islam bukan arab? apa iya?

a’udzubillah min asy syaithan ar rajiim

Aku berlindung pada Allah dari setan yang terkutuk,

Saya mulai tulisan kali ini dengan ta’awudz, karena apa yg akan saya tulis tentang ayat… Pemahamannya masih berat di otak saya,,,
Mudah2an dengan menulis ada para ahli yang ikut nimbrung supaya semakin memperjelas struktur berpikir yang harus kita miliki.

Tulisan ini berawal dari kritik saya pada suatu redaksi dalam sebuah buku, dari redaksi berikut ini :
“islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Yang saya kritik dalam tulisan sebelumnya adalah kata : “hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Redaksi demikian, bagi saya, terasa menyepelekan keberadaan “arab” dalam takdirnya menjadi bahasa dan bangsa yang dipilih Allah menerima langsung kebenaran islam,

Maka dari itu, redaksi pengganti yang saya usulkan adalah :
“Islam adalah agama internasional, kasih sayang bagi semesta alam, dimana Allah memuliakan bangsa arab dengan menjadikan nabi ummat islam dari bangsa arab dan menjadikan orang-orang pelopor penyeru islam dari bangsa ini, bangsa arab”

Redaksi tulisan yang saya sarankan diganti, telah ada dibuku yang tercetak, dan semoga saja andai buku tersebut di cetak ulang, mba Afifah Afra berkenan mempertimbangkan koreksi tersebut.

Tetapi yang kemudian menjadi sorotan, adalah hal yang saya sedang perhatikan, beberapa saat sebelum ini…

Mba afifah afra sebagai penulis menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah

Yuuk kita lihat …. Check it out

Ketika tadabbur ayat-ayat al qur’an, sampai pada ayat 37 surat ar ra’du,
Klo terjemahan versi depag :
“Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan menolong engkau dari (siksaan) Allah.

Dan namanya juga tadabbur, terjemahan versi depag ini saya coba cek dari sisi kaidah bahasa arab dan kemudian buku-buku tafsir yang dapat saya akses.
Saya membaca kitab-kitab tafsir berikut ini:
1. Tafsir thabary
2. Tafsir ibnu katsier
3. Tafsir ar razy
4. Tafsir an nasafiy
5. Tafsir imam syafi’I
6. Tafsir an naisabury
7. ‘Irab qur’an wa bayaanih

Sesudah membaca tafsir2 tersebut, terjemahan saya atas ayat 37 surat ar ra’du adalah seperti berikut :
“Dan demikianlah kami turunkan ia (al qur’an) dalam kondisi sebagai agama arab, sekiranya kamu mengikuti keinginan mereka (orang yahudi dan nashrani) setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tiada bagimu dari siksa Allah penolong dan tiada pula pelindung”

Al qur’an adalah hukman ‘arabiyyan: hukum arab, agama arab, sistem arab.

Begitu yang tercantum dalam tafsir thabary.
Imam thabary menulis : “Allah yang tinggi sebutanNya berkata : sebagaimana kami turunkan kepadamu kitab ini wahai Muhammad. Maka mengingkarinya beberapa golongan.
Demikian pula kami menurunkan hukum dan agama sebagai hukum arab, menjadikannya bersifat arab, memberikan sifat arab padanya dengan sifat tersebut karena agama ini turun pada Muhammad SAW dan ia adalah orang arab, maka agama ini dinisbatkan kepada arab. Karena agama ini diturunkan padanya, maka golongan-golongan mendustakannya. (Tafsir thabary, jilid 16 hal 475, cetakan syakir)

Apa mesti dikata?
Islam adalah agama arab, demikian yang imam thabary sampaikan….

Lalu bagaimana korelasi dengan : “islam adalah rahmatan lil ‘aalamien”

Brilliannya imam syafi’i, tafsirnya tidak menyebutkan hal demikian,
Imam syafi’I hidup sebelum imam ath thabary.
Pemahaman seperti yang diatas dianggap akan menjadi pemahaman otomatis, karena nabi Muhammad SAW adalah orang arab, maka agama ini agama arab, dengan bahasa arab,
Dalam tafsir ayat ini imam syafi’I menyebutkan kewajiban mempelajari bahasa arab,
Begini cuplikan tafsir imam syafi’I (tafsir imam syafi’I ini adalah kumpulan perkataan imam asy syafi’I dalam buku-buku nya yang terkait al qur’an)
Dari kitab ar risaalah : “sesungguhnya nabi Muhammad diutus kepada seluruh ummat manusia, kita dapat anggap bahwa nabi Muhammad diutus dengan lisan kaumnya, maka kewajiban seluruh ummat manusia agar mempelajari lisan nabi Muhammad dan apa-apa yang mampu mereka lakukan”

Imam an Naisabury, menggambarkan hal yang lebih mendalam, menceritakan psikologis nabi Muhammad ketika ayat ini turun.
Orang yahudi sebagai ahli kitab selalu melancarkan serangan-serangan pada setiap ketetapan dalam agama islam yang Allah turunkan lewat al Qur’an.
Diantara serangan yahudi ini adalah mempertanyakan kearaban nabi Muhammad, tatkala kiblat shalat ummat Islam dipindah ke mesjidil haram, nuansa kearaban dalam agama islam semakin kental.
Bertambahlah dengki orang yahudi, mereka berusaha memindahkan kembali kiblat ummat islam. Issue yang digulirkan adalah “rendahnya nilai kearaban”, mereka kaum yahudi menyebut bahwa penghalang mereka mengakui kenabian nabi Muhammad adalah tradisi-tradisi arab yang “tidak manusiawi”, “menindas wanita misal pernikahan poligami”,etc.

Ejekan orang yahudi saat itu pada nabi Muhammad adalah “tidak mungkin ia (Muhammad) seorang nabi, lihat aja perhatiannya hanya pada kawin dan perempuan, kalau benar ia seorang nabi maka ia akan sibuk dengan wahyu kenabian”

Saat nabi Muhammad SAW melihat kondisinya, ada hal-hal yg benar dari ucapan ini, yaitu banyaknya istri yang dimilikinya.
Ejekan yang Allah balas dengan keterangan yang menentramkan nabi Muhammad, bahwa nabi adalah manusia yang makan dan menikah, nabi bani israil seperti Sulaiman, memiliki 360 wanita, baik istri maupun budak, nabi Daud ayahnya sulaiman memiliki 100 wanita”

Ayat ini mempertegas, tidak ada masalah dengan kearaban, sebagaimana yang kaum yahudi permasalahkan,
Islam adalah hukman ‘arabiyyan

Sesudah membaca semua ini,
Bagi saya, saya harus lebih berhati-hati memisahkan antara arab dengan islam,
Karena sampe hari kiamat al qur’an akan selalu berbahasa arab,
Sampe hari kiamat, pernyataan syahadat harus dengan bahasa arab,
Sampe hari kiamat, shalat harus ditegakkan memakai bahasa arab.

Jadi justru ketika mba afifah afra menyatakan redaksi “islam bukan arab” adalah tidak salah,

Bagaimana dengan surat ar ra’du ayat 37 tersebut?

Tadinya saya belum mau menyentuh masalah ini, hanya fokus pada penghormatan pada bangsa arab, dan melakukan kritik atas kalimat : “hanya ditakdirkan di arab”

Jadi kalau semakin mengkaji,
Versi ganti atas redaksi ini “islam bukanlah arab, hanya ditakdirkan di arab untuk menjadi risalah yang menginternational”

Adalah justru lebih ekstrim lagi :
“Islam adalah agama arab, ditakdirkan diturunkan di arab, untuk menjadi risalah yang menginternational”

Saya memahami awal kemunculan istilah islam bukan arab, dari banyak pemikir, pemisahan arab dan islam adalah karena carut marut kebudayaan arab, yang kemudian pemisahan ini terjadi, maksud hati menyelamatkan islam, memisahkan ketinggian islam dari keburukan kebudayaan arab, tapi jika upaya pemisahan tersebut bertentangan dengan al qur’an?

Kenyataan bahwa islam adalah agama arab, tidak menghalanginya menjadi risalah yang menginternational

Berada dalam posisi sulit, jika dalam kelemahan kemudian harus “menaklukan” peradaban tinggi.

Betapa sulitnya fir’aun mengimani Musa, karena Musa adalah seorang buronan dengan kasus pembunuhan, Musa juga berasal dari kaum budak.
Kenyataan yang sulit diterima Fir’aun untuk memeluk agama kaum yang diperbudaknya.
Sulit bagi fir’aun untuk menyembah tuhan yang disembah kaum yang diperbudaknya.

Betapa sulit bagi Abu Jahal beriman pada nabi Muhammad SAW, yang tidak lebih kaya darinya, tidak memiliki kebun-kebun seperti pamannya Abu Jahal (al walid bin al mughirah),
betapa berat bagi abu jahal mengakui bahwa Allah memilih nabiNya dari klan hasyim yang jelas-jelas merupakan rival utama klan makhzum.

Lalu tantangan kita zaman ini?
Apapun carut marut pada bangsa arab kini, atau dahulu ….

Saya mengimani agama islam adalah hukman ‘arabiyyan, sebagai satu-satunya agama yang benar, menunjukkan pada Allah,
Agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia
Tiada masalah bagi saya beriman pada satu risalah kebenaran yang turun di tanah mulia, tanah arab.

Islam dan arab, kata yang digunakan musuh-musuh islam sebagai senjata dua mata.
Pertama, digemborkan islam adalah arab, supaya orang tidak mau masuk islam saat melihat perilaku negatif orang arab.
Kedua, digemborkan islam bukan arab untuk memisahkan para pemeluknya dari agama ini, agama yang seluruh ajarannya turun dengan bahasa arab, pada bangsa arab, di tanah arab.

Aku menghormati arab dan kearaban,
Beriman pada kebenaran islam, islam adalah agama arab yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia.

Demikian pemahaman dari tadabbur yang pastinya tiada pernah henti hingga datang ajal yang telah pasti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s