Kenapa “tilka ar rusulu” ? bukan “dzalika? ” atau “ulaaika” _(bahasan awal juz 3)

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Bismillah ar Rahmaan Ar Rahiim

awal juz 3 (surat Al Baqarah : ayat 253), bercerita tentang para Rasul, yang Allah bedakan derajat mereka satu sama lain.
Kenyataan bahwa para Rasul itu laki-laki, meninggalkan tanya, kenapa kata ganti penunjuk dalam ayat tersebut “tilka” dan bukan “ulaaika” atau “dzalika”

penjelasan yang paling gampang dicerna oleh saya, ada di tafsir “Nazhm ad Durar” karya Imam Al Biqqa’i.

Tilka : adalah kata ganti penunjuk bagi sesuatu yang jauh dan bersifat feminim

dalam kasus “tilka ar rusul” : kata “tilka” dipakai untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat para Rasul itu dan sangat jauh di atas derakat manusia lainnya. Posisi Kerasulan bukan posisi yang dapat diupayakan atau dijadikan ajang kompetisi untuk meraihnya.

dalam hal ini, memakai “tilka” sebagai penunjuk “jauh” dapat dipahami,

Akan tetapi kenapa harus memiliki sifat feminim?

Abu Al hasan Al Hirali memberikan penjelasan :
“Pemakaian Tilka dan bukan Ulaika adalah sebagai pembukaan atas kisah yang akan terjadi sesudah datangnya para Rasul, yaitu perpecahan ummat.

Satu kata yang bisa memiliki efek lahirnya sesuatu, maka kelahiran sesuatu itu memiliki urutan-urutan.
Setiap Rasul diutus pada ummat tertentu, disetiap ummat yang Rasul itu diutus ada yang beriman ada yang menentang, oleh karena itu kehadiran Rasul malahirkan tumbuhnya Ummat baru.

Ummat baru yang tumbuh ini sejatinya berada pada sifat “teguh dalam pendirian dan memiliki kontinuitas beramal”, tetapi ternyata ummat yang baru tumbuh ini punya potensi turun derajat menjadi memiliki sifat “berpecah belah dan terputus amalan”

maka tilka dipakai, makna pemakaian kata ganti penunjuk jauh adalah disebabkan ketinggian derajat para Rasul,
adapun kefeminiman dipakai bahwa objek utama perhatian disini bukan pada para Rasul, tetapi pada tingkah polah ummat dari para Rasul tersebut

Untuk lebih memahami hal ini,
harus membaca pada ayat-ayat sebelum ayat 253 dari surat Al Baqarah,
Surat Al Baqarah menceritakan laku lampah bani Israil, dimulai dari :

1. Minta adanya sembahan selain Allah (2:51)
2. Minta melihat Allah langsung (2:55)
3. kafir kepada tanda-tanda Allah, membunuh nabi, bermaksiat, melampaui batas (2:61)
4. Tidak mempelajari dan melaksanakan kitab dengan seluruh kemampuan, tenaga, kekuatan, dan daya upaya yang dimiliki (2 : 63-64)
5. Mengulur-ngulur pelaksanaan perintah Allah (2: 71)
6. Berbohong atas nama Allah, mengatakan apa yang mereka tulis berasal dari Allah, padahal berasal dari diri mereka sendiri (2: 79)
7. Keyakinan bahwa mereka tidak akan di adzab neraka (2:80)
8. Saling membunuh dan saling mengusir satu sama lain dari rumah-rumah dan kampung halaman (2:85)
9. Menjadikan ayat-ayat Allah sebagai alat merayu Allah untuk meraih kemenangan lalu mencampakkan ayat Allah sesudah menang ( 2:89)
10. Hanya mau beriman pada apa yang Allah turunkan langsung kepada mereka, tanpa mau beriman kepada apa yang jelas-jelas turun dari Allah, tetapi tidak diturunkan pada mereka (2: 91)
11. Mengikuti setan, belajar sihir (2;102)
12. Mengatakan bahwa Allah memiliki anak (2:116)
13. Suka mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka ketahui (2 : 142 dan 2: 146)
14. menyembunyikan apa yang Allah turunkan (2:174)
15. Takut Mati (2:243)
16. Mengkhianati pemimpin (2:249)

dll, bisa jadi masih banyak laku lampah lain bani Israil yang disebut di surat Al Baqarah, namun belum saya cerna

Atas semua laku lampah yang buruk itu, maka keberadaan para Rasul yang mulia itu, menjadi tak memiliki manfa’at bagi mereka, mereka malah semakin terjerumus dalam perbedaan cara menyimpulkan teks-teks agama yang berujung saling berperang.

Untuk keluar dari stigma tilka, Allah memberi resep di surat Al An’am,
hal ini terlihat bahwa di surat Al An’am ayat 90 yang dipakai adalah “Ulaaika”
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka adalah orang-orang yang Allah berikan petunjuk, maka dengan petunjuk yang mereka miliki itulah kamu mengambil teladan. Katakanlah (wahai Muhammad) : Aku tidak meminta pada kalian upah, sesungguhnya al Qur’an adalah peringatan bagi Semesta Alam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s