Memperbaiki Prasangka kepada Allah – Kisah nabi Shalih

Kisah Nabi Shaleh

 

Nabi Shaleh diutus Allah kepada Tsamud. Nabi shaleh adalah nabi kedua setelah Hud yang berbahasa arab dan diutus di tengah-tengah bangsa arab. Jika kaum ‘Aad tinggal di selatan kawasan arab, maka nabi Shaleh mendiami kawasan utara jazirah arabia, antara Hijaz (Mekkah, Medinah, Thaif) dan Syam. Kawasan Al Hijr lembah al Qura.

Dalam perjalanan perang Tabuk, Rasulullah melewati kawasan ini. Rasulullah melarang sahabat untuk memasuki kawasan dan meminum air dari kawasan tersebut. Adapun jika ada keperluan memasukinya maka harus masuk dalam kondisi menangis. Jika tidak masuk dalam keadaan menangis maka akan tertimpa seperti apa yang menimpa Tsamud.

Membaca kisah Tsamud memerlukan berbagai pisau analisa atas apa yang terjadi. Karakter masyarakat Tsamud yang digambarkan Al Qur’an yaitu suatu sikap dan perilaku yang melampaui batas-batas.  Apakah yang dimaksud dengan sikap melampaui batas ini? Saya justru menemukan suatu sikap dan perilaku setengah-setengah. Masyarakat Tsamud adalah masyarakat yang mengikuti selera hawa nafsu mereka. Namun hal itu mereka lakukan dengan sedikit ketakutan pada hal-hal bersifat magic, maka di suatu titik mereka terkadang mengikuti perintah nabi mereka, tetapi tidak mengikuti dengan keta’atan dan totalitas. Mari kita mulai kisah ini dari masa sebelum nabi shaleh diutus ke tengah-tengah mereka.

Kaum Tsamud diberikan usia panjang, bahkan dikatakan lebih panjang dari ‘Aad. Tinggal di  kawasan gunung berbatu menyebabkan kesulitan material bermutu untuk membangun rumah. Berbeda dengan ‘Aad yang bumi mereka mengandung pasir berkualitas tinggi yang memudahkan teknologi bangunan berkembang pesat. Kualitas bangunan yang dihasilkan kaum Tsamud selalu mendahului usia mereka yang panjang. Jika mereka membangun rumah dengan kualitas paling hebat yang mereka sanggup, maka rumah tersebut akan rusak dan roboh sedang usia mereka masih panjang.

Tata kelola kota pun akhirnya dibuat sedemikian rupa. Kantor-kantor pemerintahan, tempat berunding dan menerima tamu berupa istana dibangun didataran yang mudah. Adapun rumah dibangun dibukit dengan teknologi membelah, mengukir batu, mendesain gunung menjadi rumah-rumah.

“(wahai kaum tsamud) : dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti kebudayaan ‘Aad dan memberikan kekuasaan bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (al ‘Araaf : 74)

Kemampuan menaklukan bebatuan dan mendesain gunungbatu menjadi rumah yang nyaman untuk ditempati membuat kaum Tsamud sangat congkak. Mereka merasa paling terdepan dalam teknologi, menemukan suatu cara hidup yang berbeda dari yang dikenal. Seni memahat yang dikuasai dengan baik menghantarkan Tsamud pada penyembahan apa yang mereka cipta dari ukiran batu. Disini kita melihat bahwa hasil karya masterpiece bisa jadi melahirkan kekaguman yang berujung pada penyembahan, hingga dibuat upacara-upacara ritual untuk mengagungkan apa yang dihasilkan.

Teknik memecah batu yang mereka miliki adalah dengan kapak, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang sangat dihormati adalah kekuatan fisik. Terdapat delapan orang yang kemudian mendominasi masyarakat karena kekuatan fisik yang dimilikinya. Dominasi ini merajai segala bidang, semua hal yang terjadi pada kaum Tsamud diukur dari selera delapan orang ini. Maka potensi dahsyat  yang dimiliki sebagian masyarakat lainnya menjadi potensi yang termarginalkan.

Masyarakat Tsamud adalah cerminan masyarakat yang tidak sehat. Masyarakat yang takut kepada segelintir orang. Sikap yang menyebabkan apapun yang dilakukan kedelapan orang itu, benar ataupun salah, tidak ada seorangpun yang berani memperbaikinya. Kekuatan ternyata melenakan, Delapan orang ini senantiasa bersatu padu dalam setiap keputusan dan berbuat sewenang-wenang ditengah masyarakat.

Kaum Tsamud tinggal dikawasan sedikit air, mereka hanya memiliki satu sumber air. Maka peraturan yang berlaku adalah pemenuhan kebutuhan 8 orang jawara dan kemudian barulah giliran masyarakat lainnya.

Masyarakat yang sakit, sakit dari sisi psikologis, sakit dari sisi ritual, sakit secara sosial. Kepada masyarakat Tsamud yang demikian kemudian Allah mengutus nabi Shaleh.

“dan kepada Tsamud, (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah bumi dan menjadikan kamu dapat mengelolanya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat dan juga mengabulkan do’a HambaNya.” (Hud :61)

 

Sebagai masyarakat sakit yang diliputi rasa takut pada apa yang dinamai kekuatan dan kekuasaan, disebabkan delapan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi sekehendak mereka, maka syi’ar yang dikumandangkan Shaleh adalah bahwa Allah adalah pemilik Kasih Sayang yang mengabulkan do’a-do’a. Shaleh datang dengan harapan keluar dari segala macam belenggu rasa takut.

Shaleh sebelum diutus menjadi Rasul adalah pemuda kuat yang menjadi tumpuan masa depan Tsamud. Kebaikannya dicintai delapan pemimpin dan juga disukai kaum yang termarginalkan. Akan tetapi kaumnya ingkar tatkala Shaleh memulai seruan agar kaumnya mempercayai konsep kenabian, bahwa ia adalah manusia yang diutus Allah untuk menyeru agar mereka hanya menyembah Allah jua, dan tidak menyembah selainNya.

“kaum Tsamud berkata: “Hai shaleh, Sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara Kami yang Kami harapkan, Mengapakah kamu melarang Kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak Kami? dan Sesungguhnya Kami betul-betul dalam keraguan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami, agama yang meragukan.” (Hud : 62)

“Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku anugerah kenabian dari-Nya, Maka siapakah yang akan menolong aku dari siksa Allah jika aku mendurhakai-Nya. sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian” (Hud 63)

Para pemuka kaum berunding. Jika benar Shaleh utusan Allah yang menciptakan semesta, maka semestinya Shaleh datang dengan keajaiban-keajaiban. Pandangan kaum Tsamud terhadap Allah adalah sama seperti kaum ‘Aad. Allah adalah pencipta semesta yang tidak melakukan apapun sesudahnya, urusan bumi menjadi urusan manusia, maka manusia bebas menyembah apa saja yang dikehendakinya, terutama menyembah hasil karyanya sendiri.

Menjelang hari raya yang mereka miliki, Pemuka Tsamud menantang Shalih agar datang dengan keajaiban-keajaiban. Dan mereka pun akan mencoba meminta keajaiban datang pada mereka. Jika Tuhan-tuhan mereka mengabulkan maka merekalah yang berada dalam kebenaran. Tetapi jika Shalih yang datang dengan keajaiban berarti Shalih yang benar dan mereka pun akan percaya dengan kenabian Shalih.

Do’a kaum Tsamud pada Tuhan-tuhan mereka adalah do’a yang sia-sia. Lalu mereka menyaksikan mukjizat Allah bagi nabi Shaleh, yaitu unta merah muda yang keluar dari dalam batu.

“Hai kaumku, Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat yang menunjukkan kebenaran untukmu, sebab itu biarkanlah Dia Makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa siksa yang dekat.” (Hud : 64)

“dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah Dia Makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al ‘Araaf:73)

 

Kesepakatan telah dibuat, para pengaju tantangan mesti mempercayai konsep kenabian, dan meninggalkan Tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah. Mereka mesti menyembah Allah.

Beberapa saat mereka mengikuti perintah nabi Shalih, tetapi keta’atan setengah-setengah. Keta’atan yang tampak dipermukaan semata. Padahal sesungguhnya mereka tetap mencari jalan untuk kesenangan mereka. Nabi Shalih melakukan pembagian jatah air minum

“Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar”. (asy Syu’ara ; 155-156)

Kaum Tsamud menta’ati aturan ini, dengan berbagai makar, diantaranya adalah jika tiba hari giliran minum unta, maka mereka memeras susu unta hingga kering kerontang. Mengisi persediaan air minum dengan susu unta.

Keta’atan yang tidak bertahan lama, para pemuka kaum mulai gelisah dengan keta’atan ini. Mereka mulai ingin menentang, namun keajaiban unta menahan laju pembangkangan.

Suatu ketika nabi Shaleh menyampaikan bahwa unta akan dibunuh oleh seorang bayi yang terlahir dengan ciri-ciri fisiknya mengumpulkan warna-warna : pirang, biru, merah menyala dan merah.

Kaum Tsamud bertekad mencari bayi-bayi yang bersifat demikian.Delapan orang yang berkuasa bertekad membunuh bayi-bayi yang memiliki ciri-ciri fisik seperti yang disebutkan nabi Shalih. Mereka mendapati bahwa ternyata cucu-cucu mereka yang memiliki ciri-ciri fisik demikian. Mereka pun membunuh semua bayi-bayi itu kecuali seorang bayi yang merupakan cucu dari dua orang anggota kelompok delapan ini.

Dua orang dari kelompok ini masing-masing memiliki seorang anak laki-laki dan yang lainnya memiliki anak perempuan, dan mereka menikahkan keduanya. Saat melihat bayi yang menggemaskan, dua orang kakek tidak tega membunuh cucu mereka, dan membiarkannya hidup, meski bayi tersebut memiliki ciri fisik sebagaimana yang diucapkan nabi Shalih.

Bayi yang semakin hari semakin menampakkan keajaiban, bayi tersebut tumbuh dengan cepat, hitungan hari menjadi hitungan bulan, bulan menjadi tahun. 6 orang lainnya yang cucu-cucu mereka telah dibunuh, menyesal dengan pembunuhan yang telah terjadi. Mereka menyalahkan nabi Shalih.

Suasana psikologis masyarakat terbelah menjadi dua, pendukung delapan pemimpin, dan pendukung nabi Shalih. Kedua kelompok melakukan perang dingin adu opini

“dan Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shaleh yang menyeru: “Sembahlah Allah”, dan mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan” (an Naml :45)

Para pendukung nabi shalih berkata bahwa pembunuhan para bayi bukan dikarenakan nabi Shalih, melainkan suatu ujian akan keta’atan kepada nabi yang akan melahirkan keberkahan hidup. Jika mereka menjalankan petunjuk nabi Shaleh dengan keimanan dan keta’atan maka tidak akan terjadi tragedi demikian. Akan tetapi delapan orang perkasa dari Tsamud menjalankan perintah nabi Shaleh bukan karena keimanan, tetapi karena takut kehilangan unta yang memberikan air susu bagi seluruh penduduk Tsamud. Disinilah letak titik kesalahan lebih mencintai sumber kemakmuran daripada menyayangi keturunan karena Allah.

Delapan pemimpin dan pendukungnya semakin marah dengan opini yang menyebar. Mereka yang sebelumnya setengah percaya pada kenabian nabi Shalih kini membuat opini bahwa Shalih bukanlah nabi, karena ia datang dengan perintah sial.

Ucapan yang menyakitkan bagi para pendukung nabi Shalih, mereka mengatakan kekafiran kepada kenabian Shalih hanya akan mendatangkan bencana. Para kaum kafir kemudian menantang “Datangkan saja bencana, jika Shalih sungguh seorang nabi”

Nabi Shalih berduka melihat apa yang terjadi pada kaumnya. Seluruh kaumnya lupa tentang esensi ajaran yang ia dengungkan tentang penyembahan Allah, kasih sayang dan do’a-do’a. Perspektif yang dibangun masyarakat Tsamud tetap perspektif yang jauh dari 3 seruan utamanya.

 

“Shalih berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum kamu minta kebaikan? hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat kasihsayang”. (an Naml :46)

Seruan yang bagi kaum kafir adalah seruan omong kosong, bagaimana mungkin Shalih menyerukan kasih sayang, padahal menjadi penyebab pembunuhan keturunan mereka.

“mereka kaum kafir menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, bukan Kami yang menjadi sebab, tetapi kamu kaum yang diuji”. (an Naml :47)

Suasana malah semakin memanas, Sembilan orang meningkatkan penindasan kepada kalangan beriman, dengan semena-mena berbuat kerusakan dimuka bumi. Bahkan merencanakan pembunuhan nabi Shalih.

“dan di kota itu, ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.  mereka berkata pada sesama mereka : “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya bahwa kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar, dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari “. (an Naml : 48-50)

Usaha pembunuhan Shalih tidak berhasil,. Allah menimpakan batu-batu besar pada sembilan orang yang bersepakat membunuh Shalih. Usaha makar kini beralih kepada unta. Unta mukjizat kini telah beranak. Mereka akhirnya bersepakat mebunuh unta induk, dan berharap unta anaknya akan memberi berkah dikemudian.

Sembilan orang berusaha membunuh dan tidak berhasil, hingga akhirnya salah seorang diantara mereka berhasil membunuh unta dari arah atas.

Ketika unta telah terbunuh, kesembilan orang diliputi perasaan bersalah. Diantara mereka pergi kepada Shalih mengabarkan apa yang terjadi dan berusaha cuci tangan dan menyandarkan kesalahan kepada satu orang yang melakukan eksekusi.

Tatkala nabi Shalih mendengar berita, beliau memerintahkan mencari anak unta, dan melihat reaksi dari anak unta. Semoga saja jika ada ‘itikad baik merawat anak unta, Allah akan mengampuni dan memberi kesempatan.

Sementara mereka yang menyombongkan diri, penyesalan hanya hadir sebentar saja. Setan menggoda untuk memiliki perspektif lain. Alih-alih bertaubat dan memohon ampunan Allah, yang kemudian berkembang adalah sikap menantang

“kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka Berlaku angkuh terhadap perintah tuhan. dan mereka berkata: “Hai shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada Kami, jika (betul) kamu Termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (al ‘Araaf:77)

Ketika anak unta ditemukan didatangkan ke lapang dan ia melihat mayat ibunya, anak unta tersebut menangis dan menjerit tiga lengkingan. Nabi Shalih bersedih dengan ini. Itu adalah suatu pertanda bahwa adzab akan segera hadir, satu lengkingan unta berarti satu hari penangguhan adzab. Maka ada waktu tiga hari sebelum adzab hadir.

Masyarakat yang bebal dan tidak sehat. Lupa akan semua yang diajarkan nabi Shalih tentang kasih sayang, permohonan ampun dan taubat. Masyarakat Tsamud dilanda kegelisahan menanti kedatangan adzab. Nabi Shalih menyampaikan bahwa wajah mereka akan dihari pertama akan menguning kemudian memerah dan kemudian menghitam.

Putus asa melanda masyarakat Tsamud, hingga mereka berguling-guling ditanah dengan mata terbelalak menanti datangnya adzab. Tiga hari berlalu mereka mengamati dari arah manakah adzab akan datang apakah dari langit atau dari tanah. Maka di hari keempat tatkala mereka berada di rumah-rumah mereka, Allah mendatangkan suara dengan frekuensi yang tidak dikenal sebelumnya, suatu frekuensi suara yang menyebabkan jantung pecah.

Adzab yang menimpa seluruh bangsa Tsamud dimanapun ia berada, kecuali mereka yang beriman dan seseorang yang saat itu sedang berada di Mekkah bernama Abu Righal. Status Mekkah sebagai tanah haram lah yang menyelamatkan Abu Righal.

“Maka tatkala datang siksa Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama Dia dengan kasih sayang dari Kami dan kami selatkan mereka dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa” (Hud :66)

Kisah yang mengajarkan banyak hal tentang bagaimana mengimani, mempercayai atau meyakini sesuatu. Ia adalah harus kepercayaan dengan totalitas dan prasangka yang baik. Keyakinan yang harus selalu kita jaga adalah bahwa Allah penuh kasih sayang, bahwa Allah sangat dekat dan mengabulkan setiap permohonan. Namun Allah juga menguji apakah benar kita sungguh-sungguh meyakini?

Jangan menjadi seperti kaum Tsamud, kaum yang memiliki persepsi yang tidak benar terhadap Allah dan nabiNya, bersegera memohon keburukan dan tidak memiliki harapan hidup yang baik.

Kisah nabi Hud (lengkap 1,2 dan 3)

Jangan Tertipu Materialisme – Kisah Nabi Hud

Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, Tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf (bukit pasir) antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, usia harapan hidup yang panjang, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa,  yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.

Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an  menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :

-“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya.

– Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dan ngelantur,  Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan.

– Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian.

– Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung”

(Al ‘Araaf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: “Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya).

“dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : “Orang ini, Hud,  tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum.  dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu?  Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya”.

Hud berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku.”

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.”

(al Mukminun :31-40)

 

Usaha Hud, mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah adalah usaha hebat yang benar-benar tidak kenal lelah, kali ini Hud menyampaikan agar kaumnya menyembah Allah, dan segera bertaubat, karena jika kaumnya tidak menyembah Allah, maka akan datang adzab pada mereka.

‘(Hud berkata) : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.  dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (as Syu’ara : 131 – 135)

Hud pantang menyerah, acara-acara untuk memperingatkan kaumnya tetap ia gelar, Surat al Ahqaf menggambarkan usaha keras Hud ini

“dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya dikawasan Al Ahqaaf dimana telah datang banyak peringatan nabi-nabi seperti dari Hud, di masa sebelum dan sesudahnya. Para pemberi peringatan berkata: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Mereka (kaum kafir) menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”.

Hud berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

(Al Ahqaaf : 21-23)

 

Sesudah itu datanglah kekeringan dahsyat melanda mereka, hujan tidak turun selama tiga tahun berturut-turut. Kelaparan, kehausan, kemiskinan membuat masyarakat berkebudayaan tinggi seperti ‘Aad mengalami degradasi. Ini dikarenakan parameter kebahagiaan yang mereka miliki adalah materi.

Hud, tetap berperan aktif menyadarkan masyarakat. Mengajak kaumnya untuk bertaubat :

“Hud berkata: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling yaitu berbuat dosa.” (Hud :52)

Kaum ‘Add membalas ajakan Hud tetap dengan kekafiran, ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan Hud

“kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti keterkaitan antara musibah ini dengan ketiadaan kami menyembah Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan selain bahwasanya Tuhan-tuhan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. ” Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu Tuhan-tuhan selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (Hud : 53-57)

 

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr.

Mu’awiyah merasa sangat terhormat,  ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka.

Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.

Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.

Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah.

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.

Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa. (al Ahqaf: 23-25)

 

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri. Merasa paling tahu ilmu awan, menggiring dengan suka cita musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur, jangan sombong berjalan di muka bumi.

Sembahlah Allah sebagaimana yang Rasulullah Muhammad ajarkan, lalu mintalah pada Allah ilmu untuk memakmurkan dan mengelola bumi, karena bumi adalah ciptaanNya. Mari berjuang mempelajari ilmu-ilmu Allah.

Sumber :

  1. Al Bidayah wa an Nihayah
  2. Tarikh Thabary
  3. Al kamil fi at Tarikh
  4. Al muntadzim

Diatas ilmu ada ilmu (Kisah nabi Hud – bagian 3)

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr.

Mu’awiyah merasa sangat terhormat,  ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka.

Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.

Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.

Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.

Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya,

Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka.

Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.

(al Ahqaf: 23-25)

 

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri.

Mereka merasa paling tahu ilmu awan, menggiring awan hitam pekat dengan suka cita, menghantarkan musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur.

Istighfar sumber kekuatan (Kisah Hud – bagian 2)

Usaha Hud, mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah adalah usaha hebat yang benar-benar tidak kenal lelah, kali ini Hud menyampaikan agar kaumnya menyembah Allah, dan segera bertaubat, karena jika kaumnya tidak menyembah Allah, maka akan datang adzab pada mereka.

‘(Hud berkata) : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.  dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (as Syu’ara : 131 – 135)

Hud pantang menyerah, acara-acara untuk memperingatkan kaumnya tetap ia gelar, Surat al Ahqaf menggambarkan usaha keras Hud ini

“dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya dikawasan Al Ahqaaf dimana telah datang banyak peringatan nabi-nabi seperti dari Hud, di masa sebelum dan sesudahnya. Para pemberi peringatan berkata: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Mereka (kaum kafir) menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”.

Hud berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

(Al Ahqaaf : 21-23)

Sesudah itu datanglah kekeringan dahsyat melanda mereka, hujan tidak turun selama tiga tahun berturut-turut. Kelaparan, kehausan, kemiskinan membuat masyarakat berkebudayaan tinggi seperti ‘Aad mengalami degradasi. Ini dikarenakan parameter kebahagiaan yang mereka miliki adalah materi.

Hud, tetap berperan aktif menyadarkan masyarakat. Mengajak kaumnya untuk bertaubat :

“Hud berkata: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling yaitu berbuat dosa.” (Hud :52)

Kaum ‘Add membalas ajakan Hud tetap dengan kekafiran, ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan Hud

“kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti keterkaitan antara musibah ini dengan ketiadaan kami menyembah Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan selain bahwasanya Tuhan-tuhan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. ” Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu Tuhan-tuhan selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (Hud : 53-57)

NB: “Kalau bagi saya dalam perenungan “betul bahwa bencana yang ada pada bangsa indonesia seperti banjir jakarta saat ini diantaranya karena kelemahan kita mengelola alam. Tetapi harus diingat bahwa saat manusia telah melakukan hal yang terbaik dalam mengelola alam, bencana itu akan tetap ada. Sehingga ….

Adalah hal yang arif dan bijaksana, dalam hal kondisi yang terjadi saat ini, kita pun tetap mengajak manusia beristighfar, karena sebagaimana yang disampaikan Hud pada kaumnya, bahwa ISTIGHFAR, memohon ampunan Allah adalah sumber adanya KEKUATAN.

BERISTIGHFARLAH, SEMOGA SESUDAH ISTIGHFAR ITU ALLAH MENGAJARKAN KEPADA KITA CARA MEMBANGUN DAN MENGELOLA KOTA YANG BAIK

Manakah yang lebih baik, orang yang semata menyandarkan permasalahan kepada fenomena alam belaka dan ketidakbenaran kita (manusia) mengelola bumi.

Ataukah orang yang mengajak untuk kembali kepada Allah dalam setiap permasalahan kehidupan

 

KAUM DIGJAYA , MACAM KAUM NUH, KAUM HUD, FIR’AUN, SAAT TERJADI MUSIBAH PADA MEREKA, PARA NABI MENGAJAK ISTIGHFAR,

APALAGI KITA DI ERA KINI, TANPA WAHYU,

DAN DALAM PERADABAN MATERI BELUM MENCAPAI APA-APA.

MAKA BERISTIGHFARLAH

Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi

Menjejakkan Langkah ke Pelosok Bumi.

Jazirah Arab, jantung dunia tengah, jika kita bersepakat menyebut kawasan asia hingga afrika utara yang terbentang mulai ujung India hingga Turki di utara dan batas barat ujung mesir sebagai dunia tengah.

Dari jazirah arab, persebaran manusia dengan pola radial kiri, persebaran yang membentuk kebudayaan pada daerah persebaran fase kedua

Ada empat teori tentang pusat-pusat persebaran manusia fase kedua :

  1. Teori Armenia, bahwa pusat persebaran manusia fase kedua adalah Armenia dan asia tengah dekat dengan gunung Ararat.
  2. Teori Babylon, menyatakan bahwa di negeri babylon lah pertama kali puncak kebudayaan manusia dibangun
  3. Teori pulau-pulau di laut Mediterania, menyatakan bahwa pusat kebudayaan tertua ada di garis kepulauan-kepulauan sepanjang laut mediterania.
  4. Teori Afrika – Abbysinia, menyatakan bahwa kebudayaan tertua adalah kebudayaan Abbysinia atau Ethiophia.

 

Keempat teori tersebut pada dasarnya tidaklah saling bertentangan, ketika kita membaca dengan seksama pola persebaran manusia di fase kedua, yaitu pola radial kiri, akan ada kesamaan waktu kemajuan budaya pada daerah Ethiophia, Mesir dan Summeria.

Fase persebaran kedua yang dilakukan oleh anak-anak keturunan Nuh, yang selamat dari banjir besar yang terjadi di zaman itu.

 

Demografi Etnik-Etnik

Nuh dalam rombongan 80 orang menempati kampung delapan puluh dan memulai kehidupan baru. Kampung Delapanpuluh terletak di kawasan Messopotamia atau Iraq. Putra-putra Nuh yang ikut, Sam, Ham, dan Yafits memasuki perahu bersama istri-istrinya, dan dari mereka bertigalah manusia diseluruh dunia berketurunan.

Sam, istrinya bernama Sulba putri Batawil bin Mahwila bin Hanukh bin Qabil bin Adam. Putra-putra Sam adalah : Arfakhsyad , etnik Arab, dan etnik Yahudi (Bani Israil) adalah keturunan Arfakhsyad. Putra-putra Sam yang lainnya ‘Ailam, al Yafar atau Asyur , Laawidz dan Iram, beberapa nabi dari garis keturunan Iram.

Ham, istrinya bernama Nahliba putri Marib Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Ham memiliki putra-putra : Kusy, Quth, Yabshir atau Baishir dan Kan’an.

Kusy putra Ham, menikahi Qarnabil putri Batawil bin Tursi bin Yafits, dari pasangan ini lahir nenek moyang bangsa Abbisynia, Sind dan Hind.

Adapun Quth putra Ham, menikahi Bakhta putri Batawil Bin Tursi bin Yafits. Dari mereka terlahir nenek moyang suku Barbar.

Adapun Yabshir dan Baishir adalah nenek moyang bangsa Mesir. Mishr, anak Yabshir sedang duduk bersama ayah dan kakek yang dalam keadaan transisi antara tidur dan sadar. Nabi Nuh memanggil Ham dan keturunannya, tak satupun menjawab panggilan Nuh, kecuali Mishr, karena itu, Nuh mendo’akan Mishr bahwa kelak mendiami negeri yang subur dan diberkahi.

Adapun Kan’an putra Ham menikahi Artila putri Batawil Bin Tursi bin Yafits, dari mereka terlahir nenek moyang bangsa-bangsa hitam seperti Nubah, Fazan, Zenk, Zaghawah, dan seluruh bangsa kulit hitam.

Yafits putra Nuh, istrinya bernama Arbasisah putri Marazil Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Yafits dikaruniai putra-putra, yaitu :

  1. Kumir atau ‘Umir atau Gomer,
  2. Hawan atau Yawan atau Yunan,
  3. Tubal atau Qutubal,
  4. Magog,
  5. Masyih atau Kasyih,
  6. Tursi atau Thabrasy atau Tharaqi.

Dalam riwayat israiliyat ditambah : Madai, sehingga berjumlah 7 putra

Imam Baihaqi menambahkan ‘Alajaan, sehingga berjumlah 8 putra

Dan Ibnu Sa’id menambah Saubil sehingga berjumlah sembilan

Dan seorang putri bernama Shabaka.

 

Anak cucu Nuh inilah yang kemudian memenuhi bumi dan membangun kota-kota pusat peradaban sesudah banjir besar yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali mereka yang turut dalam perahu Nuh.

 

  1. Kota-kota yang dibangun generasi terdahulu keturunan Sam bin Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun oleh keturunan Sam bin Nuh

–          Kawasan Yaman, keturunan Iram putra Sam Bin Nuh yang pertama kali membangun kawasan ini

–          Syahr, kota terletak di negara Oman sekarang, merupakan pusat kerajaan pertama yang berdiri sesudah banjir besar, negerinya keturunan ‘Aad putra ‘Ewash bin Iram bin Sam bin Nuh

–          Kota Shan’a, dibangun Sam bin Nuh saat berkelana mencari kawasan yang suhu nya sedang tidak panas dan tidak dingin, dan ditemukanlah olehnya daerah Shan’a dan dibangunlah kota.

–          Kota Yatsrib, yang sekarang dikenal dengan nama Madinah kota nabi Muhammad, dibangun oleh Yatsrib putra Qaniyah Bin Mahlail bin Sam bin Nuh.

–          Damaskus, ibu kota Syiria, dibangun oleh Damaskus putra Qani Bin Malik bin Arfakhsyad Bin Sam Bin Nuh.

–          Anthakiya, diberi nama dari Anthakiya putri Rum bin al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Hiraqla, salah satu daerah di kekaisaran romawi, yang dinami demikian dari Hiraqla putri al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Kota Bawan, dibangun oleh Bawan bin Iran bin Sam bin Nuh

–          Wabar, kota yang dibangun oleh Wabar putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Jurjan, kota yang dibangun oleh Jurjan putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Khurasan, kota yang kemudian berkembang menjadi kawasan membentang antara Afghanistan dan Iran. Keturunan Asyur putra Sam Bin Nuh lah yang pertama kali membangun kawasan ini.

–           Kota Samira, yang sekarang dikenal Ray, dahulunya pernah dijadikan sam bin Nuh tempat tinggal.

–          Azerbijan, diberi nama dari Azerbijan putra Iran Bin al Aswad bin Sam Bin Nuh

–          Asfahan, dinamai dari Asfahan putra Laawidz bin Sam bin Nuh.

–          Faris, daerah luas di timur utara Iraq, yang dinamai demikian dari Faris putra Madyan bin Iram bin Nuh. Meski orang-orang Persia enggan mengakui nasab ini.

 

  1. Kota-kota yang dibangun oleh keturunan Ham putra Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Ham adalah :

–          Afrika, nama benua berasal dari Fariq putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Fariq menjelajahi daerah selatan dan barat Mesir untuk menyaingi Mesir saudaranya yang mengusai daerah yang telah ditempati keturunan Yabshir sebelumnya.

–          Mesir, dinamai demikian dari nama Mesir putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Mesir meneruskan kepemimpinan ayahnya Yabshir.

–          Manfu, kota pertama yang dibangun di Mesir, dibangun oleh Yabshir Bin Ham bin Nuh. Manfu dalam bahasa Qibti dieja Mafih yang artinya tigapuluh, karena Yabshir datang bersama keturunannya berjumlah 30 orang.

–          Palestin, diambil namanya dari Palestin putra Kuslukhim bin Shidqiya bin Kan’an Bin Ham bin Nuh.

Ada yang berkata bahwa Palestin dinamai dari Palestin putra Sam bin Iram bin Sam bin Nuh.

–          Asfi, di sekitar Marokko, dibangun keturunan-keturunan Ham yang kalah berperang dengan keturunan Sam.

–          Ka’bar, ibu kota Abbysinia atau Ethiopia dibangun Habsy putra Kusy Bin Ham bin Nuh

 

  1. Kota-kota yang dibangun keturunan Yafits

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Yafits :

–          Andalus, kawasan yang membentang dari negara Spanyol dan Portugal  hingga beberapa negara Afrika utara, Maroko, al Jazair, dan Tunisia. Kawasan yang dibangun oleh Andalus putra Tubal bin Yafits bin Nuh.

Cucu Andalus, Isyban (Spain, Spanyol) putra Thuthis bin Andalus bin Tubal bin Yafits bin Nuh membangun banyak kota di kawasan ini, sehingga nama Spanyol pun masyhur.

–          Negeri Frank, yaitu kawasan Eropa Barat tengahmulai dari batas Prancis Spanyol hingga ujung Yunani, kawasan yang pertama kali dikembangkan oleh Frank atau dalam ejaan arab Afranjah keturunan Yafits.

–          Galicia, satu kota di spanyol utara, Galicea atau dalam ejaan arab Jalaliqah adalah putra dari Yafits bin Nuh.

–          Tharaqi, kota antik di timur Konstantinopel atau Istanbul, dinamai Tharaqi sesuai pendirinya yaitu Tharaqi putra Yafits.

–          Yunani, sebuah kebudayaan klasik yang sangat besar yang secara teritorial membentang di Eropa Tengah hingga batas Timur. Dinamai Yunani dari Yunan putra Yafits. Bangsa Romawi klasik adalah keturunan yunan juga. Adapun bangsa Romawi yang membangun kekaisaran Romawi beberapa abad sebelum kelahiran nabi Isa as. Adalah keturunan Iyas putra Ishaq putra Ibrahim. Iyas menikah dengan putri pamannya, Isma’il.

–          Cina, kawasan yang membentang luas, negeri sungai subur dengan ditutupi padang pasir. Kawasan yang pertama kali dibangun oleh Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh, kemudian dinamai Cina yang dalam bahasa arab di eja Shin sesuai dengan nama Shin putra Saubil bin ‘Amur Bin Yafits yang menjadi raja pertama. Pengembangan yang dilakukannya adalah pertambangan emas dan industri. Cara menambang emas yang dikembangkan Shin menyebar dan menjadi sumber kemakmuran rakyat Cina, hingga tatkala Shin wafat, dibuatkan patung emas untuk Shin.

 

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa etnis-etnis Eropa adalah antara keturunan Yafits dan  Sam. Bangsa-bangsa Afrika baik yang berkulit agak terang atau berkulit hitam adalah keturunan Ham. Bangsa-bangsa timur adalah keturunan Yafits. Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

Manusia terus berkembang dan pergaulan antar etnik yang sempat saling menjauh kemudian berbaur dan bercampur kembali. Baik pergaulan yang bersifat positif seperti ekspedisi ilmiah, perdagangan atau mencari penghidupan yang lebih baik.

Adapula pergaulan yang bersifat negatif seperti penaklukan, monopoli dan penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya.

Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

part of Islamic Golden Perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Kisah Nabi Adam (yang tidak versi anak2… renungan orang dewasa)

Adam, dari bumi, diangkat kelangit, kembali ke bumi

Adam tercipta dari tanah bumi, dengan berbagai karakteristik tanah yang terdapat di dalam bumi. Dari sekian banyak malaikat yang diperintahkan Allah untuk mengambil tanah bumi sebelum penciptaan Adam, malaikat pencabut nyawa lah yang berhasil membawa tanah bumi ke langit.

Allah telah dengan tegas menyebutkan tujuan penciptaan Adam, yaitu untuk menegakkan sistem ritual menyembah Allah SWT.  Kemudian menetapkan fungsi keberadaan yaitu sebagai pengelola bumi (Khalifah), dan Allah menetapkan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik bekerja dan berkontribusi. Tiga hal ini tidak hanya melekat pada Adam, tetapi juga melekat dengan erat pada seluruh anak manusia keturunan Adam.

Penciptaan Adam yang terjadi dilangit, di dalam suatu ruang keindahan dan keabadian mengukir kesan mendalam pada manusia akan cita rasa seni dan keindahan, yaitu menghendaki keabadian.

Keabadian adalah hal yang pasti, bahwa semua manusia yang diciptakan Allah adalah abadi. Keabadian manusia adalah fase akhir dari kehidupan kembali-kehidupan kembali yang dialami manusia setelah kematiaannya.

Manusia tercipta dalam keadaan mati, dua unsur yang saling terpisah, unsur materi tanah bumi, dan unsur spirit langit ruh. Tatkala kedua unsur itu bersatu maka terlahirlah kehidupan. Demikianlah yang disebut kematian yaitu terpisahnya unsur materi fisik dan unsur ruh spiritual.

Manusia mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan, kematian saat fisik dan ruh masih terpisah dan kemudian dipersatukan hidup didalam rahim. Kematian kedua saat fisik dalam kubur yaitu alam barzakh dan ruh berada di tempat lain. Beberapa riwayat menyebutkan ruh orang beriman di langit ke empat, dan ruh mereka yang tidak mempercayai Allah dan berbuat jahat berada di lautan.

Setiap unsur materi fisik tertentu adalah pasangan unsur ruh tertentu yang tidak mungkin bertukaran, yang berart konsep reinkarnasi bertentangan dengan ini.

Unsur materi fisik memiliki sifat-sifat nya tersendiri dan unsur ruh spiritual memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Dan dalam kehidupan keduanya berpadu dalam dinamika pribadi manusia mengarungi kehidupan bumi, yang merupakan fase kehidupan ujian, menentukan tempat keabadian, apakah abadi dalam keindahan, atau kah abadi dalam penderitaan.

Adam, di langit, dalam ruang keabadian diberikan beberapa pengalaman :

–          Bahwa Berilmu pengetahuan adalah ciri utama umat manusia, ciri akan keutamaan dan kelebihan atas ciptaan-ciptaan Allah lainnya.

–          Bahwa Bersikap sombong terhadap unsur-unsur materi yang terdapat pada diri, seperti apa yang dilakukan Iblis adalah hal yang dibenci Allah, dan bahwa sikap sombong ini termasuk penghalang utama dalam keta’atan dan keimanan

–          bahwa terlalu cepat menginginkan keabadian memberikan peluang kepada musuh yaitu Iblis melancarkan serangannya yang dapat menghantarkan pada kehidupan keabadian dalam penderitaan.

Dengan bekal-bekal pengetahuan ini, Adam diturunkan ke bumi mengemban tiga kata kunci : Menyembah Allah, mengelola bumi dan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian.

Adam diturunkan ke bumi dan mendarat di pegunungan Hindia, pegunungan tertinggi di dunia, adapun Hawa diturunkan di Jeddah dekat Mekkah, dan keduanya bertemu di padang arafah.

Tim Wallace Murphy dalam what islam did for us menyebutkan bahwa penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir kuno yang sangat tinggi tidaklah menunjukkan perkembangan sesuatu dari yang primitif menuju yang lebih maju, tetapi ia adalah legacy atau warisan.

Jika memperhatikan apa yang terjadi sesudah Adam diturunkan ke bumi, apa-apa yang turut hadir bersama Adam di bumi menunjukkan perpaduan ada hal-hal yang bersifat langsung demikian yaitu Allah hadirkan bagi Adam, dan ada hal-hal yang harus dipelajari oleh Adam.

Zaman Besi

Sejarawan dunia asal Denmark Christian Jürgensen Thomsen (December 29, 1788 – May 21, 1865), mengklasifikasi zaman sejarah menjadi tiga, yaitu : zaman perunggu (bronze age 3000 SM – 1200 SM), zaman besi (iron age; 1200 SM – 300 SM) dan zaman pertengahan (medieval age).

Adapun Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Adam yang kisaran masa hidupnya adalah 6000 tahun sebelum masehi telah memiliki pengetahuan tentang besi dan menggunakannya, dan termasuk alat yang pertama diajarkan pada Adam adalah kapak besi.

Sebagaimana besi menjadi bahan utama dalam membangun benteng penahan Ya’juj dan Ma’juj di masa Dzulqarnain, dan ditenggarai masa Dzulqarnain semasa dengan Ibrahim as (3000 SM). Karena nilai kemanfa’atannya penguasaan teknik pengolahan besi selalu menjadi sorotan, hingga dizaman Daud (1200 SM) penguasaan teknik pengolahan besi termasuk keistimewaan Daud.

 

Pertanian

Pertanian dan peternakan diajarkan Jibril pada Adam dengan seksama, mulai pembibitannya hingga panen. Teknik membajak tanah dengan kerbau telah diperkenalkan sejak masa Adam.

Adapun dalam pembibitan, bibit tanaman budidaya adalah bibit dari surga, yaitu seikat gandum dan 30 jenis tanaman panen.

10 jenis tanaman panen yang cangkangnya harus dikupas, yaitu : kacang walnut, kacang almond, kacang pistachio, kacang tanah, opium, oak, melinjo, kelapa, delima dan pisang.

10 jenis tanaman panen yang memiliki biji inti, yaitu : peach, apricot, pear besar, kurma, sorghum, buckthorn, apel mawar, jujube, bdellium, dan Chamelok.

10 jenis tanaman tanpa cangkang keras dapat dikupas dan tidak memiliki biji inti, yaitu : apel, quince , pear, anggur, berry, buah tiin, limau arab , carob,  timun, dan semangka.

Bangunan Komunitas

Allah menyentuh punggung Adam saat di arafah, dan kemudian setelah itu mulailah masa reproduksi dan regenerasi.

Sebelum masa reproduksi tiba, Allah berkenan memberikan pengalaman lain akan dahsyatnya permusuhan iblis, dan betapa halusnya cara yang dipergunakannya. Hawa diuji dengan wafatnya dua bayi pertama yang terlahir dari rahimnya, mereka diberi nama Abdullah, dan tatkala hamil untuk ketiga kalinya, iblis menggoda bahwa penyebab kematian anak-anak Hawa adalah karena ia memberi nama dengan Abdullah, Iblis meniupkan was-was agar hawa memberi nama anaknya Abdul harits, al Qur’an menyebutkan :

“tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (al ‘Araaf : 190)

Pemilihan nama anak ternyata termasuk hal yang harus diperhatikan, Allah mengkategorikannya sebagai mempersekutukan Allah dalam urusan nama. Dari peristiwa pemberian nama terhadap anak Adam dan Hawa ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa suatu musibah dan keadaan derita dapat menyebabkan berpaling dari Allah dan tidak mempercayai kebesaranNya, padahal kesulitan ataupun kesenangan di dunia adalah ujian, apakah setelah kesulitan atau kesenangan itu tetap beriman pada Allah?

Adam dan Hawa memiliki 40 anak laki-laki dan perempuan, atau 20 pasang kembar, dan Adam wafat saat anak cucu keturunannya berjumlah 4000 orang, yang secara rentang waktu Adam hidup hingga turunan ke 8 yaitu Lamik.

Adam beserta putra-putrinya membangun bangunan komunitas, dengan cara yang dikenal dizamannya. Saling memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, yaitu yang mula-mulanya adalah kulit domba dan singa. Adapun dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Adam diajarkan pula membuat roti dengan peragian dan pengovenan. Oven Adam yang diwariskan hingga zaman nabi Nuh as.

Anwasy cucu Adam dari Syits adalah yang pertama membudidayakan peternakan lebah, dan bertani biji-bijian.

Dalam teknik rumah Adam menggunakan gua sebagai tempat berlindung. Mahlail keturunan ke empat Adam dari Syits yang pertama membangun rumah dan kota-kota pusat peradaban. Hal tersebut dilakukan Mahlail dalam rangka rekayasa demografi agar tidak terjadi kepadatan penduduk. Persebaran dilakukan di empat arah mata angin, dan Mahlail membuatkan kota bagi keturunan Syits di tanah Iraq atau tanah Babil, dimana Mahlail menganggap sebagai tanah terbaik, jauh dari keturunan Qabil terutama dari Anusyil yang tinggal di pesisir pantai. Pada era rekayasa demografis inilah manusia memulai area persebarannya ke Habasyah, Mesir, Syam, Iraq dan Persia.

Di zaman Mahlail pula pertambangan di mulai, dan industri sederhana di mulai. Mesjid-mesjid dibangun, sistem pertanian dan pengairan ditetapkan, peternakan ditertibkan. Mahlail pun menetapkan hukum dan peraturan dan menegakkan keadilan.

Dengan anugerah yang dikaruniakan Allah pada Mahlail, ia berhasil memisahkan komunitas manusia dari setan gentayangan yang hidup dalam komunitas manusia, membunuh setan yang membangkang, hingga tak satupun berani hidup tengah komunitas kota.

Adapun Qabil, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Khanukh dan ‘Adzba, dan mereka menikah dikarunia 3 orang laki-laki, Ghirad, Mahwil, Anusyil dan 1 orang perempuan Mulitsa. Anusyil menikahi saudarinya, dan dikarunia anak bernama Lamik, terutama dari Lamik inilah keturunan Qabil bertambah banyak, dan turut membangun kebudayaan Fir’aun dan para diktator.

Keturunan Qabil dari Anusyil mengembangkan nyanyian, drum dan berbagai alat musik, hingga terlena dalam kesenangan bermusik. Sistem cluster dan larangan bergaul yang ditetapkan Mahlail bagi keturunan Syits dengan keturunan Qabil, dan juga diusirnya setan dari kota-kota keturunan Syits ternyata tidak berhasil membuat keturunan Syits tidak tertarik pada kesenangan bernyanyi dan bermain musik.

Ratusan keturun Syits turun ke pesisir terlena dengan musik dan nyanyian, hingga melampaui batas dan tergoda kecantikan wanita-wanita keturunan Qabil hingga terjerumus dalam perbuatan keji dan minum-minuman keras. Wanita-wanita keturunan Qabil inilah yang pertama kali melakukan tabarruj (riasan berlebihan), dimana Allah melarang istri-istri Rasulullah bertabarruj sebagaimana tabarruj pertama dizaman Mahlail.

“dan hendaklah kamu tinggal di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab : 33)

lengkapnya ada di Islamic Golden Perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Musa dan Bani Israel

Musa dan Bani Israil

 

Yusuf putra Ya’qub dari Rachel memiliki roman hidup manusia yang dicatat dengan lengkap oleh al Qur’an, satu surat mengisahkan manusia dalam intrik, persaingan, cinta dan pengembaraan.

Kisah makar saudara-saudaranya yang membuangnya ke sumur, lalu menjadi manusia dengan status budak yang diperjualbelikan. Ujian wanita cantik yang mencintainya dengan sangat, hidup dipenjara dalam keadaan tidak bersalah, menghadapi pengadilan yang penuh kepura-puraan. Melewati kehidupan penjara dengan terlupakan jasa dan kecerdasannya.

Saudara-saudara Yusuf telah berencana membunuh Yusuf, tetapi saudaranya yang bernama Yahudza, anak palig cerdas mencegah terjadinya pembunuhan, dan berargumen “sesungguhnya pembunuhan adalah hal yang sangat besar, manusia sangat berharga, hak hidup setiap orang harus dihormati”. Dan kita mendapati dalam sejarah Yusuf tidak dibunuh tetapi dilemparkan kesumur di suatu hutan.

Semua lika-liku kehidupan dilalui Yusuf dengan keimanan, kesabaran dan prasangka baik kepada Allah SWT dan tanpa dendam pada manusia.

Ketika kesempatan hadir, Yusuf mampu tampil dengan elegan, membersihkan namanya dan memberikan sumbangsih besar bagi masyarakat yang pemimpin-pemimpinnya telah berbuat tidak adil padanya. Yusuf dengan kekuatan argumentasi mampu meyakinkan penguasa Mesir yang kemudian mengambil regulasi sesuai dengan takwil Yusuf atas mimpi sang raja.

Tiada dendam tiada makar dalam hati dan kepribadian Yusuf, sumbangsih terbaik diberikan Yusuf bagi negeri Mesir. Pekerjaan sebagai menteri perekonomian dan logistik ditunaikan dengan sebaik-baik penunaian. Sistem tanam mengalami kemajuan, sistem pergudangan disempurnakan, sistem distribusi dan konsumsi diatur sedemikian cermat sehingga cadangan pangan meningkat tajam, mampu melewati paceklik yang berkepanjangan.

Angka 7 tahun yang disebut al Qur’an sebagai 7 tahun musim subur yang diikuti 7 tahun musim paceklik sesungguhnya menunjukkan angka yang tak terdefinisikan, artinya setiap musim berlangsung dengan panjang, bahagia panjang yang diikuti derita panjang.

Paceklik tiba, menggoncang dunia tengah, merambat ke seantero negeri. Cadangan pangan disemua kawasan menurun, perdagangan Mesir dengan negeri-negeri tetangga meningkat dan cadangan devisa Mesir naik ribuan kali lipat.

Diantara konsumen yang datang ke Mesir adalah saudara-saudara Yusuf yang dahulu mencelakainya. Cerita yang kemudian berakhir indah, Ya’qub yang masih hidup dan saudara-saudara Yusuf hijrah ke Mesir dengan seluruh keluarganya, menjadi bagian integral dari masyarakat Mesir.

Ya’qub wafat dan meminta untuk dikebumikan di kawasan Syam dekat Ishaq ayahnya, sebelum wafat berwasiat pada putra-putranya akan prinsip dasar spiritualitas dan religiusitas, tentang menyempurnakan penyembahan hanya untuk Allah semata.

Keturunan Ya’qub sang Israel bertambah banyak di Mesir, zaman berganti, raja Mesir berganti. Saat pendapat Yusuf diterima dengan baik, raja Mesir adalah ArRoyyan putra al Walid, raja keturunan ‘Amaliqah (raksasa keturunan Sam). Raja yang beriman kepada seruan Yusuf, beriman kepada Allah, meskipun menyembunyikan keimanannya, karena ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Raja penerusnya Qabus putra Mush’ab tidaklah beriman seperti pendahulunya.

Yusuf menjadi orang penting dalam pemerintahan Mesir yang digjaya, menyeru kepada tauhid, penyambahan kepada Allah semata. Hidup ditengah masyarakat dan rekan-rekan pemerintahan yang tidak beriman kepada Allah. Dengan kedudukan Yusuf yang tinggi di pemerintahan Mesir, kaum yang beriman pun terjaga dari tindak kekerasan dan penindasan. Ar Royyan wafat dan kekuasaan berpindah pada putranya Darum.

Darum memiliki watak yang berbeda jauh dari ayahnya. Ar Royyan menegakkan keadilan dan menyenangi kemajuan bagi seluruh rakyat. Sedangkan Darum memiliki potensi kediktatoran dan mennghadirkan kesengsaraan di tengah masyarakat. Ketika Yusuf masih hidup, Yusuf berhasil mencegah kedzaliman dan ketidakadilan terjadi ditengah masyarakat. Kemudian Yusuf wafat dalam usia 123 tahun dan menjadi awal mula petaka bagi Bani Israel yang telah menetap di Mesir.

Yusuf di kafani dan dimasukkan kedalam Tabut, kemudian dimakamkan di sisi barat sungai Nil, lembah barat yang menjadi subur, adapaun lembah timur gersang dan kering. Tatkala raja Darum memindahkan makam Yusuf ke sisi timur keadaanpun berubah. Maka darum menetapkan agar makan Yusuf dipindahkan antara dua sisi Nil setiap tahunnya, sehingga kesuburan didapat dikedua tepian secara bergilir. Kemudian kebijakan berubah dengan menjadikan tabut mengambang di sungai Nil dan suburlah kedua tepi nil dalam waktu bersamaan.

Raja berganti raja sesudah Darum, 83 tahun berlalu sejak wafat nabi Yusuf dan bani Israil hidup bersama masyarakat Mesir dengan pasang surut kedekatan dan kedudukan disisi penguasan Mesir. Penguasa Mesir tak pernah lepas dari para penyihir yang membaca bintang, adapun Bani Israil mayoritasnya menyembah Allah. Di zaman yang dekat dengan kelahiran nabi Musa, Bani Israil adalah kaum pekerja kerajaan dengan berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pekerjaan-pekerjaan sipil dan juga para algojo penjaga.

‘Imran ayah Musa adalah keturunan Levy, saudara Yusuf. Imran termasuk pasukan elit penjaga istana, yang bertugas menjaga raja, sebutan bagi raja mesir adalah fir’aun.

Para penyihir memberi tahu Fir’aun, bahwa kekuasaannya akan berakhir diakibatkan seorang anak yang terlahir dari Bani Israil. Fir’aun menetapkan bahwa bani Israil dilarang menikah selama tiga tahun, dan ditahun terakhir larangan Imran  ayah Musa mendapati istrinya hamil dan melahirkan Harun.

Ketika larangan menikah berakhir, dalam usia Harun  yang masih puluhan hari ibu Musa kembali hamil. Para penyihir menyatakan bahwa kini bayi itu telah berada dalam kandungan, maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang terlahir dari kalangan bani Israel. Ibu Musa menyembunyikan kehamilannya, dan peribahasa Gajah dipelupuk mata tak tampak berlaku disini. Ibunda Musa melahirkan Musa dikawasan istana, kebingungan dengan apa yang dilakukan setelah Musa lahir dan Allah memerintahkan agar mengalirkan Musa diatas tabut di sungai nil.

Musa ditemukan istri Fir’aun dan dijadikan anak angkatnya. Kedekatan keluarga Imran dengan keluarga kerajaan menyebabkan dengan mudahnya saudari Musa memberikan saran kepada Asiyah istri Fir’aun tentang ibu susuan yang cocok bagi Musa. Kecurigaan yang tiada hadir, tiada dipertanyakan mengapa ibu Musa memiliki air susu, karena Harun pun masih menyusu.

Ketika para penyihir menyatakan bahwa bayi yang berada dalam pengasuhan istri Fir’aun adalah bayi bani Israel, Allah memasukkan rasa kasih sayang kepada hati Fir’aun. Musa tumbuh dilingkungan istana dan diperlakuan sebagai anak raja. Musa yang cerdas dan kokoh, dalam usia belia telah dikirim Fir’aun memimpin pasukan untuk bertempur melawan gangguan kedaulatan Mesir dan pasukan Musa dianugerahi kemenangan.

Posisi yang terus menguat dan semakin menguat, Fir’aun tidak memilki putra. Saat kecemerlangan Musa semakin terlihat, Fir’aun bertekad menjadikannya putra mahkota. Tetapi takdir ujian dalam kehidupan Musa telah tertulis, dan respon Musa atas ujian yang Allah berikanpun telah tertulis.

Musa diuji pada suatu keadaan sulit, siapakah yang harus dibela? Suatu ketika seorang pemuda dari kalangan bani Israil berselisih dengan pemuda dari kalangan ningrat Qibthi. Perselisihan yang berujung perkelahian. Keadaan sulit mendera Musa, kepada siapa pembelaan harus diberikan, ningrat Qibthi? Atau pada pemuda Bani Israil yang berada pada kebenaran.

Musa merespon ujian ini dengan membela pemuda bani Israel dan pemuda ningrat Qibthi terbunuh ditangan Musa. Kejadian yang membuat geger. Musa yang telah teruji keperkasaan memimpin pasukan, melakukan perbuatan yang dipertanyakan membunuh kalangan ningrat. Jika demikian berarti benar apa yang dikatakan para penyihir bahwa Musa adalah bani Israil. Kejadian yang juga membuat rumor beredar bahwa Musa perkasa hanya akan membuat kerusakan di muka bumi dengan banyak menumpahkan darah.

Keadaan yang menyudutkan Musa, Fir’aun yang bertahun lamanya membela Musa tersudut dan terdesak, kali ini ia mesti memerintahkan penangkapan Musa, menjebloskannya ke penjara dan menghukumnya dengan hukuman setimpal.  Bagaimana mungkin hal ini dilakukannya? Sedangkan Fir’aun telah bertekad menjadikan Musa penggantinya.

Polisi penangkap Musa tidak mendapati Musa di tempat-tempatnya dan dicari ke persembunyian-persembunyian. Musa telah melarikan diri, ia melakukan perjalanan ke arah barat dan tiba dikawasan Madyan, kawasan di utara Jazirah Arab. Di negeri Madyan Musa berjumpa dengan nabi Syu’aib, menikahi satu putrinya dan setelah menunaikan mahar yang dijanjikan, yaitu bekerja pada Syua;ib sepuluh tahun, Musa diperintahkan Allah untuk kembali ke Mesir bersama keluarganya. Musa meminta kepada Allah agar turut mengangkat saudaranya Harun menjadi nabi dan bersama menyeru manusia agar beriman kepada Allah.

Perintah untuk kembali ke Mesir, dan berdakwah, menyeru ayah angkatnya Fir’aun untuk menyembah Allah yang Maha Esa. Seruan yang terasa oleh Fir’aun bak  penghinaan atas segala kekuasaan dan kedigjayaan yang telah dicapai kebudayaan Mesir. Fir’an dengan tegas menyatakan bahwa dikehidupan bumi : “Akulah Tuhan Manusia yang paling tinggi”

10 tahun berlalu tanpa kehadiran Musa di sisi Fir’aun dan Fir’aun telah menjadi tiran diktator dengan slogan kesombongan : “Akulah Tuhan”. Kesombongan yang diperkokoh oleh bangsa penyihir,  kaum ilmuwan dan konglomerat. Zaman Fir’aun dimana kalangan Magis penyihir satu pendapat dengan para saintis dan konglomerat menyokong kesombongan itu.

Fir’aun menantang musa agar menunjukkan bukti-bukti keberadaan Allah, kita mengenal kisah Musa dan para penyihir, yaitu kisah tongkat Musa yang berubah menjadi ular mengalahkan kekuatan para penyihir. Kejadian yang berakhir dengan keimanan para penyihir dan mereka berakhir dengan hukuman dibunuh.

Selain kisah para penyihir yang sangat terkenal potongan surat al Mukmin memberikan spektrum pemahaman yang kaya akan struktur dakwah nabi Musa, yaitu pertama surat al Mukmin (40) ayat 23 – 45.

“dan Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata. kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; Maka mereka berkata: “Musa adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.  Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak lelaki kaum yang beriman bersama Musa dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia.

 

Kebijakan membunuh anak lelaki bani Israel kembali ditetapkan, sebagaimana dahulu pernah diterapkan sewaktu Musa didalam kandungan ibunya. Tidak puas hingga dititik ini, Fir’aun kemudian menyatakan akan membunuh Musa dengan tangannya sendiri.

 

“dan berkata Fir’aun kepada meterinya: “Biarkanlah aku membunuh Musa agar ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.

 

Fir’aun memegang teguh tradisi peribadahan klasik Mesir, beragama dengan segala kekuatannya, dan memiliki persepsi bahwa ia lah yang telah menyebar kebaikan di muka bumi, sedangkan Musa datang dengan sesuatu yang dapat menyebabkan keterbelakangan.

Musa telah berhadap-hadapan dengan Fir’aun. Tekad Fir’aun membunuh Musa telah bulat. Musa kemudian mengeluarkan statement :

“dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari didengarnya kesaksian”.

 

Dalam situasi yang sangat genting, seorang ningrat Qibthi, kerabat Fir’aun, sejarah menulis ia adalah saudaranya Asiyah melakukan pembelaan.

 

“dan seorang laki-laki yang beriman dari kerabat Fir’aun, ia menyembunyikan keimannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika Musa seorang  berbohong Maka Musalah yang menanggung dosa bohongnya itu; dan jika Musa seorang yang benar niscaya bencana yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

 

Saudara Asiyah, seorang orator ulung dengan logika berpikir yang tajam menukik pada inti-inti permasalahan. Orasi yang berpengaruh pada siapa saja yang mendengarnya. Sebagaimana di hari genting itu Musa dan Fir’aun melakukan debat terbuka yang sangat elegan.

 

Musa berkata: “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!”

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.

 

Bagi saudara Asiyah, jalan pikiran Fir’aun adalah hanya berdasar persepsinya, tanpa kesimpulan yang benar tentang riset atas apa yang terjadi diseantero dunia. Apa yang terjadi pada kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

 

“dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa bencana seperti Peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. yakni seperti Keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. yaitu hari ketika kamu lari berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari azab Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.

 

Saudara Asiyah kemudian mengingatkan pada hal yang lebih dekat dari semua kisah masa lampau itu. Mengingatkan akan kehadiran Yusuf, yang merupakan titik keberadaan Bani Israel di tanah Mesir. Yusuf yang telah banyak berjasa bagi Mesir dan masyarakatnya. Yusuf yang menyerukan hal yang sama,  yaitu penyembahan kepada Allah, Tuhan semesta alam.

 

“dan Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu Senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika Dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang rasulpun sesudahnya.

Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampaikepada mereka. Amat besar kemurkaan bagi mereka di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”

 

Keraguan pembesar Mesir dan masyarakatnya akan Allah, telah terjadi sejak zaman sebelumnya. Jasa besar Yusuf terhadap kemanusian di tanah Mesir tidak serta merta menjadikan bangsa Qibth beriman kepada Allah, hingga tiba di zaman Musa, sang raja Fir’aun berkata :

“dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.

 

Fir’aun tak bergeming dalam kesombongannya. Ia berpersepsi bahwa pandanganya adalah benar.

 

Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan Dia dihalangi dari jalan yang benar; dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

 

Persepsi yang salah dibenak Fir’aun benar-benar membuat saudara Asiyah khawatir. Dengan tajam dan sabar saudara Asiyah mendoktrinkan kata-kata yang semestinya meresap kedalam sanubari

“orang yang beriman itu berkata:

–          “Hai kaumku, ikutilah Aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

–          Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara

–          dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.

–          Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu.

–          dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

–          Hai kaumku, Ada apa dengan kalian?, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?  Kenapa kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui Padahal aku menyeru kamu agar beriman kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?

–          sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku beriman kepadanya tidak dapat mengabulkan do’a apapun baik di dunia maupun di akhirat.

–          dan Sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka Itulah penghuni neraka.

 

Orasi yang seharusnya berpengaruh mendalam ini tidaklah menemukan hasil yang diinginkan, saudara Asiyah menatap wajah-wajah kaumnya, dan tetap mendapati keraguan di wajah-wajah itu. Kemudian ia menutup perkataanya dengan kata yang sangat menghujam :

kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

Keberanian dari saudara Fir’aun yang Allah apresiasi dengan kasih sayangNya. Memberikan orasi kontra terhadap mayoritas pendapat ditengah-tengah ketegangan, keberanian yang bersumber dari keimanan. Allah memeliharanya dari gangguan kaumnya.

Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, adapun Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk.

 

Musa selamat dari upaya pembunuhan yang akan dilakukan langsung oleh Fir’aun. Para penyihir telah tiada. Fir’aun kini disokong kekuatan birokrat, ekonom dan kalangan saintis saja. Al qur’an merekam kesombongan para pembesar zaman Fir’aun dalam surat al ‘Araf ayat 127 – 135 :

“berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini Mesir dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”.

Fir’aun menjawab kerisauan para pembesar Mesir dengan menyatakan akan terus melaksanakan kebijakan membunuh bayi-bayi Bani Israil

Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”.

Cobaan yang terjadi pada Bani Israel ini telah terjadi sebelum Musa kembali ke Mesir, cobaan yang bisa jadi mendatangkan keputusasaan. Musa menenangkan kaumnya dengan kata-kata bijak

Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi itu milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

 kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada Kami dan sesudah kamu datang.

Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu penguasa di bumiNya, Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu jika menjadi penguasa.

 

Allah kemudian memberikan harapan kepada Bani Israel. Allah mendatangkan bencana bertubi yang menimpa bangsa Mesir tetapi tidak menimpa Bani Israel. Satu kejadian di tempat yang sama tidak berpengaruh apapun kepada bani Israel. Hal ini terjadi dengan harapan Fir’aun dan para pengikutnya menjadi tersadarkan dari kekeliruan cara berpikir.

Bencana bertubi yang ternyata sama sekali tidak menggoyahkan membatunya hati dan pikiran Fir’aun dan para pengikutnya. Semua ini terekam dalam ayat-ayat berikut :

 

“dan Sesungguhnya Kami telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena usaha kami”.

dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.

ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

 mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, Maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

 dan ketika mereka ditimpa azab yang telah diterangkan itu merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhamnu dengan perantaraan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada Kami, pasti Kami akan beriman kepadamu dan akan Kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.

 Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang ditentukan, tiba-tiba mereka mengingkari janjinya.

 

Demikianlah kisah Musa menyeru Fir’aun agar menyembah Allah. Kesombongan akan kedigjayaan ilmu pengetahuan telah menghalangi keimanan. Fir’aun dan pasukannya tenggelam di laut merah. Dan hidup dalam suatu dimensi dunia yang berbeda dari dunia manusia. Hidup di bumi dengan penderitaan. Surat al Mukmin (40) ayat 146-154 mengabadikan kisah ini.

 

“ kepada mereka ditampakkan api setiap pagi dan petang,

“ dan pada hari terjadinya kiamat. Dikatakan kepada malaikat: “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam siksa yang sangat keras”.

“dan ingatlah, ketika mereka berbantah-bantah dalam api, Maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya Kami adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan dari Kami sebahagian azab api neraka?”

orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambaNya”.

dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan siksa dari Kami barang sehari”.

penjaga Jahannam berkata: “Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?”

mereka menjawab: “Benar, sudah datang”.

penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”.

dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.

yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

Sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

 

 

Dalam memperjuangkan kebenaran sikap terbaik manusia adalah bersabar, sebagaimana ayat yang menutup kisah Musa dalam surat al Mukmin, yaitu ayat 155.

Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

 

 

bisa dibaca lengkap pada buku islamic golden perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700