Kisah Indah bersama surat Fathir (11)

(11)

Tak Mungkin dapat Berulang

Fathir yang rupawan dengan cahaya

Telah berkata pada kita tentang ujung bahagia

Bagi mereka yang hatinya penuh keta’atan

Dan kini bercakap tentang

jiwa pemberontak, Jiwa yang ingkar

Keingkaran menempatkan pelakunya di neraka Jahannam

Tak ada rasa ringan disana

Yang ada hanyalah teriakan yang menyayat hati

teriakan-teriakan yang sia-sia

teriakan yang tidak didengar

karena yang kini berteriak

dulu tak pernah mau mendengarkan peringatan

Sungguh, lolongan keputusasaan yang tak bertepi

“kembalikan !!!!” “kembalikan lagi kami ke dunia !!!!”

“Kembalikan!!! kami akan melakukan hal yang lain,

kami tak akan melakukan lagi apa yang telah kami lakukan,

kembalikan, Tuhan !!!!

agar kami dapat beramal shaleh

mereka tak akan pernah bisa kembali

Dan Waktu tak akan pernah berulang

Sebuah Note tadabbur dari fathir : 36 – 37

Advertisements

Memperbaiki Prasangka kepada Allah – Kisah nabi Shalih

Kisah Nabi Shaleh

 

Nabi Shaleh diutus Allah kepada Tsamud. Nabi shaleh adalah nabi kedua setelah Hud yang berbahasa arab dan diutus di tengah-tengah bangsa arab. Jika kaum ‘Aad tinggal di selatan kawasan arab, maka nabi Shaleh mendiami kawasan utara jazirah arabia, antara Hijaz (Mekkah, Medinah, Thaif) dan Syam. Kawasan Al Hijr lembah al Qura.

Dalam perjalanan perang Tabuk, Rasulullah melewati kawasan ini. Rasulullah melarang sahabat untuk memasuki kawasan dan meminum air dari kawasan tersebut. Adapun jika ada keperluan memasukinya maka harus masuk dalam kondisi menangis. Jika tidak masuk dalam keadaan menangis maka akan tertimpa seperti apa yang menimpa Tsamud.

Membaca kisah Tsamud memerlukan berbagai pisau analisa atas apa yang terjadi. Karakter masyarakat Tsamud yang digambarkan Al Qur’an yaitu suatu sikap dan perilaku yang melampaui batas-batas.  Apakah yang dimaksud dengan sikap melampaui batas ini? Saya justru menemukan suatu sikap dan perilaku setengah-setengah. Masyarakat Tsamud adalah masyarakat yang mengikuti selera hawa nafsu mereka. Namun hal itu mereka lakukan dengan sedikit ketakutan pada hal-hal bersifat magic, maka di suatu titik mereka terkadang mengikuti perintah nabi mereka, tetapi tidak mengikuti dengan keta’atan dan totalitas. Mari kita mulai kisah ini dari masa sebelum nabi shaleh diutus ke tengah-tengah mereka.

Kaum Tsamud diberikan usia panjang, bahkan dikatakan lebih panjang dari ‘Aad. Tinggal di  kawasan gunung berbatu menyebabkan kesulitan material bermutu untuk membangun rumah. Berbeda dengan ‘Aad yang bumi mereka mengandung pasir berkualitas tinggi yang memudahkan teknologi bangunan berkembang pesat. Kualitas bangunan yang dihasilkan kaum Tsamud selalu mendahului usia mereka yang panjang. Jika mereka membangun rumah dengan kualitas paling hebat yang mereka sanggup, maka rumah tersebut akan rusak dan roboh sedang usia mereka masih panjang.

Tata kelola kota pun akhirnya dibuat sedemikian rupa. Kantor-kantor pemerintahan, tempat berunding dan menerima tamu berupa istana dibangun didataran yang mudah. Adapun rumah dibangun dibukit dengan teknologi membelah, mengukir batu, mendesain gunung menjadi rumah-rumah.

“(wahai kaum tsamud) : dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti kebudayaan ‘Aad dan memberikan kekuasaan bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (al ‘Araaf : 74)

Kemampuan menaklukan bebatuan dan mendesain gunungbatu menjadi rumah yang nyaman untuk ditempati membuat kaum Tsamud sangat congkak. Mereka merasa paling terdepan dalam teknologi, menemukan suatu cara hidup yang berbeda dari yang dikenal. Seni memahat yang dikuasai dengan baik menghantarkan Tsamud pada penyembahan apa yang mereka cipta dari ukiran batu. Disini kita melihat bahwa hasil karya masterpiece bisa jadi melahirkan kekaguman yang berujung pada penyembahan, hingga dibuat upacara-upacara ritual untuk mengagungkan apa yang dihasilkan.

Teknik memecah batu yang mereka miliki adalah dengan kapak, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang sangat dihormati adalah kekuatan fisik. Terdapat delapan orang yang kemudian mendominasi masyarakat karena kekuatan fisik yang dimilikinya. Dominasi ini merajai segala bidang, semua hal yang terjadi pada kaum Tsamud diukur dari selera delapan orang ini. Maka potensi dahsyat  yang dimiliki sebagian masyarakat lainnya menjadi potensi yang termarginalkan.

Masyarakat Tsamud adalah cerminan masyarakat yang tidak sehat. Masyarakat yang takut kepada segelintir orang. Sikap yang menyebabkan apapun yang dilakukan kedelapan orang itu, benar ataupun salah, tidak ada seorangpun yang berani memperbaikinya. Kekuatan ternyata melenakan, Delapan orang ini senantiasa bersatu padu dalam setiap keputusan dan berbuat sewenang-wenang ditengah masyarakat.

Kaum Tsamud tinggal dikawasan sedikit air, mereka hanya memiliki satu sumber air. Maka peraturan yang berlaku adalah pemenuhan kebutuhan 8 orang jawara dan kemudian barulah giliran masyarakat lainnya.

Masyarakat yang sakit, sakit dari sisi psikologis, sakit dari sisi ritual, sakit secara sosial. Kepada masyarakat Tsamud yang demikian kemudian Allah mengutus nabi Shaleh.

“dan kepada Tsamud, (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah bumi dan menjadikan kamu dapat mengelolanya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat dan juga mengabulkan do’a HambaNya.” (Hud :61)

 

Sebagai masyarakat sakit yang diliputi rasa takut pada apa yang dinamai kekuatan dan kekuasaan, disebabkan delapan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi sekehendak mereka, maka syi’ar yang dikumandangkan Shaleh adalah bahwa Allah adalah pemilik Kasih Sayang yang mengabulkan do’a-do’a. Shaleh datang dengan harapan keluar dari segala macam belenggu rasa takut.

Shaleh sebelum diutus menjadi Rasul adalah pemuda kuat yang menjadi tumpuan masa depan Tsamud. Kebaikannya dicintai delapan pemimpin dan juga disukai kaum yang termarginalkan. Akan tetapi kaumnya ingkar tatkala Shaleh memulai seruan agar kaumnya mempercayai konsep kenabian, bahwa ia adalah manusia yang diutus Allah untuk menyeru agar mereka hanya menyembah Allah jua, dan tidak menyembah selainNya.

“kaum Tsamud berkata: “Hai shaleh, Sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara Kami yang Kami harapkan, Mengapakah kamu melarang Kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak Kami? dan Sesungguhnya Kami betul-betul dalam keraguan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami, agama yang meragukan.” (Hud : 62)

“Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku anugerah kenabian dari-Nya, Maka siapakah yang akan menolong aku dari siksa Allah jika aku mendurhakai-Nya. sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian” (Hud 63)

Para pemuka kaum berunding. Jika benar Shaleh utusan Allah yang menciptakan semesta, maka semestinya Shaleh datang dengan keajaiban-keajaiban. Pandangan kaum Tsamud terhadap Allah adalah sama seperti kaum ‘Aad. Allah adalah pencipta semesta yang tidak melakukan apapun sesudahnya, urusan bumi menjadi urusan manusia, maka manusia bebas menyembah apa saja yang dikehendakinya, terutama menyembah hasil karyanya sendiri.

Menjelang hari raya yang mereka miliki, Pemuka Tsamud menantang Shalih agar datang dengan keajaiban-keajaiban. Dan mereka pun akan mencoba meminta keajaiban datang pada mereka. Jika Tuhan-tuhan mereka mengabulkan maka merekalah yang berada dalam kebenaran. Tetapi jika Shalih yang datang dengan keajaiban berarti Shalih yang benar dan mereka pun akan percaya dengan kenabian Shalih.

Do’a kaum Tsamud pada Tuhan-tuhan mereka adalah do’a yang sia-sia. Lalu mereka menyaksikan mukjizat Allah bagi nabi Shaleh, yaitu unta merah muda yang keluar dari dalam batu.

“Hai kaumku, Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat yang menunjukkan kebenaran untukmu, sebab itu biarkanlah Dia Makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa siksa yang dekat.” (Hud : 64)

“dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah Dia Makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al ‘Araaf:73)

 

Kesepakatan telah dibuat, para pengaju tantangan mesti mempercayai konsep kenabian, dan meninggalkan Tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah. Mereka mesti menyembah Allah.

Beberapa saat mereka mengikuti perintah nabi Shalih, tetapi keta’atan setengah-setengah. Keta’atan yang tampak dipermukaan semata. Padahal sesungguhnya mereka tetap mencari jalan untuk kesenangan mereka. Nabi Shalih melakukan pembagian jatah air minum

“Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar”. (asy Syu’ara ; 155-156)

Kaum Tsamud menta’ati aturan ini, dengan berbagai makar, diantaranya adalah jika tiba hari giliran minum unta, maka mereka memeras susu unta hingga kering kerontang. Mengisi persediaan air minum dengan susu unta.

Keta’atan yang tidak bertahan lama, para pemuka kaum mulai gelisah dengan keta’atan ini. Mereka mulai ingin menentang, namun keajaiban unta menahan laju pembangkangan.

Suatu ketika nabi Shaleh menyampaikan bahwa unta akan dibunuh oleh seorang bayi yang terlahir dengan ciri-ciri fisiknya mengumpulkan warna-warna : pirang, biru, merah menyala dan merah.

Kaum Tsamud bertekad mencari bayi-bayi yang bersifat demikian.Delapan orang yang berkuasa bertekad membunuh bayi-bayi yang memiliki ciri-ciri fisik seperti yang disebutkan nabi Shalih. Mereka mendapati bahwa ternyata cucu-cucu mereka yang memiliki ciri-ciri fisik demikian. Mereka pun membunuh semua bayi-bayi itu kecuali seorang bayi yang merupakan cucu dari dua orang anggota kelompok delapan ini.

Dua orang dari kelompok ini masing-masing memiliki seorang anak laki-laki dan yang lainnya memiliki anak perempuan, dan mereka menikahkan keduanya. Saat melihat bayi yang menggemaskan, dua orang kakek tidak tega membunuh cucu mereka, dan membiarkannya hidup, meski bayi tersebut memiliki ciri fisik sebagaimana yang diucapkan nabi Shalih.

Bayi yang semakin hari semakin menampakkan keajaiban, bayi tersebut tumbuh dengan cepat, hitungan hari menjadi hitungan bulan, bulan menjadi tahun. 6 orang lainnya yang cucu-cucu mereka telah dibunuh, menyesal dengan pembunuhan yang telah terjadi. Mereka menyalahkan nabi Shalih.

Suasana psikologis masyarakat terbelah menjadi dua, pendukung delapan pemimpin, dan pendukung nabi Shalih. Kedua kelompok melakukan perang dingin adu opini

“dan Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shaleh yang menyeru: “Sembahlah Allah”, dan mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan” (an Naml :45)

Para pendukung nabi shalih berkata bahwa pembunuhan para bayi bukan dikarenakan nabi Shalih, melainkan suatu ujian akan keta’atan kepada nabi yang akan melahirkan keberkahan hidup. Jika mereka menjalankan petunjuk nabi Shaleh dengan keimanan dan keta’atan maka tidak akan terjadi tragedi demikian. Akan tetapi delapan orang perkasa dari Tsamud menjalankan perintah nabi Shaleh bukan karena keimanan, tetapi karena takut kehilangan unta yang memberikan air susu bagi seluruh penduduk Tsamud. Disinilah letak titik kesalahan lebih mencintai sumber kemakmuran daripada menyayangi keturunan karena Allah.

Delapan pemimpin dan pendukungnya semakin marah dengan opini yang menyebar. Mereka yang sebelumnya setengah percaya pada kenabian nabi Shalih kini membuat opini bahwa Shalih bukanlah nabi, karena ia datang dengan perintah sial.

Ucapan yang menyakitkan bagi para pendukung nabi Shalih, mereka mengatakan kekafiran kepada kenabian Shalih hanya akan mendatangkan bencana. Para kaum kafir kemudian menantang “Datangkan saja bencana, jika Shalih sungguh seorang nabi”

Nabi Shalih berduka melihat apa yang terjadi pada kaumnya. Seluruh kaumnya lupa tentang esensi ajaran yang ia dengungkan tentang penyembahan Allah, kasih sayang dan do’a-do’a. Perspektif yang dibangun masyarakat Tsamud tetap perspektif yang jauh dari 3 seruan utamanya.

 

“Shalih berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum kamu minta kebaikan? hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat kasihsayang”. (an Naml :46)

Seruan yang bagi kaum kafir adalah seruan omong kosong, bagaimana mungkin Shalih menyerukan kasih sayang, padahal menjadi penyebab pembunuhan keturunan mereka.

“mereka kaum kafir menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, bukan Kami yang menjadi sebab, tetapi kamu kaum yang diuji”. (an Naml :47)

Suasana malah semakin memanas, Sembilan orang meningkatkan penindasan kepada kalangan beriman, dengan semena-mena berbuat kerusakan dimuka bumi. Bahkan merencanakan pembunuhan nabi Shalih.

“dan di kota itu, ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.  mereka berkata pada sesama mereka : “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya bahwa kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar, dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari “. (an Naml : 48-50)

Usaha pembunuhan Shalih tidak berhasil,. Allah menimpakan batu-batu besar pada sembilan orang yang bersepakat membunuh Shalih. Usaha makar kini beralih kepada unta. Unta mukjizat kini telah beranak. Mereka akhirnya bersepakat mebunuh unta induk, dan berharap unta anaknya akan memberi berkah dikemudian.

Sembilan orang berusaha membunuh dan tidak berhasil, hingga akhirnya salah seorang diantara mereka berhasil membunuh unta dari arah atas.

Ketika unta telah terbunuh, kesembilan orang diliputi perasaan bersalah. Diantara mereka pergi kepada Shalih mengabarkan apa yang terjadi dan berusaha cuci tangan dan menyandarkan kesalahan kepada satu orang yang melakukan eksekusi.

Tatkala nabi Shalih mendengar berita, beliau memerintahkan mencari anak unta, dan melihat reaksi dari anak unta. Semoga saja jika ada ‘itikad baik merawat anak unta, Allah akan mengampuni dan memberi kesempatan.

Sementara mereka yang menyombongkan diri, penyesalan hanya hadir sebentar saja. Setan menggoda untuk memiliki perspektif lain. Alih-alih bertaubat dan memohon ampunan Allah, yang kemudian berkembang adalah sikap menantang

“kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka Berlaku angkuh terhadap perintah tuhan. dan mereka berkata: “Hai shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada Kami, jika (betul) kamu Termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (al ‘Araaf:77)

Ketika anak unta ditemukan didatangkan ke lapang dan ia melihat mayat ibunya, anak unta tersebut menangis dan menjerit tiga lengkingan. Nabi Shalih bersedih dengan ini. Itu adalah suatu pertanda bahwa adzab akan segera hadir, satu lengkingan unta berarti satu hari penangguhan adzab. Maka ada waktu tiga hari sebelum adzab hadir.

Masyarakat yang bebal dan tidak sehat. Lupa akan semua yang diajarkan nabi Shalih tentang kasih sayang, permohonan ampun dan taubat. Masyarakat Tsamud dilanda kegelisahan menanti kedatangan adzab. Nabi Shalih menyampaikan bahwa wajah mereka akan dihari pertama akan menguning kemudian memerah dan kemudian menghitam.

Putus asa melanda masyarakat Tsamud, hingga mereka berguling-guling ditanah dengan mata terbelalak menanti datangnya adzab. Tiga hari berlalu mereka mengamati dari arah manakah adzab akan datang apakah dari langit atau dari tanah. Maka di hari keempat tatkala mereka berada di rumah-rumah mereka, Allah mendatangkan suara dengan frekuensi yang tidak dikenal sebelumnya, suatu frekuensi suara yang menyebabkan jantung pecah.

Adzab yang menimpa seluruh bangsa Tsamud dimanapun ia berada, kecuali mereka yang beriman dan seseorang yang saat itu sedang berada di Mekkah bernama Abu Righal. Status Mekkah sebagai tanah haram lah yang menyelamatkan Abu Righal.

“Maka tatkala datang siksa Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama Dia dengan kasih sayang dari Kami dan kami selatkan mereka dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa” (Hud :66)

Kisah yang mengajarkan banyak hal tentang bagaimana mengimani, mempercayai atau meyakini sesuatu. Ia adalah harus kepercayaan dengan totalitas dan prasangka yang baik. Keyakinan yang harus selalu kita jaga adalah bahwa Allah penuh kasih sayang, bahwa Allah sangat dekat dan mengabulkan setiap permohonan. Namun Allah juga menguji apakah benar kita sungguh-sungguh meyakini?

Jangan menjadi seperti kaum Tsamud, kaum yang memiliki persepsi yang tidak benar terhadap Allah dan nabiNya, bersegera memohon keburukan dan tidak memiliki harapan hidup yang baik.

Kisah nabi Hud (lengkap 1,2 dan 3)

Jangan Tertipu Materialisme – Kisah Nabi Hud

Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, Tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf (bukit pasir) antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, usia harapan hidup yang panjang, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa,  yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.

Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an  menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :

-“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya.

– Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dan ngelantur,  Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan.

– Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian.

– Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung”

(Al ‘Araaf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: “Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya).

“dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : “Orang ini, Hud,  tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum.  dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu?  Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya”.

Hud berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku.”

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.”

(al Mukminun :31-40)

 

Usaha Hud, mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah adalah usaha hebat yang benar-benar tidak kenal lelah, kali ini Hud menyampaikan agar kaumnya menyembah Allah, dan segera bertaubat, karena jika kaumnya tidak menyembah Allah, maka akan datang adzab pada mereka.

‘(Hud berkata) : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.  dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (as Syu’ara : 131 – 135)

Hud pantang menyerah, acara-acara untuk memperingatkan kaumnya tetap ia gelar, Surat al Ahqaf menggambarkan usaha keras Hud ini

“dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya dikawasan Al Ahqaaf dimana telah datang banyak peringatan nabi-nabi seperti dari Hud, di masa sebelum dan sesudahnya. Para pemberi peringatan berkata: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Mereka (kaum kafir) menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”.

Hud berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

(Al Ahqaaf : 21-23)

 

Sesudah itu datanglah kekeringan dahsyat melanda mereka, hujan tidak turun selama tiga tahun berturut-turut. Kelaparan, kehausan, kemiskinan membuat masyarakat berkebudayaan tinggi seperti ‘Aad mengalami degradasi. Ini dikarenakan parameter kebahagiaan yang mereka miliki adalah materi.

Hud, tetap berperan aktif menyadarkan masyarakat. Mengajak kaumnya untuk bertaubat :

“Hud berkata: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling yaitu berbuat dosa.” (Hud :52)

Kaum ‘Add membalas ajakan Hud tetap dengan kekafiran, ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan Hud

“kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti keterkaitan antara musibah ini dengan ketiadaan kami menyembah Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan selain bahwasanya Tuhan-tuhan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. ” Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu Tuhan-tuhan selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (Hud : 53-57)

 

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr.

Mu’awiyah merasa sangat terhormat,  ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka.

Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.

Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.

Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah.

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.

Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa. (al Ahqaf: 23-25)

 

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri. Merasa paling tahu ilmu awan, menggiring dengan suka cita musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur, jangan sombong berjalan di muka bumi.

Sembahlah Allah sebagaimana yang Rasulullah Muhammad ajarkan, lalu mintalah pada Allah ilmu untuk memakmurkan dan mengelola bumi, karena bumi adalah ciptaanNya. Mari berjuang mempelajari ilmu-ilmu Allah.

Sumber :

  1. Al Bidayah wa an Nihayah
  2. Tarikh Thabary
  3. Al kamil fi at Tarikh
  4. Al muntadzim

Diatas ilmu ada ilmu (Kisah nabi Hud – bagian 3)

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr.

Mu’awiyah merasa sangat terhormat,  ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka.

Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.

Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.

Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.

Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya,

Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka.

Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.

(al Ahqaf: 23-25)

 

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri.

Mereka merasa paling tahu ilmu awan, menggiring awan hitam pekat dengan suka cita, menghantarkan musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur.

Jangan tertipu materialisme (Kisah Nabi Hud – Bagian 1)

Kaum ‘Aad

Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, Tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa,  yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.

Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an  menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :

-“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya.

– Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dang ngelantur,  Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan.

– Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian.

– Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung” (al ‘Araf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: “Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya).

“dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : “Orang ini, Hud,  tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum.  dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu?  Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kalian itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya”.

Hud berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku.”

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” (al Mukminun :31-40)

Kisah Indah Bersama Fathir (8)

Air, ah berulang penyebutanmu oleh Fathir

betapa Fathir mengingatkan kembali

memahami air adalah salah satu jalan menuju Cahaya

Air pelarut hebat luar biasa

ia dapat membawa aneka mineral didalamnya

dapat menyampaikan pesan-pesan elektrik

ia menyampaikan energi yang teramat dahsyat

Air, identitasnya tetap satu, air, satu molekul , Air

apapun warnanya dia adalah air yang satu

air menjadi kebutuhan hidup aneka ragam tanaman

perhatikanlah warnanya

sesungguhnya tidak hanya buah-buahan yang beraneka warna

Bedakanlah gunung antar kelompok gunung putih, kelompok gunung merah dan kelompok gunung hitam

mengertikah engkau perbedaan warna jenis gunung-gunung ini?

apakah para ahli geologi memperhatikan ini?

itulah jalur-jalur perjalanan isi gunung yang membuat bumi menjadi kokoh

mereka berjalan dengan karakteristik perjalanan awan

hingga kau bisa mempelajarinya

lihatlah warna-warna yang berbeda pada manusia

pada tunggangan dan ternak

warna-warna yang mengandung makna, pelajarilah!!!

pelajari agar kau semakin mengasah sensitifitasmu

saat kau mempelajari warna

kemudian timbul rasa takut dihatimu pada Cahaya diatas Cahaya

maka kau meraih keutamaan suatu anugerah

engkaulah Ulama

keutamaan yang engkau miliki karena engkau memahami

Allah, sumber dari segala Cahaya adalah Maha Mulia dan Maha Pengampun

Orang Paling Jahat

albaqarah_114

dan siapakah yang lebih jahat dibandingkan orang yang menghalanghalangi beribadah pada Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkan mesjid? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalam mesjid, kecuali dengan rasa takut kepada Allah. mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

 Mesjid

QS 2 : 114

 

Asyik kan kalau kita bisa tentram beribadah di mesjid, nah kalau gak ada mesjid?

Pada tahun-tahun awal Rasulullah berdakwah, kaum Muslimin tidak dapat melaksanakan ibadah di Mesjidil Haram. Orang-orang yang tidak beriman melarang dan mencegah mereka beribadah di mesjidil haram. Para sahabat Rasulullah jika mau shalat pergi bersembunyi ke bukit-bukit.

Rasulullah sangat ingin shalat di mesjidil haram, karena merupakan rumah ibadah pertama di muka bumi. Mesjidil Haram dibangun atas perintah Allah. Kerinduan shalat di mesjidil haram membuat Rasulullah nekad shalat di Mesjidil Haram meski mendapat gangguan dan ancaman. Rasulullah juga sering dihalang-halangi melakukan shalat disana.

Melihat fenomena ini Allah menurunkan QS 2:114 yang menegaskan bahwa orang yang paling jahat adalah mereka yang melarang terlaksananya ibadah. Dalam surat tersebut Allah mencontohkan peristiwa masalalu saat terjadi penghancuran rumah ibadah dan pengusiran.

Orang-orang jahat yang dimaksud ayat tersebut diantaranya Nebukadnezzar yang melarang orang-orang Yahudi beribadah dan mengusir kaum Yahudi dari palestina,  Sebagaimana Kaisar Romawi Titus yang melakukan hal yang sama seperti Nebukadnezzar, Mereka melarang terselenggaranya ibadah di tempat-tempat ibadah

Hasil Baca Tafsir an Nasafiy (Iqra 1-5)

hari ini memulai kedua kali membaca tafsir an nasafiy…… dengan urutan turun …… waktu pertama dengan urutan surat …… maksud dan tujuannya untuk semakin memahami kondisi saat wahyu turun …..

membaca surat al ‘alaq aja udah dapet banyak hikmah

1. Tentu saja, awali segala sesuatu dengan bismillah, menyebut nama Allah, atas dasar Allah, karena Allah, terutama saat baca …. memohon pada Allah menurunkan berkahNya, membaca menurut kacamata Allah dan bukan kacamata manusia.

Kenapa harus membaca dengan kacamata Allah?

2. karena justru dengan membaca memakai cara pandang Allah lah, maka permasalahan yang membelit manusia dan kemanusiaan akan terselesaikan, secara gitu yah Allah lah yang menciptakan manusia.

nah di ayat 1 Allah ga bilang Allah menciptakan apa, diayat 2 dibilang khusus manusia, ini menunjukkan keutamaan manusia. Kok manusia segitu pentingnya sih?

kata Imam nasafiy, manusia menjadi sangat istimewa, karena bagi manusia lah Allah menurunkan al Qur’an …. klo gitu …. klo manusianya menjadi mulia karena yang memikul al Qur’an berarti al Qur’an nya benar-benar spesial juga

adapun di ayat 1, ketika dibilang “Rabb yang mencipta” , tanpa disebut mencipta apa, berarti itu menunjukkan tidak ada pencipta lain selain Allah

3. Allah itu adalah al Akram…. akram itu berarti paling pemurah, paling dermawan, paling mulia.

Imam Nasafiy bilangnya, kalau ke “akraman” Allah itu karena Allah memberi kenikmatan pada siapa saja, Allah sangat bijak…. diantara wujud nyata ke akraman Allah adalah ditundanya siksa bagi mereka yang tidak percaya padaNya, tidak percaya keberadaanNya.

4 dan 5 ….. dua ayat ini semakin mendalam dengan kata “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Allah yang mengajarkan pada manusia, dan jika kesempatan belajar diberikan jangan lupa untuk mencatatnya hingga kita tidak lupa.

ya Allah, berarti saat ngajarin bahasa arab nih, harus selalu ingat bahwa yang sesungguhnya mengajarkan itu adalah Allah,,,, harus senantiasa mendo’akan murid-murid cepat faham dan cinta dengan ilmu yang sedang dipelajarinya

harus selalu ingat bahwa tugas guru adalah mengajarkan cara keluar dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu

berarti dalam pengajaran itu, boleh ga ya kita bikin rekayasa model …. hingga murid-murid benar-benar merasakan gelapnya kebodohan ….. ohhh lalu sang guru datang sebagai pahlawan yang membawa mereka menuju cahaya

heee,,,,, jadi inget film Habibie – Ainun …..

 

Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi (2)

 

  1. Kabar keturunan Sam bin Nuh

Pada keturunan Sam, dalam kurun 1000 tahun terdapat dua kenabian. Pertama Nabi Hud , yang Allah utus bagi keturunan Sam yang mendiami kawasan Arab selatan, keturunan Sam yang telah teridentifikasi sebagai suatu bangsa bernama bangsa ‘aad. Bangsa ‘Aad adalah keturunan ‘Aad bin –‘Uud bin Iram bin Sam bin Nuh.

Nabi Hud sendiri memiliki nasab, Hud putra Shalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Maka bahasa al Qur’an yang kita baca adalah :

“dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan  Tuhan saja.” (Hud : 50)

 

Kedua Nabi Sholeh, yang Allah utus kepada keturunan Sam yang mendiami kawasan utara jazirah Arab. Kaum ini telah teridentifikasi menjadi etnik Tsamud. Tsamud adalah keturunan Sam yang memiliki nasab Tsamud putra Jatsir bin Iram bin Sam.

Nabi Sholeh sendiri memiliki nasab, Sholeh putra ‘Ubaid bin Asif bin Mashikh bin ‘Ubaid bin Jadir bin Tsamud.

Dua kali diutus nabi, namun ternyata perkembangan spiritual menjauh dari keyakinan akan keharusan menyembah satu Tuhan, Allah. Pada masyarakat keturunan-keturunan Sam penyembahan berhala merajalela, hingga tiba zaman Ibrahim as dan tiada satupun manusia yang menyembah Allah sebagai Tuhan.

Masyarakat keturunan Sam mengenal Allah sebagai pencipta, dan untuk menyembahnya diperlukan suatu perantara yang mendekatkan. Perantara-perantara tersebut berupa patung Tuhan, atau pohon, atau patung orang sholeh yang mendekatkan pada Tuhan.

Ibrahim teguh kukuh dalam keimanan kepada Allah, menyerukan penyembahan Allah ke tengah-tengah kaumnya yang dipimpin seorang raja keturunan Ham putra Nuh. Kaum yang menyembah patung-patung pahatan dari batu, dan pemahat utamanya adalah Azar, ayah Ibrahim.

Azar ayah Ibrahim dipanggil juga Tarikh adalah putra Nakhur Bin Sarugh bin Arghu bin Falagh bin Ghabir bin Syalakh bin Qainan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Peristiwa tidak terbakarnya Ibrahim oleh api teramat dahsyat yang dinyalakan Ibrahim ternyata tidak menghadirkan keimanan sang raja Namrudz dan keimanan massal masyarakat babylon. Hanya seorang ponakan Ibrahim, Luth putra Haran bin Azar yang beriman, juga seorang sepupu perempuan Ibrahim, Sarah yang kemudian di peristrinya.

Tiga orang yang teguh menentang arus masyarakat zamannya, memegang erat hakikat kebenaran yang diyakini, Ibrahim, Sarah dan Luth. Mereka bertiga, berteman rasa kasih sayang dari ayah Ibrahim, dan ayah serta ibu Luth, mengembara dalam pelarian mempertahankan keyakinan, menyapa negeri dan peradaban. Meskipun Azar, Haran dan istrinya tidak beriman, ketiganya mendampingi putra-putra mereka dalam pengembaraan memperjuangkan kebenaran.

Ibrahim meninggalkan tanah babil, menelusuri arah pesisir barat hingga tiba di utara Syam, dikawasan yang dikenal dengan nama Harran, dan Azar wafat di kawasan ini. Nabi Ibrahim mengidentifikasi penduduk kawasan utara Syam ini adalah keturunan Yafits bin Nuh. Mereka menyembah bintang. Nabi Ibrahim menyeru kaum ini agar beriman dan menyembah Allah semata, tetapi seruan yang tidak bermanfa’at bagi hati, pendengaran dan penglihatan yang tidak mau terbuka.

Negeri Syam yang kini menjadi lima negara : Syiria, Lebanon, Israel, Palestina dan Yordan. Negeri Syam dikenal saat itu sebagai negeri Kan’an. Ibrahim dan Sarah tinggal di kawasan Hebron, adapun Luth mengambil tempat di satu titik di Yordan.

Babylon, Syam, dan Mesir , di masa Ibrahim, adalah negeri negeri yang pemerintahannya dikendalikan keturunan Ham putra Nuh, adapun rakyatnya bercampur antara putra Sam dan Ham.

 

  1. Kabar Keturunan Ham

Pada keturunan Ham, kebudayaan Mesir kuno dan Sumeria adalah maestronya. Seribu tahun berlalu dan tinggalah nama Allah terdengar sayup dan samar.

Pada masyarakat keturunan Ham berkembang berbagai pemikiran dan falsafah spiritualisme religius. Pencarian akan Tuhan hidup ditengah-tengah perkembangan teknologi dan peradaban. Kejeniusan manusia yang terus menerus digempur rayuan iblis untuk sombong akan kedigjayaan.

Ada dua tipikal utama yang menjadi ciri khas keturunan Ham

–          Penyembahan raja digjaya yang sangat berkuasa

–          Penyembahan dewa-dewa dengan representasi utama dewa matahari

 

Sesudah tinggal beberapa saat di Hebron, Ibrahim bersama Sarah mengembara ke Mesir, dan mendapati raja Mesir yang masih mengakui adanya hal yang tertangkap indera yang memiliki kekuasaan atas semesta, berbeda dengan Namrudz yang jejak pengenalan pada Allah Sang Pencipta semesta sudah tidak terdapat sama sekali.

Perjalanan ke Mesir dengan kondisi terkenal sebagai lelaki yang tidak terbakar api. Raja Mesir yang menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Bertamu yang memahat pesan dalam benak sang raja Mesir bahwa Ibrahim dan Sarah berada dalam kebenaran.

Dalam catatan sejarah islam, Raja Mesir saat itu teridentifikasi Thuthis putra Malia bin Kharibta bin Maliq Bin Tadares bin Saba bin Mesir bin Baishir bin Ham bin Nuh. Sang raja menghadiahkan seorang budak bernama Hajar bagi Sarah.

Pengenalan pada Allah tidak serta merta melahirkan penyembahan monotheisme pada Allah semata, meski dalam catatan-catatan hieroglyph yang telah diterjemahkan diceritakan bahwa kebudayaan Mesir antik mengenal Amon sebagai pencipta, tetapi terdapat dewa-dewa lain yang disembah selain Amon.

 

  1. Kabar Keturunan Yafits

Pada keturunan Yafits, kebudayaan Yunani, Eropa dan Cina menjadi ciri utamanya. Dalam sejarah islam tidak banyak ditemukan catatan tentang perkembangan spiritualitas dan religiusitas keturunan Yafits dalam seribu tahun sejak banjir besar surut. Seribu Tahun sejak perahu bertambat digunung Joedy adalah setara dengan 3000 tahun sebelum Masehi.

Para sejarawan dunia barat, mendefinisikan 3000 tahun sebelum Masehi sebagai zaman Perunggu, dan bukti-bukti tertulis belum terlalu banyak didapat.

Adapun dalam perjalanan masa yang terus mendekat hingga zaman Musa, keturunan Yafits banyak terwarnai oleh ragam agama dan pemikiran yang berkembang pada keturunan Ham.

Penulis buku Akhbar Zaman (Berita Masa), Imam Mas’udiy (wafat tahun 346 Hijriyah/960 Masehi) menulis bahwa sesudah Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh wafat, putranya yaitu Cina membuatkan patung emas untuknya. Cina bertawaf mengelilingi patung emas ayahnya untuk menghormatinya dan kemudian hal ini diwajibkan kepada seluruh masyarakat, yang kemudian menjadi cikal bakal agama Cina kuno sebelum agama Budha yang berasal dari India menyebar di Cina (masyarakat India masyarakat keturunan Ham).

 

Bahasa-bahasa dunia

Bahasa yang dipakai manusia sejak zaman Adam hingga beberapa abad keturunan Nuh adalah bahasa Suryani.

Sebelum keturunan Nuh menyebar ke pelosok bumi, mereka tinggal di Babylon atau  kawasan Iraq. Kemudian Qahthan, ‘Aad, Tsamud, ‘Amlaaq, Thasam, dan Jadis yang semuanya merupakan keturunan Sam menjelajah jazirah Arab dan berbicara dengan bahasa Arab.

Bahasa-bahasa keturunan Nuh terdiferensiasi menjadi 72 bahasa utama, yang 37 diantara bahasa-bahasa tersebut ada pada keturunan Yafits, sebagai keturunan Nuh dengan jumlah terbanyak. 18 bahasa ada pada keturunan Sam, dan 17 bahasa pada keturunan Ham.

 

 

part of islamic golden perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700