Jangan tertipu materialisme (Kisah Nabi Hud – Bagian 1)

Kaum ‘Aad

Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, Tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa,  yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.

Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an  menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :

-“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya.

– Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dang ngelantur,  Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan.

– Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian.

– Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung” (al ‘Araf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: “Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya).

“dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : “Orang ini, Hud,  tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum.  dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu?  Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kalian itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya”.

Hud berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku.”

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” (al Mukminun :31-40)

Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi (2)

 

  1. Kabar keturunan Sam bin Nuh

Pada keturunan Sam, dalam kurun 1000 tahun terdapat dua kenabian. Pertama Nabi Hud , yang Allah utus bagi keturunan Sam yang mendiami kawasan Arab selatan, keturunan Sam yang telah teridentifikasi sebagai suatu bangsa bernama bangsa ‘aad. Bangsa ‘Aad adalah keturunan ‘Aad bin –‘Uud bin Iram bin Sam bin Nuh.

Nabi Hud sendiri memiliki nasab, Hud putra Shalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Maka bahasa al Qur’an yang kita baca adalah :

“dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan  Tuhan saja.” (Hud : 50)

 

Kedua Nabi Sholeh, yang Allah utus kepada keturunan Sam yang mendiami kawasan utara jazirah Arab. Kaum ini telah teridentifikasi menjadi etnik Tsamud. Tsamud adalah keturunan Sam yang memiliki nasab Tsamud putra Jatsir bin Iram bin Sam.

Nabi Sholeh sendiri memiliki nasab, Sholeh putra ‘Ubaid bin Asif bin Mashikh bin ‘Ubaid bin Jadir bin Tsamud.

Dua kali diutus nabi, namun ternyata perkembangan spiritual menjauh dari keyakinan akan keharusan menyembah satu Tuhan, Allah. Pada masyarakat keturunan-keturunan Sam penyembahan berhala merajalela, hingga tiba zaman Ibrahim as dan tiada satupun manusia yang menyembah Allah sebagai Tuhan.

Masyarakat keturunan Sam mengenal Allah sebagai pencipta, dan untuk menyembahnya diperlukan suatu perantara yang mendekatkan. Perantara-perantara tersebut berupa patung Tuhan, atau pohon, atau patung orang sholeh yang mendekatkan pada Tuhan.

Ibrahim teguh kukuh dalam keimanan kepada Allah, menyerukan penyembahan Allah ke tengah-tengah kaumnya yang dipimpin seorang raja keturunan Ham putra Nuh. Kaum yang menyembah patung-patung pahatan dari batu, dan pemahat utamanya adalah Azar, ayah Ibrahim.

Azar ayah Ibrahim dipanggil juga Tarikh adalah putra Nakhur Bin Sarugh bin Arghu bin Falagh bin Ghabir bin Syalakh bin Qainan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Peristiwa tidak terbakarnya Ibrahim oleh api teramat dahsyat yang dinyalakan Ibrahim ternyata tidak menghadirkan keimanan sang raja Namrudz dan keimanan massal masyarakat babylon. Hanya seorang ponakan Ibrahim, Luth putra Haran bin Azar yang beriman, juga seorang sepupu perempuan Ibrahim, Sarah yang kemudian di peristrinya.

Tiga orang yang teguh menentang arus masyarakat zamannya, memegang erat hakikat kebenaran yang diyakini, Ibrahim, Sarah dan Luth. Mereka bertiga, berteman rasa kasih sayang dari ayah Ibrahim, dan ayah serta ibu Luth, mengembara dalam pelarian mempertahankan keyakinan, menyapa negeri dan peradaban. Meskipun Azar, Haran dan istrinya tidak beriman, ketiganya mendampingi putra-putra mereka dalam pengembaraan memperjuangkan kebenaran.

Ibrahim meninggalkan tanah babil, menelusuri arah pesisir barat hingga tiba di utara Syam, dikawasan yang dikenal dengan nama Harran, dan Azar wafat di kawasan ini. Nabi Ibrahim mengidentifikasi penduduk kawasan utara Syam ini adalah keturunan Yafits bin Nuh. Mereka menyembah bintang. Nabi Ibrahim menyeru kaum ini agar beriman dan menyembah Allah semata, tetapi seruan yang tidak bermanfa’at bagi hati, pendengaran dan penglihatan yang tidak mau terbuka.

Negeri Syam yang kini menjadi lima negara : Syiria, Lebanon, Israel, Palestina dan Yordan. Negeri Syam dikenal saat itu sebagai negeri Kan’an. Ibrahim dan Sarah tinggal di kawasan Hebron, adapun Luth mengambil tempat di satu titik di Yordan.

Babylon, Syam, dan Mesir , di masa Ibrahim, adalah negeri negeri yang pemerintahannya dikendalikan keturunan Ham putra Nuh, adapun rakyatnya bercampur antara putra Sam dan Ham.

 

  1. Kabar Keturunan Ham

Pada keturunan Ham, kebudayaan Mesir kuno dan Sumeria adalah maestronya. Seribu tahun berlalu dan tinggalah nama Allah terdengar sayup dan samar.

Pada masyarakat keturunan Ham berkembang berbagai pemikiran dan falsafah spiritualisme religius. Pencarian akan Tuhan hidup ditengah-tengah perkembangan teknologi dan peradaban. Kejeniusan manusia yang terus menerus digempur rayuan iblis untuk sombong akan kedigjayaan.

Ada dua tipikal utama yang menjadi ciri khas keturunan Ham

–          Penyembahan raja digjaya yang sangat berkuasa

–          Penyembahan dewa-dewa dengan representasi utama dewa matahari

 

Sesudah tinggal beberapa saat di Hebron, Ibrahim bersama Sarah mengembara ke Mesir, dan mendapati raja Mesir yang masih mengakui adanya hal yang tertangkap indera yang memiliki kekuasaan atas semesta, berbeda dengan Namrudz yang jejak pengenalan pada Allah Sang Pencipta semesta sudah tidak terdapat sama sekali.

Perjalanan ke Mesir dengan kondisi terkenal sebagai lelaki yang tidak terbakar api. Raja Mesir yang menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Bertamu yang memahat pesan dalam benak sang raja Mesir bahwa Ibrahim dan Sarah berada dalam kebenaran.

Dalam catatan sejarah islam, Raja Mesir saat itu teridentifikasi Thuthis putra Malia bin Kharibta bin Maliq Bin Tadares bin Saba bin Mesir bin Baishir bin Ham bin Nuh. Sang raja menghadiahkan seorang budak bernama Hajar bagi Sarah.

Pengenalan pada Allah tidak serta merta melahirkan penyembahan monotheisme pada Allah semata, meski dalam catatan-catatan hieroglyph yang telah diterjemahkan diceritakan bahwa kebudayaan Mesir antik mengenal Amon sebagai pencipta, tetapi terdapat dewa-dewa lain yang disembah selain Amon.

 

  1. Kabar Keturunan Yafits

Pada keturunan Yafits, kebudayaan Yunani, Eropa dan Cina menjadi ciri utamanya. Dalam sejarah islam tidak banyak ditemukan catatan tentang perkembangan spiritualitas dan religiusitas keturunan Yafits dalam seribu tahun sejak banjir besar surut. Seribu Tahun sejak perahu bertambat digunung Joedy adalah setara dengan 3000 tahun sebelum Masehi.

Para sejarawan dunia barat, mendefinisikan 3000 tahun sebelum Masehi sebagai zaman Perunggu, dan bukti-bukti tertulis belum terlalu banyak didapat.

Adapun dalam perjalanan masa yang terus mendekat hingga zaman Musa, keturunan Yafits banyak terwarnai oleh ragam agama dan pemikiran yang berkembang pada keturunan Ham.

Penulis buku Akhbar Zaman (Berita Masa), Imam Mas’udiy (wafat tahun 346 Hijriyah/960 Masehi) menulis bahwa sesudah Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh wafat, putranya yaitu Cina membuatkan patung emas untuknya. Cina bertawaf mengelilingi patung emas ayahnya untuk menghormatinya dan kemudian hal ini diwajibkan kepada seluruh masyarakat, yang kemudian menjadi cikal bakal agama Cina kuno sebelum agama Budha yang berasal dari India menyebar di Cina (masyarakat India masyarakat keturunan Ham).

 

Bahasa-bahasa dunia

Bahasa yang dipakai manusia sejak zaman Adam hingga beberapa abad keturunan Nuh adalah bahasa Suryani.

Sebelum keturunan Nuh menyebar ke pelosok bumi, mereka tinggal di Babylon atau  kawasan Iraq. Kemudian Qahthan, ‘Aad, Tsamud, ‘Amlaaq, Thasam, dan Jadis yang semuanya merupakan keturunan Sam menjelajah jazirah Arab dan berbicara dengan bahasa Arab.

Bahasa-bahasa keturunan Nuh terdiferensiasi menjadi 72 bahasa utama, yang 37 diantara bahasa-bahasa tersebut ada pada keturunan Yafits, sebagai keturunan Nuh dengan jumlah terbanyak. 18 bahasa ada pada keturunan Sam, dan 17 bahasa pada keturunan Ham.

 

 

part of islamic golden perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi

Menjejakkan Langkah ke Pelosok Bumi.

Jazirah Arab, jantung dunia tengah, jika kita bersepakat menyebut kawasan asia hingga afrika utara yang terbentang mulai ujung India hingga Turki di utara dan batas barat ujung mesir sebagai dunia tengah.

Dari jazirah arab, persebaran manusia dengan pola radial kiri, persebaran yang membentuk kebudayaan pada daerah persebaran fase kedua

Ada empat teori tentang pusat-pusat persebaran manusia fase kedua :

  1. Teori Armenia, bahwa pusat persebaran manusia fase kedua adalah Armenia dan asia tengah dekat dengan gunung Ararat.
  2. Teori Babylon, menyatakan bahwa di negeri babylon lah pertama kali puncak kebudayaan manusia dibangun
  3. Teori pulau-pulau di laut Mediterania, menyatakan bahwa pusat kebudayaan tertua ada di garis kepulauan-kepulauan sepanjang laut mediterania.
  4. Teori Afrika – Abbysinia, menyatakan bahwa kebudayaan tertua adalah kebudayaan Abbysinia atau Ethiophia.

 

Keempat teori tersebut pada dasarnya tidaklah saling bertentangan, ketika kita membaca dengan seksama pola persebaran manusia di fase kedua, yaitu pola radial kiri, akan ada kesamaan waktu kemajuan budaya pada daerah Ethiophia, Mesir dan Summeria.

Fase persebaran kedua yang dilakukan oleh anak-anak keturunan Nuh, yang selamat dari banjir besar yang terjadi di zaman itu.

 

Demografi Etnik-Etnik

Nuh dalam rombongan 80 orang menempati kampung delapan puluh dan memulai kehidupan baru. Kampung Delapanpuluh terletak di kawasan Messopotamia atau Iraq. Putra-putra Nuh yang ikut, Sam, Ham, dan Yafits memasuki perahu bersama istri-istrinya, dan dari mereka bertigalah manusia diseluruh dunia berketurunan.

Sam, istrinya bernama Sulba putri Batawil bin Mahwila bin Hanukh bin Qabil bin Adam. Putra-putra Sam adalah : Arfakhsyad , etnik Arab, dan etnik Yahudi (Bani Israil) adalah keturunan Arfakhsyad. Putra-putra Sam yang lainnya ‘Ailam, al Yafar atau Asyur , Laawidz dan Iram, beberapa nabi dari garis keturunan Iram.

Ham, istrinya bernama Nahliba putri Marib Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Ham memiliki putra-putra : Kusy, Quth, Yabshir atau Baishir dan Kan’an.

Kusy putra Ham, menikahi Qarnabil putri Batawil bin Tursi bin Yafits, dari pasangan ini lahir nenek moyang bangsa Abbisynia, Sind dan Hind.

Adapun Quth putra Ham, menikahi Bakhta putri Batawil Bin Tursi bin Yafits. Dari mereka terlahir nenek moyang suku Barbar.

Adapun Yabshir dan Baishir adalah nenek moyang bangsa Mesir. Mishr, anak Yabshir sedang duduk bersama ayah dan kakek yang dalam keadaan transisi antara tidur dan sadar. Nabi Nuh memanggil Ham dan keturunannya, tak satupun menjawab panggilan Nuh, kecuali Mishr, karena itu, Nuh mendo’akan Mishr bahwa kelak mendiami negeri yang subur dan diberkahi.

Adapun Kan’an putra Ham menikahi Artila putri Batawil Bin Tursi bin Yafits, dari mereka terlahir nenek moyang bangsa-bangsa hitam seperti Nubah, Fazan, Zenk, Zaghawah, dan seluruh bangsa kulit hitam.

Yafits putra Nuh, istrinya bernama Arbasisah putri Marazil Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Yafits dikaruniai putra-putra, yaitu :

  1. Kumir atau ‘Umir atau Gomer,
  2. Hawan atau Yawan atau Yunan,
  3. Tubal atau Qutubal,
  4. Magog,
  5. Masyih atau Kasyih,
  6. Tursi atau Thabrasy atau Tharaqi.

Dalam riwayat israiliyat ditambah : Madai, sehingga berjumlah 7 putra

Imam Baihaqi menambahkan ‘Alajaan, sehingga berjumlah 8 putra

Dan Ibnu Sa’id menambah Saubil sehingga berjumlah sembilan

Dan seorang putri bernama Shabaka.

 

Anak cucu Nuh inilah yang kemudian memenuhi bumi dan membangun kota-kota pusat peradaban sesudah banjir besar yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali mereka yang turut dalam perahu Nuh.

 

  1. Kota-kota yang dibangun generasi terdahulu keturunan Sam bin Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun oleh keturunan Sam bin Nuh

–          Kawasan Yaman, keturunan Iram putra Sam Bin Nuh yang pertama kali membangun kawasan ini

–          Syahr, kota terletak di negara Oman sekarang, merupakan pusat kerajaan pertama yang berdiri sesudah banjir besar, negerinya keturunan ‘Aad putra ‘Ewash bin Iram bin Sam bin Nuh

–          Kota Shan’a, dibangun Sam bin Nuh saat berkelana mencari kawasan yang suhu nya sedang tidak panas dan tidak dingin, dan ditemukanlah olehnya daerah Shan’a dan dibangunlah kota.

–          Kota Yatsrib, yang sekarang dikenal dengan nama Madinah kota nabi Muhammad, dibangun oleh Yatsrib putra Qaniyah Bin Mahlail bin Sam bin Nuh.

–          Damaskus, ibu kota Syiria, dibangun oleh Damaskus putra Qani Bin Malik bin Arfakhsyad Bin Sam Bin Nuh.

–          Anthakiya, diberi nama dari Anthakiya putri Rum bin al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Hiraqla, salah satu daerah di kekaisaran romawi, yang dinami demikian dari Hiraqla putri al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Kota Bawan, dibangun oleh Bawan bin Iran bin Sam bin Nuh

–          Wabar, kota yang dibangun oleh Wabar putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Jurjan, kota yang dibangun oleh Jurjan putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Khurasan, kota yang kemudian berkembang menjadi kawasan membentang antara Afghanistan dan Iran. Keturunan Asyur putra Sam Bin Nuh lah yang pertama kali membangun kawasan ini.

–           Kota Samira, yang sekarang dikenal Ray, dahulunya pernah dijadikan sam bin Nuh tempat tinggal.

–          Azerbijan, diberi nama dari Azerbijan putra Iran Bin al Aswad bin Sam Bin Nuh

–          Asfahan, dinamai dari Asfahan putra Laawidz bin Sam bin Nuh.

–          Faris, daerah luas di timur utara Iraq, yang dinamai demikian dari Faris putra Madyan bin Iram bin Nuh. Meski orang-orang Persia enggan mengakui nasab ini.

 

  1. Kota-kota yang dibangun oleh keturunan Ham putra Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Ham adalah :

–          Afrika, nama benua berasal dari Fariq putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Fariq menjelajahi daerah selatan dan barat Mesir untuk menyaingi Mesir saudaranya yang mengusai daerah yang telah ditempati keturunan Yabshir sebelumnya.

–          Mesir, dinamai demikian dari nama Mesir putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Mesir meneruskan kepemimpinan ayahnya Yabshir.

–          Manfu, kota pertama yang dibangun di Mesir, dibangun oleh Yabshir Bin Ham bin Nuh. Manfu dalam bahasa Qibti dieja Mafih yang artinya tigapuluh, karena Yabshir datang bersama keturunannya berjumlah 30 orang.

–          Palestin, diambil namanya dari Palestin putra Kuslukhim bin Shidqiya bin Kan’an Bin Ham bin Nuh.

Ada yang berkata bahwa Palestin dinamai dari Palestin putra Sam bin Iram bin Sam bin Nuh.

–          Asfi, di sekitar Marokko, dibangun keturunan-keturunan Ham yang kalah berperang dengan keturunan Sam.

–          Ka’bar, ibu kota Abbysinia atau Ethiopia dibangun Habsy putra Kusy Bin Ham bin Nuh

 

  1. Kota-kota yang dibangun keturunan Yafits

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Yafits :

–          Andalus, kawasan yang membentang dari negara Spanyol dan Portugal  hingga beberapa negara Afrika utara, Maroko, al Jazair, dan Tunisia. Kawasan yang dibangun oleh Andalus putra Tubal bin Yafits bin Nuh.

Cucu Andalus, Isyban (Spain, Spanyol) putra Thuthis bin Andalus bin Tubal bin Yafits bin Nuh membangun banyak kota di kawasan ini, sehingga nama Spanyol pun masyhur.

–          Negeri Frank, yaitu kawasan Eropa Barat tengahmulai dari batas Prancis Spanyol hingga ujung Yunani, kawasan yang pertama kali dikembangkan oleh Frank atau dalam ejaan arab Afranjah keturunan Yafits.

–          Galicia, satu kota di spanyol utara, Galicea atau dalam ejaan arab Jalaliqah adalah putra dari Yafits bin Nuh.

–          Tharaqi, kota antik di timur Konstantinopel atau Istanbul, dinamai Tharaqi sesuai pendirinya yaitu Tharaqi putra Yafits.

–          Yunani, sebuah kebudayaan klasik yang sangat besar yang secara teritorial membentang di Eropa Tengah hingga batas Timur. Dinamai Yunani dari Yunan putra Yafits. Bangsa Romawi klasik adalah keturunan yunan juga. Adapun bangsa Romawi yang membangun kekaisaran Romawi beberapa abad sebelum kelahiran nabi Isa as. Adalah keturunan Iyas putra Ishaq putra Ibrahim. Iyas menikah dengan putri pamannya, Isma’il.

–          Cina, kawasan yang membentang luas, negeri sungai subur dengan ditutupi padang pasir. Kawasan yang pertama kali dibangun oleh Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh, kemudian dinamai Cina yang dalam bahasa arab di eja Shin sesuai dengan nama Shin putra Saubil bin ‘Amur Bin Yafits yang menjadi raja pertama. Pengembangan yang dilakukannya adalah pertambangan emas dan industri. Cara menambang emas yang dikembangkan Shin menyebar dan menjadi sumber kemakmuran rakyat Cina, hingga tatkala Shin wafat, dibuatkan patung emas untuk Shin.

 

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa etnis-etnis Eropa adalah antara keturunan Yafits dan  Sam. Bangsa-bangsa Afrika baik yang berkulit agak terang atau berkulit hitam adalah keturunan Ham. Bangsa-bangsa timur adalah keturunan Yafits. Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

Manusia terus berkembang dan pergaulan antar etnik yang sempat saling menjauh kemudian berbaur dan bercampur kembali. Baik pergaulan yang bersifat positif seperti ekspedisi ilmiah, perdagangan atau mencari penghidupan yang lebih baik.

Adapula pergaulan yang bersifat negatif seperti penaklukan, monopoli dan penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya.

Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

part of Islamic Golden Perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Dari Adam ke Nuh

Idris adalah turunan ke enam Adam dari Syits, yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, Ia adalah yang pertama memintal benang dan menjahit pakaian, ia pula yang pertama pula mengenakan pena untuk menulis dan mengajarkan, diantaranya menulis dan mengajarkan wahyu, padanya diturunkan 30 lembaran-lembaran suci. Idris pun sangat tertarik mempelajari ilmu astronomi dan matematika. Ditenggarai Idris ini yang disebut dalam kebudayaan Yunani kuno sebagai Hormus. Kebijakan Idris yang lain adalah menjadikan garis patriarkal keturunan Qabil sebagai budak.

Pada garis patriarkal kita dapat mengatakan keturunan Adam selain dari Syits terputus seiring dengan zaman, dan ilmu nasab ini termasuk ilmu yang terlupakan keturunan Adam, kecuali oleh sedikit saja.

 

Kenabian dan sistem ritual

Adam diturunkan ke bumi dalam kondisi psikologis terusir karena berbuat kesalahan. Beberapa saat setelah turun ke bumi, Adam menangis dan memohon pengampunan, tidak makan selama 40 hari, tidak mendekati Hawa selama 100 tahun.  Kemudian Allah mengajarkan suatu do’a pada Adam : “Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah zhalim pada diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, maka kami termasuk kaum yang merugi”

Adam kemudian diperintahkan membangun ka’bah dengan permata merah dari Surga, berthawaf dan shalat sebagaimana yang dilaksanakan di sekeliling ‘arsy. Kemudian diperlihatkan manasik haji. Sepanjang hidupnya Adam berhaji 40 kali, di mulai dari India dengan berjalan kaki.

Adam dibekali dengan 21 lembaran-lembaran suci, didalamnya terdapat keterangan tentang halal dan haram, diantaranya haramnya bangkai, darah dan daging babi. Dalam lembaran-lembaran suci diperintahkan pula shalat 50 raka’at dalam sehari.

Setelah beranak cucu banyak, Allah mengenalkan suatu sistem peringatan ditengah umat manusia, yaitu sistem kenabian, suatu sistem yang merupakan unsur utama dalam keyakinan akan adanya wahyu Tuhan.

Adam adalah nabi utusan pertama, menyeru di tengah-tengah anak keturunannya yang hingga Adam wafat telah berjumlah 4000 orang.

Qabil yang melarikan diri ke Yaman kemudian tergoda iblis dan melakukan ritual penyembahan api. Adapun penyembahan berhala di mulai saat Yardu ayah Idris menjadi pemimpin kaum. Anugerah kenabian terdekat sesudah Adam ada pada Syits dan kemudian Idris. Pada Syits, Allah menurunkan 50 lembar dari lembaran suci dan pada Idris menurunkan 30 lembaran suci.

 

Sistem Keuangan

Dalam sejarah dunia diperkenalkan, bahwa sistem tukar menukar baranglah yang pertama kali berlaku dalam interaksi ekonomi manusia. Namun dalam keterangn sejarawan Muslim disebutkan bahwa sistem dinar dan dirham telah diajarkan Allah kepada Adam.

Iblis pun bersumpah bahwa dinar dan dirham adalah cara yang paling jitu dalam menyesatkan manusia dan membuatnya terhalang dari meyakini kebenaran.

 

Kejahatan pidana

Kejahatan pidana pertama adalah pembunuhan oleh sebab persaingan mendapatkan istri. Dalam zaman yang lebih kemudian, permasalahan wanita dan cinta termasuk permasalahan yang membelit ummat manusia bahkan hingga menyebabkan perang.

Habil dibunuh Qabil, dan kemudian Qabil melarikan diri dan melarikan saudarinya ke Yaman. Qabil beranak cucu di Yaman, dan melakukan tindak-tindak pidana lainnya, perzinahan, minum-minuman keras dan kerusakan di muka bumi. Adam menyaksikan kerusakan-kerusakan yang terjadi di tengah anak cucunya

 

Wasiat Kepemimpinan

Setiap bangunan komunitas membutuhkan kepemimpinan, lebih-lebih dalam menunaikan tugas sebagai pengelola bumi, maka adanya figur pemimpin dan sistem kepemimpinan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Komunitas yang terbangun telah terbagi dua sejak zaman Adam, ada mereka yang menjalankan apa-apa yang dijalankan oleh Adam, dan ada yang mengambil sikap berlawanan dengan apa-apa yang dijalankan Adam

Beberapa saat sebelum Adam wafat, Adam mewasiatkan amanah kepemimpinannya kepada Syits. Kemudian Syits mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Anwasy. Anwasy mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Qainan, dari Qainan ke putranya Mahlail, dari Mahlail ke Yardu, dan dari Yardu ke putranya Khanukh atau Idris.

Yardu masih hidup ketika Idris diangkat kelangit, dan Indris mewasiatkan kepemimpinan kepada Mattusyalakh.

 

Menuju zaman Nuh

Lamik Bin Mattusyalakh, turunan ke delapan Adam dari Syits menghadapi tantangan zamannya, sejak zaman kakek buyutnya, Yardu, bibit penyembahan berhala telah tersemai. Disisi lain banyak keturunan Qabil menyembah api dan juga menyebarkan musik dan nyanyian agar manusia terlena. Demikian gambar kehidupan menuju era Nuh yang didapat dari sumber-sumber sejarah islam.

Adapun dalam riwayat sejarah Persia, disebutkan bahwa buyut Mahlail dari putra selain Yardu menjadi raja, raja tersebut bernama Thomhurutsa. Thomhurutsa menguasai iblis dan menjadikannya budaknya. Memerintah dengan keadilan, mendirikan kota-kota dan mengolah bulu domba menjadi kain wol. Thomhurutsa yang pertama kali menulis dengan bahasa Persia. Thomhurutsa ta’at kepada Allah, dan menghadapi tantangan masyarakat yang semakin mencintai seni memahat menyembah hasil pahatannya dan mengatakan itu semua sebagai cara agar dekat dengan Tuhan. Di zaman Thomhuritsa lahir Biyaurasib yang merupakan cikal bakal kaum Shabi’in.

Setelah Thomhurutsa wafat, keponakannya, Jamsyid meneruskan kepemimpinan kerajaan. Jamsyid mengatur kehidupan sosial dan ekonomi dengan cermat. Jamsyid adalah raja yang hidup lebih lama dari rakyatnya. Usia manusia saat itu telah berkurang dari usia Adam, hanya beberapa saja yang masih berusia seperti usia Adam atau mendekati, diantara Jamsyid yang hidup hingga 700 tahun.

Tahun pertama hingga tahun kelima puluh pemerintahnya jamsyid hanya menyerukan satu pekerjaan industri yaitu pembuatan aneka senjata dan mesin-mesin industri.

Tahun kelima puluh hingga seratus pemerintahannya, mulai mengembangkan industri pemintalan serat dan benang, mengembangkan industri tekstil dengan aneka warnanya.

Kemudian di tahun 100 hingga 150 masanya, Jamsyid melakukan klasifikasi pekerjaan menjadi empat : prajurit, ilmuwan, penulis dan para pekerja industri dan pertanian. Dari setiap klasifikasi pekerjaan itu Jamsyid mengambil satu ahlinya sebagai menteri baginya.

Dalam selang waktu ini Jamsyid juga memperkenalkan sistem cap untuk beberapa jenis tanggung jawab. Untuk urusan perang capnya bertuliskan : Lembut dan Sopan. Untuk urusan keuangan capnya bertuliskan : Kemakmuran dan Keadilan. Untuk urusan pos dan surat menyurat capnya bertuliskan : kejujuran dan amanah. Untuk urusan hukum dan keadilan capnya bertuliskan : berpolitik dan berbagi.

Dari tahun 150 hingga tahun 250 Jamsyid memerangi komunitas setan hingga mendapatkan kemenangan, Kemudian dari tahun 250 hingga tahun 316 Jamsyid mempekerjakan komunitas setan untuk pekerjaan industri dan pertambangan. Penemuan paling mutakhir adalah roda besi yang dipergunakan untuk kendaraan, yang kemudian kendaraan tersebut dapat terbang menempuh jarak Dunbawan dekat Thabrastan ke Iraq dalam waktu satu hari. Hari tiba kendaraan di iraq diperingati selama 5 hari berturut turut, dan dihari ke enam Jamsyid mengumumkan bahwa semua apa yang dikerjakannya selama 316 tahun diridhai Allah, dan Allah memberikan balasan berupa dihilangkannya cuaca sangat panas, dihilangkannya cuaca sangat dingin, dihilangkannya kemandulan, dihilangkannya hal-hal sulit dan juga dihilangkannya rasa dengki.

Manusia hidup 300 tahun sesudah itu tanpa ditimpa satupun musibah, hidup dalam cinta kasih dan perdamaian.  300 tahun yang melenakan yang berujung Jamsyid mengaku dirinya Tuhan. Pengakuan yang menimbulkan peperangan dan peperangan itu berakhir dengan kemenangan Biyaurasib.

Biyaurasib menjadi raja ditengah-tengah masyarakat yang mewarisi kemajuan industrial di zaman Jamsyid dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat, yang pada gilirannya membuat sistem ritual yang berlaku di masyarakat adalah pensakralan patung orang-orang yang berjasa bagi kemanusiaan dan bangunan peradaban.

Dalam kemajuan yang seakan tak tertahan, komunitas garis keturunan Adam dimana kenabian menyertainya, hidup bersama masyarakat dan turut dalam setiap perubahan yang terjadi.

Mari kita  memperhatikan kembali garis keturunan Adam dimana beberapa diantara mereka mendapat tugas kenabiaan, yaitu garis Adam – Syits – Anwasy- Qainan – Mahlail- Yarud – Idris – Mattuwasylakh – Lamik dan kemudian Nuh. Jumlah manusia saat Lamik lahir kurang lebih 4000 orang, dan jika menghitung pola pertambahan jumlah penduduk sejak zaman Adam, maka pada zaman Nuh jumlah manusia ada di kisaran angka 10 ribu jiwa.

Sistem klasifikasi penduduk dengan garis patriarkal masih terus berlaku hingga zaman Lamik, yaitu garis patriarkal Qabil menempati daerah pesisir, dan garis patriarkal Syits merupakan penduduk pegunungan. Batas pemisah diantara keduanya semakin kabur tatkala diriwayatkan bahwa beberapa saat sebelum Lamik ayah Nuh wafat, tiada lagi yang menghuni daerah pegunungan kecuali sedikit saja, diantaranya Nuh.

Kota-kota dibangun semakin mendekati pesisir, percampuran pergaulan dari setiap garis patriarkal terjadi dan setan pun berinteraksi leluasa dengan manusia.

Nuh hadir dalam masyarakatnya bukan sebagai ningrat secara ekonomi dan kekayaan, ia adalah tukang kayu yang kemudian menerima amanah wahyu kenabian.

Nuh adalah putra Lamik, adapun ibunya adalah Qinusha putri dari Barakil bin Mahwil Bin Khanuh bin Qabil. Nuh lahir 126 tahun sesudah Adam wafat. Nuh diberikan usia yang hampir sama dengan usia Adam, bahkan ada yang menyimpulkan bahwa usia Nuh melebihi usia Adam.

Nuh memulai tugas memberikan kabar gembira dan peringatan kepada kaumnya saat berusia 53 tahun hingga usianya 950 tahun, dan di setiap abad yang dilewati Nuh mendapati bahwa disetiap abad keturunan yang lahir berbuat lebih buruk dari nenek moyangnya.

Kaum Nuh mendustakan Nuh dan menyakitinya, hingga mereka mengira berhasil membunuh Nuh. Ketika Nuh tersadar, mensucikan dirinya kemudian kembali menyeru kaumnya siang dan malam tak kenal lelah, dan selalu mendapatkan tantangan dan disakiti kaumnya hingga mereka mengira telah membunuh Nuh. Ketika Nuh tersadar, mensucikan dirinya kemudian kembali menyeru kaumnya siang dan malam tak kenal lelah.

Demikian berulang, dan do’a Nuh bagi generasi awal yang ia berdakwah ditengah-tengahnya adalah agar kaumnya ini diampuni karena mereka tidak tahu. Namun zaman berganti zaman hingga 9 abad dan sikap membangkang dan mendustakan malah semakin hebat, sehingga Nuh berdo’a : “Wahai Tuhanku janganlah engkau tinggalkan di muka bumi satu orang pun yang merupakan bagian dari orang-orang kafir”

Maka sesudah 9 abad berlalu itu Allah membuat wanita-wanita kaum Nuh mandul, kemiskinan mulai merasuki masyarakat, dan Nuh tetap berusaha menyeru agar kaumnya beristighfar pada Allah hingga Allah kembali menganugerahkan kesuburan dan kekayaan.

Tetapi takdir Allah telah tertulis tiada akan ada lagi yang beriman kecuali mereka yang telah beriman dan Allah memerintahkan agar Nuh membuat perahu tiga lantai, dengan panjang 480 meter, lebar 240 meter dan tinggi 120 meter.

Perahu yang dipersiapkan sebagai antisipasi atas banjir besar yang akan menenggelamkan seluruh ummat manusia yang ada saat itu. Tanda nya adalah Oven zaman Adam yang mengeluarkan air dan Ka’bah yang terbuat dari batu ruby merah surga diangkat ke langit ke empat. Adapun Hajar Aswad di selipkan di gunung Abu Qubais dan tetap berada disana hingga Ibrahim membangun ka’bah kembali.

Nuh masuk bersama orang-orang yang beriman dan hewan-hewan yang diperintahkan Allah untuk dibawa. Manusia berjumlah 80 orang termasuk Nuh, menempati lantai teratas. Hewan-hewan buas dilantai kedua, dan hewan jinak dan burung dilantai dasar. Yang terakhir masuk perahu adalah keledai, dan Iblis menggantung di ekornya. Keledai tersebut sulit masuk, kemudian Nuh berkata : “masuklah engkau meski setan bersamamu” maka Iblis dapat turut serta di perahu Nuh.

80 orang manusia beriman termasuk 3 anak Nuh, Sam, Ham dan Yafits. Adapun satu anak lainnya, Kan’an atau Yam tidak mau memasuki perahu dan termasuk golongan kafir. Terdapat pula seorang penyihir penguasa Mesir Philium dalam perahu Nuh.

Turunlah hujan 40 hari, airnya separuh dari langit dan separuh dari bumi. Dan Perahu Nuh mulai berlayar menjelajahi bumi pada 10 Rajab. Banjir bumi berlangsung sangat lama, hingga perahu Nuh mengelilingi bumi dan kembali kedaerah sekitar Jazirah Arab, mengelilingi tanah Haram mekah selama satu minggu kemudian berlabuh di gunung Jody. Air pun surut, dan Nuh beserta seluruh penumpang keluar dari perahu pada tanggal 10 Muharram, maka dari itu di tanggal ini manusia berpuasa.

Berakhirlah fase pertama kehidupan manusia, dan yang hidup tersisa adalah 80 orang beriman pewaris kehidupan bumi, mereka memulai era baru yang dimulai dari perkampungan yang dinamai perkampungan Tsamanun atau kampung delapan puluh.

Maka apakah mereka yang mendustakan Nuh seperti apa yang dikabarkan al Qur’an itu memiliki kekuasaannya?

 

“Maka berkata para ilmuwan _para bijak cendekia dari kaum Nuh, yaitu mereka yang ditutup penglihatan mata dan hatinya dari menerima wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan_ mereka berkata : “Wahai Nuh, kami tidak dapat melihat keistimewaan apapun darimu, engkau hanyalah manusia seperti kami. Dan saat kami memperhatikan orang-orang yang mengikutimu adalah mereka yang termasuk golongan rendah diantara kami, mereka yang berpikiran sempit. Wahai Nuh dan pengikut Nuh, Sungguh kami tidak melihat kalian memiliki keutamaan diatas kami. Bahkan kami menganggap kalian para pendusta ilmu pengetahuan” (Hud : 27)

 

Fase pertama kehidupan anak Adam berkhir disini. Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya meletakkan kembali asal mula peradaban yang kelak terus berkembang pesat hingga hari ini, ada hal-hal yang jelas jejaknya ada yang samar bahkan nyaris tak berjejak.

Menjadi berbudaya adalah mempergunakan akal budi karunia Tuhan dengan sebaik-baiknya, menghindari sifat yang dipertanyakan al Qur’an :

 

“dan apa saja yang diberikan kepada kamu di dunia ini, Maka itu adalah ke-nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka mengapa kamu tidak menggunakan akal budi?” (al Qashshash : 60)

 

“dan Dialah Allah yang mengjadikan kehidupkan dan menjadikan kematian, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka mengapa kamu tidak mempergunakan akal budi?” (al Mu’minun 80)

 

selengkapnya dapat dibaca pada Islamic Golden Perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Kisah Nabi Adam (yang tidak versi anak2… renungan orang dewasa)

Adam, dari bumi, diangkat kelangit, kembali ke bumi

Adam tercipta dari tanah bumi, dengan berbagai karakteristik tanah yang terdapat di dalam bumi. Dari sekian banyak malaikat yang diperintahkan Allah untuk mengambil tanah bumi sebelum penciptaan Adam, malaikat pencabut nyawa lah yang berhasil membawa tanah bumi ke langit.

Allah telah dengan tegas menyebutkan tujuan penciptaan Adam, yaitu untuk menegakkan sistem ritual menyembah Allah SWT.  Kemudian menetapkan fungsi keberadaan yaitu sebagai pengelola bumi (Khalifah), dan Allah menetapkan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik bekerja dan berkontribusi. Tiga hal ini tidak hanya melekat pada Adam, tetapi juga melekat dengan erat pada seluruh anak manusia keturunan Adam.

Penciptaan Adam yang terjadi dilangit, di dalam suatu ruang keindahan dan keabadian mengukir kesan mendalam pada manusia akan cita rasa seni dan keindahan, yaitu menghendaki keabadian.

Keabadian adalah hal yang pasti, bahwa semua manusia yang diciptakan Allah adalah abadi. Keabadian manusia adalah fase akhir dari kehidupan kembali-kehidupan kembali yang dialami manusia setelah kematiaannya.

Manusia tercipta dalam keadaan mati, dua unsur yang saling terpisah, unsur materi tanah bumi, dan unsur spirit langit ruh. Tatkala kedua unsur itu bersatu maka terlahirlah kehidupan. Demikianlah yang disebut kematian yaitu terpisahnya unsur materi fisik dan unsur ruh spiritual.

Manusia mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan, kematian saat fisik dan ruh masih terpisah dan kemudian dipersatukan hidup didalam rahim. Kematian kedua saat fisik dalam kubur yaitu alam barzakh dan ruh berada di tempat lain. Beberapa riwayat menyebutkan ruh orang beriman di langit ke empat, dan ruh mereka yang tidak mempercayai Allah dan berbuat jahat berada di lautan.

Setiap unsur materi fisik tertentu adalah pasangan unsur ruh tertentu yang tidak mungkin bertukaran, yang berart konsep reinkarnasi bertentangan dengan ini.

Unsur materi fisik memiliki sifat-sifat nya tersendiri dan unsur ruh spiritual memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Dan dalam kehidupan keduanya berpadu dalam dinamika pribadi manusia mengarungi kehidupan bumi, yang merupakan fase kehidupan ujian, menentukan tempat keabadian, apakah abadi dalam keindahan, atau kah abadi dalam penderitaan.

Adam, di langit, dalam ruang keabadian diberikan beberapa pengalaman :

–          Bahwa Berilmu pengetahuan adalah ciri utama umat manusia, ciri akan keutamaan dan kelebihan atas ciptaan-ciptaan Allah lainnya.

–          Bahwa Bersikap sombong terhadap unsur-unsur materi yang terdapat pada diri, seperti apa yang dilakukan Iblis adalah hal yang dibenci Allah, dan bahwa sikap sombong ini termasuk penghalang utama dalam keta’atan dan keimanan

–          bahwa terlalu cepat menginginkan keabadian memberikan peluang kepada musuh yaitu Iblis melancarkan serangannya yang dapat menghantarkan pada kehidupan keabadian dalam penderitaan.

Dengan bekal-bekal pengetahuan ini, Adam diturunkan ke bumi mengemban tiga kata kunci : Menyembah Allah, mengelola bumi dan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian.

Adam diturunkan ke bumi dan mendarat di pegunungan Hindia, pegunungan tertinggi di dunia, adapun Hawa diturunkan di Jeddah dekat Mekkah, dan keduanya bertemu di padang arafah.

Tim Wallace Murphy dalam what islam did for us menyebutkan bahwa penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir kuno yang sangat tinggi tidaklah menunjukkan perkembangan sesuatu dari yang primitif menuju yang lebih maju, tetapi ia adalah legacy atau warisan.

Jika memperhatikan apa yang terjadi sesudah Adam diturunkan ke bumi, apa-apa yang turut hadir bersama Adam di bumi menunjukkan perpaduan ada hal-hal yang bersifat langsung demikian yaitu Allah hadirkan bagi Adam, dan ada hal-hal yang harus dipelajari oleh Adam.

Zaman Besi

Sejarawan dunia asal Denmark Christian Jürgensen Thomsen (December 29, 1788 – May 21, 1865), mengklasifikasi zaman sejarah menjadi tiga, yaitu : zaman perunggu (bronze age 3000 SM – 1200 SM), zaman besi (iron age; 1200 SM – 300 SM) dan zaman pertengahan (medieval age).

Adapun Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Adam yang kisaran masa hidupnya adalah 6000 tahun sebelum masehi telah memiliki pengetahuan tentang besi dan menggunakannya, dan termasuk alat yang pertama diajarkan pada Adam adalah kapak besi.

Sebagaimana besi menjadi bahan utama dalam membangun benteng penahan Ya’juj dan Ma’juj di masa Dzulqarnain, dan ditenggarai masa Dzulqarnain semasa dengan Ibrahim as (3000 SM). Karena nilai kemanfa’atannya penguasaan teknik pengolahan besi selalu menjadi sorotan, hingga dizaman Daud (1200 SM) penguasaan teknik pengolahan besi termasuk keistimewaan Daud.

 

Pertanian

Pertanian dan peternakan diajarkan Jibril pada Adam dengan seksama, mulai pembibitannya hingga panen. Teknik membajak tanah dengan kerbau telah diperkenalkan sejak masa Adam.

Adapun dalam pembibitan, bibit tanaman budidaya adalah bibit dari surga, yaitu seikat gandum dan 30 jenis tanaman panen.

10 jenis tanaman panen yang cangkangnya harus dikupas, yaitu : kacang walnut, kacang almond, kacang pistachio, kacang tanah, opium, oak, melinjo, kelapa, delima dan pisang.

10 jenis tanaman panen yang memiliki biji inti, yaitu : peach, apricot, pear besar, kurma, sorghum, buckthorn, apel mawar, jujube, bdellium, dan Chamelok.

10 jenis tanaman tanpa cangkang keras dapat dikupas dan tidak memiliki biji inti, yaitu : apel, quince , pear, anggur, berry, buah tiin, limau arab , carob,  timun, dan semangka.

Bangunan Komunitas

Allah menyentuh punggung Adam saat di arafah, dan kemudian setelah itu mulailah masa reproduksi dan regenerasi.

Sebelum masa reproduksi tiba, Allah berkenan memberikan pengalaman lain akan dahsyatnya permusuhan iblis, dan betapa halusnya cara yang dipergunakannya. Hawa diuji dengan wafatnya dua bayi pertama yang terlahir dari rahimnya, mereka diberi nama Abdullah, dan tatkala hamil untuk ketiga kalinya, iblis menggoda bahwa penyebab kematian anak-anak Hawa adalah karena ia memberi nama dengan Abdullah, Iblis meniupkan was-was agar hawa memberi nama anaknya Abdul harits, al Qur’an menyebutkan :

“tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (al ‘Araaf : 190)

Pemilihan nama anak ternyata termasuk hal yang harus diperhatikan, Allah mengkategorikannya sebagai mempersekutukan Allah dalam urusan nama. Dari peristiwa pemberian nama terhadap anak Adam dan Hawa ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa suatu musibah dan keadaan derita dapat menyebabkan berpaling dari Allah dan tidak mempercayai kebesaranNya, padahal kesulitan ataupun kesenangan di dunia adalah ujian, apakah setelah kesulitan atau kesenangan itu tetap beriman pada Allah?

Adam dan Hawa memiliki 40 anak laki-laki dan perempuan, atau 20 pasang kembar, dan Adam wafat saat anak cucu keturunannya berjumlah 4000 orang, yang secara rentang waktu Adam hidup hingga turunan ke 8 yaitu Lamik.

Adam beserta putra-putrinya membangun bangunan komunitas, dengan cara yang dikenal dizamannya. Saling memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, yaitu yang mula-mulanya adalah kulit domba dan singa. Adapun dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Adam diajarkan pula membuat roti dengan peragian dan pengovenan. Oven Adam yang diwariskan hingga zaman nabi Nuh as.

Anwasy cucu Adam dari Syits adalah yang pertama membudidayakan peternakan lebah, dan bertani biji-bijian.

Dalam teknik rumah Adam menggunakan gua sebagai tempat berlindung. Mahlail keturunan ke empat Adam dari Syits yang pertama membangun rumah dan kota-kota pusat peradaban. Hal tersebut dilakukan Mahlail dalam rangka rekayasa demografi agar tidak terjadi kepadatan penduduk. Persebaran dilakukan di empat arah mata angin, dan Mahlail membuatkan kota bagi keturunan Syits di tanah Iraq atau tanah Babil, dimana Mahlail menganggap sebagai tanah terbaik, jauh dari keturunan Qabil terutama dari Anusyil yang tinggal di pesisir pantai. Pada era rekayasa demografis inilah manusia memulai area persebarannya ke Habasyah, Mesir, Syam, Iraq dan Persia.

Di zaman Mahlail pula pertambangan di mulai, dan industri sederhana di mulai. Mesjid-mesjid dibangun, sistem pertanian dan pengairan ditetapkan, peternakan ditertibkan. Mahlail pun menetapkan hukum dan peraturan dan menegakkan keadilan.

Dengan anugerah yang dikaruniakan Allah pada Mahlail, ia berhasil memisahkan komunitas manusia dari setan gentayangan yang hidup dalam komunitas manusia, membunuh setan yang membangkang, hingga tak satupun berani hidup tengah komunitas kota.

Adapun Qabil, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Khanukh dan ‘Adzba, dan mereka menikah dikarunia 3 orang laki-laki, Ghirad, Mahwil, Anusyil dan 1 orang perempuan Mulitsa. Anusyil menikahi saudarinya, dan dikarunia anak bernama Lamik, terutama dari Lamik inilah keturunan Qabil bertambah banyak, dan turut membangun kebudayaan Fir’aun dan para diktator.

Keturunan Qabil dari Anusyil mengembangkan nyanyian, drum dan berbagai alat musik, hingga terlena dalam kesenangan bermusik. Sistem cluster dan larangan bergaul yang ditetapkan Mahlail bagi keturunan Syits dengan keturunan Qabil, dan juga diusirnya setan dari kota-kota keturunan Syits ternyata tidak berhasil membuat keturunan Syits tidak tertarik pada kesenangan bernyanyi dan bermain musik.

Ratusan keturun Syits turun ke pesisir terlena dengan musik dan nyanyian, hingga melampaui batas dan tergoda kecantikan wanita-wanita keturunan Qabil hingga terjerumus dalam perbuatan keji dan minum-minuman keras. Wanita-wanita keturunan Qabil inilah yang pertama kali melakukan tabarruj (riasan berlebihan), dimana Allah melarang istri-istri Rasulullah bertabarruj sebagaimana tabarruj pertama dizaman Mahlail.

“dan hendaklah kamu tinggal di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab : 33)

lengkapnya ada di Islamic Golden Perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700