Bunda Asiyah, i love you

Taktik Asiyah dalam mendapatkan apa yang diinginkan

Masya Allah, semakin membuka lembaran tentang contoh pribadi wanita terbaik
Semakin sadar diri kalau diri ini ga tahu apa-apa

Ayat-ayat indah yang Allah berikan
Bahwa contoh wanita terbaik yang disebut dalam al Qur’an adalah Asiyah dan Maryam

Asiyah masih keturunan raja Mesir yang mengangkat Yusuf menjadi menteri perbendaharaan negara.
Sebagai ningrat Mesir, Asiyah mengikuti takdirnya dan menjaga kehormatannya, tidak melanggar batas-batas yang dianut kaumnya, hingga ia dipersunting raja diraja bangsa Mesir Fir’aun.

Asiyah tidak dikaruniai anak lelaki, anak perempuannya sangat disayangi Fir’aun.
Ketika mendapati tabut berisi anak lelaki dan telah terdeteksi sebagai bayi dari kalangan bani israil, Allah telah menghadirkan cinta di hati Asiyah.
Pasukan penjagal datang ke kamarnya, dan merayunya agar menyerahkan bayi untuk dibunuh.

Asiyah harus berpikir cerdas, agar semuanya dapat berjalan dengan baik
Ia tetap berkata sopan kepada para tentara dan berkata dengan jujur bahwa ia mencintai bayi itu

Asiyah lalu memberikan pilihan yang masuk akal, bahwa ia akan membawa bayi itu pada Fir’aun dan meminta Fir’aun memberikan bayi itu padanya.
Jika Fir’aun memberikan bayi itu padanya nya maka itu adalah kebaikan para tentara padanya
Dan jika Fir’aun memerintahkan membunuhnya, maka Asiyah tidak akan mencela perbuatan para tentara.

Para tentara penjagal mengabulkan permintaan Asiyah.
Kecerdikan Asiyah dalam berkomunikasi, ditunjukkan dalam kisah bagaimana Aisyah mengambil hati para penjagal

Kecerdasan dan ketepatan strategi ini terlihat kembali dari cara Asiyah menunjukkan bayi pada Fir’aun
Asiyah menaruh kembali Musa kedalam tabut dan mengalirkannya di sungai pada aliran yang akan tepat masuk kedalam tempat Fir’aun biasa berkumpul di pagi hari

Tahap awal rencana berhasil, tabut mengalir ke arah kebun tempat Fir’aun menikmati pagi, ketika putri tunggal Fir’aun bermain-main di sungai bersama dayang-dayangnya mereka melihat tabut yang tersangkut di belukar sungai Nil. Para dayang lalu membawa tabut ke hadapan Fir’aun.
Tak ada yang bisa membukanya, tabut baru terbuka setelah Asiyah menedekatinya dan hanya ialah yang bisa membukanya.
Beberapa detik sesudah kejadian aneh adalah sesuatu yang melenakan, Fir’aun akan lupa pada kebijakan yang sedang dilaksanakannya, turut larut dalam euforia kebahagiaan menemukan bayi lelaki.
Asiyah tahu pasti meski Fir’aun sangat mencintai putrinya tetapi tentu saja kehadiran bayi lelaki dinantikannya pula.

Anak perempuan Fir’aun turut larut dalam bahagia, ia memegang bayi dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lengan bayi, spontanitasnya adalah memegang luka-luka borok yang terdapat di tubuhnya, dan itulah yang ia lakukan setelah memegang bayi, keajaiban terjadi, lukanya seketika itu hilang.
Euporia terjadi untuk kedua kalinya, kesembuhan yang dinanti selama ini.
Euporia kedua ini bukan tanpa rencana, cara penyembuhan seperti yang terjadi telah dikisahkan banyak peramal.

Asiyah merekam semua dengan baik, ketika melihat sosok bayi Musa, pikiran terletak antara harapan dan taktik. Rasa cinta pada musa yang telah tumbuh melahirkan harapan, bahwa makhluk yang pernah diombang-ambing lautan yang keringatnya bisa menyembuhkan putri Fir’aun adalah bayi yang baru saja ditemukan dayang-dayangnya.
Rencana mencipta euporia yang berhasil.

Euporia itu tidak lama, para algojo penjagal selalu bersiaga dengan kabar bayi yang terlahir ditahun itu.
Mereka kemudian mendatangi Fir’aun dan membuat Fir’aun tersadar.
Bayi diperiksa dengan seksama, dan teridentifikasi dengan jelas bahwa itu adalah dari kalangan Bani Israil.
Namun apa daya, euporia telah tercipta, menutupi hati dengan keraguan, putri kesayangan telah sembuh. Taktik jitu Asiyah berhasil

Tarikan antara rayuan wanita pendamping dan gemuruh para menteri dan algojo,
Para algojo kehilangan kengototan, kini tawaran menjadi dua, tidak hanya membunuh bayi yang ada dihadapan, mereka mendengungkan “bunuh atau buang kembali ke sungai”
Fir’aun sesungguhnya teguh pada titahnya, ia menetapkan bahwa keputusannya adalah membunuh bayi bani Israil, yang ternyata masuk jantung pertahanannya.
Jurus pamungkas diketahui Asiyah, ia tahu bahwa Fir’aun mendamba hadirnya seorang Qurrata ‘Ayun, seorang penyejuk hati, maka Asiyah berujar dengan lembut
“Jangan membunuhnya, bisa saja ia bermanfa’at buat kita, kita jadikan ia anak angkat, agar ia menjadi penyejuk hati untuk ku dan untukmu”

Rayuan wanita yang tak dapat ditolaknya, wanita beretika tinggi, yang memiliki pesona luar biasa,
Akhirnya jawaban Fir’aun : “bayi itu untukmu”

Ini benar-benar cara komunikasi yang elegan
Bisa dipakai juga dalam dunia pengajaran

Cinta Asiyah, love you bunda, semoga berkumpul denganmu
Semoga mengunjungi rumah yg pernah engkau minta kepada Allah

Semoga Allah menjadikan aku mengikuti jejakmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s