Setan selalu mengintai, maka dari itu Baca Qur’an Harus Serius

Alhamdulillah,
Tilawah hari ini pas bagian surat Al Hajj ayat 52-53 membawa pada memahami Dua hal,
Dua Ilmu yang tertancap kuat hari ini : pertama khudz Al Kitaab bi quwwah … Belajar kitab Allah itu harus sangat serius, sepenuh daya upaya, trus harus serius membaca ta’awudz sebelum tilawah Al Qur’an …

Kedua : memahami bahwa generasi sahabat benar-benar generasi terbaik, ketika keimanan mereka diuji aneka prahara, yang ternyata bukan sekedar siksaan fisik dan psikis, tapi diuji dari arah pemikiran dan konsistensi,,, ketika wahyu Allah bagi orang-orang kafir tampak berubah-rubah dan tidak konsisten, Para sahabat Rasulullah tetap teguh dalam keimanan

Surat al hajj ayat 52-53 itu :

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun, dan tidak pula seorang nabi, kecuali ketika ia mengharapkan wahyu turun padanya, Setan turun melemparkan kata-katanya pada wahyu yg dinanti-nanti. Allah kemudian menghapus pencemaran yang setan lakukan, dan Allah menetapkan apa yang benar-benar merupakan ayat-ayatNya.
Allah Maha Mengetahui dan Maha Memutuskan.
Hal demikian dibiarkan terjadi, sebagai ujian bagi orang-orang yang dihatinya ada penyakit dan bagi mereka yang hatinya keras, Sesungguhnya orang-orang yang zhalim berada dalam kesesatan yang sangat jauh”

Wah membayangkan situasi saat itu, ketika terjadi ralat,
Riuh rendah, dan pastinya kaum mukminin menghadapi “bullying” hebat.

Jadi ayat ini , pertama menimbulkan tekad untuk menegakkan adab dalam membaca al Qur’an.

Tilawah Al Qur’an adalah satu waktu yang sangat istimewa,
Tatkala bibir dibasahi oleh gerakan membaca perkataan Allah Yang Maha Tinggi,

Ternyata setan ga tinggal diam,
Setiap kali manusia membaca Al qur’an ia akan mengintai melakukan godaan,

Dikisahkan para pemuka Quraisy menantang Rasulullah, bahwa mereka ingin menyaksikan bagaimana wahyu langsung turun pada Rasulullah,
Mereka pun berkumpul,
Waktu berjalan, semakin siang, semakin siang,
Orang semakin banyak berkumpul, dan matahari terus naik menuju puncaknya,
Ketika orang telah berdesakan,
Wahyu tidak kunjung turun juga,
Tatkala sumpah serapah mulai keluar dan terus keluar, bahwa Rasulullah berdusta, dan majelis hampir bubar,
Allah menurunkan surat An Najm
Rasulullah mulai membacakan, dan orang-orang Quraisy seksama mendengarkan,
Hingga tiba di ayat 19-20 :
“Apakah kalian tidak memperhatikan Latta dan ‘Uzza, dan Manat Tuhan Ketiga selain (dua yang disebut diawal)…

Setan kemudian menyelipkan dua ayat, membuat Rasulullah mengatakannya,
Dan Kaum Kafir Quraisy jelas mendengar selipan itu :
#Dan (ketiga hal itu : latta, ‘Uzza, Manat) adalah zat lembut yang memberi manfa’at pertama kali, #Sesungguhnya syafa’at (pertolongan) dari mereka bisa diharapkan”

Dua Selipan tadilah yang memukau orang-orang kafir sehingga turut sujud diakhir pembacaan surat An Najm.

Adapun dari sisi Rasulullah,
Rasulullah sangat galau hingga berkali-kali pingsan,
Rasulullah, tahu 2 ayat itu, jelas-jelas pastinya bukan firman Allah,
Rasulullah gelisah dan menyalahkan diri sendiri, bahwa telah mengatakan sesuatu yang bukan perkataan Allah…
Rasulullah baru dapat tenang setelah Allah menurunkan surat Al Hajj ayat 52-53 dan seterusnya…

Mari membaca Al Qur’an dengan memenuhi adab-adabnya,
Serius dalam membaca ta’awudz,
Setan terus mengintai agar kita mengatakan sesuatu yang tidak benar,

Jangan lengah, waspadalah-waspadalah

Plus salam takzhim dan penghormatan,
Bagi Para Sahabat Rasulullah, yang kokoh perkasa keimanannya,

Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali,
Para mubasysyir bi al jannah, para ahli perang badr, dan seterusnya,
Mereka sahabat setia Rasulullah,
Yang Allah telah meridhai mereka

Alhamdulillah atas ilmu hari ini

Advertisements

Musik, ohhh musik

Saya suka dengerin musik,
nasyid ok, musik pop pun ok, apalagi musik sunda

sampe kemaren masih dengerin musik, song of the month bulan lalu “Padi – Menunggu Sebuah Jawaban”
dan song of the month bulan ini “Utopia – Cinta Memanggilku”

ahhh , artikel-artikel yang pernah dibaca tentang musik, tidak pernah memuaskan hati,
tidak menenangkan pikiran, (da bacana ge teu serius, hiks)

jadinya diri ini mengikuti hawa nafsu : tetap mendengarkan musik, karena suka

sampai semalam, coba mengumpulkan hadits-hadits seputar musik,
tidak untuk menentukan halal -haram, saya bukan ahli fiqh

tapi untuk membentuk persepsi

music, berakar pada kata Yunani : muses, yaitu dewi-dewi inspirasi sastra, ilmu pengetahuan dan seni

(walah mendengarkan music berarti bisa dikatakan mendengarkan kebiasaan para dewi itu, para dewi mitologi yunani, hiksssss, aku bukan pengikut dewi-dewi)

Kemudian cari padanan dalam bahasa arab
dalam bahasa arab : music punya 3 kata padanan طرب – مزامر – معازف

dan hadits-hadits yang dihasilkan langsung bikin lemes, aduhhhh
istighfar tak henti

hadits pertama :
أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” بَعَثَنِي اللهُ رَحْمَةً وَهَدًى لِلْعَالَمِينَ وَبَعَثَنِي لِمَحْقِ الْمَعَازِفِ وَالْمَزَامِيرِ، وَأَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ
“Dari ANas Bin Malik : Bahwasanya Rasulullah _salam sejahtera baginya, berkata : Allah mengutusku sebagai kasih sayang dan petunjuk bagi semesta alam, dan mengutusku untuk menghapus alat-alat musik pukul (ma’azif), alat musik tiup (mazamir) dan perkara-perkara jahiliyyah”

(syu’abul Iman – 6108)

wahhh, hadits pertama aja udah langsung, nyesss, weis menghapus alat-alat musik jadi salah satu misi Rasulullah, waduh 35 tahun jadi muslim baru ketemu hadits ini.
Abdi mah pengikut Rasulullah, menuntaskan missi semestinya, tapi tentu saja menuntaskan missi harus memperhatikan tabi’at dan karakter dari sebuah zaman

abis dari hadits, kita coba melirik , perspektif zaman, ada sebuah surat unik dari Umar Bin Abdul Aziz ke keponakannya “Umar Bin Al Walid Bin Abdul Malik”, AL Walid Bin Abdul Malik ini khalifah Daulah Umawiyah, Khalifah yang penaklukannya dari ujung timur ke barat, utara-selatan, hingga kekuasaan Daulah Umawiyah membentang di tiga benua asia-afrika-eropa

عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ: «وَقَسْمُ أَبِيكَ لَكَ الْخُمُسُ كُلُّهُ، وَإِنَّمَا سَهْمُ أَبِيكَ كَسَهْمِ رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَفِيهِ حَقُّ اللَّهِ، وَحَقُّ الرَّسُولِ، وَذِي الْقُرْبَى، وَالْيَتَامَى، وَالْمَسَاكِينِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، فَمَا أَكْثَرَ خُصَمَاءَ أَبِيكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَكَيْفَ يَنْجُو مَنْ كَثُرَتْ خُصَمَاؤُهُ، وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ، وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ»
“Dari Al Auza’i, ia berkata : Umar Bin Abdul Aziz menulis surat kepada Umar bin AL Walid, sebuah surat yang didalamnya berisi : “Ayahmu membuatmu memiliki bagian 1/5 dari harta negara, seperlima yang seluruhnya buatmu seorang, sesungguhna bagian ayahmu yang benar adalah sebagaimana bagian seorang lelaki muslim saja, adapun di 1/5 itu ada hak Allah, hak Rasul-Nya, hak kerabat-kerabat, hak anak yatim, hak orang miskin, hak para penuntut ilmu. Lihatlah betapa banyaknya orang-orang yang akan menuntut ayahmu di hari kiamat, lalu bagaimanakah seseorang yang banyak musuhnya akan selamat?
Juga tentang engkau yang terang-terangan mengkampanyekan penggunaan alat musik baik alat pukul maupun tiup, semua itu adalah bid’ah dalam agama islam,
aku sangat ingin mengirim pada seseorang yang akan memotong jambangmu, sungguh jambangmu itu adalah jambang dipenuhi kebusukan”
Sunan An Nasai : 4135

atau perspektif zaman yang lebih dekat lagi dengan zaman Rasulullah
أَنَّ أُمَّ عَلْقَمَةَ مَوْلَاةَ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ بَنَاتَ أَخِي عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا خُفِضْنَ فَأَلِمْنَ ذَلِكَ , فَقِيلَ لِعَائِشَةَ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ , أَلَا نَدْعُو لَهُنَّ مِنْ يُلَهِّيهِنَّ؟ قَالَتْ: ” بَلَى , قَالَتْ: فَأُرْسِلَ إِلَى فُلَانٍ الْمُغَنِّي فَأَتَاهُمْ , فَمَرَّتْ بِهِ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي الْبَيْتِ , فَرَأَتْهُ يَتَغَنَّى , وَيُحَرِّكُ رَأْسَهُ طَرَبًا , وَكَانَ ذَا شَعْرٍ كَثِيرٍ , فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: ” أُفٍّ , شَيْطَانٌ أَخْرِجُوهُ , أَخْرِجُوهُ ” , فَأَخْرَجُوهُ
Bahwasanya Ummu ‘Alqamah pembantu Aisyah mengabarkan pada Bukair bin Al Asajj, bahwasanya putri-putri saudara laki-laki Aisyah dikhitan dan mereka merasakan kesakitan, maka dikatakan kepada Aisyah, wahai Ummu Al Mukminin tidakkah kita memanggil orang yang akan menghibur mereka? Aisyah menjawab : ok panggil aja. Ummu Al qamah lalu memanggil seorang penyanyi yang segera mendatangi keponakan-keponakan Aisyah. Kemudian tatkala hiburan sedang berlangsung, Aisyah lewat dan memperhatikan acara yang ternyata acara pertunjukkan musik sambil bergoyang, kepala pemusik itu bergerak mengikuti irama, rambutnya yang gondrong ikut bergerak kesana-kemari. Aisyah lalu berkata : waw, dia itu setan, keluarkan ia, keluarkan ia. maka orang-orang mengeluarkannya
Sunan Kubra Al Baihaqi : 21010

balik ke hadits, sekarang hadits kedua :
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُمْسَخُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ»، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَيَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، وَيَصُومُونَ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قِيلَ: فَمَا بَالُهُمْ يَا رَسُولَ [ص:120] اللهِ؟ قَالَ: «يَتَّخِذُونَ الْمَعَازِفَ وَالْقَيْنَاتِ وَالدُّفُوفَ، وَيَشْرَبُونَ الْأَشْرِبَةَ، فَبَاتُوا عَلَى شُرْبِهِمْ وَلَهْوِهِمْ، فَأَصْبَحُوا قَدْ مُسِخُوا قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ»
Abu Hurairah berkata : Rasulullah _salam sejahtera baginya_ berkata : satu kalangan dari ummatku akan dikutuk menjadi kera dan babi, dikatakan pada Rasulullah, benarkah? kok bisa? apakah mereka bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan mereka orang-orang yang berpuasa? Rasulullah menjawab ya : “kok bisa begitu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab : “mereka menjadikan berbagai alat musik sebagai kecintaan mereka, mereka meminum khamar, hingga tidurpun bersama minuman dan musik, maka mereka di pagi hari telah dikutuk menjadi kera dan babi”
Hilyah Aulia : jilid 3: hal 119, cetakan daar el fikr 1409 H

ahhhh
selama ini, hadits yang jadi pegangan, adalah hadits kebolehan musik saat walimah, padahal itupun jenisnya adalah duff, alat musik pukul dari kulit binatang dan kayu

jadiiiii ……

niat klo walimahan pengen kecapi suling sudah pasti dibatalkan,
kita ganti rampak kendang wehh plus atanapi angklung ^_^

Kenapa “tilka ar rusulu” ? bukan “dzalika? ” atau “ulaaika” _(bahasan awal juz 3)

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Bismillah ar Rahmaan Ar Rahiim

awal juz 3 (surat Al Baqarah : ayat 253), bercerita tentang para Rasul, yang Allah bedakan derajat mereka satu sama lain.
Kenyataan bahwa para Rasul itu laki-laki, meninggalkan tanya, kenapa kata ganti penunjuk dalam ayat tersebut “tilka” dan bukan “ulaaika” atau “dzalika”

penjelasan yang paling gampang dicerna oleh saya, ada di tafsir “Nazhm ad Durar” karya Imam Al Biqqa’i.

Tilka : adalah kata ganti penunjuk bagi sesuatu yang jauh dan bersifat feminim

dalam kasus “tilka ar rusul” : kata “tilka” dipakai untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat para Rasul itu dan sangat jauh di atas derakat manusia lainnya. Posisi Kerasulan bukan posisi yang dapat diupayakan atau dijadikan ajang kompetisi untuk meraihnya.

dalam hal ini, memakai “tilka” sebagai penunjuk “jauh” dapat dipahami,

Akan tetapi kenapa harus memiliki sifat feminim?

Abu Al hasan Al Hirali memberikan penjelasan :
“Pemakaian Tilka dan bukan Ulaika adalah sebagai pembukaan atas kisah yang akan terjadi sesudah datangnya para Rasul, yaitu perpecahan ummat.

Satu kata yang bisa memiliki efek lahirnya sesuatu, maka kelahiran sesuatu itu memiliki urutan-urutan.
Setiap Rasul diutus pada ummat tertentu, disetiap ummat yang Rasul itu diutus ada yang beriman ada yang menentang, oleh karena itu kehadiran Rasul malahirkan tumbuhnya Ummat baru.

Ummat baru yang tumbuh ini sejatinya berada pada sifat “teguh dalam pendirian dan memiliki kontinuitas beramal”, tetapi ternyata ummat yang baru tumbuh ini punya potensi turun derajat menjadi memiliki sifat “berpecah belah dan terputus amalan”

maka tilka dipakai, makna pemakaian kata ganti penunjuk jauh adalah disebabkan ketinggian derajat para Rasul,
adapun kefeminiman dipakai bahwa objek utama perhatian disini bukan pada para Rasul, tetapi pada tingkah polah ummat dari para Rasul tersebut

Untuk lebih memahami hal ini,
harus membaca pada ayat-ayat sebelum ayat 253 dari surat Al Baqarah,
Surat Al Baqarah menceritakan laku lampah bani Israil, dimulai dari :

1. Minta adanya sembahan selain Allah (2:51)
2. Minta melihat Allah langsung (2:55)
3. kafir kepada tanda-tanda Allah, membunuh nabi, bermaksiat, melampaui batas (2:61)
4. Tidak mempelajari dan melaksanakan kitab dengan seluruh kemampuan, tenaga, kekuatan, dan daya upaya yang dimiliki (2 : 63-64)
5. Mengulur-ngulur pelaksanaan perintah Allah (2: 71)
6. Berbohong atas nama Allah, mengatakan apa yang mereka tulis berasal dari Allah, padahal berasal dari diri mereka sendiri (2: 79)
7. Keyakinan bahwa mereka tidak akan di adzab neraka (2:80)
8. Saling membunuh dan saling mengusir satu sama lain dari rumah-rumah dan kampung halaman (2:85)
9. Menjadikan ayat-ayat Allah sebagai alat merayu Allah untuk meraih kemenangan lalu mencampakkan ayat Allah sesudah menang ( 2:89)
10. Hanya mau beriman pada apa yang Allah turunkan langsung kepada mereka, tanpa mau beriman kepada apa yang jelas-jelas turun dari Allah, tetapi tidak diturunkan pada mereka (2: 91)
11. Mengikuti setan, belajar sihir (2;102)
12. Mengatakan bahwa Allah memiliki anak (2:116)
13. Suka mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka ketahui (2 : 142 dan 2: 146)
14. menyembunyikan apa yang Allah turunkan (2:174)
15. Takut Mati (2:243)
16. Mengkhianati pemimpin (2:249)

dll, bisa jadi masih banyak laku lampah lain bani Israil yang disebut di surat Al Baqarah, namun belum saya cerna

Atas semua laku lampah yang buruk itu, maka keberadaan para Rasul yang mulia itu, menjadi tak memiliki manfa’at bagi mereka, mereka malah semakin terjerumus dalam perbedaan cara menyimpulkan teks-teks agama yang berujung saling berperang.

Untuk keluar dari stigma tilka, Allah memberi resep di surat Al An’am,
hal ini terlihat bahwa di surat Al An’am ayat 90 yang dipakai adalah “Ulaaika”
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka adalah orang-orang yang Allah berikan petunjuk, maka dengan petunjuk yang mereka miliki itulah kamu mengambil teladan. Katakanlah (wahai Muhammad) : Aku tidak meminta pada kalian upah, sesungguhnya al Qur’an adalah peringatan bagi Semesta Alam”

Kewajiban Seorang Muslim pada Negerinya (1)

Bismillahirrahmaanirrahin

Fase Mekkah,
Semakin ditadabburi, semakin melahirkan decak kagum, dan melahirkan kefahaman.

13 tahun dakwah Mekkah, berbalut kesabaran

Dakwah Islam hadir pertama kali, hadir pada masyarakat tanpa raja.
Masyarakat Mekkah tegak diatas kepemimpinan kolektif kabilah-kabilah Quraisy.
Dimana semakin kuat suatu kabilah, semakin didengar suara kabilah tersebut dalam menentukan sikap politik Mekkah.
Kekuatan kabilah ditentukan oleh :
1. Peranan Kabilah terkait ka’bah dan urusan Mekkah
2. Jumlah anggota kabilah
3. Harta kekayaan

Pada masyarakat Mekkah yang demikian, dakwah islam dimulai

Rasulullah memulai dakwahnya dengan seruan kalimat tauhid :
Tiada ilaah (sembahan) kecuali Allah.

Dan pernyataan keimanan atas kenabian, bahwa “Muhammad adlah nabi dan utusan Allah”

Suatu seruan yang dipahami masyarakat Mekkah sebagai seruan menyeluruh yang menyerang sendi-sendi “kekuasaan”
Dimana loyalitas kesetiaan pada kelompok kabilah akan bergeser kepada kesetiaan loyalitas pada agama.

Ketakutan kehilangan kekuasaan segera menyergap para penguasa Mekkah.

Ketakutan yang pada kenyataan tidak terbukti, sebab Rasulullah memfokuskan dakwah pada :

1. Pemurnian ritual penyembahan, bahwa menyembah Allah haruslah dengan cara yang Allah ridhai, sebagaimana cara yang Allah ajarkan.
Shalat telah diajarkan jibril sejak pertama kali wahyu turun

2. Mengubah mindset.
Masyarakat Mekkah adalah masyarakat “kelas dua”. Masyarakat yang tidak berani bermimpi besar, tidak memiliki daya saing melawan kebudayaan adidaya.
Mindset lemah ini dikikis habis Rasulullah,
Maka cita yang digelorakan adalah “kita akan menaklukan Romawi dan Persia”
Perhatikanlah gelora semangat ini “menaklukan Romawi dan Persia”
Seruan Rasulullah sama sekali bukan “mengislamkan Mekkah, atau merebut kekuasaan politik Mekkah”

3. Mengubah pandangan hidup.
Bahwa hidup bukan hanya di dunia, tetapi ada kehidupan sesudah mati. Manusia akan dibangkitkan dihari kemudian

Adapun bidang sosial politik, secara lebih mendetil terjabarkan pada sikap-sikap spesifik.

Dalam bidang sosial Rasulullah mengajarkan 4 sikap
1. Menjaga dan mendorong akhlaq mulia yang dimiliki masyarakat Mekkah

2. Mendukung pranata dan peristiwa sosial yang bertujuan menjaga keluhuran masyarakat, seperti pernikahan

3. Memerangi pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti : zina

4. Mendiamkan (sementara) pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti minum khamr, riba

Dalam bidang politik, atau kekuasaan,
Masa Mekkah mengajarkan bersikap elegan

Rasulullah adalah anggota masyarakat Mekkah, yang ta’at kepada konsensus masyarakat zamannya.

Dakwah Islam adalah dakwah anti “pemberontakan”
Kita mendapati bahwa saat dakwah merebak, para kepala kabilah tidak menerima, dan lalu melancarkan siksaan dan kekerasan,
Seruan Rasulullah kepada para sahabat adalah bersabar
Bukan seruan perlawanan, bukan seruan angkat senjata.

Kenapa?

Keta’atan Rasulullah pada norma-norma kekuasaan zamannya benar-benar ditunjukkan,

Bani Hasyim melindunginya, apapun agama mereka,
Muththalib yang saudara Hasyim, keturunan mereka, turut melindungi nabi Muhammad.
Kekuasaan zaman itu adalah kekuasaan kabilah, tidak ada yang berani melanggar batas-batas kekuasaan masing-masing.

Ketika kabilah-kabilah bersepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib.
Tidak boleh berdagang, tidak boleh menikahi, dan tidak boleh bersumpah setia pada Bani Hasyim.
Bani Hasyim tidak dapat mengelak dari kesepakatan itu.
Tunduk pada apa yang menjadi ketetapan, tidak memberontak, tidak membangkang.
3 tahun lamanya Bani Hasyim dan Bani Muththalib hidup penuh derita dan kesengsaraan.

Abu Bakar dan Umar adalah anggota masyarakat Mekkah pula, ta’at pada konsensus masyarakat. Maka mereka tak berjualan dengan Bani Hasyim.
Yang dilakukan keduanya adalah “bantuan sosial”, yang bantuan sosial ini pun kerap digagalkan oleh musuh dakwah, semisal Abu Jahal.

Pengakuan atas otoritas Mekkah kembali ditunjukkan nabi Muhammad sesudah peristiwa Thaif.

Sesudah wafat Khadijah dan Abu Thalib, Rasulullah semakin terhimpit.
Terlebih-lebih setelah Allah memberikan anugerah pada Rasulullah berupa peristiwa isra dan mi’raj.
Banyak ummat Islam murtad dan ragu atas keimanan mereka.
Kondisi yang benar-benar menyempitkan, menyudutkan Rasulullah, hingga Rasulullah keluar dari Mekkah.

Keluar dari daerah otoritas dan perlindungan di zaman itu, mesti jelas, apa maksud dan tujuannya, berniagakah? Melancongkah? Negosiasikah? Atau keluar dengan maksud dan tujuan politik?
Setiap keluar area memiliki konsekuensi masing-masing.

Keluarnya Rasulullah dari Mekkah saat itu, dan berlabuh di kota Thaif, adalah mencari suaka politik.
Tempat berteduh yang nyaman bagi menjalankan keyakinan dan dakwah Islam.

Tetapi Thaif menolak Rasulullah.

Kembali ke Mekkah setelah keluar dengan tujuan politik tertentu bukanlah hal yang mudah.
Keluar ke Thaif telah menghilangkan kuasa perlindungan Bani Hasyim,
Kabilah-kabilah lawan akan bebas menyakitinya.

Maka jaminan keamanan di cari Rasulullah,
Dan Rasulullah mendapat jaminan keamanan dari Muth’im Bin ‘ady tetangga Rasulullah yang berasal dari Bani Umayyah, yang kafir dan wafat dalam keadaan kafir.

Peristiwa Boikot dan kembalinya Rasulullah ke Mekkah dari Thaif, memperlihatkan bahwa Rasulullah mengakui norma kekuasaan yang berlaku.

Tak ada pemberontakan bersenjata,
Tak ada kekacauan,
Yang ada adalah kesabaran dan keteguhan dalam mempertahankan keyakinan, keteguhan menjalankan ritual, keteguhan menjunjung akhlaq mulia di tengah himpitan dan kesulitan.

Kisah pengakuan dan penghormatan atas kekuasaan ini, ditemukan dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun.
Bani Israil adalah budak tertindas pada masyarakat Mesir.
Saat nabi Musa diperintah Allah membawa keluar Bani Israil dari Mesir,
Yang pertama dilakukan nabi Musa adalah meminta izin pada Fir’aun, penguasa Bani Israil saat itu.

Atas kesabaran ini, jalan keluar apakah yang ditempuh?

Apakah menanti hingga manusia beriman seluruhnya? Atau minimal rakyat daerah otoritas tertentu meminta perubahan?

Perjalanan para nabi-nabi dan dakwah islam telah memperlihatkan,
Bahwa adanya mayoritas pendukung pemikiran dakwah, sebelum penaklukan adalah tidak mungkin,
Para nabi-nabi didustakan kaumnya, lalu apakah para da’I pewaris nabi akan menemukan hanya penerimaan dalam dakwahnya?

Tersebab suatu garis tabi’at perjuangan,
Harus ada penaklukan dan kemenangan, hingga manusia melihat, mendukung ide dan pemikiran,
Pun itu semua dengan menghadapi musuh-musuh ideologi dan pemikiran.
Karena manusia berbeda-beda, pemikiran, ide, kecenderungan,
juga ada ego dan persaingan.

Penaklukan adalah berarti juga adanya kekuasaan,

Hal-hal yang selalu memilki batasan,
Harus berkuasa tapi tak boleh memberontak.
Memperoleh kekuasaan di Mekkah bukanlah hal mudah,
Kalaupun dahulu di awal dakwah pernah para pembesar quraisy akan legowo menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah,
Tetapi itu adalah kekuasaan bersyarat,
Syarat yang Rasulullah tak kan pernah memenuhinya, yaitu syarat menanggalkan dakwah tauhid, dan menghentikan kata-kata melemahkan berhala-berhala sembahan..

Lalu apa jalan keluar yang Allah berikan atas kesabaran?

Perlahan tabir janji tersingkap,
Allah telah menjanjikan Yatsrib menjadi kota nabi, tetapi apa dan bagaimana adalah kegelapan,

Hingga di tahun 11 kenabian, secara terpisah 5-7 orang Yatsrib menyatakan keimanannya dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya.
Di tahun 12 kenabian, ada 12 orang Yatsrib bersumpah setia pada ajaran agama islam dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya
Di tahun 13 kenabian, ada 72 orang Yatsrib bersumpah setia membela dakwah Islam, setia pada Rasulullah hingga titik darah penghabisan. Berdamai dan berperang atas nama Rasulullah.
Janji tahun 13 ini dikenal dengan bai’ah aqabah kedua.
Sumpah setia yang menyatakan bahwa teritorial Medinal adalah dibawah kekuasaan Rasulullah.

Perang berbeda dengan pemberontakan,
Dalam berperang, masing-masing pihak berperang memiliki wilayahnya masing-masing, perang antara dua kekuatan setara.

Ba’iat aqabah kedua juga menunjukkan, keluarnya Rasulullah dari otoritas Bani Hasyim, dan kemudian memiliki kekuasaannya sendiri, dengan jaminan 72 orang Yatsrib.
Ke 72 orang Yatsrib bukanlah seluruhnya pemimpin kaum,
Tetapi Yatsrib persis seperti Mekkah, kekuasaan ada ditangan kabilah-kabilah, jika mayoritas kabilah telah memutuskan maka kabilah yang tidak menerima harus menghormati.
Kekuasaan mayoritas.

Maka dimalam ba’iat aqabah, saat Rasulullah melepaskan diri dari loyalitas Bani Hasyim, yang mengantarnya bukanlah sahabatnya yang beriman padanya,
tetapi pamannya al abbas yang saat itu belum masuk islam.
Al abbas memastikan bahwa keponakannya berada dalam keamanan dan perlindungan.

Kekuasaan atas Madinah di genggam Rasulullah sebelum mayoritas masyarakat Madinah memeluk islam,
Dalam asbabun nuzul banyak ayat Al Qur’an, kita temui bahwa masyarakat madinah adalah masyarakat majemuk, muslim, musyrik dan yahudi bercampur jadi satu.

Jaminan dari 72 orang suku aus dan khajraz, menjadi sendi awal kekuasaan Rasulullah atas negara Madinah.

Tidak ada pemberontakan,

Tentang kekuasaan,
Semua mengalir sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku

Norma-norma masyarakat yang berjalan sesuai dengan kehendak Allah,
Bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabut dari siapa yang dikehendaki

Aku terlahir di Indonesia,
Terlahir saat negeri dibawah kekuasaan presiden suharto
Dengan suatu sistem bernama demokrasi
Aku seorang muslim,
Setia pada negeriku,
Memperjuangkan ideologi dan keyakinanku,
Menjadi seorang muslim di Indonesia,
Berpartisipasi dalam bahagia dan sedihnya, mencegah kemundurannya dan berjuang bagi kemajuannya.

Indonesia, negera yang didirikan atas dasar kesetaraan manusia berbagai agama,
Dan Allah telah mengizinkan berdirinya hingga lebih 60 tahun,
Memberi kuasa pada siapa yang dikehendakiNya dan mencabut dari siapa yang dikehendakiNya.

Sebagai muslim bertarung memperjuangkan ideologi dan keyakinan, agar diterima banyak kalangan,
Berjuang agar setiap syari’ah Allah dapat diterima menjadi perundang-undangan,
Diperjuangkan melalui parlemen,
Menghindari pertumpahan darah,
Menghargai hak hidup setiap manusia

Wallahu ‘alam bish showab

Ayat yang menguji hingga ia pun murtad

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari sekian banyak membaca, dan tadabbur,

diantara hal yang paling mencengangkan adalah kondisi “murtad”

diantara murtad yang paling bikin sedih adalah murtadnya Abdullah Bin Abi Sarhin, dan Ubaidillah Bin Jahsy.

Adapun Ubaidillah Bin Jahsyi, ia adalah seorang pencari kebenaran, tak mau menyembah berhala, bersama sahabat-sahabatnya berkelana. Yahudi dan Kristen tak menarik perhatiannya.
Tatkala datang islam, ia bersegera beriman, pun demikian istrinya Ummu Habibah putri Abu Sufyan.
Tribulasi dakwah menghantarkannya hingga hijrah ke Habasyah, dan kali ini melihat kebesaran budaya Habasyah, ia yang selama pengembaraan kebenaran dalam hidupnya, tak pernah tertarik dengan kristen, kini terkagum-kagum, dan menjadi pemeluk kristen di Habasyah.

saya ucapkan “Na’udzubillah dari kejadian macam ini”
Adapun Ummu Habibah, terselamatkan akidahnya, ia dijauhkan dari keburukan suaminya, Allah pun menganugerahinya pernikahan dengan manusia paling agung. Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah.

Adapun Abdullah Bin Abi Sarhin, ia adalah termasuk orang yang masuk islam di awal-awal dakwah, boleh jadi masuk Islam sebelum Rasulullah bersembunyi di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
Ia adalah orang kepercayaan Rasulullah, dipercaya menulis wahyu.
Hingga suatu ketika, tatkala surat Al Mukminun turun, sampai di ayat 14 dan Rasulullah salam sejahtera baginya memerintahkan kepada Abdullah Bin Abi Sarhin untuk menuliskan.
begini surat Al Mukminun ayat 14
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik

kata-kata yang ditebalkan, menimbulkan kegaduhan dan interpretasi yang bermacam-macam
Ditengah seruan tauhid, datang ayat yang demikian adanya.

Bagi ABdullah Bin Abi Sarhin ayat tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya akan keesaan Allah,
tetapi “penafsiran” yang dibumbui setan mengelabuinya

Jika Allah yang Esa, mengakui adanya kreasi-kreasi manusia,
lalu mensifati diriNya sebagai “pencipta yang terbaik” karena sifat-sifat ciptaan Allah
maka Abdullah mencoba mengambil kesimpulan antara dirinya dan Rasulullah

Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah dengan perantaraan makhuk yang tidak dapat dilihat manusia lain.
Terkadang ketika sedang bercakap dengan orang-orang, tiba-tiba saja Rasulullah bercakap dengan sesuatu yang tidak terlihat, yaitu Malaikat, pada titik inilah ejekkan menyesakkan dada pada Rasulullah terlontar, kaum kafir berkata bahwa beliau gila.

Turunnya wahyu, proses turunnya dipikirkan Abdullah, apakah wahyu itu berupa ilham, wangsit atau bagaimana?

Kelebihan kecerdasan yang dimiliki Abdullah Bin Abi Sarhin menggodanya, antara “wahyu ” dan “ide”
sebagai orang cerdas, ide-ide selalu berkelabatan dalam dirinya, respon-respon atas peristiwa sosial dimilikinya.
Dan pengalamannya sebagai penulis wahyu menambah ragam rupa kecerdasannya

hingga kesimpulannya : “wahyu” = “ide”

jika nabi Muhammad adalah seorang nabi yang diberi “wahyu”
maka ia pun seorang nabi yang diberi “wahyu”

maka murtadlah Abdullah Bin Abi Sarhin
setelah murtad propaganda yang dilancarkannya luar biasa
anti keimanan
ia yang saudara sesusu Utsman, bahkan mempropaganda Utsman untuk tak menginfakkan hartanya di jalan Allah

(saya kembali ucapkan na’udzubillah dari terjerumus pada kondisi demikian)

Zaman berlalu, hingga futuh Mekkah dan Rasulullah memerintahkan pembunuhannya

tapi ternyata, Allah masih memberikan kesempatan baginya untuk bertaubat dan berkarya nyata
semoga Allah menerima taubatnya

Kekuasaan dan Demokrasi

Bismillahirrahmaanirrahim

Kekuasaan, oh kekuasaan
Diberikan Oleh Allah pada siapa yang dikehendakiNya
Dan dicabut oleh Allah dari siapa yang dikehendakiNya

Kekuasaan adalah dunia,
Ia bukan tujuan
Tapi sarana

Rasulullah meraih kekuasaannya dengan jalan damai, sumpah setia dari 72 orang aus dan khajraz, yang dilanjut dengan piagam madinah yang mempertegas mana teritorial dan siapa anggota rakyatnya

Muawiyah meraihnya dengan jalan damai, dari secarik kertas yg telah bertanda tangan Hasan Bin Ali,
Meski sebelumnya berdarah-darah mengangkat senjata,
Tapi cara kekuasaan sampai di pundak Muawiyah tetaplah tercatat sebagai jalan damai.

Adapun Abdul Malik Bin Marwan, meraih kekuasaannya dengan darah dan tangan besi, hingga tertumpahlah darah Abdullah Bin Az Zubayr, khalifah yang resmi.

Adapun As Saffah, sang pendiri negara Abbasiyah, merebut kekuasaan setelah berhasil membunuh Marwan Al Himar, raja terakhir Bani Umayyah.

Abdul Malik Bin Marwan adalah seorang Faqih, Abdullah As Saffah adalah seorang cendekia. Tapi zaman mereka, zaman pedang.
Ketika kekuasaan yg mereka pikir sebagai salah satu cara meraih pahala harus ditempuh dengan jalan pedang, maka ditempuhlah dengan jalan pedang.
Berat bagi mereka dan menyakitkan
Do’aku semoga Allah mengampuni keduanya, Amal mereka lebih banyak dari kesalahan-kesalahannya.

Ada pula kisah Qushay, moyang Rasulullah salam sejahtera baginya dalam membebaskan Mekkah dari kaum Khuza’ah. Ia tak perlu angkat senjata dan tak perlu sumpah setia. Ketika simbol kekuasaan Mekkah saat itu adalah kunci Ka’bah, maka yg ia pikirkan bagaimana caranya dapat menguasai kunci ka’bah. Tak ada tumpah darah, ia mengambil kunci ka’bah dengan akal kecerdasannya.

Adapun Shalahuddin Al Ayyubi, sang pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Syam,
Cukup baginya mengenal Syirkuh, untuk menyelinap dalam pusaran kekuasaan penguasa Syi’ah Mesir saat itu, lalu memobilisasi kekuatan, dan berhasillah ia membersihkan Mesir dari kaum syi’ah.

Adalah tentang Demokrasi dan Kekuasaan.
Ketika Kekuasaan ditentukan beberapa detik dari bilik suara,
Ia adalah tanpa darah tertumpah.
Dan ia legitimate sebagai cara merebut kekuasaan jika manusia bersepakat demikian

Sungguh cara damai lebih baik dalam memperoleh kekuasaan.
Karena pikiran manusia tidak akan pernah sepakat dalam suatu urusan
Karena pertarungan antar kepentingan akan terus terjadi
Karena pertarungan antar ideologi akan terus terjadi.

Demikianlah demokrasi terjadi, agar perang kepentingan, perang ideologi tak berakhir dengan sengketa senjata

Allahumma inna na’udzubika min jahdi al balaa
Wahai Allah, aku berlindung padaMu dari ujian yang sangat berat,
Berlindung dari ujian sebagaimana menimpa korban Ashhabul ukhdud

Meminta pemimpin, Meminta Menjadi Pemimpin

Meminta Pemimpin

kenapa memakai bahasa meminta?

semua ini untuk mengingatkan kembali,
bahwa yang menetapkan , yang mentakdirkan seseorang menjadi pemimpin dan memiliki kekuasaan adalah Allah.

Cara meminta hadirnya pemimpin itu bermacam-macam,
jika pada AL Qur’an disebutkan bahwa orang-orang Bani Israil setelah zaman Nabi Musa mendatangi nabi zamannya untuk meminta pada Allah agar dihadirkan raja bagi mereka dari kalangan mereka
dan Allah memberikan pada mereka Thalut

sesudah diberi, bahwa Allah mengangkat Thalut menjadi raja, ternyata banyak protes dari Bani Israil,
protes nasab, protes kedudukan di masyarakat sebelum jadi raja, protes kondisi raja terangkat yang miskin harta

Zaman kini,
saat kenabian telah tiada
yang ada adalah peninggalannya
Al Qur’an dan As Sunnah

Manusia tak sempurna, banyak kekurangan
kekurangan pemahaman, kekurangan kekuatan,

Kita boleh berharap sangat ideal,
tetapi ternyata ada satu do’a yang sangat unik
dalam urusan meminta kehadiran seorang pemimpin

DO'A_minta_pemimpin

permintaan yang sederhana, tanpa banyak tuntutan
MEMINTA KEPADA ALLAH PEMIMPIN YANG PENUH KASIH SAYANG

PEMIMPIN YANG TIDAK MENGHANCURKAN RUMAH IBADAH-RUMAH IBADAH
PEMIMPIN YANG MENAUNGI SETIAP ORANG YANG TINGGAL DI WILAYAHNYA

SAAT ITU,
SAAT DAKWAH ISLAM DALAM MASA SULITNYA
PENYIKSAAN DARI KAUM KAFIR QURAISY MAKKAH
DI TAHUN KE 6 KENABIAN
RASULULLAH BERKATA : SESUNGGUHNYA DI HABASYAH ADA RAJA YANG TIDAK MENZHALIMI SEORANG PUN YANG ADA DI WILAYAHNYA
MAKA PARA SAHABAT RASULULLAH BERHIJRAH KESANA, HINGGA BERJUMLAH 83 ORANG

LALU KITA UMMAT ISLAM
TIDAKLAH INGIN MENAUNGI SELURUH KALANGAN?

Sungguh permintaan sederhana yang tidak neko-neko
permintaan tentang hadirnya pemimpin yang penuh rasa kasih sayang
bukan pemimpin yang membuat hidup bagai di neraka

tentang Kami,
Cinta kami kepada PKS, dengan segala kelebihan dan kekurangannya
adalah tentang ayat yang dibaca setiap pagi dan petang
BAHWA KEKUASAAN BERADA DALAM GENGGAMAN ALLAH, DAN DIBERIKAN KEPADA SIAPA YANG DIKEHENDAKINYA
maka harapan itu adalah, bahwa kami adalah termasuk siapa-siapa yang Allah kehendaki berkuasa

LALU, SESUDAH BERKUASA
kami adalah orang-orang yang senantiasa menegakkan shalat
kami menunaikan zakat
dan kami memerintahkan manusia berbuat kebajikan
dan mencegah manusia dari kejahatan

tentang kami,
dalam buah pikiran yang berbeda-beda
menanggapi dinamika kehidupan

aku paling suka keberadaan tripartit Muawiyah – Amr Bin Al ‘Ash – Habib bin Maslamah
Habib sang penjaga sunnah Rasulullah saat Muayiwah berkuasa, ia tak kalah meski seringkali Muawiyah lebih condong pada pendapat ‘Amr Bin Al ‘Ash yang sangat berorientasi pada kekuasaan dan kedigjayaan
Habib tak pernah menyerah, patah arang, atau berburuk sangka,
Habib setia hingga kematiannya datang sebelum kematian Muawiyah

atau kisah Roja Ibn Haiwah dalam pusaran kekuasaan Bani Marwan – yaitu era kedua Dinasti Umayyah
Roja, tak patah arang melihat kerusakan Bani Umayyah
saat shalat tak lagi ditegakkan pada waktunya
saat harta jatuh kepemilikannya kepada yang tidak berhak memilikinya
saat pejuang-pejuang di perbatasan berjuang melakukan penaklukan-penaklukan
kontras dengan pusat-pusat kota yang gemerlap dengan kesenangan dunia

Roja samasekali tidak berputus asa
Roja mempelajari dengan seksama momentum keshalihan
Roja bersabar dengan indah menanti saatnya tiba

Air mata yang tak terkira bercucuran saat Abdullah bin az Zubayr tersalib di dinding kabah
adalah pilihan pahit untuk tetap berada di barisan Bani Umayyah
tapi Roja bersabar, menanggung segala resiko

Ia tak lelah menghadapi tingkah polah Khalifah Al Walid bin Abdul Malik
hanya melihat kebaikan yang ada pada al Walid,
hingga Era al Walid menjadi era gilang gemilang
sembari melihat kebaikan-kebaikan yang ada pada Bani Umayyah
Roja melihat peluang pada sosok Sulaiman yang ternyata bersahabat dengan sepupunya yang lebih shalih lagi
maka Roja tak pernah melepaskan Sulaiman dan juga Umar Bin Abdul Aziz

hingga sempurnalah penunjukkan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz,
yang surat penunjukkannya tidak pernah terlepas dari tangan Roja

2014, di negeri kita
pada siapakah kereta kekuasaan berlabuh? telah tertulis di dekat arsy sana

menyederhanakan permintaan akan karakter pemimpin

pemimpin yang penuh kasih sayang

Adapun bagi para pemimpin
bagi orang yang Allah turunkan padanya beban kepemimpinan
permintaannya tidaklah sederhana
yaitu suatu permintaan, “Wahai Allah jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertaqwa”

Bunda Asiyah, i love you

Taktik Asiyah dalam mendapatkan apa yang diinginkan

Masya Allah, semakin membuka lembaran tentang contoh pribadi wanita terbaik
Semakin sadar diri kalau diri ini ga tahu apa-apa

Ayat-ayat indah yang Allah berikan
Bahwa contoh wanita terbaik yang disebut dalam al Qur’an adalah Asiyah dan Maryam

Asiyah masih keturunan raja Mesir yang mengangkat Yusuf menjadi menteri perbendaharaan negara.
Sebagai ningrat Mesir, Asiyah mengikuti takdirnya dan menjaga kehormatannya, tidak melanggar batas-batas yang dianut kaumnya, hingga ia dipersunting raja diraja bangsa Mesir Fir’aun.

Asiyah tidak dikaruniai anak lelaki, anak perempuannya sangat disayangi Fir’aun.
Ketika mendapati tabut berisi anak lelaki dan telah terdeteksi sebagai bayi dari kalangan bani israil, Allah telah menghadirkan cinta di hati Asiyah.
Pasukan penjagal datang ke kamarnya, dan merayunya agar menyerahkan bayi untuk dibunuh.

Asiyah harus berpikir cerdas, agar semuanya dapat berjalan dengan baik
Ia tetap berkata sopan kepada para tentara dan berkata dengan jujur bahwa ia mencintai bayi itu

Asiyah lalu memberikan pilihan yang masuk akal, bahwa ia akan membawa bayi itu pada Fir’aun dan meminta Fir’aun memberikan bayi itu padanya.
Jika Fir’aun memberikan bayi itu padanya nya maka itu adalah kebaikan para tentara padanya
Dan jika Fir’aun memerintahkan membunuhnya, maka Asiyah tidak akan mencela perbuatan para tentara.

Para tentara penjagal mengabulkan permintaan Asiyah.
Kecerdikan Asiyah dalam berkomunikasi, ditunjukkan dalam kisah bagaimana Aisyah mengambil hati para penjagal

Kecerdasan dan ketepatan strategi ini terlihat kembali dari cara Asiyah menunjukkan bayi pada Fir’aun
Asiyah menaruh kembali Musa kedalam tabut dan mengalirkannya di sungai pada aliran yang akan tepat masuk kedalam tempat Fir’aun biasa berkumpul di pagi hari

Tahap awal rencana berhasil, tabut mengalir ke arah kebun tempat Fir’aun menikmati pagi, ketika putri tunggal Fir’aun bermain-main di sungai bersama dayang-dayangnya mereka melihat tabut yang tersangkut di belukar sungai Nil. Para dayang lalu membawa tabut ke hadapan Fir’aun.
Tak ada yang bisa membukanya, tabut baru terbuka setelah Asiyah menedekatinya dan hanya ialah yang bisa membukanya.
Beberapa detik sesudah kejadian aneh adalah sesuatu yang melenakan, Fir’aun akan lupa pada kebijakan yang sedang dilaksanakannya, turut larut dalam euforia kebahagiaan menemukan bayi lelaki.
Asiyah tahu pasti meski Fir’aun sangat mencintai putrinya tetapi tentu saja kehadiran bayi lelaki dinantikannya pula.

Anak perempuan Fir’aun turut larut dalam bahagia, ia memegang bayi dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lengan bayi, spontanitasnya adalah memegang luka-luka borok yang terdapat di tubuhnya, dan itulah yang ia lakukan setelah memegang bayi, keajaiban terjadi, lukanya seketika itu hilang.
Euporia terjadi untuk kedua kalinya, kesembuhan yang dinanti selama ini.
Euporia kedua ini bukan tanpa rencana, cara penyembuhan seperti yang terjadi telah dikisahkan banyak peramal.

Asiyah merekam semua dengan baik, ketika melihat sosok bayi Musa, pikiran terletak antara harapan dan taktik. Rasa cinta pada musa yang telah tumbuh melahirkan harapan, bahwa makhluk yang pernah diombang-ambing lautan yang keringatnya bisa menyembuhkan putri Fir’aun adalah bayi yang baru saja ditemukan dayang-dayangnya.
Rencana mencipta euporia yang berhasil.

Euporia itu tidak lama, para algojo penjagal selalu bersiaga dengan kabar bayi yang terlahir ditahun itu.
Mereka kemudian mendatangi Fir’aun dan membuat Fir’aun tersadar.
Bayi diperiksa dengan seksama, dan teridentifikasi dengan jelas bahwa itu adalah dari kalangan Bani Israil.
Namun apa daya, euporia telah tercipta, menutupi hati dengan keraguan, putri kesayangan telah sembuh. Taktik jitu Asiyah berhasil

Tarikan antara rayuan wanita pendamping dan gemuruh para menteri dan algojo,
Para algojo kehilangan kengototan, kini tawaran menjadi dua, tidak hanya membunuh bayi yang ada dihadapan, mereka mendengungkan “bunuh atau buang kembali ke sungai”
Fir’aun sesungguhnya teguh pada titahnya, ia menetapkan bahwa keputusannya adalah membunuh bayi bani Israil, yang ternyata masuk jantung pertahanannya.
Jurus pamungkas diketahui Asiyah, ia tahu bahwa Fir’aun mendamba hadirnya seorang Qurrata ‘Ayun, seorang penyejuk hati, maka Asiyah berujar dengan lembut
“Jangan membunuhnya, bisa saja ia bermanfa’at buat kita, kita jadikan ia anak angkat, agar ia menjadi penyejuk hati untuk ku dan untukmu”

Rayuan wanita yang tak dapat ditolaknya, wanita beretika tinggi, yang memiliki pesona luar biasa,
Akhirnya jawaban Fir’aun : “bayi itu untukmu”

Ini benar-benar cara komunikasi yang elegan
Bisa dipakai juga dalam dunia pengajaran

Cinta Asiyah, love you bunda, semoga berkumpul denganmu
Semoga mengunjungi rumah yg pernah engkau minta kepada Allah

Semoga Allah menjadikan aku mengikuti jejakmu

Dengan apa kita membeli surga?

Bismillahirrahmaanirrahim

Dihari tegaknya keputusan, dihari tegaknya kebenaran, hari qiyamat

manusia dibangkitkan dalam satu tempat yang membuat mereka bisa mendengar suara pemanggil dan memiliki satu pusat perhatian.
Seorang juru panggil berkata :
1. Manakah yang selalu memuji Allah dalam keadaan lapang dan sulit?
Maka berdirilah orang-orang yang jumlahnya sedikit
Mereka masuk surga tanpa hisab

Juru panggil kembali memanggil
2. Manakah orang-orang yang lambungnya jauh dari tempat tidur (karena malam dipergunakan untuk shalat)?
Maka berdirilah orang-orang yang jumlahnya sedikit
Mereka masuk surga tanpa hisab

Juru panggil kembali memanggil
3. Manakah orang-orang yang perniagaan tidak melalaikan mereka dari dzikir kepada Allah?
Maka berdirilah orang-orang yang jumlahnya sedikit
Mereka masuk surga tanpa hisab

Kemudiaan manusia berdiri maka dimulailah era perhitungan amalan

Merindukanmu wahai Utusan Rabb semesta

Ini adalah kisah yang dibaca hari ini yang membuat air mata bercucuran deras

karena kerinduan pada Rasulullah
karena semua permasalahan hidup ini rasanya hilang menguap
dengan hadirnya kasih sayang teramat sangat dari kekasih Allah pilihan

tentang Rasulullah dan Abu Dzar

Dari Asma Binti Yazid : bahwasanya Abu Dzar al Ghifary adalah pelayan Rasulullah, jika telah selesai dari pekerjaannya, maka ia pulang ke Mesjid dan tidur di mesjid dengan tanpa berbaring sempurna.

Rasulullah lalu masuk ke mesjid dan mendapatinya kedinginan. Rasulullah lalu membuatnya duduk, dan adu dzar terbangun.

Rasulullah berkata : wahai ABu Dzar aku tidak pernah melihatmu tidur

ABu Dzar menjawab : wahai Rasulullah dan dimanakah aku tidur? apakah aku punya rumah selain mesjid?

Rasulullah kemudian duduk sangat dekat dengannya seraya berkata “Bagaimana engkau jika mereka mengusirmu dari mesjid?”

Abu Dzar menjawab : “maka aku akan pergi ke Syam, sesungguhnya Syam adalah negeri hijrah, dan ia adalah padang mahsyar, dan ia adalah negeri para nabi, maka aku akan menjadi salah satu penduduknya”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “bagaimana engkau jika mereka mengusirmu darinya?”

Abu Dzar menjawab : aku akan kembali ke syam, ia adalah rumahku dan tempat tinggalku

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : bagaimana engkau jika mereka mengusirmu lagi?

Abu Dzar menjawab : maka aku akan menghunus pedangku mempertahankan diri hingga mati

Rasulullah mempertegas posisi duduk dan memegang abu dzar : “maukah engkau aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik?”

Abu Dzar menjawab : tentu saja, demi ayah dan ibuku wahai nabi Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : engkau menta’ati mereka sesuai perintah mereka dan berjalan sesuai mereka arahkan hingga engkau menemuiku dalam keadaan patuh dan ta’at

Musnad Imam AHmad 27588