Meraih kesempurnaan Ala Dzulqarnain

Meraih kesempurnaan Ala Dzulqarnain
Journey of ODOJ 1154 – Day 1

Bismillahirrahmaanirrahim

Pagi ini membaca juz 16 dan selalu ada kejutan-kejutan di setiap putaran membaca al Qur’an. Kepenasaran akan beberapa hal yang ditemui membuat membuka tafsir an Naisabury untuk memperoleh sudut pandang yang semakin jelas.
Pada kisah Dzulqarnain, Imam an Naisabury memberikan takwil atas ayat-ayat yang tersusun dengan indahnya.

Imam an Naisabury berkata bahwasanya Dzulkarnain adalah orang yang sempurna sebagai pribadi dan menjadi penyempurna bagi orang lain.
Kenapa disebut demikian?
Dzulqarnain memiliki kekuasaan fisik, yaitu menjadi raja yang menjalankan fungsi kekhilafahan
Dzulqarnain mengetahui ilmu makna terdalam dari segala sesuatu, mengetahui sebab, asal muasal suatu kejadian

Petualangan Dzulqarnain ke seluruh penjuru bumi adalah merupakan rangkaian arah pencarian manusia agar mengetahui sebab terdalam dari segala sesuatu.

Untuk sampai kepada alam yang terbawah, maka harus menggapai ujung matahari.
Maka perjalanan itu adalah kebarat, yaitu saat jiwa dan ruh tenggelam dalam tubuh dan materi. Jika jiwa dan ruh tenggelam, maka kita akan menemukan kekuatan fisik dan keinginan-keinginan bersifat materi keduniaan.
Sifat-sifat keduniaan ini harus diberikan dua treatment, yaitu treatment keras dan lembut.
Jika sifat-sifat keduniaan yang muncul maka harus diberikan reaksi keras.
Apakah yang dimaksud dengan rekasi keras? Yaitu pengarahan menuju TuhanNya untuk kemudian mendapat larangan dan pencegahan sempurna dari berlaku zhalim.

Saat terdeteksi dalam jiwa ada kecenderungan berlaku zhalim , pada hal-hal keduniaan, tidak jujur, serakah, diktatorisme, dsb maka sikap keras itu adalah bersikap bagai rantai, belenggu dan penghalang agar mengarahkan pandangan pada Allah Rabb semesta alam.

Bagaimanakah rupa training untuk hal ini?
Saya membayangkan kurikulum pendidikan tentang asmaul husna, memperbanyak kisah-kisah cerita kehidupan, lalu memaksa jiwa untuk mengenali dimanakah muncul suatu sifat Allah dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Mau ga mau harus dipaksa mau menyelami setiap sifat-sifat Allah yang muncul dari suatu peristiwa.
Kemudian membangun kebiasan dzikir, memaksa diri untuk menyebut Allah secara lisan, dan mengingatnya dalam pikiran.

Malam tenggelam, jika membiarkan tenggelam, maka tenggelam dalam nafsu keduniaan, nafsu paling ringannya tidur nafsu terberatnya berbuat maksiat. Ada juga yang tidak tidur dan tidak menyengaja berbuat maksiat, tetapi benar-benar mengejar dunia demi sesuap nasi dan sekantong berlian. Betapa dunia usaha telah menggeliat sejak sebelum maghrib, hingga pasar-pasar telah dipenuhi ditengah malam.
Oh jangan sampai salah alokasi waktu

Jika semua kerja keras mengarahkan jiwa pada yang semestinya berhasil, maka akan sampailah pada suatu terminal dengan mudah dan diberikan rasa santai yang nikmat.

Itulah pencarian ke barat

Lalu pencarian ke timur, maka saat matahari terbit itulah simbol dimana kita akan mendapatkan alam ruhani yang terang benderang, jauh dari unsur-unsur keduniaan yang merusak.

Jadi baca tafsir ini kesimpulannya ‘PERSIAPKAN MALAMMU UNTUK PAGIMU’
Supaya diPAGI hari jiwa kita SIAP menempuh segala kesulitan terbebas dari syahwat dunia yang membelenggu.

SIANG hari adalah alam pertengahan,
Dimana kehidupan akan memperlihatkan adanya aneka ragam manusia yang diliputi dengan kejahilan, sehingga hampir-hampir kita tidak mengerti dan tidak bisa memahami arah-arah keinginannya.
Kaum tengah-tengah ini adalah kaum yang gampang tertimpa badai dan menjadi korban kerusakan,
Diantara kaum tengah-tengah ini ada yang memahami permasalahan dan segera mendiskusikan solusi dengan Dzulqarnain.

Solusi pertama yang Dzulqarnain sebutkan adalah hati, hati yang disimbolkan dengan besi.
Besi itu keras, apa yang harus dilakukan dalam menempuh dunia tengah?
Ya harus seimbang, menyesuaikan dengan keadaan dunia tengah.

LALU TATKALA TELAH SEIMBANG, apa yang harus dilakukan?

Isilah dengan dzikir dan wirid, panaskan dengan keletihan keta’atan kepada Allah SWT.

Saat hati telah panas dan berletih-letih berdzikir maka hati itu siap diisi dengan cinta dan kemurnian penyembahan kepada Allah SWT.

Hati yang demikian akan bersih dari tipu daya setan
Hati yang akan terus naik meninggi, dan diatasnya hanya ada Allah Subhaanahu wa ta’ala

Cukuplah Allah bagiku.

Jadi?

Realisasi dalam pembagian aktifitas sehari-hari seperti apa
Misal untuk kehidupan pribadi?

Aktifitas dimulai justru saat matahari terbenam
Jadi 30 menit sebelum adzan maghrib harus sudah bersiap dirumah atau dimushala
Mempersiapkan tenggelamnya jiwa dan ruh, menyelamatnya agar tidak tenggelam.
Bersiap dengan cara mengobrol dengan keluarga , saling mengingatkan, saling memberikan peringatan dengan menghadirkan rasa takut dan menghadirkan kegembiraan.
Saling membicarakan harapan dan keinginan yang akan dipanjatkan sesudah shalat maghrib.

Jika adzan maghrib tiba lalu mengucapkan do’a menyambut adzan Maghrib, shalat maghrib, dizikir, memohon dalam do’a-do’a.

Lalu makan malam

Lalu renungan asmaul husna

Lalu setelah itu shalat isya, dzikir sesudah shalat, lalu tidur

Lama waktu tidur?
Jika ingin sukses dipagi hari, maka tidur tidak boleh lebih lama dari dzikir.
Kalau begitu kira-kira 4 jam, waktu terbaik untuk tidur
Langsung sesudah shalat isya.

Bangun tidur, qiyamul lail
Sifat pekerjaan malam ini adalah harus “dipaksa”
Tiba di pagi hari
Dengan aktifitas pembuka yaitu dzikir, saat matahari akan naik hiasi hari dengan dzikir
Lalu bersih-bersih

Lalu bersiap dengan penyeimbangan aktifitas “dunia dan akhirat”
10 jam disiang hari ini harus seimbang antara dunia dan akhirat, supaya sukses dalam menempuh alam tengah

Kalau sebagai pembuat kurikulum,berarti pelajaran harus dibagi dua 5 jam- 5 jam

Apakah seimbang itu harus berarti alokasi waktu yang sama?
Sepertinya iya
Kok pake sepertinya?
Perlu dibuktikan

10 jam itu adalah asumsi dari jam 6.30 – 16.30
Kalau misal 2 jam habis di jalan
Berati jam kerja itu baiknya 4 jam aja,
Semaksimal-maksimalnya 5 jam, hehe
Wah ngamuk-ngamuk deh pemilik pabrik kapitalisme

Kalau jadi seksi kurikulum, 4 jam pelajaran terkait “menaklukan dunia”
Maka 4 jam harus ilmu tentang akhirat

Nahhh kalau tidak bisa begitu
Pastinya itu idealnya
Sementara problematika hidup banyak
Permasalahan ummat menanti untuk diselesaikan
Maka harus lebih jernih lagi memandang keseimbangan

Sing penting
Kalau waktu sedang lapang
Demikianlah pembagian yang ideal

Alhamdulillah, surat al Kahfi mengajarkan ilmu gamblang tentang pembagian waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s