Kekuasaan dan Demokrasi

Bismillahirrahmaanirrahim

Kekuasaan, oh kekuasaan
Diberikan Oleh Allah pada siapa yang dikehendakiNya
Dan dicabut oleh Allah dari siapa yang dikehendakiNya

Kekuasaan adalah dunia,
Ia bukan tujuan
Tapi sarana

Rasulullah meraih kekuasaannya dengan jalan damai, sumpah setia dari 72 orang aus dan khajraz, yang dilanjut dengan piagam madinah yang mempertegas mana teritorial dan siapa anggota rakyatnya

Muawiyah meraihnya dengan jalan damai, dari secarik kertas yg telah bertanda tangan Hasan Bin Ali,
Meski sebelumnya berdarah-darah mengangkat senjata,
Tapi cara kekuasaan sampai di pundak Muawiyah tetaplah tercatat sebagai jalan damai.

Adapun Abdul Malik Bin Marwan, meraih kekuasaannya dengan darah dan tangan besi, hingga tertumpahlah darah Abdullah Bin Az Zubayr, khalifah yang resmi.

Adapun As Saffah, sang pendiri negara Abbasiyah, merebut kekuasaan setelah berhasil membunuh Marwan Al Himar, raja terakhir Bani Umayyah.

Abdul Malik Bin Marwan adalah seorang Faqih, Abdullah As Saffah adalah seorang cendekia. Tapi zaman mereka, zaman pedang.
Ketika kekuasaan yg mereka pikir sebagai salah satu cara meraih pahala harus ditempuh dengan jalan pedang, maka ditempuhlah dengan jalan pedang.
Berat bagi mereka dan menyakitkan
Do’aku semoga Allah mengampuni keduanya, Amal mereka lebih banyak dari kesalahan-kesalahannya.

Ada pula kisah Qushay, moyang Rasulullah salam sejahtera baginya dalam membebaskan Mekkah dari kaum Khuza’ah. Ia tak perlu angkat senjata dan tak perlu sumpah setia. Ketika simbol kekuasaan Mekkah saat itu adalah kunci Ka’bah, maka yg ia pikirkan bagaimana caranya dapat menguasai kunci ka’bah. Tak ada tumpah darah, ia mengambil kunci ka’bah dengan akal kecerdasannya.

Adapun Shalahuddin Al Ayyubi, sang pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Syam,
Cukup baginya mengenal Syirkuh, untuk menyelinap dalam pusaran kekuasaan penguasa Syi’ah Mesir saat itu, lalu memobilisasi kekuatan, dan berhasillah ia membersihkan Mesir dari kaum syi’ah.

Adalah tentang Demokrasi dan Kekuasaan.
Ketika Kekuasaan ditentukan beberapa detik dari bilik suara,
Ia adalah tanpa darah tertumpah.
Dan ia legitimate sebagai cara merebut kekuasaan jika manusia bersepakat demikian

Sungguh cara damai lebih baik dalam memperoleh kekuasaan.
Karena pikiran manusia tidak akan pernah sepakat dalam suatu urusan
Karena pertarungan antar kepentingan akan terus terjadi
Karena pertarungan antar ideologi akan terus terjadi.

Demikianlah demokrasi terjadi, agar perang kepentingan, perang ideologi tak berakhir dengan sengketa senjata

Allahumma inna na’udzubika min jahdi al balaa
Wahai Allah, aku berlindung padaMu dari ujian yang sangat berat,
Berlindung dari ujian sebagaimana menimpa korban Ashhabul ukhdud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s