idul fithri

semalam ada diskusi menarik…. heee menarik pisan…
membongkar rasa, konon meneror lawan bicara ….

tentu dengan maksud dan tujuan,,,
tapi sebelum bicara tentang diskusi yang lari kemana-mana…..
yuk ahh kita lihat teks-teks hadits idul fithri

diskusi berawal dari makna idul fithri, apakah “sekedar” berbuka
atau kembali ke “fithrah”

fithri, fithrah …. dua kata yang berasal dari huruf “fa” “tha” “ra”
denga asal huruf yang sama boleh jadi punya keterkaitan langsung atau tidak langsung, baik terkait positif atau oposannya ….

Fithri, adalah berbuka, iedul fithri adalah hari berbuka…..
lalu secara falsafah nya Rasulullah mengabarkan “hari bagi-bagi hadiah, hadiah utamanya pemaafan dari Allah, hadiah plusnya sesuai permintaan”…… dan hadiah ini diberikan dilapangan saat rangkaian shalat ied.

zaman dahulu kala,,,,, ketika belum banyak mengakses buku-buku klasik,
cenderung menyatakan idul fithri adalah kembali ke fithrah…..
sesuatu yang tidak salah…. tapi maka a sense nya kurang…..
dengan terminologi “iedul fithri” kembali ke fitrah, seringkali menghantarkan idul fithri sebagai tujuan ….

klo kita cek, hadits pertama yang banyak dikutip para ulama terdahulu tentang idul fithriy, adalah hadits berikut ini, hadits tentang bagi-bagi hadiah atau bagi-bagi imbalan :

“Di pagi hari idul fithri Allah mengirim malaikat ke setiap penjuru negeri mendarat di tanahnya lalu berdiri dipinggir-pinggir jalan (di kedua sisinya, membentuk rel menyambut para yang berpuasa menuju tempat shalat), kemudian menyeru dengan suara yang didengar seluruh makhluk Allah, kecuali jin dan manusia, seruan itu adalah : wahai ummat Muhammad, keluarlah MENUJU Rabb yang Maha Pemurah, Yang mengampuni dosa-dosa besar. Jika Ummat Muhammad keluar dengan bersegera menuju tempat shalat ied, Allah berkata kepada malaikat : wahai malaikatku apa hadiah bagi pekerja jika telah menyelesaikan tugasnya?
para malaikat menjawab : “Tuhan kami, pemimpin kami, balasannya adalah agar Engkau memenuhi imbalannya”
Allah berkata : wahai Malaikatku, aku mempersaksikan pada kalian bahwa aku telah menjadikan imbalan atas shaumnya mereka, dan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berdiri yang panjang, adalah imbalan berupa keridhaanKu dan ampunanKu”
lalu Allah berkata pada mereka yang hadir di tempat shalat ied : “mintalah kepadaKu, Demi KemuliaanKu dan keagunganKu, tidaklah kalian meminta padaKu dihari ini, permintaan saat berada dalam jama’ah shalat ied ini, berupa permintaan tentang akhirat , kecuali aku berikan, dan tidaklah kalian meminta tentang dunia, kecuali aku mempertimbangkan bagi kebaikan kalian, pulanglah dalam keadaan terampuni, sungguh kalian telah membuat aku ridha, hingga aku ridha pada kalian”

bagiku betapa dahsyatnya hadits ini,
betapa menunjukkan yang utamanya adalah “pekerjaan bulan Ramadhan, yaitu shaum, dan membaca al Qur’an yang panjang dalam shalat, berdiri yang panjang hingga letih”
dua amalan yang mendatangkan pahala dahsyat, ampunan dan keridhaan Allah….
betapa nuansa “ritual yang sangat kental”

terminologi idul fithri kembali ke fithrah bukan sesuatu yang salah, tetapi bagi saya “not make a sense”

di hari Fithri, atau dihari berbuka, hari makan, yang Rasulullah inginkan adalah sebanyak-banyaknya memberi makan, masak yang banyak, bikin open house, semakin banyak yang makan hidangan “fithri” semakin ok, sesuai budget kemampuan
haditsnya : barang siapa memberi makan orang miskin di hari ied, memberi makan satu orang dibebaskan dari api neraka, barang siapa memberi makan dua orang dibebaskan dari sifat kemusyrikan dan kemunafikan, barang siapa memberi makan 3 orang diwajibkan atasnya surga”

di hari idul fithri, sebelum shalat ied, memakai pakaian terbaik, pagi hari mandi dan berwewangian, lalu sarapan, lalu ke luar, merasakan kehadiran malaikat di pinggir-pingir jalan, menyambut manusia-manusia mulia yang selesai melaksakan tugas dari Allah…. bulu kuduk merinding serasa jadi orang penting,
lalu pulang disuruh cari jalan lain, biar malaikat tambah banyak yang do’ain, ahhh lebih kereeen dari selebritis red carpet”
Lalu bersalaman dengan setiap yang ditemui menggenggam erat tangan-tangan mereka sambil saling mendo’akan “Taqabbalallahu minna wa minkum – semoga Allah menerima amal ibadah kita” hiks, hiks, hiks, pasti banjir air mata

dan semua ini tiada kasap mata, adalah keimanan pada Allah yang dapat membuat menjadi berasa, hingga tetes-tetes airmata tidak terbendung tumpah ruah dihari idul fithri,

sungguh dalam waktu segera pemandangan lapangan-lapangin idul fitri akan berubah menjadi ladang meminta akhirat dengan sungguh-sungguh dipenuhi deraian air mata kesyahduan…
do’a, minta yang banyak, minta yang keren sama Allah,
semakin syahdu saat meninggalkan lapangan mendengar Allah mengatakan : “pulanglah kalian telah terampuni”

dengan struktur berpikir begini, baru terasa makna dalam idul fithri sebagai “kembali ke fithrah”

nah di buku at tabshirah ibnu al jauzy disebutkan, hendaknya hari idul fithri menyiapkan roti, daging, susu, mentega (makanan berkarbohidrat, berprotein, berlemak, bervitamin)

cukup sehari ini saja, satu syawal, berbuka….. esoknya ikutilah dengan shaum 6 hari dibulan syawal, sempurnalah shaum bagai shaum seluruh tahun.

2 thoughts on “idul fithri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s