Kenapa (kita) tak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Natal, oh natal

setiap tahun berulang, dan setiap kali itu pula beredaran disana-sini tentang “haramnya mengucapkan selamat natal”

fenomena yang “rasa-rasanya tiada kemajuan dalam dialog antar ummat” di negeri kita tercinta Indonesia

pertanyaan pertama adalah

“Kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?”

sosok nabi Isa adalah almasih, “kealmasihan” nabi Isa adalah sesuatu yang pasti tersebut dalam al Qur’an

Sosok nabi Isa yang Allah persiapkan sebagai sosok kunci dalam ujian terbesar bagi kemanusiaan
nabi Isa adalah pemimpin melawan Dajjal (anti christ)

lalu mengapakah kita tidak bergembira dengan kelahiran nabi Isa?
kelak dalam perlawanan terhadap hegemoni Dajjal, pemimpin ummat Muhammad melawan Dajjal adalah sang Messiah Isa putra Maryam

Dari titik inilah saya berpikir,
saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa, dan mengucapkan pada nabi Isa salam sejahtera atas kelahirannya,
sebagaimana yang diucapkan nabi Isa sendiri atas kelahirannya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam : 33)

Sungguh saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa,
sesungguhnya kalangan yang bersedih dan membeci hari kelahiran nabi Isa adalah anti christ,
semestinya hanya kalangan Yahudi pengikut Dajjal (anti kristus) saja yang bersedih.

lalu bagaimanakah rupa kebahagian atas kelahiran nabi Isa harus kita tunjukkan?

dititik ini saya tertegun , surat al an’am ayat 84-90 mengobok-ngobok otak, marilah kita perhatikan bersama

84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
85. dan Zakariya, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
86. dan Isma’il, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),
87. (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
89. Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.
90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah jejak mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat”

perintah Allah kepada Rasulullah dalam ayat 90 surat al an’aam ini adalah mengikuti jejak para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya,
maka dari itu kita melihat bahwa Rasulullah sungguh-sungguh dalam menjalankan jejak nabi Ibrahim,
kadar “mengikuti” ini tentu saja telah Allah tetapkan, bagian-bagian mana saja yang diikuti dan bagian mana yang terhapus oleh “risalah” baru.

dalam jejak nabi Ibrahim, diantara yang kita temukan adalah “ibadah haji”

Dalam masyarakat arab semenjak sebelum kelahiran nabi Muhammad, ibadah haji memiliki posisi penting dalam kehidupan ritual dan kemasyarakatan, meskipun terjadi penyelewengan disana-sini.
Islam kemudian menegakkan ibadah haji, dan membuang hal-hal yang merupakan penyelewengan.

suatu ketika , Urwah Bin az Zubayr mempertanyakan, redaksi ayat tentang sa’i.
“Dan tiadalah dosa bagimu ……”
ayat tentang sa’i dalam redaksi demikian,
dalam pemahaman Urwah, berarti sa’i itu sebetulnya dilarang, tetapi kemudian Allah memberikan “keringanan”

Pehamanan yang dikemudian hari diluruskan oleh Aisyah, kata Aisyah “banyak orang menyatakan bahwa sa’i adalah syi’ar jahiliyah, dan islam ikut-ikutan, islam masih mempertahankan syi’ar jahiliyah. Allah kemudian menjelaskan hakikat sa’i” maka sesudah ayat turun Rasulullah bersabda “bersa’ilah”

permasalah besar yang melingkupi tema “kelahiran nabi Isa” adalah :

1. Tanggal kelahiran, tanggal kelahiran nabi Isa ini tidak dapat dipastikan dengan pasti, apalagi “peringatannya”
mengapa? karena tahun itu berputar,
dan putaran itu kita memilih yang mana?

ada putaran bulan, ada putaran matahari, ada putaran bulan dengan memperhatikan matahari.
dalam menghitung putaran matahari itu sendiri, beberapa kali terjadi koreksi, sebagaimana perubahan kalender dari julian ke gregorian, sewaktu masih memakai kalender julian, mayoritas orang kristen merayakan natal tanggl 7 januari.
sesudah kalender gregori dipakai orang kristen di belahan barat dunia merayakannya tanggal 25 desember,
mengapa? karena tahun itu adalah putaran

misal , saya lahir 7 Rajab 1400 yang bertepatan 21 Mei 1980 …… tanggal 7 Rajab berputar dengan cara bulan, dan entah kapan lagi akan bertepatan dengan 21 Mei. Sementara 21 Mei berputar dengan cara matahari dan menurut gregori ya jatuh sesuai dengan kalender yang umumnya saat ini berlaku di seluruh dunia kalender gregorius
jadi setiap tanggal, keberulangannya secara momentum adalah “relatif”

Bagi ummat islam, Allah telah memilihkan putaran bulan murni, sebagai cara menghitung ulangan suatu momentum kejadian dengan tepat dan pasti, tapi penghitungan ini sendiri harus dibarengi dengan proses “memandang dan mengamati fenomena”

Sebagaimana paus gregorius mengkoreksi kalender julian, sehingga kita menikmati kalender international yang saat ini berlaku, maka tidak menutup kemungkinan suatu ketika harus ada koreksi terhadap kalender gregori dengan pengamatan posisi matahari terhadap bumi.

Demikianlah tanggal, pengulangannya adalah sesuatu yang tidak pasti, ia bergantung kepada ketepatan menghitung dan mengkonfirmasi peristiwa alam.

Adapun hari, maka ia akan tetap berjumlah 7 hari, dia akan terus berputar ahad-senin-selasa-rabu-kamis-jum’at-sabtu.
maka ungkapan nabi Isa tentang putaran waktu adalah demikian adanya :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

2. Cara merayakan, cara merayakan suatu peristiwa besar adalah “debatable”, kita tidak bisa menutup mata dari adanya campur tangan tradisi dalam perayaan sesuatu.
Dalam kasus kelahiran nabi Isa, banyak sekali tradisi yang mengitarinya, contohnya keberadaan “pohon natal”
tradisi pohon natal tidak dikenal sedari dulu, dia baru ada sekitar abad ke 16
Dalam bahasa ummat islam, dalam perayaan natal pasti terdapat “bid’ah-bid’ah”

Contoh tentang perayaan hari lahir :
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bahagia dengan kelahiran dirinya, berbahagia dengan hari kelahirannya, maka nabi Muhammad “merayakan hari kelahirannya dengan shaum”
Cara perayaan ini telah mendapat “lisensi kebolehan” dari Allah,
maka kita ummatnya merayakan kelahiran nabi Muhammad, menunjukkan kebahagian atas kelahirannya dengan mengikuti sunnahnya yaitu shaum setiap senin.
(gimana shaum untuk memperingati hari kelahiran sendiri, ohhh jangan lah ya, karena tidak ada lisensi kebolehannya atas itu)

Kembali kepada judul,

pertanyaannya

kenapa kita tidak ikut berbahagia atas kelahiran nabi Isa?
jikapun kita tidak sepakat dengan “cara merayakannya”
jikapun kita tidak sepakat dengan sikap ummatnya nabi Isa yang “menganggapnya Tuhan”

kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran pemimpin perlawanan terhadap anti kristus Dajjal?
Saya belum menemukan jejak cara orang-orang Kristen merayakan natal di zaman nabi Muhammad,
yang saya temukan bahwa dizaman Rasulullah perayaan terbesar bagi ummat Kristen saat itu adalah perayaan “kamis putih”
karena secara sosial sedikit sekali ummat Kristen di Medinah, sikap kenegaraan dan “ideologikal” nabi Muhammad terhadap perayaan Kristen tidak saya dapati.
Tentang perayaan apa yang menjadi pusat perhatian dalam suatu agama, juga ditentukan oleh karakter sosial, kondisi politik kemasyarakatan.
Perayaan natal pasti mengalami pasang surut dalam sejarahnya

Adapun terhadap shaum ‘aasyura, dimana orang yahudi melakukan shaum dihari itu, maka Rasulullah bertanya pada orang Yahudi “kenapa kalian shaum hari aasyura?”

ketika orang-orang Yahudi menjawab bahwa hari itu adalah hari dimana Musa selamat dari kejaran Fir’aun, ketika Musa dan para pengikutnya berhasil menyebrangi laut Merah berjalan kaki.

yang Rasulullah sampaikan kepada para sahabat adalah “kita lebih berhak atas Musa dari orang-orang Yahudi”
maka Rasulullah pun memerintahkan shaum di hari aasyura.

Lalu bagaimanakah nabi Isa “merayakan” hari kelahirannya?
jejak al Qur’an yang dapat kita temukan adalah apa yang nabi Isa ucapkan sewaktu dibuat dapat berbicara diwaktu bayi, dimana kisahnya diabadikan dalam surat Maryam ayat 33 :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

Nabi Isa, tidak tepat mengucapkan hal itu dihari ketika dilahirkan, maka bagi yang membaca ayat diatas dalam bahasa arab akan menemukan kata “hari ketika aku dilahirkan” dibentuk dengan past tense “yauma wulidtu”
Nabi Isa merayakan kelahirannya dengan sebuah do’a “salam sejahtera bagiku”

Ketepatan tanggal momentum, sebagaimana yang saya sebut adalah sulit “dimoderatori”
jatuhnya shaum ‘aasyura di kalangan yahudi akan berbeda dengan hari ‘aasyura dikalangan Islam
karena ada perbedaan cara menghitung
Yahudi memiliki kalender lunar solar
sedang ummat islam memakai kalender lunar murni

demikian pula natal,
ummat kristiani tidak akan gegabah menentukan tanggal kelahiran nabi Isa pada 25 Desember atau 7 januari
maka ilmuwan kalender handal kita dapati adalah dari kalangan gereja, yaitu “paus Gregorius XIII”
yang menghadirkan bagi kita kalender yang dipakai secara international hingga saat ini.

dan kita sebagai ummat islam sudah tahu, bahwa keberulangan suatu momentum kejadian, yang paling tepat dan akurat adalah dengan “kalender bulan murni”

dititik ini saya memandang

bahwa saya harus berbahagia dengan kelahiran sang messiah

kesalahan ummat Kristiani dalam cara merayakan natal adalah urusan ummat yang merupakan sahabat dekat ummat islam ini dengan Allah
kesalahan ummat Kristiani dalam berpendapat bahwa Isa adalah Tuhan, adalah kelak dihadapkan pada pengadilan Allah

tetapi saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam
Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
Selamat Natal bagi Yesus Kristus

dan bukan selamat merayakan hari natal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
sang juru selamat, yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan manusia dari bencana terbesar kemanusiaan
menyelamatkan manusia dari Dajjal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam

Wallahu ‘alaam bi ash showab

4 thoughts on “Kenapa (kita) tak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?

  1. Jadi ini ya yang bikin polemik dan meributkan soal tangal lahir nabi Isa, ada yang ribut harusnya tanggal 7 Januari dan… masih ada yang menghubungkan dengan perayaan pagan dan menyebutkan perayaan natal pada tanggal 25 Desember itu kamuflase dari perayaan pagan. Hmmm, teteh bisa jelaskan kah?😀

    Mudah-mudahan sikap saya ini tidak membuat saya jadi golongan munafik. Saya suka risi kalau masih ada yang ribut2 mempermasalahkan natal ini dan apalagi kalau sampai nyolek saya dengan mengetagnya di FB. Bukan saya ga malu, tapi ada banyak teman saya di FB yang datang dari berbagai latar, terutama teman SMP-SMA yang beragama kristen. Saya pikir biarkan saja mereka merayakan natal, hak mereka, toh? Selama ini teman-teman saya tidak usil dengan mengusik ibadah atau perayaan lebaran, idul adha dsb.

    Rasanya kalau mau mebahas soal sensitif seperti ini mending di forum yang tepat, di grup misalnya. soalnya, soal-soal seperti ini suka memantik keributan dan ramai di sosmed. Tipikal orang Indonesia yang saya amati di FB itu suka gampang ikut-ikutan komentar, share meski ga ngerti banget yang diomongkan dan kadang brsikap sok tau. Duuh maaf kalau saya berpikiran seperti itu.

    Makanya saya sempat mengerutkan kening ketika seorang teman di FB mencela perayaan natal dan mempertanyakan tuhan mana yang dimaksud. Duuuh, sekali lagi bukan saya sok toleran, tapi bukankah Nabi saw pernah mengajarkan untuk tidak mencela tuhan kaum lain? Agar mereka tidak melakukan atau membalikan hal yang sama. *hanya sekedar brainstorming, mohon luruskan kalau saya salah*

    • iya teh, ummat Islam di Indonesia, banyak hal yang masih harus terus dipelajari…. termasuk dalam tata cara bergaul dengan Ummat kristiani.
      didebatkan di forum atau sosmed, kayaknya harus dilakukan dua-duanya,
      ya meskipun orang suka sembarangan men-share.
      Bawaan kita “ummat Islam”, marah duluan, padahal banyak hal harus dirunut dulu, apa esensinya, letak kesalahannya dititik mana.

      gereja punya otoritas keilmuwan, jadi ya bagi saya tidak mungkin gereja sembarangan menentukan tanggal 25 desember sebagai natal,
      sebab dengan kalender gregori, perayaan paskah tidak dapat ditentukan dengan tepat, perayaan paskah masih harus membandingkan dengan kalender bulan.
      pengaruh pagan dalam kristen, banyak tuduhan trinitas adalah pengaruh pagan terhadap kristen, Tapi dalam sejarah islam disebut tidak demikian adanya,

      mungkin pengaruh pagan itu terjadi, tapi sejak nabi Isa masih hidup,
      desas desus tentang nabi Isa sebagai seorang manusia super telah terjadi

      kesuperan, yang kemudian diterjemahkan banyak orang sebagai “sifat Tuhan”
      penisbahan nabi Isa sebagai “matahari penerang dunia” bisa kita temukan jejaknya dalam “bible”

      mungkin dengan sebab itulah “paganisme” merasa mendapat tempat, karena term “matahari” yang mereka tinggikan ikut diagungkan

      sebagaimana pemilihan hari “minggu” sebagai ibadah
      ahad = sunday
      banyak tuduhan adalah ahad ibadahnya orang pagan “sun day”

      tapi setelah saya telusuri,
      kenapa orang Nashrani beribadah hari ahad, ya karena Allah membuat mereka memilih hari itu.
      Dalam riwayat tentang turunnya “hidangan langit” dizaman nabi Isa sebagai mukjizat.
      para mufassir menyebutkan bahwa hidangan langit itu turun hari ahad,
      maka tidak heran ummat Kristiani memilih hari ahad menjadi hari besarnya

      kata Rasulullah : “Allah menguji Yahudi Nashrani dengan “ketersesatan” dalam memilih hari raya “maka Allah mengutamakan kita menjadikan bagi kita hari jum’at sebagai hari raya”

      Ujian “ketersesatan” ini pernah terjadi bagi ummat islam, misal dalam masalah arah kiblat, Allah menguji Rasulullah dengan memerintahkan arah kiblat shalat menuju baitul maqdis. Karena “nalar” keimanan Rasulullah, maka Rasulullah senantiasa menginginkan kiblat shalat itu ke Ka’bah.
      kondisi geografis Mekkah membuat Rasulullah bisa shalat mengarah dua tempat sekaligus,
      kondisi geografis medinah, tidak memungkinkan Rasulullah menghadap Ka’bah dan Baitul Maqdis dalam waktu bersamaan,
      Rasulullah bersabar shalat menghadap baitul maqdis selama 16 bulan,
      menghadapi celaaan yahudi atas itu.
      dan disaat yang sama Rasulullah “ngotot” ingin shalat ke arah ka’bah,
      dan akhirnya Allah mengabulkan, maka kita sebagai ummatnya terhindar dari ketersesatan dalam arah kiblat.

      tentang “mencela” ibadah agama lain, al Qur’an telah menjelaskan, tidak boleh mencela dengan kasar dan “tidak pada tempatnya”
      khaawatir ummat agama lain, mencela ibadah kita, bahkan mencela Allah, tanpa adanya pengetahuan.
      jadi kita memang harus menahan diri

      peluk hangan buat teh Effi ^_^

      • thanks untuk semuanya. pertanyaan saya kitab apa yang muncul lebih dulu. kitab injil atau qur’an. kalau kitab injil yang muncul lebih mengapa kita tidak percaya dengan keberadaan kitab injil. justru dalam Q.5: 68 menghimbau agar umat muslim harus membaca bible/injil. jadi gak perlu diperdebatkan karena agama Kristen maupun Muslim adalah sama yaitu memuji Allah yang Esa.

      • wah asyik nih, iya harus banyak yang diobrolin, al qur’an mengajak ummat islam percaya pada injil yang lebih dulu diturunkan ….. apa yang ada di injil jika bersesuaian dengan al qur’an maka itu benar adanya….. adapun dialog tentang trinitas al qur’an pun mengajarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s