Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi (2)

 

  1. Kabar keturunan Sam bin Nuh

Pada keturunan Sam, dalam kurun 1000 tahun terdapat dua kenabian. Pertama Nabi Hud , yang Allah utus bagi keturunan Sam yang mendiami kawasan Arab selatan, keturunan Sam yang telah teridentifikasi sebagai suatu bangsa bernama bangsa ‘aad. Bangsa ‘Aad adalah keturunan ‘Aad bin –‘Uud bin Iram bin Sam bin Nuh.

Nabi Hud sendiri memiliki nasab, Hud putra Shalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Maka bahasa al Qur’an yang kita baca adalah :

“dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan  Tuhan saja.” (Hud : 50)

 

Kedua Nabi Sholeh, yang Allah utus kepada keturunan Sam yang mendiami kawasan utara jazirah Arab. Kaum ini telah teridentifikasi menjadi etnik Tsamud. Tsamud adalah keturunan Sam yang memiliki nasab Tsamud putra Jatsir bin Iram bin Sam.

Nabi Sholeh sendiri memiliki nasab, Sholeh putra ‘Ubaid bin Asif bin Mashikh bin ‘Ubaid bin Jadir bin Tsamud.

Dua kali diutus nabi, namun ternyata perkembangan spiritual menjauh dari keyakinan akan keharusan menyembah satu Tuhan, Allah. Pada masyarakat keturunan-keturunan Sam penyembahan berhala merajalela, hingga tiba zaman Ibrahim as dan tiada satupun manusia yang menyembah Allah sebagai Tuhan.

Masyarakat keturunan Sam mengenal Allah sebagai pencipta, dan untuk menyembahnya diperlukan suatu perantara yang mendekatkan. Perantara-perantara tersebut berupa patung Tuhan, atau pohon, atau patung orang sholeh yang mendekatkan pada Tuhan.

Ibrahim teguh kukuh dalam keimanan kepada Allah, menyerukan penyembahan Allah ke tengah-tengah kaumnya yang dipimpin seorang raja keturunan Ham putra Nuh. Kaum yang menyembah patung-patung pahatan dari batu, dan pemahat utamanya adalah Azar, ayah Ibrahim.

Azar ayah Ibrahim dipanggil juga Tarikh adalah putra Nakhur Bin Sarugh bin Arghu bin Falagh bin Ghabir bin Syalakh bin Qainan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Peristiwa tidak terbakarnya Ibrahim oleh api teramat dahsyat yang dinyalakan Ibrahim ternyata tidak menghadirkan keimanan sang raja Namrudz dan keimanan massal masyarakat babylon. Hanya seorang ponakan Ibrahim, Luth putra Haran bin Azar yang beriman, juga seorang sepupu perempuan Ibrahim, Sarah yang kemudian di peristrinya.

Tiga orang yang teguh menentang arus masyarakat zamannya, memegang erat hakikat kebenaran yang diyakini, Ibrahim, Sarah dan Luth. Mereka bertiga, berteman rasa kasih sayang dari ayah Ibrahim, dan ayah serta ibu Luth, mengembara dalam pelarian mempertahankan keyakinan, menyapa negeri dan peradaban. Meskipun Azar, Haran dan istrinya tidak beriman, ketiganya mendampingi putra-putra mereka dalam pengembaraan memperjuangkan kebenaran.

Ibrahim meninggalkan tanah babil, menelusuri arah pesisir barat hingga tiba di utara Syam, dikawasan yang dikenal dengan nama Harran, dan Azar wafat di kawasan ini. Nabi Ibrahim mengidentifikasi penduduk kawasan utara Syam ini adalah keturunan Yafits bin Nuh. Mereka menyembah bintang. Nabi Ibrahim menyeru kaum ini agar beriman dan menyembah Allah semata, tetapi seruan yang tidak bermanfa’at bagi hati, pendengaran dan penglihatan yang tidak mau terbuka.

Negeri Syam yang kini menjadi lima negara : Syiria, Lebanon, Israel, Palestina dan Yordan. Negeri Syam dikenal saat itu sebagai negeri Kan’an. Ibrahim dan Sarah tinggal di kawasan Hebron, adapun Luth mengambil tempat di satu titik di Yordan.

Babylon, Syam, dan Mesir , di masa Ibrahim, adalah negeri negeri yang pemerintahannya dikendalikan keturunan Ham putra Nuh, adapun rakyatnya bercampur antara putra Sam dan Ham.

 

  1. Kabar Keturunan Ham

Pada keturunan Ham, kebudayaan Mesir kuno dan Sumeria adalah maestronya. Seribu tahun berlalu dan tinggalah nama Allah terdengar sayup dan samar.

Pada masyarakat keturunan Ham berkembang berbagai pemikiran dan falsafah spiritualisme religius. Pencarian akan Tuhan hidup ditengah-tengah perkembangan teknologi dan peradaban. Kejeniusan manusia yang terus menerus digempur rayuan iblis untuk sombong akan kedigjayaan.

Ada dua tipikal utama yang menjadi ciri khas keturunan Ham

–          Penyembahan raja digjaya yang sangat berkuasa

–          Penyembahan dewa-dewa dengan representasi utama dewa matahari

 

Sesudah tinggal beberapa saat di Hebron, Ibrahim bersama Sarah mengembara ke Mesir, dan mendapati raja Mesir yang masih mengakui adanya hal yang tertangkap indera yang memiliki kekuasaan atas semesta, berbeda dengan Namrudz yang jejak pengenalan pada Allah Sang Pencipta semesta sudah tidak terdapat sama sekali.

Perjalanan ke Mesir dengan kondisi terkenal sebagai lelaki yang tidak terbakar api. Raja Mesir yang menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Bertamu yang memahat pesan dalam benak sang raja Mesir bahwa Ibrahim dan Sarah berada dalam kebenaran.

Dalam catatan sejarah islam, Raja Mesir saat itu teridentifikasi Thuthis putra Malia bin Kharibta bin Maliq Bin Tadares bin Saba bin Mesir bin Baishir bin Ham bin Nuh. Sang raja menghadiahkan seorang budak bernama Hajar bagi Sarah.

Pengenalan pada Allah tidak serta merta melahirkan penyembahan monotheisme pada Allah semata, meski dalam catatan-catatan hieroglyph yang telah diterjemahkan diceritakan bahwa kebudayaan Mesir antik mengenal Amon sebagai pencipta, tetapi terdapat dewa-dewa lain yang disembah selain Amon.

 

  1. Kabar Keturunan Yafits

Pada keturunan Yafits, kebudayaan Yunani, Eropa dan Cina menjadi ciri utamanya. Dalam sejarah islam tidak banyak ditemukan catatan tentang perkembangan spiritualitas dan religiusitas keturunan Yafits dalam seribu tahun sejak banjir besar surut. Seribu Tahun sejak perahu bertambat digunung Joedy adalah setara dengan 3000 tahun sebelum Masehi.

Para sejarawan dunia barat, mendefinisikan 3000 tahun sebelum Masehi sebagai zaman Perunggu, dan bukti-bukti tertulis belum terlalu banyak didapat.

Adapun dalam perjalanan masa yang terus mendekat hingga zaman Musa, keturunan Yafits banyak terwarnai oleh ragam agama dan pemikiran yang berkembang pada keturunan Ham.

Penulis buku Akhbar Zaman (Berita Masa), Imam Mas’udiy (wafat tahun 346 Hijriyah/960 Masehi) menulis bahwa sesudah Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh wafat, putranya yaitu Cina membuatkan patung emas untuknya. Cina bertawaf mengelilingi patung emas ayahnya untuk menghormatinya dan kemudian hal ini diwajibkan kepada seluruh masyarakat, yang kemudian menjadi cikal bakal agama Cina kuno sebelum agama Budha yang berasal dari India menyebar di Cina (masyarakat India masyarakat keturunan Ham).

 

Bahasa-bahasa dunia

Bahasa yang dipakai manusia sejak zaman Adam hingga beberapa abad keturunan Nuh adalah bahasa Suryani.

Sebelum keturunan Nuh menyebar ke pelosok bumi, mereka tinggal di Babylon atau  kawasan Iraq. Kemudian Qahthan, ‘Aad, Tsamud, ‘Amlaaq, Thasam, dan Jadis yang semuanya merupakan keturunan Sam menjelajah jazirah Arab dan berbicara dengan bahasa Arab.

Bahasa-bahasa keturunan Nuh terdiferensiasi menjadi 72 bahasa utama, yang 37 diantara bahasa-bahasa tersebut ada pada keturunan Yafits, sebagai keturunan Nuh dengan jumlah terbanyak. 18 bahasa ada pada keturunan Sam, dan 17 bahasa pada keturunan Ham.

 

 

part of islamic golden perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Bagaimana Keturunan Nuh memenuhi bumi

Menjejakkan Langkah ke Pelosok Bumi.

Jazirah Arab, jantung dunia tengah, jika kita bersepakat menyebut kawasan asia hingga afrika utara yang terbentang mulai ujung India hingga Turki di utara dan batas barat ujung mesir sebagai dunia tengah.

Dari jazirah arab, persebaran manusia dengan pola radial kiri, persebaran yang membentuk kebudayaan pada daerah persebaran fase kedua

Ada empat teori tentang pusat-pusat persebaran manusia fase kedua :

  1. Teori Armenia, bahwa pusat persebaran manusia fase kedua adalah Armenia dan asia tengah dekat dengan gunung Ararat.
  2. Teori Babylon, menyatakan bahwa di negeri babylon lah pertama kali puncak kebudayaan manusia dibangun
  3. Teori pulau-pulau di laut Mediterania, menyatakan bahwa pusat kebudayaan tertua ada di garis kepulauan-kepulauan sepanjang laut mediterania.
  4. Teori Afrika – Abbysinia, menyatakan bahwa kebudayaan tertua adalah kebudayaan Abbysinia atau Ethiophia.

 

Keempat teori tersebut pada dasarnya tidaklah saling bertentangan, ketika kita membaca dengan seksama pola persebaran manusia di fase kedua, yaitu pola radial kiri, akan ada kesamaan waktu kemajuan budaya pada daerah Ethiophia, Mesir dan Summeria.

Fase persebaran kedua yang dilakukan oleh anak-anak keturunan Nuh, yang selamat dari banjir besar yang terjadi di zaman itu.

 

Demografi Etnik-Etnik

Nuh dalam rombongan 80 orang menempati kampung delapan puluh dan memulai kehidupan baru. Kampung Delapanpuluh terletak di kawasan Messopotamia atau Iraq. Putra-putra Nuh yang ikut, Sam, Ham, dan Yafits memasuki perahu bersama istri-istrinya, dan dari mereka bertigalah manusia diseluruh dunia berketurunan.

Sam, istrinya bernama Sulba putri Batawil bin Mahwila bin Hanukh bin Qabil bin Adam. Putra-putra Sam adalah : Arfakhsyad , etnik Arab, dan etnik Yahudi (Bani Israil) adalah keturunan Arfakhsyad. Putra-putra Sam yang lainnya ‘Ailam, al Yafar atau Asyur , Laawidz dan Iram, beberapa nabi dari garis keturunan Iram.

Ham, istrinya bernama Nahliba putri Marib Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Ham memiliki putra-putra : Kusy, Quth, Yabshir atau Baishir dan Kan’an.

Kusy putra Ham, menikahi Qarnabil putri Batawil bin Tursi bin Yafits, dari pasangan ini lahir nenek moyang bangsa Abbisynia, Sind dan Hind.

Adapun Quth putra Ham, menikahi Bakhta putri Batawil Bin Tursi bin Yafits. Dari mereka terlahir nenek moyang suku Barbar.

Adapun Yabshir dan Baishir adalah nenek moyang bangsa Mesir. Mishr, anak Yabshir sedang duduk bersama ayah dan kakek yang dalam keadaan transisi antara tidur dan sadar. Nabi Nuh memanggil Ham dan keturunannya, tak satupun menjawab panggilan Nuh, kecuali Mishr, karena itu, Nuh mendo’akan Mishr bahwa kelak mendiami negeri yang subur dan diberkahi.

Adapun Kan’an putra Ham menikahi Artila putri Batawil Bin Tursi bin Yafits, dari mereka terlahir nenek moyang bangsa-bangsa hitam seperti Nubah, Fazan, Zenk, Zaghawah, dan seluruh bangsa kulit hitam.

Yafits putra Nuh, istrinya bernama Arbasisah putri Marazil Bin Daramsil Bin Mahwila bin Hanukh Bin Qabil, darinya Yafits dikaruniai putra-putra, yaitu :

  1. Kumir atau ‘Umir atau Gomer,
  2. Hawan atau Yawan atau Yunan,
  3. Tubal atau Qutubal,
  4. Magog,
  5. Masyih atau Kasyih,
  6. Tursi atau Thabrasy atau Tharaqi.

Dalam riwayat israiliyat ditambah : Madai, sehingga berjumlah 7 putra

Imam Baihaqi menambahkan ‘Alajaan, sehingga berjumlah 8 putra

Dan Ibnu Sa’id menambah Saubil sehingga berjumlah sembilan

Dan seorang putri bernama Shabaka.

 

Anak cucu Nuh inilah yang kemudian memenuhi bumi dan membangun kota-kota pusat peradaban sesudah banjir besar yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali mereka yang turut dalam perahu Nuh.

 

  1. Kota-kota yang dibangun generasi terdahulu keturunan Sam bin Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun oleh keturunan Sam bin Nuh

–          Kawasan Yaman, keturunan Iram putra Sam Bin Nuh yang pertama kali membangun kawasan ini

–          Syahr, kota terletak di negara Oman sekarang, merupakan pusat kerajaan pertama yang berdiri sesudah banjir besar, negerinya keturunan ‘Aad putra ‘Ewash bin Iram bin Sam bin Nuh

–          Kota Shan’a, dibangun Sam bin Nuh saat berkelana mencari kawasan yang suhu nya sedang tidak panas dan tidak dingin, dan ditemukanlah olehnya daerah Shan’a dan dibangunlah kota.

–          Kota Yatsrib, yang sekarang dikenal dengan nama Madinah kota nabi Muhammad, dibangun oleh Yatsrib putra Qaniyah Bin Mahlail bin Sam bin Nuh.

–          Damaskus, ibu kota Syiria, dibangun oleh Damaskus putra Qani Bin Malik bin Arfakhsyad Bin Sam Bin Nuh.

–          Anthakiya, diberi nama dari Anthakiya putri Rum bin al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Hiraqla, salah satu daerah di kekaisaran romawi, yang dinami demikian dari Hiraqla putri al Yafar bin Sam bin Nuh.

–          Kota Bawan, dibangun oleh Bawan bin Iran bin Sam bin Nuh

–          Wabar, kota yang dibangun oleh Wabar putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Jurjan, kota yang dibangun oleh Jurjan putra Umaim Bin Laawidz Bin Sam bin Nuh.

–          Khurasan, kota yang kemudian berkembang menjadi kawasan membentang antara Afghanistan dan Iran. Keturunan Asyur putra Sam Bin Nuh lah yang pertama kali membangun kawasan ini.

–           Kota Samira, yang sekarang dikenal Ray, dahulunya pernah dijadikan sam bin Nuh tempat tinggal.

–          Azerbijan, diberi nama dari Azerbijan putra Iran Bin al Aswad bin Sam Bin Nuh

–          Asfahan, dinamai dari Asfahan putra Laawidz bin Sam bin Nuh.

–          Faris, daerah luas di timur utara Iraq, yang dinamai demikian dari Faris putra Madyan bin Iram bin Nuh. Meski orang-orang Persia enggan mengakui nasab ini.

 

  1. Kota-kota yang dibangun oleh keturunan Ham putra Nuh

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Ham adalah :

–          Afrika, nama benua berasal dari Fariq putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Fariq menjelajahi daerah selatan dan barat Mesir untuk menyaingi Mesir saudaranya yang mengusai daerah yang telah ditempati keturunan Yabshir sebelumnya.

–          Mesir, dinamai demikian dari nama Mesir putra Yabshir bin Ham bin Nuh. Mesir meneruskan kepemimpinan ayahnya Yabshir.

–          Manfu, kota pertama yang dibangun di Mesir, dibangun oleh Yabshir Bin Ham bin Nuh. Manfu dalam bahasa Qibti dieja Mafih yang artinya tigapuluh, karena Yabshir datang bersama keturunannya berjumlah 30 orang.

–          Palestin, diambil namanya dari Palestin putra Kuslukhim bin Shidqiya bin Kan’an Bin Ham bin Nuh.

Ada yang berkata bahwa Palestin dinamai dari Palestin putra Sam bin Iram bin Sam bin Nuh.

–          Asfi, di sekitar Marokko, dibangun keturunan-keturunan Ham yang kalah berperang dengan keturunan Sam.

–          Ka’bar, ibu kota Abbysinia atau Ethiopia dibangun Habsy putra Kusy Bin Ham bin Nuh

 

  1. Kota-kota yang dibangun keturunan Yafits

Diantara kota-kota yang dibangun keturunan Yafits :

–          Andalus, kawasan yang membentang dari negara Spanyol dan Portugal  hingga beberapa negara Afrika utara, Maroko, al Jazair, dan Tunisia. Kawasan yang dibangun oleh Andalus putra Tubal bin Yafits bin Nuh.

Cucu Andalus, Isyban (Spain, Spanyol) putra Thuthis bin Andalus bin Tubal bin Yafits bin Nuh membangun banyak kota di kawasan ini, sehingga nama Spanyol pun masyhur.

–          Negeri Frank, yaitu kawasan Eropa Barat tengahmulai dari batas Prancis Spanyol hingga ujung Yunani, kawasan yang pertama kali dikembangkan oleh Frank atau dalam ejaan arab Afranjah keturunan Yafits.

–          Galicia, satu kota di spanyol utara, Galicea atau dalam ejaan arab Jalaliqah adalah putra dari Yafits bin Nuh.

–          Tharaqi, kota antik di timur Konstantinopel atau Istanbul, dinamai Tharaqi sesuai pendirinya yaitu Tharaqi putra Yafits.

–          Yunani, sebuah kebudayaan klasik yang sangat besar yang secara teritorial membentang di Eropa Tengah hingga batas Timur. Dinamai Yunani dari Yunan putra Yafits. Bangsa Romawi klasik adalah keturunan yunan juga. Adapun bangsa Romawi yang membangun kekaisaran Romawi beberapa abad sebelum kelahiran nabi Isa as. Adalah keturunan Iyas putra Ishaq putra Ibrahim. Iyas menikah dengan putri pamannya, Isma’il.

–          Cina, kawasan yang membentang luas, negeri sungai subur dengan ditutupi padang pasir. Kawasan yang pertama kali dibangun oleh Amur putra Saubil bin Yafits Bin Nuh, kemudian dinamai Cina yang dalam bahasa arab di eja Shin sesuai dengan nama Shin putra Saubil bin ‘Amur Bin Yafits yang menjadi raja pertama. Pengembangan yang dilakukannya adalah pertambangan emas dan industri. Cara menambang emas yang dikembangkan Shin menyebar dan menjadi sumber kemakmuran rakyat Cina, hingga tatkala Shin wafat, dibuatkan patung emas untuk Shin.

 

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa etnis-etnis Eropa adalah antara keturunan Yafits dan  Sam. Bangsa-bangsa Afrika baik yang berkulit agak terang atau berkulit hitam adalah keturunan Ham. Bangsa-bangsa timur adalah keturunan Yafits. Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

Manusia terus berkembang dan pergaulan antar etnik yang sempat saling menjauh kemudian berbaur dan bercampur kembali. Baik pergaulan yang bersifat positif seperti ekspedisi ilmiah, perdagangan atau mencari penghidupan yang lebih baik.

Adapula pergaulan yang bersifat negatif seperti penaklukan, monopoli dan penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya.

Peta arah persebararan manusia di mulai dari kawasan gunung Joedy, yaitu kawasan yang menjadi pangkal berkembangnya kebudayaan summeria dan kemudian Akkadian, manusia yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia.

 

part of Islamic Golden Perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Dari Adam ke Nuh

Idris adalah turunan ke enam Adam dari Syits, yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, Ia adalah yang pertama memintal benang dan menjahit pakaian, ia pula yang pertama pula mengenakan pena untuk menulis dan mengajarkan, diantaranya menulis dan mengajarkan wahyu, padanya diturunkan 30 lembaran-lembaran suci. Idris pun sangat tertarik mempelajari ilmu astronomi dan matematika. Ditenggarai Idris ini yang disebut dalam kebudayaan Yunani kuno sebagai Hormus. Kebijakan Idris yang lain adalah menjadikan garis patriarkal keturunan Qabil sebagai budak.

Pada garis patriarkal kita dapat mengatakan keturunan Adam selain dari Syits terputus seiring dengan zaman, dan ilmu nasab ini termasuk ilmu yang terlupakan keturunan Adam, kecuali oleh sedikit saja.

 

Kenabian dan sistem ritual

Adam diturunkan ke bumi dalam kondisi psikologis terusir karena berbuat kesalahan. Beberapa saat setelah turun ke bumi, Adam menangis dan memohon pengampunan, tidak makan selama 40 hari, tidak mendekati Hawa selama 100 tahun.  Kemudian Allah mengajarkan suatu do’a pada Adam : “Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah zhalim pada diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, maka kami termasuk kaum yang merugi”

Adam kemudian diperintahkan membangun ka’bah dengan permata merah dari Surga, berthawaf dan shalat sebagaimana yang dilaksanakan di sekeliling ‘arsy. Kemudian diperlihatkan manasik haji. Sepanjang hidupnya Adam berhaji 40 kali, di mulai dari India dengan berjalan kaki.

Adam dibekali dengan 21 lembaran-lembaran suci, didalamnya terdapat keterangan tentang halal dan haram, diantaranya haramnya bangkai, darah dan daging babi. Dalam lembaran-lembaran suci diperintahkan pula shalat 50 raka’at dalam sehari.

Setelah beranak cucu banyak, Allah mengenalkan suatu sistem peringatan ditengah umat manusia, yaitu sistem kenabian, suatu sistem yang merupakan unsur utama dalam keyakinan akan adanya wahyu Tuhan.

Adam adalah nabi utusan pertama, menyeru di tengah-tengah anak keturunannya yang hingga Adam wafat telah berjumlah 4000 orang.

Qabil yang melarikan diri ke Yaman kemudian tergoda iblis dan melakukan ritual penyembahan api. Adapun penyembahan berhala di mulai saat Yardu ayah Idris menjadi pemimpin kaum. Anugerah kenabian terdekat sesudah Adam ada pada Syits dan kemudian Idris. Pada Syits, Allah menurunkan 50 lembar dari lembaran suci dan pada Idris menurunkan 30 lembaran suci.

 

Sistem Keuangan

Dalam sejarah dunia diperkenalkan, bahwa sistem tukar menukar baranglah yang pertama kali berlaku dalam interaksi ekonomi manusia. Namun dalam keterangn sejarawan Muslim disebutkan bahwa sistem dinar dan dirham telah diajarkan Allah kepada Adam.

Iblis pun bersumpah bahwa dinar dan dirham adalah cara yang paling jitu dalam menyesatkan manusia dan membuatnya terhalang dari meyakini kebenaran.

 

Kejahatan pidana

Kejahatan pidana pertama adalah pembunuhan oleh sebab persaingan mendapatkan istri. Dalam zaman yang lebih kemudian, permasalahan wanita dan cinta termasuk permasalahan yang membelit ummat manusia bahkan hingga menyebabkan perang.

Habil dibunuh Qabil, dan kemudian Qabil melarikan diri dan melarikan saudarinya ke Yaman. Qabil beranak cucu di Yaman, dan melakukan tindak-tindak pidana lainnya, perzinahan, minum-minuman keras dan kerusakan di muka bumi. Adam menyaksikan kerusakan-kerusakan yang terjadi di tengah anak cucunya

 

Wasiat Kepemimpinan

Setiap bangunan komunitas membutuhkan kepemimpinan, lebih-lebih dalam menunaikan tugas sebagai pengelola bumi, maka adanya figur pemimpin dan sistem kepemimpinan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Komunitas yang terbangun telah terbagi dua sejak zaman Adam, ada mereka yang menjalankan apa-apa yang dijalankan oleh Adam, dan ada yang mengambil sikap berlawanan dengan apa-apa yang dijalankan Adam

Beberapa saat sebelum Adam wafat, Adam mewasiatkan amanah kepemimpinannya kepada Syits. Kemudian Syits mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Anwasy. Anwasy mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Qainan, dari Qainan ke putranya Mahlail, dari Mahlail ke Yardu, dan dari Yardu ke putranya Khanukh atau Idris.

Yardu masih hidup ketika Idris diangkat kelangit, dan Indris mewasiatkan kepemimpinan kepada Mattusyalakh.

 

Menuju zaman Nuh

Lamik Bin Mattusyalakh, turunan ke delapan Adam dari Syits menghadapi tantangan zamannya, sejak zaman kakek buyutnya, Yardu, bibit penyembahan berhala telah tersemai. Disisi lain banyak keturunan Qabil menyembah api dan juga menyebarkan musik dan nyanyian agar manusia terlena. Demikian gambar kehidupan menuju era Nuh yang didapat dari sumber-sumber sejarah islam.

Adapun dalam riwayat sejarah Persia, disebutkan bahwa buyut Mahlail dari putra selain Yardu menjadi raja, raja tersebut bernama Thomhurutsa. Thomhurutsa menguasai iblis dan menjadikannya budaknya. Memerintah dengan keadilan, mendirikan kota-kota dan mengolah bulu domba menjadi kain wol. Thomhurutsa yang pertama kali menulis dengan bahasa Persia. Thomhurutsa ta’at kepada Allah, dan menghadapi tantangan masyarakat yang semakin mencintai seni memahat menyembah hasil pahatannya dan mengatakan itu semua sebagai cara agar dekat dengan Tuhan. Di zaman Thomhuritsa lahir Biyaurasib yang merupakan cikal bakal kaum Shabi’in.

Setelah Thomhurutsa wafat, keponakannya, Jamsyid meneruskan kepemimpinan kerajaan. Jamsyid mengatur kehidupan sosial dan ekonomi dengan cermat. Jamsyid adalah raja yang hidup lebih lama dari rakyatnya. Usia manusia saat itu telah berkurang dari usia Adam, hanya beberapa saja yang masih berusia seperti usia Adam atau mendekati, diantara Jamsyid yang hidup hingga 700 tahun.

Tahun pertama hingga tahun kelima puluh pemerintahnya jamsyid hanya menyerukan satu pekerjaan industri yaitu pembuatan aneka senjata dan mesin-mesin industri.

Tahun kelima puluh hingga seratus pemerintahannya, mulai mengembangkan industri pemintalan serat dan benang, mengembangkan industri tekstil dengan aneka warnanya.

Kemudian di tahun 100 hingga 150 masanya, Jamsyid melakukan klasifikasi pekerjaan menjadi empat : prajurit, ilmuwan, penulis dan para pekerja industri dan pertanian. Dari setiap klasifikasi pekerjaan itu Jamsyid mengambil satu ahlinya sebagai menteri baginya.

Dalam selang waktu ini Jamsyid juga memperkenalkan sistem cap untuk beberapa jenis tanggung jawab. Untuk urusan perang capnya bertuliskan : Lembut dan Sopan. Untuk urusan keuangan capnya bertuliskan : Kemakmuran dan Keadilan. Untuk urusan pos dan surat menyurat capnya bertuliskan : kejujuran dan amanah. Untuk urusan hukum dan keadilan capnya bertuliskan : berpolitik dan berbagi.

Dari tahun 150 hingga tahun 250 Jamsyid memerangi komunitas setan hingga mendapatkan kemenangan, Kemudian dari tahun 250 hingga tahun 316 Jamsyid mempekerjakan komunitas setan untuk pekerjaan industri dan pertambangan. Penemuan paling mutakhir adalah roda besi yang dipergunakan untuk kendaraan, yang kemudian kendaraan tersebut dapat terbang menempuh jarak Dunbawan dekat Thabrastan ke Iraq dalam waktu satu hari. Hari tiba kendaraan di iraq diperingati selama 5 hari berturut turut, dan dihari ke enam Jamsyid mengumumkan bahwa semua apa yang dikerjakannya selama 316 tahun diridhai Allah, dan Allah memberikan balasan berupa dihilangkannya cuaca sangat panas, dihilangkannya cuaca sangat dingin, dihilangkannya kemandulan, dihilangkannya hal-hal sulit dan juga dihilangkannya rasa dengki.

Manusia hidup 300 tahun sesudah itu tanpa ditimpa satupun musibah, hidup dalam cinta kasih dan perdamaian.  300 tahun yang melenakan yang berujung Jamsyid mengaku dirinya Tuhan. Pengakuan yang menimbulkan peperangan dan peperangan itu berakhir dengan kemenangan Biyaurasib.

Biyaurasib menjadi raja ditengah-tengah masyarakat yang mewarisi kemajuan industrial di zaman Jamsyid dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat, yang pada gilirannya membuat sistem ritual yang berlaku di masyarakat adalah pensakralan patung orang-orang yang berjasa bagi kemanusiaan dan bangunan peradaban.

Dalam kemajuan yang seakan tak tertahan, komunitas garis keturunan Adam dimana kenabian menyertainya, hidup bersama masyarakat dan turut dalam setiap perubahan yang terjadi.

Mari kita  memperhatikan kembali garis keturunan Adam dimana beberapa diantara mereka mendapat tugas kenabiaan, yaitu garis Adam – Syits – Anwasy- Qainan – Mahlail- Yarud – Idris – Mattuwasylakh – Lamik dan kemudian Nuh. Jumlah manusia saat Lamik lahir kurang lebih 4000 orang, dan jika menghitung pola pertambahan jumlah penduduk sejak zaman Adam, maka pada zaman Nuh jumlah manusia ada di kisaran angka 10 ribu jiwa.

Sistem klasifikasi penduduk dengan garis patriarkal masih terus berlaku hingga zaman Lamik, yaitu garis patriarkal Qabil menempati daerah pesisir, dan garis patriarkal Syits merupakan penduduk pegunungan. Batas pemisah diantara keduanya semakin kabur tatkala diriwayatkan bahwa beberapa saat sebelum Lamik ayah Nuh wafat, tiada lagi yang menghuni daerah pegunungan kecuali sedikit saja, diantaranya Nuh.

Kota-kota dibangun semakin mendekati pesisir, percampuran pergaulan dari setiap garis patriarkal terjadi dan setan pun berinteraksi leluasa dengan manusia.

Nuh hadir dalam masyarakatnya bukan sebagai ningrat secara ekonomi dan kekayaan, ia adalah tukang kayu yang kemudian menerima amanah wahyu kenabian.

Nuh adalah putra Lamik, adapun ibunya adalah Qinusha putri dari Barakil bin Mahwil Bin Khanuh bin Qabil. Nuh lahir 126 tahun sesudah Adam wafat. Nuh diberikan usia yang hampir sama dengan usia Adam, bahkan ada yang menyimpulkan bahwa usia Nuh melebihi usia Adam.

Nuh memulai tugas memberikan kabar gembira dan peringatan kepada kaumnya saat berusia 53 tahun hingga usianya 950 tahun, dan di setiap abad yang dilewati Nuh mendapati bahwa disetiap abad keturunan yang lahir berbuat lebih buruk dari nenek moyangnya.

Kaum Nuh mendustakan Nuh dan menyakitinya, hingga mereka mengira berhasil membunuh Nuh. Ketika Nuh tersadar, mensucikan dirinya kemudian kembali menyeru kaumnya siang dan malam tak kenal lelah, dan selalu mendapatkan tantangan dan disakiti kaumnya hingga mereka mengira telah membunuh Nuh. Ketika Nuh tersadar, mensucikan dirinya kemudian kembali menyeru kaumnya siang dan malam tak kenal lelah.

Demikian berulang, dan do’a Nuh bagi generasi awal yang ia berdakwah ditengah-tengahnya adalah agar kaumnya ini diampuni karena mereka tidak tahu. Namun zaman berganti zaman hingga 9 abad dan sikap membangkang dan mendustakan malah semakin hebat, sehingga Nuh berdo’a : “Wahai Tuhanku janganlah engkau tinggalkan di muka bumi satu orang pun yang merupakan bagian dari orang-orang kafir”

Maka sesudah 9 abad berlalu itu Allah membuat wanita-wanita kaum Nuh mandul, kemiskinan mulai merasuki masyarakat, dan Nuh tetap berusaha menyeru agar kaumnya beristighfar pada Allah hingga Allah kembali menganugerahkan kesuburan dan kekayaan.

Tetapi takdir Allah telah tertulis tiada akan ada lagi yang beriman kecuali mereka yang telah beriman dan Allah memerintahkan agar Nuh membuat perahu tiga lantai, dengan panjang 480 meter, lebar 240 meter dan tinggi 120 meter.

Perahu yang dipersiapkan sebagai antisipasi atas banjir besar yang akan menenggelamkan seluruh ummat manusia yang ada saat itu. Tanda nya adalah Oven zaman Adam yang mengeluarkan air dan Ka’bah yang terbuat dari batu ruby merah surga diangkat ke langit ke empat. Adapun Hajar Aswad di selipkan di gunung Abu Qubais dan tetap berada disana hingga Ibrahim membangun ka’bah kembali.

Nuh masuk bersama orang-orang yang beriman dan hewan-hewan yang diperintahkan Allah untuk dibawa. Manusia berjumlah 80 orang termasuk Nuh, menempati lantai teratas. Hewan-hewan buas dilantai kedua, dan hewan jinak dan burung dilantai dasar. Yang terakhir masuk perahu adalah keledai, dan Iblis menggantung di ekornya. Keledai tersebut sulit masuk, kemudian Nuh berkata : “masuklah engkau meski setan bersamamu” maka Iblis dapat turut serta di perahu Nuh.

80 orang manusia beriman termasuk 3 anak Nuh, Sam, Ham dan Yafits. Adapun satu anak lainnya, Kan’an atau Yam tidak mau memasuki perahu dan termasuk golongan kafir. Terdapat pula seorang penyihir penguasa Mesir Philium dalam perahu Nuh.

Turunlah hujan 40 hari, airnya separuh dari langit dan separuh dari bumi. Dan Perahu Nuh mulai berlayar menjelajahi bumi pada 10 Rajab. Banjir bumi berlangsung sangat lama, hingga perahu Nuh mengelilingi bumi dan kembali kedaerah sekitar Jazirah Arab, mengelilingi tanah Haram mekah selama satu minggu kemudian berlabuh di gunung Jody. Air pun surut, dan Nuh beserta seluruh penumpang keluar dari perahu pada tanggal 10 Muharram, maka dari itu di tanggal ini manusia berpuasa.

Berakhirlah fase pertama kehidupan manusia, dan yang hidup tersisa adalah 80 orang beriman pewaris kehidupan bumi, mereka memulai era baru yang dimulai dari perkampungan yang dinamai perkampungan Tsamanun atau kampung delapan puluh.

Maka apakah mereka yang mendustakan Nuh seperti apa yang dikabarkan al Qur’an itu memiliki kekuasaannya?

 

“Maka berkata para ilmuwan _para bijak cendekia dari kaum Nuh, yaitu mereka yang ditutup penglihatan mata dan hatinya dari menerima wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan_ mereka berkata : “Wahai Nuh, kami tidak dapat melihat keistimewaan apapun darimu, engkau hanyalah manusia seperti kami. Dan saat kami memperhatikan orang-orang yang mengikutimu adalah mereka yang termasuk golongan rendah diantara kami, mereka yang berpikiran sempit. Wahai Nuh dan pengikut Nuh, Sungguh kami tidak melihat kalian memiliki keutamaan diatas kami. Bahkan kami menganggap kalian para pendusta ilmu pengetahuan” (Hud : 27)

 

Fase pertama kehidupan anak Adam berkhir disini. Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya meletakkan kembali asal mula peradaban yang kelak terus berkembang pesat hingga hari ini, ada hal-hal yang jelas jejaknya ada yang samar bahkan nyaris tak berjejak.

Menjadi berbudaya adalah mempergunakan akal budi karunia Tuhan dengan sebaik-baiknya, menghindari sifat yang dipertanyakan al Qur’an :

 

“dan apa saja yang diberikan kepada kamu di dunia ini, Maka itu adalah ke-nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka mengapa kamu tidak menggunakan akal budi?” (al Qashshash : 60)

 

“dan Dialah Allah yang mengjadikan kehidupkan dan menjadikan kematian, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka mengapa kamu tidak mempergunakan akal budi?” (al Mu’minun 80)

 

selengkapnya dapat dibaca pada Islamic Golden Perspective

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Kisah Nabi Adam (yang tidak versi anak2… renungan orang dewasa)

Adam, dari bumi, diangkat kelangit, kembali ke bumi

Adam tercipta dari tanah bumi, dengan berbagai karakteristik tanah yang terdapat di dalam bumi. Dari sekian banyak malaikat yang diperintahkan Allah untuk mengambil tanah bumi sebelum penciptaan Adam, malaikat pencabut nyawa lah yang berhasil membawa tanah bumi ke langit.

Allah telah dengan tegas menyebutkan tujuan penciptaan Adam, yaitu untuk menegakkan sistem ritual menyembah Allah SWT.  Kemudian menetapkan fungsi keberadaan yaitu sebagai pengelola bumi (Khalifah), dan Allah menetapkan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik bekerja dan berkontribusi. Tiga hal ini tidak hanya melekat pada Adam, tetapi juga melekat dengan erat pada seluruh anak manusia keturunan Adam.

Penciptaan Adam yang terjadi dilangit, di dalam suatu ruang keindahan dan keabadian mengukir kesan mendalam pada manusia akan cita rasa seni dan keindahan, yaitu menghendaki keabadian.

Keabadian adalah hal yang pasti, bahwa semua manusia yang diciptakan Allah adalah abadi. Keabadian manusia adalah fase akhir dari kehidupan kembali-kehidupan kembali yang dialami manusia setelah kematiaannya.

Manusia tercipta dalam keadaan mati, dua unsur yang saling terpisah, unsur materi tanah bumi, dan unsur spirit langit ruh. Tatkala kedua unsur itu bersatu maka terlahirlah kehidupan. Demikianlah yang disebut kematian yaitu terpisahnya unsur materi fisik dan unsur ruh spiritual.

Manusia mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan, kematian saat fisik dan ruh masih terpisah dan kemudian dipersatukan hidup didalam rahim. Kematian kedua saat fisik dalam kubur yaitu alam barzakh dan ruh berada di tempat lain. Beberapa riwayat menyebutkan ruh orang beriman di langit ke empat, dan ruh mereka yang tidak mempercayai Allah dan berbuat jahat berada di lautan.

Setiap unsur materi fisik tertentu adalah pasangan unsur ruh tertentu yang tidak mungkin bertukaran, yang berart konsep reinkarnasi bertentangan dengan ini.

Unsur materi fisik memiliki sifat-sifat nya tersendiri dan unsur ruh spiritual memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Dan dalam kehidupan keduanya berpadu dalam dinamika pribadi manusia mengarungi kehidupan bumi, yang merupakan fase kehidupan ujian, menentukan tempat keabadian, apakah abadi dalam keindahan, atau kah abadi dalam penderitaan.

Adam, di langit, dalam ruang keabadian diberikan beberapa pengalaman :

–          Bahwa Berilmu pengetahuan adalah ciri utama umat manusia, ciri akan keutamaan dan kelebihan atas ciptaan-ciptaan Allah lainnya.

–          Bahwa Bersikap sombong terhadap unsur-unsur materi yang terdapat pada diri, seperti apa yang dilakukan Iblis adalah hal yang dibenci Allah, dan bahwa sikap sombong ini termasuk penghalang utama dalam keta’atan dan keimanan

–          bahwa terlalu cepat menginginkan keabadian memberikan peluang kepada musuh yaitu Iblis melancarkan serangannya yang dapat menghantarkan pada kehidupan keabadian dalam penderitaan.

Dengan bekal-bekal pengetahuan ini, Adam diturunkan ke bumi mengemban tiga kata kunci : Menyembah Allah, mengelola bumi dan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian.

Adam diturunkan ke bumi dan mendarat di pegunungan Hindia, pegunungan tertinggi di dunia, adapun Hawa diturunkan di Jeddah dekat Mekkah, dan keduanya bertemu di padang arafah.

Tim Wallace Murphy dalam what islam did for us menyebutkan bahwa penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir kuno yang sangat tinggi tidaklah menunjukkan perkembangan sesuatu dari yang primitif menuju yang lebih maju, tetapi ia adalah legacy atau warisan.

Jika memperhatikan apa yang terjadi sesudah Adam diturunkan ke bumi, apa-apa yang turut hadir bersama Adam di bumi menunjukkan perpaduan ada hal-hal yang bersifat langsung demikian yaitu Allah hadirkan bagi Adam, dan ada hal-hal yang harus dipelajari oleh Adam.

Zaman Besi

Sejarawan dunia asal Denmark Christian Jürgensen Thomsen (December 29, 1788 – May 21, 1865), mengklasifikasi zaman sejarah menjadi tiga, yaitu : zaman perunggu (bronze age 3000 SM – 1200 SM), zaman besi (iron age; 1200 SM – 300 SM) dan zaman pertengahan (medieval age).

Adapun Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Adam yang kisaran masa hidupnya adalah 6000 tahun sebelum masehi telah memiliki pengetahuan tentang besi dan menggunakannya, dan termasuk alat yang pertama diajarkan pada Adam adalah kapak besi.

Sebagaimana besi menjadi bahan utama dalam membangun benteng penahan Ya’juj dan Ma’juj di masa Dzulqarnain, dan ditenggarai masa Dzulqarnain semasa dengan Ibrahim as (3000 SM). Karena nilai kemanfa’atannya penguasaan teknik pengolahan besi selalu menjadi sorotan, hingga dizaman Daud (1200 SM) penguasaan teknik pengolahan besi termasuk keistimewaan Daud.

 

Pertanian

Pertanian dan peternakan diajarkan Jibril pada Adam dengan seksama, mulai pembibitannya hingga panen. Teknik membajak tanah dengan kerbau telah diperkenalkan sejak masa Adam.

Adapun dalam pembibitan, bibit tanaman budidaya adalah bibit dari surga, yaitu seikat gandum dan 30 jenis tanaman panen.

10 jenis tanaman panen yang cangkangnya harus dikupas, yaitu : kacang walnut, kacang almond, kacang pistachio, kacang tanah, opium, oak, melinjo, kelapa, delima dan pisang.

10 jenis tanaman panen yang memiliki biji inti, yaitu : peach, apricot, pear besar, kurma, sorghum, buckthorn, apel mawar, jujube, bdellium, dan Chamelok.

10 jenis tanaman tanpa cangkang keras dapat dikupas dan tidak memiliki biji inti, yaitu : apel, quince , pear, anggur, berry, buah tiin, limau arab , carob,  timun, dan semangka.

Bangunan Komunitas

Allah menyentuh punggung Adam saat di arafah, dan kemudian setelah itu mulailah masa reproduksi dan regenerasi.

Sebelum masa reproduksi tiba, Allah berkenan memberikan pengalaman lain akan dahsyatnya permusuhan iblis, dan betapa halusnya cara yang dipergunakannya. Hawa diuji dengan wafatnya dua bayi pertama yang terlahir dari rahimnya, mereka diberi nama Abdullah, dan tatkala hamil untuk ketiga kalinya, iblis menggoda bahwa penyebab kematian anak-anak Hawa adalah karena ia memberi nama dengan Abdullah, Iblis meniupkan was-was agar hawa memberi nama anaknya Abdul harits, al Qur’an menyebutkan :

“tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (al ‘Araaf : 190)

Pemilihan nama anak ternyata termasuk hal yang harus diperhatikan, Allah mengkategorikannya sebagai mempersekutukan Allah dalam urusan nama. Dari peristiwa pemberian nama terhadap anak Adam dan Hawa ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa suatu musibah dan keadaan derita dapat menyebabkan berpaling dari Allah dan tidak mempercayai kebesaranNya, padahal kesulitan ataupun kesenangan di dunia adalah ujian, apakah setelah kesulitan atau kesenangan itu tetap beriman pada Allah?

Adam dan Hawa memiliki 40 anak laki-laki dan perempuan, atau 20 pasang kembar, dan Adam wafat saat anak cucu keturunannya berjumlah 4000 orang, yang secara rentang waktu Adam hidup hingga turunan ke 8 yaitu Lamik.

Adam beserta putra-putrinya membangun bangunan komunitas, dengan cara yang dikenal dizamannya. Saling memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, yaitu yang mula-mulanya adalah kulit domba dan singa. Adapun dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Adam diajarkan pula membuat roti dengan peragian dan pengovenan. Oven Adam yang diwariskan hingga zaman nabi Nuh as.

Anwasy cucu Adam dari Syits adalah yang pertama membudidayakan peternakan lebah, dan bertani biji-bijian.

Dalam teknik rumah Adam menggunakan gua sebagai tempat berlindung. Mahlail keturunan ke empat Adam dari Syits yang pertama membangun rumah dan kota-kota pusat peradaban. Hal tersebut dilakukan Mahlail dalam rangka rekayasa demografi agar tidak terjadi kepadatan penduduk. Persebaran dilakukan di empat arah mata angin, dan Mahlail membuatkan kota bagi keturunan Syits di tanah Iraq atau tanah Babil, dimana Mahlail menganggap sebagai tanah terbaik, jauh dari keturunan Qabil terutama dari Anusyil yang tinggal di pesisir pantai. Pada era rekayasa demografis inilah manusia memulai area persebarannya ke Habasyah, Mesir, Syam, Iraq dan Persia.

Di zaman Mahlail pula pertambangan di mulai, dan industri sederhana di mulai. Mesjid-mesjid dibangun, sistem pertanian dan pengairan ditetapkan, peternakan ditertibkan. Mahlail pun menetapkan hukum dan peraturan dan menegakkan keadilan.

Dengan anugerah yang dikaruniakan Allah pada Mahlail, ia berhasil memisahkan komunitas manusia dari setan gentayangan yang hidup dalam komunitas manusia, membunuh setan yang membangkang, hingga tak satupun berani hidup tengah komunitas kota.

Adapun Qabil, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Khanukh dan ‘Adzba, dan mereka menikah dikarunia 3 orang laki-laki, Ghirad, Mahwil, Anusyil dan 1 orang perempuan Mulitsa. Anusyil menikahi saudarinya, dan dikarunia anak bernama Lamik, terutama dari Lamik inilah keturunan Qabil bertambah banyak, dan turut membangun kebudayaan Fir’aun dan para diktator.

Keturunan Qabil dari Anusyil mengembangkan nyanyian, drum dan berbagai alat musik, hingga terlena dalam kesenangan bermusik. Sistem cluster dan larangan bergaul yang ditetapkan Mahlail bagi keturunan Syits dengan keturunan Qabil, dan juga diusirnya setan dari kota-kota keturunan Syits ternyata tidak berhasil membuat keturunan Syits tidak tertarik pada kesenangan bernyanyi dan bermain musik.

Ratusan keturun Syits turun ke pesisir terlena dengan musik dan nyanyian, hingga melampaui batas dan tergoda kecantikan wanita-wanita keturunan Qabil hingga terjerumus dalam perbuatan keji dan minum-minuman keras. Wanita-wanita keturunan Qabil inilah yang pertama kali melakukan tabarruj (riasan berlebihan), dimana Allah melarang istri-istri Rasulullah bertabarruj sebagaimana tabarruj pertama dizaman Mahlail.

“dan hendaklah kamu tinggal di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab : 33)

lengkapnya ada di Islamic Golden Perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Nabi Yunus

Yunus ‘alaihi as salaam

 

Yunus putra Matta, dan Matta adalah nama ibunya. Diantara 25 nabi dan Rasul ada 2 orang yang penyebutan nasabnya kembai kepada ibu. Pertama nabi Yunus, dan kemudian nabi Isa.

Tidak ditemukan asal-usul riwayat  kenapa dinasabkan kepada ibu. Kalau beberapa sumber digabung dapat diambil kesimpulan kalau Matta ibunya nasabnya kembali kepada Sulaiman as. Dan dari garis ayah para ulama menyebutkan dari garis Benjamin. Dengan demikian Yunus termasuk bani Israil.

 

Nabi Yunus dikirim menjadi Rasul ke penduduk Ninawai didaerah Mosul sekarang Iraq. Penduduk daerah itu menyembah patung. Nabi Yunus berdakwah selama 33 tahun, dan yang beriman hanya 2 orang. Nabi Yunus berputus asa dan Allah menegurnya “kenapa berputus asa?” Allah memerintahkan untuk kembali berdakwah dan memberi waktu 40 hari.

 

Di hari ke 37, Yunus mendapati kaum yang masih saja tidak beriman, maka mengingatkan akan datangnya adzab yang akan datang 3 hari lagi. Tanda kedatangan adzab itu dimulai dengan warna kulit yang berubah.

 

Di pagi hari ke 38, Yunus dan penduduk Ninawai melihat perubahan warna kulit, maka yakinlah Yunus akan kedatangan adzab, dan di malam ke 40 pergi bersegera menghindari adzab.

 

Di pagi hari ke 40 kabut tebal menyelimuti kampung Ninawai dan kulit bertambah semakin hitam. Para pemimpin kaum bersegera mencari Yunus dan mereka tidak dapat mendapatkan nabi Yunus.

 

Allah memberikan hidayah pada mereka untuk beriman, maka di hari yang sangat berat itu mereka bersegera dalam keimanan, memperbaiki diri. Kampung sibuk dalam hiruk pikuk taubat. Para pemimpin mengembalikan hak-hak rakyat yang terdzalimi, saling memaafkan dan ikhlash berniat bertaubat, dengan keimanan yang kokoh kepada Allah.

 

Hari yang berat itu berlalu, dan Allah menahan datangnya adzab. Kampung Ninawai tidak hancur.

Nabi Yunus yang telah pergi meninggalkan kampung kemudian mencari berita tentang kampung tersebut, dan tatkala ada pengembara yang dijumpainya, mereka mengabarkan bahwa kampung dalam keadaan baik-baik saja, dan penduduk kampung  telah beriman.

 

Nabi Yunus murka mendengar berita ini, murka kepada Allah, merasa dibohongi, “bagaimana mungkin adzab yang telah didepan mata ditahan oleh satu hari keimanan?”

 

Allah melarang tipikal kemarahan begini dalam firmannya di surat al Qalam :

“dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam Keadaan marah”

 

Nabi Yunus kemudian memutuskan mengembara dengan berlayar, di tengah perjalanan lautan digulung angin kencang, muatan harus dikurangi. Dalam al Kamil fi at Taarikh ibnu Atsir menulis setelah badai berlalu bahkan perahu itu berhenti berlayar.

Nakhoda menyatakan bahwa penyebab tidak bergeraknya kapal adalah karena ada seseorang yang tidak diperbolehkan berlayar ada dalam kapal ini. Nabi yunus berkata : “aku yang menyebabkan perahu berhenti”

Nakhoda tidak meyakini hal itu, dan kemudian diadakan undian bertanya pada dewa lautan :

“kemudian ia ikut berundi lalu Dia Termasuk orang-orang yang harus dibinasakan”

 

Undian dilakukan 3 kali dan tetap yang keluar nama nabi Yunus, Nakhoda tak kunjung menyeburkan nabi Yunus, akhirnya nabi Yunus menceburkan dirinya ke lautan. Dan kemudian dimakan ikan paus.

Ikan paus membawa nabi Yunus mendekati daratan, ketika didalam perut ikan nabi Yunus bertasbih mengikuti tasbih aneka binatang laut.

Para malaikat mendengar dan bertanya : “suara asing siapakah yang turut bertasbih”

Ketika di jawab bahwa itu Yunus,

Malaikat bertanya : seorang hamba shalih yang setiap harinya naik laporan bahwa ia beramal shalih dan sekarang ada dalam 3 kegelapan? Kegelapan lautan, kegelapan perut ikan dan gelap malam?

Maka Allah menyelamatkannya karena amalan-amalan sholeh yang telah dilakukan Yunus, dikabarkan dalam surat as Shoffat 143-145 :

143. Maka kalau Sekiranya Dia tidak Termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,

144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

145. kemudian Kami lemparkan Dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam Keadaan sakit.

 

Adapun do’a nabi Yunus dalam perut ikan terdapat dalam surat al anbiyaa ayat 87 :

87. dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

Kemudian Allah memberikan bibit pohon Yaqthin yang mengeluarkan air susu, hingga Yunus dapat sehat weal’afiat sesudah 40 hari dalam perut ikan

146. dan Kami tumbuhkan untuk Dia sebatang pohon dari jenis labu. (as Shoffat :146)

 

Dan kemudian Yunus berjalan menuju suatu daerah dengan sembunyi-sembunyi, hidup dalam persembunyian tidak kembali kepada kaumnya. Suatu ketika menginginkan meminum susu pohon Yaqthin dan menemukan telah kering, nabi Yunus bersedih karena pohon Yaqthin yang kering, Allah kemudian menegur dan mencela sikap Yunus : “bagaimana bersedih untuk satu pohon yang kering dan tidak bersedih untuk 100 ribu lebih orang yang akan di adzab?”

147. dan Kami utus Dia kepada seratus ribu orang atau lebih.

 

Yunus diperintah Allah kembali ke Ninawai, masih tidak mau dan sungkan untuk kembali, kemudian bertanya pada seorang petani tentang keadaan kaum Ninawai dan dikabarkan bahwa mereka beriman dan menanti kedatangan Yunus.

Yunus meminta petani itu agar mengabarkan pada penduduk kampung bahwa ia telah datang. Petani tidak mau mengabarkan karena takut dianggap bohong, maka lembah, hewan dan tanaman pun menjadi saksi bahwa Yunus bersembunyi di kawasan itu. Hewan ternak kemudian mengabarkan dimana Yunus dan kemudian ditemukan. Kaum Yunus mencium kaki dan tangannya menyambut di kota dengan penuh suka cita.

148. lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

 

Kisah nabi yunus terdapat dalam banyak surat, yang menggambarkan dengan paling struktural adalah surat as Shoffat 141-148

 

maka pelajaran dari nabi yunus ini adalah

“bersabar, jangan berburuk sangka pada Allah dan pada manusia, hati harus dipenuhi kasih sayang dan membenci adzab , serta jangan mudah berputus asa….. kasih sayang Allah itu terbentang luas”

 

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Musa dan Bani Israel

Musa dan Bani Israil

 

Yusuf putra Ya’qub dari Rachel memiliki roman hidup manusia yang dicatat dengan lengkap oleh al Qur’an, satu surat mengisahkan manusia dalam intrik, persaingan, cinta dan pengembaraan.

Kisah makar saudara-saudaranya yang membuangnya ke sumur, lalu menjadi manusia dengan status budak yang diperjualbelikan. Ujian wanita cantik yang mencintainya dengan sangat, hidup dipenjara dalam keadaan tidak bersalah, menghadapi pengadilan yang penuh kepura-puraan. Melewati kehidupan penjara dengan terlupakan jasa dan kecerdasannya.

Saudara-saudara Yusuf telah berencana membunuh Yusuf, tetapi saudaranya yang bernama Yahudza, anak palig cerdas mencegah terjadinya pembunuhan, dan berargumen “sesungguhnya pembunuhan adalah hal yang sangat besar, manusia sangat berharga, hak hidup setiap orang harus dihormati”. Dan kita mendapati dalam sejarah Yusuf tidak dibunuh tetapi dilemparkan kesumur di suatu hutan.

Semua lika-liku kehidupan dilalui Yusuf dengan keimanan, kesabaran dan prasangka baik kepada Allah SWT dan tanpa dendam pada manusia.

Ketika kesempatan hadir, Yusuf mampu tampil dengan elegan, membersihkan namanya dan memberikan sumbangsih besar bagi masyarakat yang pemimpin-pemimpinnya telah berbuat tidak adil padanya. Yusuf dengan kekuatan argumentasi mampu meyakinkan penguasa Mesir yang kemudian mengambil regulasi sesuai dengan takwil Yusuf atas mimpi sang raja.

Tiada dendam tiada makar dalam hati dan kepribadian Yusuf, sumbangsih terbaik diberikan Yusuf bagi negeri Mesir. Pekerjaan sebagai menteri perekonomian dan logistik ditunaikan dengan sebaik-baik penunaian. Sistem tanam mengalami kemajuan, sistem pergudangan disempurnakan, sistem distribusi dan konsumsi diatur sedemikian cermat sehingga cadangan pangan meningkat tajam, mampu melewati paceklik yang berkepanjangan.

Angka 7 tahun yang disebut al Qur’an sebagai 7 tahun musim subur yang diikuti 7 tahun musim paceklik sesungguhnya menunjukkan angka yang tak terdefinisikan, artinya setiap musim berlangsung dengan panjang, bahagia panjang yang diikuti derita panjang.

Paceklik tiba, menggoncang dunia tengah, merambat ke seantero negeri. Cadangan pangan disemua kawasan menurun, perdagangan Mesir dengan negeri-negeri tetangga meningkat dan cadangan devisa Mesir naik ribuan kali lipat.

Diantara konsumen yang datang ke Mesir adalah saudara-saudara Yusuf yang dahulu mencelakainya. Cerita yang kemudian berakhir indah, Ya’qub yang masih hidup dan saudara-saudara Yusuf hijrah ke Mesir dengan seluruh keluarganya, menjadi bagian integral dari masyarakat Mesir.

Ya’qub wafat dan meminta untuk dikebumikan di kawasan Syam dekat Ishaq ayahnya, sebelum wafat berwasiat pada putra-putranya akan prinsip dasar spiritualitas dan religiusitas, tentang menyempurnakan penyembahan hanya untuk Allah semata.

Keturunan Ya’qub sang Israel bertambah banyak di Mesir, zaman berganti, raja Mesir berganti. Saat pendapat Yusuf diterima dengan baik, raja Mesir adalah ArRoyyan putra al Walid, raja keturunan ‘Amaliqah (raksasa keturunan Sam). Raja yang beriman kepada seruan Yusuf, beriman kepada Allah, meskipun menyembunyikan keimanannya, karena ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Raja penerusnya Qabus putra Mush’ab tidaklah beriman seperti pendahulunya.

Yusuf menjadi orang penting dalam pemerintahan Mesir yang digjaya, menyeru kepada tauhid, penyambahan kepada Allah semata. Hidup ditengah masyarakat dan rekan-rekan pemerintahan yang tidak beriman kepada Allah. Dengan kedudukan Yusuf yang tinggi di pemerintahan Mesir, kaum yang beriman pun terjaga dari tindak kekerasan dan penindasan. Ar Royyan wafat dan kekuasaan berpindah pada putranya Darum.

Darum memiliki watak yang berbeda jauh dari ayahnya. Ar Royyan menegakkan keadilan dan menyenangi kemajuan bagi seluruh rakyat. Sedangkan Darum memiliki potensi kediktatoran dan mennghadirkan kesengsaraan di tengah masyarakat. Ketika Yusuf masih hidup, Yusuf berhasil mencegah kedzaliman dan ketidakadilan terjadi ditengah masyarakat. Kemudian Yusuf wafat dalam usia 123 tahun dan menjadi awal mula petaka bagi Bani Israel yang telah menetap di Mesir.

Yusuf di kafani dan dimasukkan kedalam Tabut, kemudian dimakamkan di sisi barat sungai Nil, lembah barat yang menjadi subur, adapaun lembah timur gersang dan kering. Tatkala raja Darum memindahkan makam Yusuf ke sisi timur keadaanpun berubah. Maka darum menetapkan agar makan Yusuf dipindahkan antara dua sisi Nil setiap tahunnya, sehingga kesuburan didapat dikedua tepian secara bergilir. Kemudian kebijakan berubah dengan menjadikan tabut mengambang di sungai Nil dan suburlah kedua tepi nil dalam waktu bersamaan.

Raja berganti raja sesudah Darum, 83 tahun berlalu sejak wafat nabi Yusuf dan bani Israil hidup bersama masyarakat Mesir dengan pasang surut kedekatan dan kedudukan disisi penguasan Mesir. Penguasa Mesir tak pernah lepas dari para penyihir yang membaca bintang, adapun Bani Israil mayoritasnya menyembah Allah. Di zaman yang dekat dengan kelahiran nabi Musa, Bani Israil adalah kaum pekerja kerajaan dengan berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pekerjaan-pekerjaan sipil dan juga para algojo penjaga.

‘Imran ayah Musa adalah keturunan Levy, saudara Yusuf. Imran termasuk pasukan elit penjaga istana, yang bertugas menjaga raja, sebutan bagi raja mesir adalah fir’aun.

Para penyihir memberi tahu Fir’aun, bahwa kekuasaannya akan berakhir diakibatkan seorang anak yang terlahir dari Bani Israil. Fir’aun menetapkan bahwa bani Israil dilarang menikah selama tiga tahun, dan ditahun terakhir larangan Imran  ayah Musa mendapati istrinya hamil dan melahirkan Harun.

Ketika larangan menikah berakhir, dalam usia Harun  yang masih puluhan hari ibu Musa kembali hamil. Para penyihir menyatakan bahwa kini bayi itu telah berada dalam kandungan, maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang terlahir dari kalangan bani Israel. Ibu Musa menyembunyikan kehamilannya, dan peribahasa Gajah dipelupuk mata tak tampak berlaku disini. Ibunda Musa melahirkan Musa dikawasan istana, kebingungan dengan apa yang dilakukan setelah Musa lahir dan Allah memerintahkan agar mengalirkan Musa diatas tabut di sungai nil.

Musa ditemukan istri Fir’aun dan dijadikan anak angkatnya. Kedekatan keluarga Imran dengan keluarga kerajaan menyebabkan dengan mudahnya saudari Musa memberikan saran kepada Asiyah istri Fir’aun tentang ibu susuan yang cocok bagi Musa. Kecurigaan yang tiada hadir, tiada dipertanyakan mengapa ibu Musa memiliki air susu, karena Harun pun masih menyusu.

Ketika para penyihir menyatakan bahwa bayi yang berada dalam pengasuhan istri Fir’aun adalah bayi bani Israel, Allah memasukkan rasa kasih sayang kepada hati Fir’aun. Musa tumbuh dilingkungan istana dan diperlakuan sebagai anak raja. Musa yang cerdas dan kokoh, dalam usia belia telah dikirim Fir’aun memimpin pasukan untuk bertempur melawan gangguan kedaulatan Mesir dan pasukan Musa dianugerahi kemenangan.

Posisi yang terus menguat dan semakin menguat, Fir’aun tidak memilki putra. Saat kecemerlangan Musa semakin terlihat, Fir’aun bertekad menjadikannya putra mahkota. Tetapi takdir ujian dalam kehidupan Musa telah tertulis, dan respon Musa atas ujian yang Allah berikanpun telah tertulis.

Musa diuji pada suatu keadaan sulit, siapakah yang harus dibela? Suatu ketika seorang pemuda dari kalangan bani Israil berselisih dengan pemuda dari kalangan ningrat Qibthi. Perselisihan yang berujung perkelahian. Keadaan sulit mendera Musa, kepada siapa pembelaan harus diberikan, ningrat Qibthi? Atau pada pemuda Bani Israil yang berada pada kebenaran.

Musa merespon ujian ini dengan membela pemuda bani Israel dan pemuda ningrat Qibthi terbunuh ditangan Musa. Kejadian yang membuat geger. Musa yang telah teruji keperkasaan memimpin pasukan, melakukan perbuatan yang dipertanyakan membunuh kalangan ningrat. Jika demikian berarti benar apa yang dikatakan para penyihir bahwa Musa adalah bani Israil. Kejadian yang juga membuat rumor beredar bahwa Musa perkasa hanya akan membuat kerusakan di muka bumi dengan banyak menumpahkan darah.

Keadaan yang menyudutkan Musa, Fir’aun yang bertahun lamanya membela Musa tersudut dan terdesak, kali ini ia mesti memerintahkan penangkapan Musa, menjebloskannya ke penjara dan menghukumnya dengan hukuman setimpal.  Bagaimana mungkin hal ini dilakukannya? Sedangkan Fir’aun telah bertekad menjadikan Musa penggantinya.

Polisi penangkap Musa tidak mendapati Musa di tempat-tempatnya dan dicari ke persembunyian-persembunyian. Musa telah melarikan diri, ia melakukan perjalanan ke arah barat dan tiba dikawasan Madyan, kawasan di utara Jazirah Arab. Di negeri Madyan Musa berjumpa dengan nabi Syu’aib, menikahi satu putrinya dan setelah menunaikan mahar yang dijanjikan, yaitu bekerja pada Syua;ib sepuluh tahun, Musa diperintahkan Allah untuk kembali ke Mesir bersama keluarganya. Musa meminta kepada Allah agar turut mengangkat saudaranya Harun menjadi nabi dan bersama menyeru manusia agar beriman kepada Allah.

Perintah untuk kembali ke Mesir, dan berdakwah, menyeru ayah angkatnya Fir’aun untuk menyembah Allah yang Maha Esa. Seruan yang terasa oleh Fir’aun bak  penghinaan atas segala kekuasaan dan kedigjayaan yang telah dicapai kebudayaan Mesir. Fir’an dengan tegas menyatakan bahwa dikehidupan bumi : “Akulah Tuhan Manusia yang paling tinggi”

10 tahun berlalu tanpa kehadiran Musa di sisi Fir’aun dan Fir’aun telah menjadi tiran diktator dengan slogan kesombongan : “Akulah Tuhan”. Kesombongan yang diperkokoh oleh bangsa penyihir,  kaum ilmuwan dan konglomerat. Zaman Fir’aun dimana kalangan Magis penyihir satu pendapat dengan para saintis dan konglomerat menyokong kesombongan itu.

Fir’aun menantang musa agar menunjukkan bukti-bukti keberadaan Allah, kita mengenal kisah Musa dan para penyihir, yaitu kisah tongkat Musa yang berubah menjadi ular mengalahkan kekuatan para penyihir. Kejadian yang berakhir dengan keimanan para penyihir dan mereka berakhir dengan hukuman dibunuh.

Selain kisah para penyihir yang sangat terkenal potongan surat al Mukmin memberikan spektrum pemahaman yang kaya akan struktur dakwah nabi Musa, yaitu pertama surat al Mukmin (40) ayat 23 – 45.

“dan Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata. kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; Maka mereka berkata: “Musa adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.  Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak lelaki kaum yang beriman bersama Musa dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia.

 

Kebijakan membunuh anak lelaki bani Israel kembali ditetapkan, sebagaimana dahulu pernah diterapkan sewaktu Musa didalam kandungan ibunya. Tidak puas hingga dititik ini, Fir’aun kemudian menyatakan akan membunuh Musa dengan tangannya sendiri.

 

“dan berkata Fir’aun kepada meterinya: “Biarkanlah aku membunuh Musa agar ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.

 

Fir’aun memegang teguh tradisi peribadahan klasik Mesir, beragama dengan segala kekuatannya, dan memiliki persepsi bahwa ia lah yang telah menyebar kebaikan di muka bumi, sedangkan Musa datang dengan sesuatu yang dapat menyebabkan keterbelakangan.

Musa telah berhadap-hadapan dengan Fir’aun. Tekad Fir’aun membunuh Musa telah bulat. Musa kemudian mengeluarkan statement :

“dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari didengarnya kesaksian”.

 

Dalam situasi yang sangat genting, seorang ningrat Qibthi, kerabat Fir’aun, sejarah menulis ia adalah saudaranya Asiyah melakukan pembelaan.

 

“dan seorang laki-laki yang beriman dari kerabat Fir’aun, ia menyembunyikan keimannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika Musa seorang  berbohong Maka Musalah yang menanggung dosa bohongnya itu; dan jika Musa seorang yang benar niscaya bencana yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

 

Saudara Asiyah, seorang orator ulung dengan logika berpikir yang tajam menukik pada inti-inti permasalahan. Orasi yang berpengaruh pada siapa saja yang mendengarnya. Sebagaimana di hari genting itu Musa dan Fir’aun melakukan debat terbuka yang sangat elegan.

 

Musa berkata: “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!”

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.

 

Bagi saudara Asiyah, jalan pikiran Fir’aun adalah hanya berdasar persepsinya, tanpa kesimpulan yang benar tentang riset atas apa yang terjadi diseantero dunia. Apa yang terjadi pada kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

 

“dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa bencana seperti Peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. yakni seperti Keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. yaitu hari ketika kamu lari berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari azab Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.

 

Saudara Asiyah kemudian mengingatkan pada hal yang lebih dekat dari semua kisah masa lampau itu. Mengingatkan akan kehadiran Yusuf, yang merupakan titik keberadaan Bani Israel di tanah Mesir. Yusuf yang telah banyak berjasa bagi Mesir dan masyarakatnya. Yusuf yang menyerukan hal yang sama,  yaitu penyembahan kepada Allah, Tuhan semesta alam.

 

“dan Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu Senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika Dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang rasulpun sesudahnya.

Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampaikepada mereka. Amat besar kemurkaan bagi mereka di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”

 

Keraguan pembesar Mesir dan masyarakatnya akan Allah, telah terjadi sejak zaman sebelumnya. Jasa besar Yusuf terhadap kemanusian di tanah Mesir tidak serta merta menjadikan bangsa Qibth beriman kepada Allah, hingga tiba di zaman Musa, sang raja Fir’aun berkata :

“dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.

 

Fir’aun tak bergeming dalam kesombongannya. Ia berpersepsi bahwa pandanganya adalah benar.

 

Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan Dia dihalangi dari jalan yang benar; dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

 

Persepsi yang salah dibenak Fir’aun benar-benar membuat saudara Asiyah khawatir. Dengan tajam dan sabar saudara Asiyah mendoktrinkan kata-kata yang semestinya meresap kedalam sanubari

“orang yang beriman itu berkata:

–          “Hai kaumku, ikutilah Aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

–          Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara

–          dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.

–          Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu.

–          dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

–          Hai kaumku, Ada apa dengan kalian?, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?  Kenapa kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui Padahal aku menyeru kamu agar beriman kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?

–          sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku beriman kepadanya tidak dapat mengabulkan do’a apapun baik di dunia maupun di akhirat.

–          dan Sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka Itulah penghuni neraka.

 

Orasi yang seharusnya berpengaruh mendalam ini tidaklah menemukan hasil yang diinginkan, saudara Asiyah menatap wajah-wajah kaumnya, dan tetap mendapati keraguan di wajah-wajah itu. Kemudian ia menutup perkataanya dengan kata yang sangat menghujam :

kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

Keberanian dari saudara Fir’aun yang Allah apresiasi dengan kasih sayangNya. Memberikan orasi kontra terhadap mayoritas pendapat ditengah-tengah ketegangan, keberanian yang bersumber dari keimanan. Allah memeliharanya dari gangguan kaumnya.

Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, adapun Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk.

 

Musa selamat dari upaya pembunuhan yang akan dilakukan langsung oleh Fir’aun. Para penyihir telah tiada. Fir’aun kini disokong kekuatan birokrat, ekonom dan kalangan saintis saja. Al qur’an merekam kesombongan para pembesar zaman Fir’aun dalam surat al ‘Araf ayat 127 – 135 :

“berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini Mesir dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”.

Fir’aun menjawab kerisauan para pembesar Mesir dengan menyatakan akan terus melaksanakan kebijakan membunuh bayi-bayi Bani Israil

Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”.

Cobaan yang terjadi pada Bani Israel ini telah terjadi sebelum Musa kembali ke Mesir, cobaan yang bisa jadi mendatangkan keputusasaan. Musa menenangkan kaumnya dengan kata-kata bijak

Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi itu milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

 kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada Kami dan sesudah kamu datang.

Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu penguasa di bumiNya, Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu jika menjadi penguasa.

 

Allah kemudian memberikan harapan kepada Bani Israel. Allah mendatangkan bencana bertubi yang menimpa bangsa Mesir tetapi tidak menimpa Bani Israel. Satu kejadian di tempat yang sama tidak berpengaruh apapun kepada bani Israel. Hal ini terjadi dengan harapan Fir’aun dan para pengikutnya menjadi tersadarkan dari kekeliruan cara berpikir.

Bencana bertubi yang ternyata sama sekali tidak menggoyahkan membatunya hati dan pikiran Fir’aun dan para pengikutnya. Semua ini terekam dalam ayat-ayat berikut :

 

“dan Sesungguhnya Kami telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena usaha kami”.

dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.

ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

 mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, Maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

 dan ketika mereka ditimpa azab yang telah diterangkan itu merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhamnu dengan perantaraan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada Kami, pasti Kami akan beriman kepadamu dan akan Kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.

 Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang ditentukan, tiba-tiba mereka mengingkari janjinya.

 

Demikianlah kisah Musa menyeru Fir’aun agar menyembah Allah. Kesombongan akan kedigjayaan ilmu pengetahuan telah menghalangi keimanan. Fir’aun dan pasukannya tenggelam di laut merah. Dan hidup dalam suatu dimensi dunia yang berbeda dari dunia manusia. Hidup di bumi dengan penderitaan. Surat al Mukmin (40) ayat 146-154 mengabadikan kisah ini.

 

“ kepada mereka ditampakkan api setiap pagi dan petang,

“ dan pada hari terjadinya kiamat. Dikatakan kepada malaikat: “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam siksa yang sangat keras”.

“dan ingatlah, ketika mereka berbantah-bantah dalam api, Maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya Kami adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan dari Kami sebahagian azab api neraka?”

orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambaNya”.

dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan siksa dari Kami barang sehari”.

penjaga Jahannam berkata: “Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?”

mereka menjawab: “Benar, sudah datang”.

penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”.

dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.

yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

Sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

 

 

Dalam memperjuangkan kebenaran sikap terbaik manusia adalah bersabar, sebagaimana ayat yang menutup kisah Musa dalam surat al Mukmin, yaitu ayat 155.

Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

 

 

bisa dibaca lengkap pada buku islamic golden perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

 

nabi isa dan awal mula kristen (1)

Isa Al Masih dan awal mula Kristen

Mendekati abad Masehi atau yang dalam istilah internasional kini disebut Common Era, di masa ini seluruh dunia menggeliat memakmurkan bumi. Para penyeru dakwah tauhid pun tak henti menjadi penjaga moralitas masyarakat.

Secara politik terdapat beberapa imperium besar. Cina dikuasai Dinasti Han. India dikuasi beberapa dinasti, yang terbesarnya adalah Kushan. Negara adidaya di dunia tengah adalah Persia dan Romawi. Kekuasaan Romawi meliputi Eropa hingga ke Inggris, kawasan Syam di Asia, Mesir dan negeri-negeri Afrika Utara. Kekuasaan Romawi meliputi Iran dan Khurasan. Di Afrika terdapat juga Kerajaan Merou dan Kerajaan Abbysinia (Ethiophia).

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Setelah nabi Sulaiman wafat, Bani Israel berada dalam pasang surut dan ujian yang silih berganti. Nebukadnezar yang mengintimidasi dan mengusir, kemudian datang Cyrus the Great dari Persia membebaskan Bani Israil dari intimidasi dan mengembalikan pada tanahnya.

Alexander the Great berhasil mengalahkan kekuatan Persia di kawasan Palestina pada abad ke 3 sebelum Masehi. Mulai sejak itu falsafah hellenistic Yunani memberikan warna kuat pada agama Yahudi.

Sepeninggal Alexander the Great, pada masa-masa Seleucid, Bani Israel berhasil mendapat otonomi khusus untuk kawasan Palestina dibawah otoritas dinasti Hasmonean.

Ekspansi besar peradaban Romawi berhasil menaklukan dinasti Hasmonean, dan pada tahun 37 SM, otoritas Romawi mendorong Herod menjadi raja bagi bani Israel, dan Kerajaan tersebut bagian integral dari Kekaisaran Romawi. Nabi Isa terlahir saat Herod memerintah Yerusalem dan Octavianus adalah Kaisar Romawi.

Nabi Isa terlahir di tengah-tengah dua arus pemikiran besar dalam agama Yahudi, pertama pemikiran Yahudi yang dipengaruhi budaya Hellenistic Yunani dan pemikiran Yahudi Ortodok.

Tiga orang yang dianggap Nabi dalam agama Islam hidup di zaman yang sama, yaitu  Zakaria, Isa putra Maryam dan Yahya putra Zakaria.

Zakaria sebagai seorang Nabi dan Rohaniawan di zamannya memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai tukang kayu. Kisahnya dengan sang istri yang sangat lama menanti kelahiran seorang anak telah tercatat dan masyhur dalam buku-buku. Dalam penantian diberi oleh Allah anugerah untuk mengasuh Maryam, seorang putri kepala Rohaniawan zamannya, Imran, yang telah wafat sebelum Maryam dilahirkan.

Allah kemudian mengabulkan do’a Zakaria dan menganugerahkan putra bernama Yahya. Allah menjadikan Yahya seorang yang bijak dan memiliki hikmah pengetahuan sedari kecil. Ketika Isa terlahir dan kemudian memulai menyeru Bani Israel untuk kembali kepada kebenaran, Yahya menjadi orang pertama yang membenarkan kenabian Isa.

Yahya menjalankan fungsinya sebagai penjaga moralitas Bani Israel. Bahu membahu bersama Isa. Dalam risalah yang nabi Isa sampaikan, terdapat larangan menikahi keponakan. Ketika Herod Antipas, raja Bani Israel berniat menikahi keponakannya Herodias, Yahya dengan tegas menyuarakan bahwa hal itu dilarang. Atas hal ini Yahya dijatuhi hukuman mati. Algojo yang mengeksekusi Yahya adalah seorang wanita, sebelumnya telah membunuh 69 nabi. Wanita tersebut adalah manusia yang pertama masuk neraka.

Zakaria di bunuh sesudah pembunuhan Yahya. Zakaria dihadapkan dengan tuduhan palsu, bahwa Zakaria lah yang membuat Maryam hamil. Zakaria dikejar tentara hingga bersembunyi di dalam pohon kayu. Iblis memberi tahu keberadaan Zakaria dalam pohon. Para tentara lalu menebang dan memotong-motong pohon hingga Zakaria wafat didalamnya.

Tanda-tanda kenabian nabi Isa telah ada jauh sebelum diangkat menjadi Rasul diusianya 30 tahun. Ketika Maryam ibunda Isa mengandungnya dan dihadapkan pada dakwaan perzinahan, Isa yang baru saja dilahirkan dapat berbicara dan menenangkan kaum yang telah siap sedia merajam Maryam.

Maryam, Isa kecil, ditemani Yusuf sepupu Maryam mengembara ke Mesir dan tinggal disana hingga usia Isa dewasa. Kejadian-kejadian ajaib terjadi sewaktu Isa tinggal di Mesir, seperti kemampuannya menghidupkan mayit untuk memberi kesaksian siapa yang membunuhnya,  juga kemampuan Isa mencelup kain-kain yang setiap kainnya berbeda warna dalam satu tempayan.

Maryam, Isa dan Yusuf kembali ke kawasan Palestina dengan diam-diam, dan mendiami kawasan Nazareth, yang dalam Bahasa Arab dieja Nashirah. Dari kata Nashirah inilah nama agama Nashrani diambil. Dalam masa pengembaraan di Mesir Kaisar Oktavianus wafat dan diganti putranya Tiberius.

Di masa itu pengaruh materialisme teramat besar pada masyarakat Bani Israel. Maka Isa hadir dengan nuansa spiritualitas atau nuansa ruhani yang sangat kental. Nuansa-nuansa ruhani itu hadir dalam beberapa bentuk :

  1. Pelayanan

Nabi Isa mencontohkan hidup untuk melayani tanpa embel-embel meminta upah dari pelayanan yang diberikan. Maka Nabi Isa hadir dengan pelayanan kesehatan, bahkan mampu menyembuhkan penyakit sangat berat sperti kebutaan dan penyakit kusta.

Nuansa pelayanan demikian memberikan kesan mendalam dalam perang melawan materialisme. Nuansa pelayanan yang menghadirkan kasih sayang ditengah-tengah umat Manusia.

  1. Kematian dan Kebangkitan

Nabi Isa diberi mu’jizat dapat membangkitkan orang mati. Jika dimasa sebelum kenabian seorang korban pembunuhan dihidupkan untuk bersaksi, dimasa setelah diangkat menjadi nabi ada beberapa orang yang dihidupkan oleh nabi Isa, yaitu : ‘Azaru, sahabat Isa; nabi Uzair; Sam bin Nuh; menghidupkan Yahya putra Zakaria, dan seorang perempuan biasa.

Kemampuan nabi Isa menghidupkan orang mati menunjukkan betapa kelak sangat mudah bagi Allah untuk membangkitkan seluruh umat manusia dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan semasa hidupnya. Hingga saat Sam bin Nuh dibangkitkan yang ditanya oleh Sam “apakah hari kiamat telah tiba?”

Kesadaran manusia bahwa kelak akan dibangkitkan sesudah mati dapat meredam hawa nafsu atas materi dan kemewahan dunia.

  1. Keajaiban

Keajaiban-keajaiban dapat melenyapkan kesombongan manusia yang sering bertumpu pada pemikiran bahwa aku mampu melaksanakan suatu hal. Keajaiban yang datang memperlihatkan bahwa kekuatan Allah lah yang ada dibalik segala sesuatu.

Diantara keajaiban yang hadir pada nabi Isa adalah jamuan yang tidak habis-habis, mampu berjalan di atas air, mengeluarkan makanan dari bumi, dan menurunkan hidangan dari langit.

Hidangan dari langit turun selama 40 hari dengan aroma memikat yang menggoda selera makan. Allah memerintahkan kepada nabi Isa agar mengundang kaum faqir dan lemah untuk menikmati hidangan yang tidak pernah habis. Nabi Isa dan para Hawariyyun tidak memakan hidangan yang langsung turun dari langit. Kalangan kaya bani Israil tidak diperkenankan juga untuk memakan hidangan ini.

Isa dengan risalah dan segala mukjizat yang dibawanya membuat khawatir Rohaniawan dan para pembesar bani Israel. Para Rohaniawan Bani Israel menyebutkan bahwa apa yang dibawa oleh Isa adalah sesat dan bertentangan dengan doktrin Yahudi. Nabi Isa kemudian dihadapkan ke pengadilan. Pada saat itu di kawasan Palestina ada dua otoritas hukum, satu wakil dari kekaisaran Roma yang bertanggungjawab mengatur apa yang terjadi di Kawasan Palestina di kalangan bukan Bani Israel. Adapun apa yang terkait Bani Israel maka akan masuk dalam wilayah hukum turunan Raja Herod. Wakil raja Romawi saat itu adalah Pontius Pilatus dan raja Bani Israel adalah Herod Antipas.

Nabi Isa dipingpong antara dua pengadilan, kemudian bersembunyi bersama ibu dan para pengikut setianya. Takdir Allah terjadi, Allah mengabarkan bahwa Nabi Isa akan diwafatkan. Kabar yang membuat nabi Isa gusar dan mengadakan perjamuan terakhir. Nabi Isa memberikan pelayanan istimewa kepada para pengikut setianya hingga membasuh kaki-kaki mereka. Dan meminta dua hal pada para pengikut setianya, yaitu menjadikan pelayanan malam itu sebagai contoh dan berdo’a sepanjang malam agar nabi Isa dipanjangkan usia.

Para Hawariyyun ternyata tidak dapat tahan untuk berdo’a dan tertidur terkalahkan oleh kantuk. Nabi Isa membangunkan mereka dan kemudian mengabarkan bahwa ada seorang dari pengikut setianya akan kafir sebelum ayam berkokok dan akan menjual nabi Isa dengan harga yang murah.