tidak boleh menikahi, dan tidak boleh bersumpah setia pada Bani Hasyim.
Bani Hasyim tidak dapat mengelak dari kesepakatan itu.
Tunduk pada apa yang menjadi ketetapan, tidak memberontak, tidak membangkang.
3 tahun lamanya Bani Hasyim dan Bani Muththalib hidup penuh derita dan kesengsaraan.

Abu Bakar dan Umar adalah anggota masyarakat Mekkah pula, ta’at pada konsensus masyarakat. Maka mereka tak berjualan dengan Bani Hasyim.
Yang dilakukan keduanya adalah “bantuan sosial”, yang bantuan sosial ini pun kerap digagalkan oleh musuh dakwah, semisal Abu Jahal.

Pengakuan atas otoritas Mekkah kembali ditunjukkan nabi Muhammad sesudah peristiwa Thaif.

Sesudah wafat Khadijah dan Abu Thalib, Rasulullah semakin terhimpit.
Terlebih-lebih setelah Allah memberikan anugerah pada Rasulullah berupa peristiwa isra dan mi’raj.
Banyak ummat Islam murtad dan ragu atas keimanan mereka.
Kondisi yang benar-benar menyempitkan, menyudutkan Rasulullah, hingga Rasulullah keluar dari Mekkah.

Keluar dari daerah otoritas dan perlindungan di zaman itu, mesti jelas, apa maksud dan tujuannya, berniagakah? Melancongkah? Negosiasikah? Atau keluar dengan maksud dan tujuan politik?
Setiap keluar area memiliki konsekuensi masing-masing.

Keluarnya Rasulullah dari Mekkah saat itu, dan berlabuh di kota Thaif, adalah mencari suaka politik.
Tempat berteduh yang nyaman bagi menjalankan keyakinan dan dakwah Islam.

Tetapi Thaif menolak Rasulullah.

Kembali ke Mekkah setelah keluar dengan tujuan politik tertentu bukanlah hal yang mudah.
Keluar ke Thaif telah menghilangkan kuasa perlindungan Bani Hasyim,
Kabilah-kabilah lawan akan bebas menyakitinya.

Maka jaminan keamanan di cari Rasulullah,
Dan Rasulullah mendapat jaminan keamanan dari Muth’im Bin ‘ady tetangga Rasulullah yang berasal dari Bani Umayyah, yang kafir dan wafat dalam keadaan kafir.

Peristiwa Boikot dan kembalinya Rasulullah ke Mekkah dari Thaif, memperlihatkan bahwa Rasulullah mengakui norma kekuasaan yang berlaku.

Tak ada pemberontakan bersenjata,
Tak ada kekacauan,
Yang ada adalah kesabaran dan keteguhan dalam mempertahankan keyakinan, keteguhan menjalankan ritual, keteguhan menjunjung akhlaq mulia di tengah himpitan dan kesulitan.

Kisah pengakuan dan penghormatan atas kekuasaan ini, ditemukan dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun.
Bani Israil adalah budak tertindas pada masyarakat Mesir.
Saat nabi Musa diperintah Allah membawa keluar Bani Israil dari Mesir,
Yang pertama dilakukan nabi Musa adalah meminta izin pada Fir’aun, penguasa Bani Israil saat itu.

Atas kesabaran ini, jalan keluar apakah yang ditempuh?

Apakah menanti hingga manusia beriman seluruhnya? Atau minimal rakyat daerah otoritas tertentu meminta perubahan?

Perjalanan para nabi-nabi dan dakwah islam telah memperlihatkan,
Bahwa adanya mayoritas pendukung pemikiran dakwah, sebelum penaklukan adalah tidak mungkin,
Para nabi-nabi didustakan kaumnya, lalu apakah para da’I pewaris nabi akan menemukan hanya penerimaan dalam dakwahnya?

Tersebab suatu garis tabi’at perjuangan,
Harus ada penaklukan dan kemenangan, hingga manusia melihat, mendukung ide dan pemikiran,
Pun itu semua dengan menghadapi musuh-musuh ideologi dan pemikiran.
Karena manusia berbeda-beda, pemikiran, ide, kecenderungan,
juga ada ego dan persaingan.

Penaklukan adalah berarti juga adanya kekuasaan,

Hal-hal yang selalu memilki batasan,
Harus berkuasa tapi tak boleh memberontak.
Memperoleh kekuasaan di Mekkah bukanlah hal mudah,
Kalaupun dahulu di awal dakwah pernah para pembesar quraisy akan legowo menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah,
Tetapi itu adalah kekuasaan bersyarat,
Syarat yang Rasulullah tak kan pernah memenuhinya, yaitu syarat menanggalkan dakwah tauhid, dan menghentikan kata-kata melemahkan berhala-berhala sembahan..

Lalu apa jalan keluar yang Allah berikan atas kesabaran?

Perlahan tabir janji tersingkap,
Allah telah menjanjikan Yatsrib menjadi kota nabi, tetapi apa dan bagaimana adalah kegelapan,

Hingga di tahun 11 kenabian, secara terpisah 5-7 orang Yatsrib menyatakan keimanannya dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya.
Di tahun 12 kenabian, ada 12 orang Yatsrib bersumpah setia pada ajaran agama islam dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya
Di tahun 13 kenabian, ada 72 orang Yatsrib bersumpah setia membela dakwah Islam, setia pada Rasulullah hingga titik darah penghabisan. Berdamai dan berperang atas nama Rasulullah.
Janji tahun 13 ini dikenal dengan bai’ah aqabah kedua.
Sumpah setia yang menyatakan bahwa teritorial Medinal adalah dibawah kekuasaan Rasulullah.

Perang berbeda dengan pemberontakan,
Dalam berperang, masing-masing pihak berperang memiliki wilayahnya masing-masing, perang antara dua kekuatan setara.

Ba’iat aqabah kedua juga menunjukkan, keluarnya Rasulullah dari otoritas Bani Hasyim, dan kemudian memiliki kekuasaannya sendiri, dengan jaminan 72 orang Yatsrib.
Ke 72 orang Yatsrib bukanlah seluruhnya pemimpin kaum,
Tetapi Yatsrib persis seperti Mekkah, kekuasaan ada ditangan kabilah-kabilah, jika mayoritas kabilah telah memutuskan maka kabilah yang tidak menerima harus menghormati.
Kekuasaan mayoritas.

Maka dimalam ba’iat aqabah, saat Rasulullah melepaskan diri dari loyalitas Bani Hasyim, yang mengantarnya bukanlah sahabatnya yang beriman padanya,
tetapi pamannya al abbas yang saat itu belum masuk islam.
Al abbas memastikan bahwa keponakannya berada dalam keamanan dan perlindungan.

Kekuasaan atas Madinah di genggam Rasulullah sebelum mayoritas masyarakat Madinah memeluk islam,
Dalam asbabun nuzul banyak ayat Al Qur’an, kita temui bahwa masyarakat madinah adalah masyarakat majemuk, muslim, musyrik dan yahudi bercampur jadi satu.

Jaminan dari 72 orang suku aus dan khajraz, menjadi sendi awal kekuasaan Rasulullah atas negara Madinah.

Tidak ada pemberontakan,

Tentang kekuasaan,
Semua mengalir sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku

Norma-norma masyarakat yang berjalan sesuai dengan kehendak Allah,
Bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabut dari siapa yang dikehendaki

Aku terlahir di Indonesia,
Terlahir saat negeri dibawah kekuasaan presiden suharto
Dengan suatu sistem bernama demokrasi
Aku seorang muslim,
Setia pada negeriku,
Memperjuangkan ideologi dan keyakinanku,
Menjadi seorang muslim di Indonesia,
Berpartisipasi dalam bahagia dan sedihnya, mencegah kemundurannya dan berjuang bagi kemajuannya.

Indonesia, negera yang didirikan atas dasar kesetaraan manusia berbagai agama,
Dan Allah telah mengizinkan berdirinya hingga lebih 60 tahun,
Memberi kuasa pada siapa yang dikehendakiNya dan mencabut dari siapa yang dikehendakiNya.

Sebagai muslim bertarung memperjuangkan ideologi dan keyakinan, agar diterima banyak kalangan,
Berjuang agar setiap syari’ah Allah dapat diterima menjadi perundang-undangan,
Diperjuangkan melalui parlemen,
Menghindari pertumpahan darah,
Menghargai hak hidup setiap manusia

Wallahu ‘alam bish showab

Advertisements

Ayat yang menguji hingga ia pun murtad

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari sekian banyak membaca, dan tadabbur,

diantara hal yang paling mencengangkan adalah kondisi “murtad”

diantara murtad yang paling bikin sedih adalah murtadnya Abdullah Bin Abi Sarhin, dan Ubaidillah Bin Jahsy.

Adapun Ubaidillah Bin Jahsyi, ia adalah seorang pencari kebenaran, tak mau menyembah berhala, bersama sahabat-sahabatnya berkelana. Yahudi dan Kristen tak menarik perhatiannya.
Tatkala datang islam, ia bersegera beriman, pun demikian istrinya Ummu Habibah putri Abu Sufyan.
Tribulasi dakwah menghantarkannya hingga hijrah ke Habasyah, dan kali ini melihat kebesaran budaya Habasyah, ia yang selama pengembaraan kebenaran dalam hidupnya, tak pernah tertarik dengan kristen, kini terkagum-kagum, dan menjadi pemeluk kristen di Habasyah.

saya ucapkan “Na’udzubillah dari kejadian macam ini”
Adapun Ummu Habibah, terselamatkan akidahnya, ia dijauhkan dari keburukan suaminya, Allah pun menganugerahinya pernikahan dengan manusia paling agung. Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah.

Adapun Abdullah Bin Abi Sarhin, ia adalah termasuk orang yang masuk islam di awal-awal dakwah, boleh jadi masuk Islam sebelum Rasulullah bersembunyi di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
Ia adalah orang kepercayaan Rasulullah, dipercaya menulis wahyu.
Hingga suatu ketika, tatkala surat Al Mukminun turun, sampai di ayat 14 dan Rasulullah salam sejahtera baginya memerintahkan kepada Abdullah Bin Abi Sarhin untuk menuliskan.
begini surat Al Mukminun ayat 14
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik

kata-kata yang ditebalkan, menimbulkan kegaduhan dan interpretasi yang bermacam-macam
Ditengah seruan tauhid, datang ayat yang demikian adanya.

Bagi ABdullah Bin Abi Sarhin ayat tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya akan keesaan Allah,
tetapi “penafsiran” yang dibumbui setan mengelabuinya

Jika Allah yang Esa, mengakui adanya kreasi-kreasi manusia,
lalu mensifati diriNya sebagai “pencipta yang terbaik” karena sifat-sifat ciptaan Allah
maka Abdullah mencoba mengambil kesimpulan antara dirinya dan Rasulullah

Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah dengan perantaraan makhuk yang tidak dapat dilihat manusia lain.
Terkadang ketika sedang bercakap dengan orang-orang, tiba-tiba saja Rasulullah bercakap dengan sesuatu yang tidak terlihat, yaitu Malaikat, pada titik inilah ejekkan menyesakkan dada pada Rasulullah terlontar, kaum kafir berkata bahwa beliau gila.

Turunnya wahyu, proses turunnya dipikirkan Abdullah, apakah wahyu itu berupa ilham, wangsit atau bagaimana?

Kelebihan kecerdasan yang dimiliki Abdullah Bin Abi Sarhin menggodanya, antara “wahyu ” dan “ide”
sebagai orang cerdas, ide-ide selalu berkelabatan dalam dirinya, respon-respon atas peristiwa sosial dimilikinya.
Dan pengalamannya sebagai penulis wahyu menambah ragam rupa kecerdasannya

hingga kesimpulannya : “wahyu” = “ide”

jika nabi Muhammad adalah seorang nabi yang diberi “wahyu”
maka ia pun seorang nabi yang diberi “wahyu”

maka murtadlah Abdullah Bin Abi Sarhin
setelah murtad propaganda yang dilancarkannya luar biasa
anti keimanan
ia yang saudara sesusu Utsman, bahkan mempropaganda Utsman untuk tak menginfakkan hartanya di jalan Allah

(saya kembali ucapkan na’udzubillah dari terjerumus pada kondisi demikian)

Zaman berlalu, hingga futuh Mekkah dan Rasulullah memerintahkan pembunuhannya

tapi ternyata, Allah masih memberikan kesempatan baginya untuk bertaubat dan berkarya nyata
semoga Allah menerima taubatnya

Kekuasaan dan Demokrasi

Bismillahirrahmaanirrahim

Kekuasaan, oh kekuasaan
Diberikan Oleh Allah pada siapa yang dikehendakiNya
Dan dicabut oleh Allah dari siapa yang dikehendakiNya

Kekuasaan adalah dunia,
Ia bukan tujuan
Tapi sarana

Rasulullah meraih kekuasaannya dengan jalan damai, sumpah setia dari 72 orang aus dan khajraz, yang dilanjut dengan piagam madinah yang mempertegas mana teritorial dan siapa anggota rakyatnya

Muawiyah meraihnya dengan jalan damai, dari secarik kertas yg telah bertanda tangan Hasan Bin Ali,
Meski sebelumnya berdarah-darah mengangkat senjata,
Tapi cara kekuasaan sampai di pundak Muawiyah tetaplah tercatat sebagai jalan damai.

Adapun Abdul Malik Bin Marwan, meraih kekuasaannya dengan darah dan tangan besi, hingga tertumpahlah darah Abdullah Bin Az Zubayr, khalifah yang resmi.

Adapun As Saffah, sang pendiri negara Abbasiyah, merebut kekuasaan setelah berhasil membunuh Marwan Al Himar, raja terakhir Bani Umayyah.

Abdul Malik Bin Marwan adalah seorang Faqih, Abdullah As Saffah adalah seorang cendekia. Tapi zaman mereka, zaman pedang.
Ketika kekuasaan yg mereka pikir sebagai salah satu cara meraih pahala harus ditempuh dengan jalan pedang, maka ditempuhlah dengan jalan pedang.
Berat bagi mereka dan menyakitkan
Do’aku semoga Allah mengampuni keduanya, Amal mereka lebih banyak dari kesalahan-kesalahannya.

Ada pula kisah Qushay, moyang Rasulullah salam sejahtera baginya dalam membebaskan Mekkah dari kaum Khuza’ah. Ia tak perlu angkat senjata dan tak perlu sumpah setia. Ketika simbol kekuasaan Mekkah saat itu adalah kunci Ka’bah, maka yg ia pikirkan bagaimana caranya dapat menguasai kunci ka’bah. Tak ada tumpah darah, ia mengambil kunci ka’bah dengan akal kecerdasannya.

Adapun Shalahuddin Al Ayyubi, sang pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Syam,
Cukup baginya mengenal Syirkuh, untuk menyelinap dalam pusaran kekuasaan penguasa Syi’ah Mesir saat itu, lalu memobilisasi kekuatan, dan berhasillah ia membersihkan Mesir dari kaum syi’ah.

Adalah tentang Demokrasi dan Kekuasaan.
Ketika Kekuasaan ditentukan beberapa detik dari bilik suara,
Ia adalah tanpa darah tertumpah.
Dan ia legitimate sebagai cara merebut kekuasaan jika manusia bersepakat demikian

Sungguh cara damai lebih baik dalam memperoleh kekuasaan.
Karena pikiran manusia tidak akan pernah sepakat dalam suatu urusan
Karena pertarungan antar kepentingan akan terus terjadi
Karena pertarungan antar ideologi akan terus terjadi.

Demikianlah demokrasi terjadi, agar perang kepentingan, perang ideologi tak berakhir dengan sengketa senjata

Allahumma inna na’udzubika min jahdi al balaa
Wahai Allah, aku berlindung padaMu dari ujian yang sangat berat,
Berlindung dari ujian sebagaimana menimpa korban Ashhabul ukhdud

Bunda Asiyah, i love you

Taktik Asiyah dalam mendapatkan apa yang diinginkan

Masya Allah, semakin membuka lembaran tentang contoh pribadi wanita terbaik
Semakin sadar diri kalau diri ini ga tahu apa-apa

Ayat-ayat indah yang Allah berikan
Bahwa contoh wanita terbaik yang disebut dalam al Qur’an adalah Asiyah dan Maryam

Asiyah masih keturunan raja Mesir yang mengangkat Yusuf menjadi menteri perbendaharaan negara.
Sebagai ningrat Mesir, Asiyah mengikuti takdirnya dan menjaga kehormatannya, tidak melanggar batas-batas yang dianut kaumnya, hingga ia dipersunting raja diraja bangsa Mesir Fir’aun.

Asiyah tidak dikaruniai anak lelaki, anak perempuannya sangat disayangi Fir’aun.
Ketika mendapati tabut berisi anak lelaki dan telah terdeteksi sebagai bayi dari kalangan bani israil, Allah telah menghadirkan cinta di hati Asiyah.
Pasukan penjagal datang ke kamarnya, dan merayunya agar menyerahkan bayi untuk dibunuh.

Asiyah harus berpikir cerdas, agar semuanya dapat berjalan dengan baik
Ia tetap berkata sopan kepada para tentara dan berkata dengan jujur bahwa ia mencintai bayi itu

Asiyah lalu memberikan pilihan yang masuk akal, bahwa ia akan membawa bayi itu pada Fir’aun dan meminta Fir’aun memberikan bayi itu padanya.
Jika Fir’aun memberikan bayi itu padanya nya maka itu adalah kebaikan para tentara padanya
Dan jika Fir’aun memerintahkan membunuhnya, maka Asiyah tidak akan mencela perbuatan para tentara.

Para tentara penjagal mengabulkan permintaan Asiyah.
Kecerdikan Asiyah dalam berkomunikasi, ditunjukkan dalam kisah bagaimana Aisyah mengambil hati para penjagal

Kecerdasan dan ketepatan strategi ini terlihat kembali dari cara Asiyah menunjukkan bayi pada Fir’aun
Asiyah menaruh kembali Musa kedalam tabut dan mengalirkannya di sungai pada aliran yang akan tepat masuk kedalam tempat Fir’aun biasa berkumpul di pagi hari

Tahap awal rencana berhasil, tabut mengalir ke arah kebun tempat Fir’aun menikmati pagi, ketika putri tunggal Fir’aun bermain-main di sungai bersama dayang-dayangnya mereka melihat tabut yang tersangkut di belukar sungai Nil. Para dayang lalu membawa tabut ke hadapan Fir’aun.
Tak ada yang bisa membukanya, tabut baru terbuka setelah Asiyah menedekatinya dan hanya ialah yang bisa membukanya.
Beberapa detik sesudah kejadian aneh adalah sesuatu yang melenakan, Fir’aun akan lupa pada kebijakan yang sedang dilaksanakannya, turut larut dalam euforia kebahagiaan menemukan bayi lelaki.
Asiyah tahu pasti meski Fir’aun sangat mencintai putrinya tetapi tentu saja kehadiran bayi lelaki dinantikannya pula.

Anak perempuan Fir’aun turut larut dalam bahagia, ia memegang bayi dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lengan bayi, spontanitasnya adalah memegang luka-luka borok yang terdapat di tubuhnya, dan itulah yang ia lakukan setelah memegang bayi, keajaiban terjadi, lukanya seketika itu hilang.
Euporia terjadi untuk kedua kalinya, kesembuhan yang dinanti selama ini.
Euporia kedua ini bukan tanpa rencana, cara penyembuhan seperti yang terjadi telah dikisahkan banyak peramal.

Asiyah merekam semua dengan baik, ketika melihat sosok bayi Musa, pikiran terletak antara harapan dan taktik. Rasa cinta pada musa yang telah tumbuh melahirkan harapan, bahwa makhluk yang pernah diombang-ambing lautan yang keringatnya bisa menyembuhkan putri Fir’aun adalah bayi yang baru saja ditemukan dayang-dayangnya.
Rencana mencipta euporia yang berhasil.

Euporia itu tidak lama, para algojo penjagal selalu bersiaga dengan kabar bayi yang terlahir ditahun itu.
Mereka kemudian mendatangi Fir’aun dan membuat Fir’aun tersadar.
Bayi diperiksa dengan seksama, dan teridentifikasi dengan jelas bahwa itu adalah dari kalangan Bani Israil.
Namun apa daya, euporia telah tercipta, menutupi hati dengan keraguan, putri kesayangan telah sembuh. Taktik jitu Asiyah berhasil

Tarikan antara rayuan wanita pendamping dan gemuruh para menteri dan algojo,
Para algojo kehilangan kengototan, kini tawaran menjadi dua, tidak hanya membunuh bayi yang ada dihadapan, mereka mendengungkan “bunuh atau buang kembali ke sungai”
Fir’aun sesungguhnya teguh pada titahnya, ia menetapkan bahwa keputusannya adalah membunuh bayi bani Israil, yang ternyata masuk jantung pertahanannya.
Jurus pamungkas diketahui Asiyah, ia tahu bahwa Fir’aun mendamba hadirnya seorang Qurrata ‘Ayun, seorang penyejuk hati, maka Asiyah berujar dengan lembut
“Jangan membunuhnya, bisa saja ia bermanfa’at buat kita, kita jadikan ia anak angkat, agar ia menjadi penyejuk hati untuk ku dan untukmu”

Rayuan wanita yang tak dapat ditolaknya, wanita beretika tinggi, yang memiliki pesona luar biasa,
Akhirnya jawaban Fir’aun : “bayi itu untukmu”

Ini benar-benar cara komunikasi yang elegan
Bisa dipakai juga dalam dunia pengajaran

Cinta Asiyah, love you bunda, semoga berkumpul denganmu
Semoga mengunjungi rumah yg pernah engkau minta kepada Allah

Semoga Allah menjadikan aku mengikuti jejakmu

Kenapa (kita) tak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Natal, oh natal

setiap tahun berulang, dan setiap kali itu pula beredaran disana-sini tentang “haramnya mengucapkan selamat natal”

fenomena yang “rasa-rasanya tiada kemajuan dalam dialog antar ummat” di negeri kita tercinta Indonesia

pertanyaan pertama adalah

“Kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?”

sosok nabi Isa adalah almasih, “kealmasihan” nabi Isa adalah sesuatu yang pasti tersebut dalam al Qur’an

Sosok nabi Isa yang Allah persiapkan sebagai sosok kunci dalam ujian terbesar bagi kemanusiaan
nabi Isa adalah pemimpin melawan Dajjal (anti christ)

lalu mengapakah kita tidak bergembira dengan kelahiran nabi Isa?
kelak dalam perlawanan terhadap hegemoni Dajjal, pemimpin ummat Muhammad melawan Dajjal adalah sang Messiah Isa putra Maryam

Dari titik inilah saya berpikir,
saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa, dan mengucapkan pada nabi Isa salam sejahtera atas kelahirannya,
sebagaimana yang diucapkan nabi Isa sendiri atas kelahirannya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam : 33)

Sungguh saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa,
sesungguhnya kalangan yang bersedih dan membeci hari kelahiran nabi Isa adalah anti christ,
semestinya hanya kalangan Yahudi pengikut Dajjal (anti kristus) saja yang bersedih.

lalu bagaimanakah rupa kebahagian atas kelahiran nabi Isa harus kita tunjukkan?

dititik ini saya tertegun , surat al an’am ayat 84-90 mengobok-ngobok otak, marilah kita perhatikan bersama

84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
85. dan Zakariya, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
86. dan Isma’il, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),
87. (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
89. Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.
90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah jejak mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat”

perintah Allah kepada Rasulullah dalam ayat 90 surat al an’aam ini adalah mengikuti jejak para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya,
maka dari itu kita melihat bahwa Rasulullah sungguh-sungguh dalam menjalankan jejak nabi Ibrahim,
kadar “mengikuti” ini tentu saja telah Allah tetapkan, bagian-bagian mana saja yang diikuti dan bagian mana yang terhapus oleh “risalah” baru.

dalam jejak nabi Ibrahim, diantara yang kita temukan adalah “ibadah haji”

Dalam masyarakat arab semenjak sebelum kelahiran nabi Muhammad, ibadah haji memiliki posisi penting dalam kehidupan ritual dan kemasyarakatan, meskipun terjadi penyelewengan disana-sini.
Islam kemudian menegakkan ibadah haji, dan membuang hal-hal yang merupakan penyelewengan.

suatu ketika , Urwah Bin az Zubayr mempertanyakan, redaksi ayat tentang sa’i.
“Dan tiadalah dosa bagimu ……”
ayat tentang sa’i dalam redaksi demikian,
dalam pemahaman Urwah, berarti sa’i itu sebetulnya dilarang, tetapi kemudian Allah memberikan “keringanan”

Pehamanan yang dikemudian hari diluruskan oleh Aisyah, kata Aisyah “banyak orang menyatakan bahwa sa’i adalah syi’ar jahiliyah, dan islam ikut-ikutan, islam masih mempertahankan syi’ar jahiliyah. Allah kemudian menjelaskan hakikat sa’i” maka sesudah ayat turun Rasulullah bersabda “bersa’ilah”

permasalah besar yang melingkupi tema “kelahiran nabi Isa” adalah :

1. Tanggal kelahiran, tanggal kelahiran nabi Isa ini tidak dapat dipastikan dengan pasti, apalagi “peringatannya”
mengapa? karena tahun itu berputar,
dan putaran itu kita memilih yang mana?

ada putaran bulan, ada putaran matahari, ada putaran bulan dengan memperhatikan matahari.
dalam menghitung putaran matahari itu sendiri, beberapa kali terjadi koreksi, sebagaimana perubahan kalender dari julian ke gregorian, sewaktu masih memakai kalender julian, mayoritas orang kristen merayakan natal tanggl 7 januari.
sesudah kalender gregori dipakai orang kristen di belahan barat dunia merayakannya tanggal 25 desember,
mengapa? karena tahun itu adalah putaran

misal , saya lahir 7 Rajab 1400 yang bertepatan 21 Mei 1980 …… tanggal 7 Rajab berputar dengan cara bulan, dan entah kapan lagi akan bertepatan dengan 21 Mei. Sementara 21 Mei berputar dengan cara matahari dan menurut gregori ya jatuh sesuai dengan kalender yang umumnya saat ini berlaku di seluruh dunia kalender gregorius
jadi setiap tanggal, keberulangannya secara momentum adalah “relatif”

Bagi ummat islam, Allah telah memilihkan putaran bulan murni, sebagai cara menghitung ulangan suatu momentum kejadian dengan tepat dan pasti, tapi penghitungan ini sendiri harus dibarengi dengan proses “memandang dan mengamati fenomena”

Sebagaimana paus gregorius mengkoreksi kalender julian, sehingga kita menikmati kalender international yang saat ini berlaku, maka tidak menutup kemungkinan suatu ketika harus ada koreksi terhadap kalender gregori dengan pengamatan posisi matahari terhadap bumi.

Demikianlah tanggal, pengulangannya adalah sesuatu yang tidak pasti, ia bergantung kepada ketepatan menghitung dan mengkonfirmasi peristiwa alam.

Adapun hari, maka ia akan tetap berjumlah 7 hari, dia akan terus berputar ahad-senin-selasa-rabu-kamis-jum’at-sabtu.
maka ungkapan nabi Isa tentang putaran waktu adalah demikian adanya :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

2. Cara merayakan, cara merayakan suatu peristiwa besar adalah “debatable”, kita tidak bisa menutup mata dari adanya campur tangan tradisi dalam perayaan sesuatu.
Dalam kasus kelahiran nabi Isa, banyak sekali tradisi yang mengitarinya, contohnya keberadaan “pohon natal”
tradisi pohon natal tidak dikenal sedari dulu, dia baru ada sekitar abad ke 16
Dalam bahasa ummat islam, dalam perayaan natal pasti terdapat “bid’ah-bid’ah”

Contoh tentang perayaan hari lahir :
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bahagia dengan kelahiran dirinya, berbahagia dengan hari kelahirannya, maka nabi Muhammad “merayakan hari kelahirannya dengan shaum”
Cara perayaan ini telah mendapat “lisensi kebolehan” dari Allah,
maka kita ummatnya merayakan kelahiran nabi Muhammad, menunjukkan kebahagian atas kelahirannya dengan mengikuti sunnahnya yaitu shaum setiap senin.
(gimana shaum untuk memperingati hari kelahiran sendiri, ohhh jangan lah ya, karena tidak ada lisensi kebolehannya atas itu)

Kembali kepada judul,

pertanyaannya

kenapa kita tidak ikut berbahagia atas kelahiran nabi Isa?
jikapun kita tidak sepakat dengan “cara merayakannya”
jikapun kita tidak sepakat dengan sikap ummatnya nabi Isa yang “menganggapnya Tuhan”

kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran pemimpin perlawanan terhadap anti kristus Dajjal?
Saya belum menemukan jejak cara orang-orang Kristen merayakan natal di zaman nabi Muhammad,
yang saya temukan bahwa dizaman Rasulullah perayaan terbesar bagi ummat Kristen saat itu adalah perayaan “kamis putih”
karena secara sosial sedikit sekali ummat Kristen di Medinah, sikap kenegaraan dan “ideologikal” nabi Muhammad terhadap perayaan Kristen tidak saya dapati.
Tentang perayaan apa yang menjadi pusat perhatian dalam suatu agama, juga ditentukan oleh karakter sosial, kondisi politik kemasyarakatan.
Perayaan natal pasti mengalami pasang surut dalam sejarahnya

Adapun terhadap shaum ‘aasyura, dimana orang yahudi melakukan shaum dihari itu, maka Rasulullah bertanya pada orang Yahudi “kenapa kalian shaum hari aasyura?”

ketika orang-orang Yahudi menjawab bahwa hari itu adalah hari dimana Musa selamat dari kejaran Fir’aun, ketika Musa dan para pengikutnya berhasil menyebrangi laut Merah berjalan kaki.

yang Rasulullah sampaikan kepada para sahabat adalah “kita lebih berhak atas Musa dari orang-orang Yahudi”
maka Rasulullah pun memerintahkan shaum di hari aasyura.

Lalu bagaimanakah nabi Isa “merayakan” hari kelahirannya?
jejak al Qur’an yang dapat kita temukan adalah apa yang nabi Isa ucapkan sewaktu dibuat dapat berbicara diwaktu bayi, dimana kisahnya diabadikan dalam surat Maryam ayat 33 :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

Nabi Isa, tidak tepat mengucapkan hal itu dihari ketika dilahirkan, maka bagi yang membaca ayat diatas dalam bahasa arab akan menemukan kata “hari ketika aku dilahirkan” dibentuk dengan past tense “yauma wulidtu”
Nabi Isa merayakan kelahirannya dengan sebuah do’a “salam sejahtera bagiku”

Ketepatan tanggal momentum, sebagaimana yang saya sebut adalah sulit “dimoderatori”
jatuhnya shaum ‘aasyura di kalangan yahudi akan berbeda dengan hari ‘aasyura dikalangan Islam
karena ada perbedaan cara menghitung
Yahudi memiliki kalender lunar solar
sedang ummat islam memakai kalender lunar murni

demikian pula natal,
ummat kristiani tidak akan gegabah menentukan tanggal kelahiran nabi Isa pada 25 Desember atau 7 januari
maka ilmuwan kalender handal kita dapati adalah dari kalangan gereja, yaitu “paus Gregorius XIII”
yang menghadirkan bagi kita kalender yang dipakai secara international hingga saat ini.

dan kita sebagai ummat islam sudah tahu, bahwa keberulangan suatu momentum kejadian, yang paling tepat dan akurat adalah dengan “kalender bulan murni”

dititik ini saya memandang

bahwa saya harus berbahagia dengan kelahiran sang messiah

kesalahan ummat Kristiani dalam cara merayakan natal adalah urusan ummat yang merupakan sahabat dekat ummat islam ini dengan Allah
kesalahan ummat Kristiani dalam berpendapat bahwa Isa adalah Tuhan, adalah kelak dihadapkan pada pengadilan Allah

tetapi saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam
Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
Selamat Natal bagi Yesus Kristus

dan bukan selamat merayakan hari natal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
sang juru selamat, yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan manusia dari bencana terbesar kemanusiaan
menyelamatkan manusia dari Dajjal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam

Wallahu ‘alaam bi ash showab

Kisah Anjing dan penaklukan Persia (Estakher)

kisah ini unik pisan

ternyata,
benar harus telaten dalam membaca peristiwa

Persia dengan kebesaran peradabannya ditaklukan bangsa arab tidak dengan sekali penaklukan
misal beberapa daerah yang ditaklukan di zaman Umar, ada banyak daerah yang kerap memberontak

semisal Isthakhar atau Estakher
saat Estakher memberontak di zaman Khalifah Utsman, kekuatan Estakher sangat kuat
tentara muslim mengepungnya dalam waktu cukup lama tanpa kemajuan.

Titik cerah adalah saat suatu peristiwa unik terjadi
sekelompok tentara melakukan SHALAT TAHAJJUD, dan mereka belum memakan bekal yang terdiri dari roti dan daging.
saat shalat, datang seekor anjing mencuri bekal.
selesai shalat anjing itu dicari dan dikejar.
(seru ini kejar-kejar anjing, memperjuangkan bekal)
para tentara terus mengejar anjing hingga mereka menyaksikan bahwa anjing memasuki kota dari pintu yang tersembunyi.
Para tentara yang mengejar senang bukan kepalang, ketika mereka bisa masuk ke dalam kota dengan leluasa.
Segera diberitakan dan disusunlah rencana, masuk kota dari pintu tersebut
dan berhasil, pasukan kaum muslimin masuk semua dan menaklukan kota dengan perang hebat

Dari kisah ini, jadi evaluasi karakter diri

saya, kalau misal ada kejadian begitu, yakin ga bakalan kejar itu anjing
ternyata sikap yang seharusnya ada “pertahankan milik kita” perhatikan kebutuhan
ada hikmah besar dalam mempertahankan kepemilikan,
pola pikir yang sebelumnya saya miliki, jika menghadapi sikon tadi “ngapain cape-cape ngejar anjing”
padahal ternyata …..

segala sesuatu harus dilihat dulu esensinya….
makanan itu adalah bekal, di tempat perjuangan, logistik terbatas, makanan berkah menegakkan sendi untuk berjuang
Adapun anjing, ia bisa mencari tipikal rizqi lainnya
memandang dari sudut pandang kita.

Adapun sudut pandang lainnya,
“Allah mengirim anjing untuk menunjukkan jalan masuk”

lah, ya kalau pola pikirnya seperti saya,
petunjuk sederhana itu tak akan berarti apa-apa

Bongkar Karakter, membaca pertanda

alhamdulillah
pelajaran berharga hari ini

itu mereka? (arab, persian, turkish, kurdish, mongol), kita?

mencoba membaca peta Indonesia ke depan yang bikin bertekad
PKS harus menang,
PKS harus berkuasa,
insyaAllah
kekuasaan politik untuk mengelola ekonomi, mengelola sumber daya Indonesia untuk semua kalangan agama dan etnik
memperjuangan agar Indonesia menjadi “ruling country”

kekuasaan yang harus diperjuangkan,
dan jika ia bersesuaian dengan kehendak Allah Sang penetap kekuasaan, maka kekuasaan itu terjadilah ….

makin bersemangat setelah menyimpulkan bacaan hari ini, bahwa

1. hingga tahun 1500an masehi ilmuwan muslim itu banyak yang Persian dan etnik-etniknya yang serumpun, banyak dari mereka yang masih Majusi, terislamkannya orang Persia tidak dalam hitungan hari
2. adapun kejayaan militer penaklukan perebutan wilayah banyak dimenangkan turki atau kurdish, misal perebutan kembali yerussalem dari kekuasaan kristen oleh ayyubi yang kurdish… penaklukan konstantinopel oleh al fatih yang turkish *****

mungkin ada yang bertanya kok pola pikirnya rasial banget? ***** bukan rasial karena setiap bangsa sudah diberikan peran masing-masing, dan juga terkait KEDATANGAN MALAIKAT UTUSAN ALLAH, dalam perang memperebutkan kekhilafahan, Tsabit putra Abdullah bin Az Zubayr mengingatkan ayahnya akan kemungkinan yang terjadi tatkala melihat anggota pasukan ayahnya adalah orang Mekkah dan orang Medinah, tsabit berujar “pasukan engkau yang tiada akan diberi kemenangan, adapun orang Mekkah mereka punya dosa mengusir Rasulullah SAW, adapun orang Medinah mereka pernah membiarkan Utsman terbunuh dirumahnya di kota Medinah”

nah terus peran kita orang Indonesia?
kalau kepemimpinan itu diraih, maka akan terlihat peta pengenalan akan potensi bangsa
kepemimpinan era baru Indonesia
belum pernah dalam sejarah 68tahun kemerdekaannya Indonesia dipimpin anak bangsa tipikal kader-kader PKS

seru banget kalau baca sejarah orang-orang turki, dari hidup di tenda-tenda hingga kemudian berperadaban.
klo etnik Persia dan rumpunnya emang sudah berperadaban dari zaman jebot ….
nah kalau etnik-etnik Turki itu bisa dikatakan “pure” hasil didikan islam
kisah mereka yang memulai menapaki tanah arab dari pembantu domestik, terus ke tentara …

hiks jadi ingat nasib TKW-TKW
beda status, TKW itu pekerja

nah kalau zaman awal Abbasiyah, sekitar 1200 an tahun yang lalu
emaknya al Mu’tashim, yang bisa kita bilang sebagai banyak nya para Khalifah Abbasiy, karena sesudah eranya, seluruh khalifah Abbasiyah adalah keturunannya.
Al Mu’tashim putra dari Khalifah Harun al Rasyid dan seorang budak yang mengerjakan pekerjaan domestik, sang budak yang beretnik Turki….
inilah awal keintiman etnik Turki dengan islam dan pusat kekuasaan

Balik lagi, kita orang Indonesia ?
Allah telah menganugerahkan keimanan ini pada kita,
bangsa India, bangsa Vietnam, Bangsa Thailand lewaaaaaat

Alhamdulillah kita ini bangsa pilihan, dianugerahi keimanan,
maka harus disyukuri dengan sebaik-baik ibadah kepada Allah,
sebaik-baik pengelolaan bumi….

meskipun konon, katanya, indonesia “banyak masalah”
sikapilah “masalah dengan kedewasaan”,
hidup itu pasti banyak masalah,
padahal kalau kita melihat kesejatiannya, karunia Allah pada bangsa Indonesia lebih banyak dari ribuan masalah yang menghimpitnya

Mensejajarkan diri dengan bangsa Persia, bangsa Turki,, bangsa Kurdi, bangsa Mongol ….

dengan tak pernah melupakan bahwa pilihan kenabian akhir zaman ini telah Allah jatuhkan pada bangsa arab
maka jalan kepemimpinan bagi ummat islam itu akan diberikan Allah dengan satu syarat yang tak akan pernah hilang
penguasaan bahasa arab dengan baik, memahami teks-teks islam dengan sebaik-baiknya,

kicauan aneka ragam disenja yang sepi
mungkin banyak yang tak menemukan kaitannya, maka beli aja benang merahnya, xixixi

sambil berdo’a : “Rabbi laa tadzarnii fardan wa alhiqnii bi ash shaalihiin”

Menghormati Asal, menghormati para pendahulu (masukan untuk Arya Sandiyudha)

Yah ternyata ,
sangat tergelitik untuk masalah ini ….
yaitu
memahami posisi dan tugas manusia berdasar etnik

sebab Allah menjadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal

kenabian,
setiap kaum sebagaimana yang Allah sampaikan memiliki nabi
sejarah menyebutkan, bahwa para nabi itu sebagian besar adalah keturunan Sam bin Nuh,
sedikit sekali yang berasal bukan dari keturunan Sam bin Nuh
misal tatkala para sejarawan Muslim menyebut bahwa Zoroaster adalah kemungkinan seorang nabi, dan ia adalah Kurdi
etnik Kurdi adalah keturunan Yafits bin Nuh.

bangsa-bangsa dan para nabinya

sedikit sekali yang beriman dikalangan ummat setiap nabi.
bahkan, nabi-nabi yang diutus pada bani Israil, tidak jarang yang dibiarkan terbunuh

dari 25 nabi yang wajib kita ketahui,
maka Adam, saat belum berbangsa-bersuku-suku….
Idris saat manusia beranjak banyak
Nuh, sebagai bapak kedua ummat manusia ….. maka sesungguhnya secara garis paternal ummat manusia yang ada sekarang semua keturunan Nuh, Nuh adalah keturunan Syits putra Adam yang diangkat menjadi nabi.

Hud dan Shalih adalah orang arab
Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, bukan orang arab, mereka tidak berbicara bahasa arab … mula-mula berbicara bahasa babil-asysyirian atau suryaniyah …..
tapi kemudian Ismail ditakdirkan hidup di kawasan Arab, maka keturunan Ismail menjadi terarabkan

Yusuf, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa …. kesemuanya keturunan Ya’qub sang Israil

Ayyub, yang keturunan Ishaq tapi bukan dari Ya’qub
Syu’aib yang keturunan Ibrahim dari Madyan

setiap nabi yang menyampaikan risalah pada kaumnya
beragam penyikapan kita temukan

secara global al Qur’an menyebut bahwa sunnatullah para nabi adalah didustakan …..

Adalah Ibrahim,
sebagai salah satu ulul Azmi yang terdekat pada zaman Nuh
ia adalah satu-satunya manusia bertauhid dizamannya

dulu saat saya sangat ngefans dengan lagu-lagu nasyid asal malaysia, suka dengar slogan ‘iman tidak diwariskan”

tapiiiiiii
panutanku adalah nabi Ibrahim ….
nabi Ibrahim berdo’a agar keturunannya beriman …..
maka Ishaq dan Isma’il

Agama dan jejak ritual Ibrahim di garis Ishaq adalah didominasi kisah Bani Israil, yang karakternya kita dapati di AL Qur’an

Agama dan jejak ritual Ibrahim di garis Isma’il adalah kisah pasang surut bangsa Arab Adnan dalam beragama…. bangsa arab yang memegang teguh ritual Ibrahim hingga datang pengacau bernama ‘Amr bin Luhay.
‘Amr sang paganis terlaknat membawa penyembahan berhala ke tengah Mekkah yang ribuan tahun hidup dalam jejak ritual nabi Ibrahim.

demikianlah jejak nabi ibrahim yang masih sangat jelas pada masyarakat arab terutama keturunan Ismail, sebelum diutus nabi Muhammad, meskipun penyimpangan terjadi besar-besaran.

Allah mencintai Ya’qub, memilih Ya’qub, memberikan kenabian pada Ya’qub dan keturunannya…. tetapi anak cucu keturunan Ya’qub ini ternyata mayoritasnya error luar biasa, bani Israil yang saat nabi Musa masih hidup saja sudah berani menyembah patung anak sapi.
bangsa pilihan yang mayoritasnya tiada mensyukuri anugerah Allah.

lalu bandingannya adalah bangsa arab anak keturunan Isma’il …. lama berselang, tiada kenabian …. tetapi mereka teguh dalam jejak ritual tauhid nabi Isma’il hingga datang pengacau bernama ‘Amr bin Luhay
dan ‘AMr bin Luhay ini bukan arab keturunan Isma’il

Allah mengetahui dimanakah harus meletakkan tanggung jawab risalah terakhir,
kepada bangsa manakah risalah terakhir ini harus disampaikan
agar tatkala Allah menyematkan tanggung jawab, maka tertunaikan dengan benar
karena risalah ini adalah risalah semesta alam
pilihan itu jatuh pada bangsa yang paling lama membuktikan kesetian pada tauhid, yaitu anak cucu Isma’il, bangsa arab.

ini adalah suatu kenyataan yang harus kita pahami,
maka dari itu tatkala kita mempelajari nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengajaran nasabnya tidak pernah terlepas.

bangsa arab, dan pemimpin mereka arab quraisy, telah melakukan aksi progressif luar biasa

menyebarkan islam ke seantero semenjung arabia dalam waktu singkat,

dalam waktu singkat kekuasaan Persia Sassanid dihancurkan, dalam waktu singkat Romawi Byzantium dienyahkan dari bumi Syam dan Mesir,
bahkan dalam kurun kurang dari satu abad sejak wafat nabi Muhammad, Islam telah sampai di tanah spanyol, menyebrang lautan ganas, yaitu tahun 92 Hijriyah, dimasa Al Walid Ibnu Abdul Malik.

lalu bangsa arab ini mengalami gejala penuaan secara politik dan penaklukan,
perpecahan ……
hingga Allah memuliakan bangsa Turki untuk tampil menjadi kekuatan utama tentara negara Abbasiyah, dimasa pertengahannya.
bangsa Turki bahkan menjadi pengendali utama Dinasti Abbasiyah, mengalahkan bangsa Persia, bangsa Khawarizm, de el el.

karakter kepemimpinan dan kekuatan fisik yang melekat erat pada bangsa turki,
dan mereka adalah bangsa yang menghormati keutamaan darah kenabian

meskipun bangsa Turki menjadi pasukan utama Dinasti Abbasiyah, meskipun menjadi pengendali utama kenegaraan,
tetapi keutamaan itu ada pada Dinasti Abbasiyah …

sepenuh penghormatan pada hadits baginda Rasulullah “Quraisy adalah pemimpin manusia….. orang yang beriman dikalangan mereka adalah pemimpin kalangan beriman, orang yang kafir dikalangan orang Quraisy adalah pemimpin orang kafir”

kesetiaan luar biasa bangsa Turki pada Dinasti Abbasiyah telah ditunjukkan, meski hanya berupa simbolitas

lalu Turki Utsmani berdiri, tetap dengan penghormatan utuh pada suku bangsa yang Allah pilih, nabi terakhir berasal dari bangsa tersebut….

lalu saat kehancuran Turki utsmani …. ketika tuduhan disandarkan pada nasionalisme arab sebagai penyebab utama kehancuran turki Utsmani, lah kok bagaimana bisa?

lagi pula nasionalisme arab di tahun 1910 an itu, adalah suatu akibat disebabkan kompleksitas masalah

lagi pula nasionalisme arab yang di tahun 1910 an itu, digaungkan oleh orang-orang yang mereka dikenal masyarakat arab sebagai “bani Hasyim”
gerakan yang dimulai di Hijaz menyebar ke Iraq, Mesir, Suriah, Yordan ….
gerakan nasionalisme arab membangkitkan nostalgia kepemimpinan Quraisy……
gerakan yang tidak terlalu berhasil…. pun di Hijaz sendiri…. ketika kekuatan Bani Hasyim di Hijaz dikalahkan kekuatan keluarga Su’ud
lalu di seantero arab menghilang pula kampanye Bani Hasyim ini, tersisalah Yordania yang hingga hari ini nama itu mereka sandang “Kerajaan Arab Hasyim Yordan”
kampanye bani hasyim yang saling tunggang menunggang dengan Inggris

diluar semua itu,
ada hak perkataan Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita ta’ati, tentang Quraisy dan kepemimpinan.

dan kaum Quraisy itu akan cepat menghilang dari peredaran di muka bumi …. sebagaimana yang Rasulullah sampaikan…
selagi kita masih dapat mencari, seorang pemimpin beriman dari kalangan Quraisy yang kompeten, maka dia lebih berhak atas kepemimpinan itu

Adapun peradaban terus melaju dalam dinamikanya
ketika kekhilafahan turki utsmani ditutup tanpa “pergolakan” berarti
ketika Turki berkubang dalam sekularisme gila
adzan dirubah menjadi bahasa turki, jilbab dilarang, kehidupan keagamaan diawasi

adalah secercah harapan dalam apa yang digagas seorang pemuda brillian dari Mesir
pemuda muslim arab yang syahid tersebab cita-cita besar yang disampaikannya
kini Turki dipimpin seorang Erdogan, yang tercerahkan oleh gagasan-gagasan Imam Syahid Hasan al Banna

lalu kita di Indonesia,
kita telah memiliki banyak tokoh handal di era kemerdekaan,
tokoh-tokoh kita yang luar biasa berjayanya
lalu keadaan Indonesia memaksa masa tiarap
ketika hampir tiada cara efektif dalam mencetak pemimpin muslim indonesia
secercah harapan itu muncul dari gagasan-gagasan imam syahid Hasan al banna

kita boleh kecewa pada sikap Arab Saudi saat ini,
tetapi kita tidak boleh lupa dimana awal mula pengusung dakwah Tarbiyah di Indonesia pertama kali mengenal fikrah ini

kita boleh terkagum-kagum pada Turki, yang telah menemukan cara terbaik bagi mereka dalam mendekatkan diri pada islam, mendekatkan diri pada politik islam
tetapi janganlah mendiskreditkan kearaban, orang arab dan cara-cara yang mereka pilih.

tweetan antara dua orang yang saya yakini tercerahkan oleh ide-ide imam syahid seperti berikut ini

sesungguhnya sesuatu yang tanpa bukti,
kesimpulan yang tidak membaca dari semua sisi
sesuatu yang tidak layak dilakukan seorang calon pemimpin

kurang progressif apa para pendiri dakwah Tarbiyah di Indonesia yang dalam rentang 18 tahun telah dapat membuat partai, yang dalam rentang 29 tahun telah menghadirkan beberapa gubernur
dan sesungguhnya kekuasaan itu adalah dipergilirkan, diberikan atau dicabut sesuai dengan apa yang Allah kehendaki

adapun apa yang terjadi di Mesir, ketika krisis melanda Mesir dalam rentang waktu satu tahun pemerintahan presiden Mursi….. bukan karena kekurangan pengusaha, bukan karena ketidak luwesan dalam berkompromi
sungguh apa yang terjadi pada mesir sewaktu presiden Mursi berkuasa berupa kelaparan, kekurangan makanan, persis seperti apa yang terjadi di Medinah sewaktu Rasulullah hijrah

kemudian, pilihan-pilihan, strategi-strategi, ketika darah tertumpah,
darah-darah yang pernah saya tulis sebagai darah “kutukan tebusan” atas wafatnya Utsman
sesungguhnya menunjukkan bahwa yang tertumpah itu adalah kebenaran
bagaimana tidak, ketika Hudzaifah mengatakan ada rombongan yang keluar rumah bagai banteng tapi kemudian disembelih bagai unta,
Muawiyah berkomentar : dan yang pertama disembelih itu adalah Utsman

dan Utsman berada dalam kebenaran
maka dalam logika saya rombongan itu, mereka yang tertumpah darah seperti Utsman
adalah para syuhada,
jumlah syuhada dari bangsa Mesir yang kan mencapai 35ribu orang berdasarkan keterangan Abdullah bin Salam

adalah jalan panjang bagi rakyat mesir untuk mendapatkan pemimpin sipil yang berdaulat
adalah karena Allah ingin agar jangan pernah terlupa pembuktian siapa yang dalam kebenaran siapa yang berdiri diatas kebathilan

adapun jalan yang Turki kini berada didalamnya
demokrasi dan bersahabat dengan sekularisme pasif, adalah suatu “jalan mudah”
ia adalah suatu “tamkin” atau peneguhan kedudukan dimuka bumi dari sisi Allah
bangsa yang memiliki takdir demikian
kekuasaan yang lebih mudah dicapai, sebagaimana dulu Ortugral dengan mudah mendapat kepercayaan dari Dinasti Seljuk,
hingga akhirnya Utsman putra Ortugral dapat meneguhkan kerajaannya, menkosolidasi kekuatan lalu menaklukan Eropa negeri-negeri Balkannya dengan gagah berani

keduanya adalah jalan yang terhampar
yang telah tertulis disisi Allah

jangan tertipu euporia
kita harus selalu menghormati asal, menghormati para pendahulu
pasti akan banyak kebaikan yang kita dapati di bangsa arab dalam kelamnya sekalipun

adapun takdir kita bangsa Indonesia,
adalah takdir yang harus kita baca secara seksama
ada pelajaran-pelajaran yang kita dapat ambil dari bangsa-bangsa lain
tetapi tidak dapat kita telan mentah, tanpa dimasak tanpa dikunyah

memikirkan adanya sekularisme pasif di indonesia adalah bagai kemunduran ribuan tahun
kita telah diberi kenikmatan oleh Allah, berupa kebolehan berpartai dengan azaz islam
kebolehan pengajaran agama disekolah-sekolah, bahkan pa menteri M.Nuh menambah jam pelajaran agama
dengan konten yang indah banget

lalu dengan semua kenikmatan ini, tiba-tiba muncul ide sekularisme pasif, dan tampak seperti diyakini sebagai suatu kebenaran

tidakkah takut, tatkala meyakini sekularisme pasif sebagai suatu kebenaran, hal itu termasuk apa yang diperingatkan Allah dalam surat Muhammad ayat 25
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan-angan mereka” (Muhammad : 25)

kembali ke belakang dalam ayat tersebut makna terdalamnya adalah kembali pada kekafiran, na’udzubillah, kita berlindung pada Allah dari menyekutukanNya, berlindung dari kemusyrikan yang kita ketahui dan berlindung dari kekafiran yang tanpa kita sadari menggerogoti keimanan kita, hingga batallah amalan kita semua

sesungguhnya melekatnya identitas keislaman pada seluruh aktifitas kita, adalah suatu hal yang Allah cintai,
Allah yang telah menyematkan nama itu pada kita

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian kaum muslimin dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

mencintai apa yang Allah cintai, memberikan identitas keislaman pada setiap aktivitas yang kita lakukan, ibadah, ekonomi, politik, sosial, sains,dsb

Adapun identitas keislaman Turki
sesuatu yang tinggal menunggu waktu
dan jika masa itu tiba
sekularisme pasif yang sekedar alat darurat, sebagaimana posisi Ammar bin Yasir,
bukanlah hal yang patut kita tiru dalam keleluasaan berdemokrasi yang kita miliki

Wallahu ‘alam bi ash showab

entahlah sungguh yang saya pahami dari tugas yang ada pada pundak bung Arya adalah tugas besar
memahami turki dengan seluruh kebesarannya
membawa pelajaran berharga bagi kita bangsa Indonesia
memahami semuanya dari sudut-sudut yang mendatangkan keridhaan Allah
kita tidak menginginginkan peneguhan kedudukan dimuka bumi, peradaban gemilang yang justru menjauhkan dari kasih sayang Allah

mari merangkai keindahan
dinegeri Indonesia, dengan jalan yang Allah ridhai
sesuai dengan jenis ujian yang Allah berikan pada kita

jenis ujian kita adalah sesuatu yang berbeda dengan mereka
tetapi kita semua berjuang menegakkan kalimat yang sama :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

pertanyaan Umar pada seorang Uskup

entahlah,
generasi kristolog macam apa yang ada di negeri ini,
ketika membabi buta “blaming” pihak lain

adalah alkisah Umar,
ia membuka kran dialog dengan banyak pihak….
yahudi , nashrani, dengan ucapan santun dan bahasa indah

posisi, bahwa risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah risalah terakhir, update terakhir
bukan untuk agar serta merta menjadi SOK PALING TAHU

Umar, ia mengadakan suatu pertemuan khusus dengan seorang uskup,
Al Aqra’ ibnu Habis mendampinginya, pertemuan yang diadakan pada lapangan terbuka, AL Aqra’ menaungi mereka berdua dari terik matahari.

Umar bertanya pada sang uskup : apakah kami para khalifah kalian temukan dalam al kitab kalian?
jawab sang uskup : sifat kalian dan kerja kalian.

Umar bertanya : apa yang kalian temukan tentang aku?
sang Uskup menjawab : “zaman besi”

Umar merubah rona wajahnya, dan bertanya : “apa maksud zaman besi?
sang uskup menjawab : orang yang terpercaya memegang amanah dengan kokoh

Umar tampak bahagia mendengar jawaban sang uskup

Umar bertanya kembali : lalu apa yang engkau temukan sesudahku?

sang uskup menjawab : seorang khalifah yang benar, tetapi ia mengutamakan keluarganya

mendengar jawaban ini, Umar langsung bisa menduga siapa, kemudian berkata : “Allah menyayangi Utsman, Allah menyayangi Utsman , Allah menyayangi Utsman.

umar bertanya lagi : lalu apa sesudahnya?

uskup menjawab : era perang

Umar membalikan apa yang ia genggam ditangannya, mengingkari apa yang dikatakan sang uskup, kemudian berkata “alangkah tajamnya engkau, alangkah tajamnya engkau, alangkah tajamnya engkau!

Uskup berkata : “jangan berkata demikian, sesungguhnya ia adalah khalifah muslim lelaki shalih, tetapi ia diba’iat jadi khalifah sewaktu pedang terhunus dan darah tertumpah

Umar kemudian memandang al Aqra dan berkata “ayo Shalat”

kisah-kisah indah dalam mengajarkan cara berdebat dengan ahli kitab,
penuh kesantunan, dan mendengarkan isi dengan tenang
apa yang benar dibenarkan, apa yang salah diingkari

kesesatan kristen, dengan menyebut Isa adalah tuhan, Isa adalah anak tuhan, bukan kesesatan zaman sekarang saja, itu telah terjadi sewaktu al Qur’an diturunkan
demikian pula aneka ragam sikap yahudi yang membuat Allah marah
semua telah terjadi pula di masa Rasulullah.

bermu’amalah dengan benar
sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya

kisah umarnya berasal dari Mushannif ibnu abi syaibah no 37687

mengambil kesimpulan dengan benar dan baik (ayo turun aksi peduli pada Mesir)

Benar, kebenaran

merasa benar

“kebenaran dari Allah maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu”

ayat yang unik

kebenaran itu akan menampakkan dirinya dengan cara yang Allah mau.

adapun pendapat yang benar, belum tentu terlaksana saat itu juga
sebab ada yang menganggap pendapat benar sebagai suatu kebenaran, dan ada yang tidak

dan jika masih dalam dalam rel “Tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah”
maka setiap pendapat atas peristiwa-peristiwa adalah dapat diambil, dan kemudian kelak dipertanggungjawabkan dihadapan Allah,

belajar mengambil sikap dari peristiwa-peristiwa,
pertama kali dibuat terguncang nalar, adalah dalam masalah tawanan badar

“saat kaum kafir Quraisy tertawan, sekitar 70an orang,
Rasulullah meminta sahabat berpendapat,
Abu Bakar berkata agar diterima tebusan.
Umar berpendapat agar dibunuh.

Rasulullah menetapkan pendapat abu bakar, diterima tebusan.

kemudian datang wahyu, bahwa yang benar adalah pendapat Umar…

peristiwa ini mengajarkan
dalam’frame tauhid”, pendapat-pendapat itu boleh diungkapkan
ada yang benar ada yang salah,
boleh jadi keputusan itu salah, harus dikoreksi,
tetapi ketika tersangkut manusia, nasib nyawa manusia,
dimana ketetapan telah diambil,
maka yang berlaku tetap keputusan yang telah diambil
yang benar disampaikan oleh Rasulullah, dan tawanan badar tetap dapat ditebus.

pagi ini saya menemukan tadabbur yang keren dari ayat al Qur’an
surat al israa ayat 33,

klo versi terjemah depagnya (ga tahu versi terjemah tahun berapa)
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan”

tapi pemahaman ibnu abbas buat ayat ini, terutama yang saya tulis tebal bukan seperti terjemahan versi tadi,
pemahaman Ibnu Abbas adalah seperti berikut :
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. barangsiapa terbunuh dalam kondisi terdzalimi maka Allah menjadikan penolongnya sebagai penguasa, tetapi janganlah berlebihan dalam membalas pembunuh. Sesungguhnya yang terzhalimi adalah orang yang mendapat pertolongan”

pemahaman ibnu abbas yang demikian terkuak dari sikapnya saat peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan,
sesaat setelah Utsman terbunuh dan orang-orang meminta imam Ali menjadi khalifah,
Ibnu Abbas menasihati agar imam Ali jangan melakukan apa yang diinginkan orang-orang, sebab jika mengikuti itu adalah kunci jalan menuju terbukanya pintu kekhilafahan bani Umayyah.
Ibnu Abbas mengajak imam Ali untuk diam saja, wait and see kondisi yang terjadi.
Ketika imam Ali memutuskan menerima sumpah setia orang-orang agar dirinya menjadi khalifah,
Ibnu Abbas bermuram durja dan berkat “aku telah berkata pada Ali agar ia menjauhi urusan ini, maka akan didatangkan baginya kekuasaan, tetapi ia mengingkariku, maka aku sama sekali tidak melihat bahwa ia orang yang menang, kemudian berkata : “Ibnu Abi Sufyan (Muawiyah) akan menang atas kalian, seraya membaca “barangsiapa terbunuh dalam kondisi terdzalimi maka Allah menjadikan penolongnya sebagai penguasa, Demi Allah orang-orang Quraisy akan berperangai ditengah-tengah kalian bak perangai orang-orang Romawi dan Persia”

kisah kutipan dari kita Jami’ Ma’mar bin Raasyid , no 20969

maka hari ini, pada peristiwa mesir, banyak pendapat …..
saat demostran ditembaki
ada yang memandang kezhaliman, ada yang memandang wajar pemerintah membubarkan demonstran

tetapi aku memandang peristiwa Rabu kelabu atas pendukung Mursi adalah kezhaliman
mereka terbunuh ditangan jendral zhalim
maka berlakulah apa yang Allah janjikan, sesungguhnya para penolongnya adalah penguasa

tetapi setiap kejadian berlaku syarat dan ketentuan, dimensi ruang dan waktu
semoga bukan hanya penolong para syuhada yang Allah berikan janji sebagai penguasa
tetapi kaum Muslimin di seluruh dunia, yang hari jum’at ini akan turun ke jalan