Istighfar sumber kekuatan (Kisah Hud – bagian 2)

Usaha Hud, mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah adalah usaha hebat yang benar-benar tidak kenal lelah, kali ini Hud menyampaikan agar kaumnya menyembah Allah, dan segera bertaubat, karena jika kaumnya tidak menyembah Allah, maka akan datang adzab pada mereka.

‘(Hud berkata) : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.  dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (as Syu’ara : 131 – 135)

Hud pantang menyerah, acara-acara untuk memperingatkan kaumnya tetap ia gelar, Surat al Ahqaf menggambarkan usaha keras Hud ini

“dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya dikawasan Al Ahqaaf dimana telah datang banyak peringatan nabi-nabi seperti dari Hud, di masa sebelum dan sesudahnya. Para pemberi peringatan berkata: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”.

Mereka (kaum kafir) menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”.

Hud berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh”.

(Al Ahqaaf : 21-23)

Sesudah itu datanglah kekeringan dahsyat melanda mereka, hujan tidak turun selama tiga tahun berturut-turut. Kelaparan, kehausan, kemiskinan membuat masyarakat berkebudayaan tinggi seperti ‘Aad mengalami degradasi. Ini dikarenakan parameter kebahagiaan yang mereka miliki adalah materi.

Hud, tetap berperan aktif menyadarkan masyarakat. Mengajak kaumnya untuk bertaubat :

“Hud berkata: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling yaitu berbuat dosa.” (Hud :52)

Kaum ‘Add membalas ajakan Hud tetap dengan kekafiran, ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan Hud

“kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti keterkaitan antara musibah ini dengan ketiadaan kami menyembah Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan selain bahwasanya Tuhan-tuhan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. ” Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu Tuhan-tuhan selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (Hud : 53-57)

NB: “Kalau bagi saya dalam perenungan “betul bahwa bencana yang ada pada bangsa indonesia seperti banjir jakarta saat ini diantaranya karena kelemahan kita mengelola alam. Tetapi harus diingat bahwa saat manusia telah melakukan hal yang terbaik dalam mengelola alam, bencana itu akan tetap ada. Sehingga ….

Adalah hal yang arif dan bijaksana, dalam hal kondisi yang terjadi saat ini, kita pun tetap mengajak manusia beristighfar, karena sebagaimana yang disampaikan Hud pada kaumnya, bahwa ISTIGHFAR, memohon ampunan Allah adalah sumber adanya KEKUATAN.

BERISTIGHFARLAH, SEMOGA SESUDAH ISTIGHFAR ITU ALLAH MENGAJARKAN KEPADA KITA CARA MEMBANGUN DAN MENGELOLA KOTA YANG BAIK

Manakah yang lebih baik, orang yang semata menyandarkan permasalahan kepada fenomena alam belaka dan ketidakbenaran kita (manusia) mengelola bumi.

Ataukah orang yang mengajak untuk kembali kepada Allah dalam setiap permasalahan kehidupan

 

KAUM DIGJAYA , MACAM KAUM NUH, KAUM HUD, FIR’AUN, SAAT TERJADI MUSIBAH PADA MEREKA, PARA NABI MENGAJAK ISTIGHFAR,

APALAGI KITA DI ERA KINI, TANPA WAHYU,

DAN DALAM PERADABAN MATERI BELUM MENCAPAI APA-APA.

MAKA BERISTIGHFARLAH

Advertisements

Jangan tertipu materialisme (Kisah Nabi Hud – Bagian 1)

Kaum ‘Aad

Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, Tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa,  yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.

Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an  menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :

-“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya.

– Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dang ngelantur,  Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan.

– Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian.

– Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung” (al ‘Araf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: “Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya).

“dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : “Orang ini, Hud,  tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum.  dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu?  Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kalian itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya”.

Hud berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku.”

Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” (al Mukminun :31-40)

Kisah Nabi Adam (yang tidak versi anak2… renungan orang dewasa)

Adam, dari bumi, diangkat kelangit, kembali ke bumi

Adam tercipta dari tanah bumi, dengan berbagai karakteristik tanah yang terdapat di dalam bumi. Dari sekian banyak malaikat yang diperintahkan Allah untuk mengambil tanah bumi sebelum penciptaan Adam, malaikat pencabut nyawa lah yang berhasil membawa tanah bumi ke langit.

Allah telah dengan tegas menyebutkan tujuan penciptaan Adam, yaitu untuk menegakkan sistem ritual menyembah Allah SWT.  Kemudian menetapkan fungsi keberadaan yaitu sebagai pengelola bumi (Khalifah), dan Allah menetapkan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik bekerja dan berkontribusi. Tiga hal ini tidak hanya melekat pada Adam, tetapi juga melekat dengan erat pada seluruh anak manusia keturunan Adam.

Penciptaan Adam yang terjadi dilangit, di dalam suatu ruang keindahan dan keabadian mengukir kesan mendalam pada manusia akan cita rasa seni dan keindahan, yaitu menghendaki keabadian.

Keabadian adalah hal yang pasti, bahwa semua manusia yang diciptakan Allah adalah abadi. Keabadian manusia adalah fase akhir dari kehidupan kembali-kehidupan kembali yang dialami manusia setelah kematiaannya.

Manusia tercipta dalam keadaan mati, dua unsur yang saling terpisah, unsur materi tanah bumi, dan unsur spirit langit ruh. Tatkala kedua unsur itu bersatu maka terlahirlah kehidupan. Demikianlah yang disebut kematian yaitu terpisahnya unsur materi fisik dan unsur ruh spiritual.

Manusia mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan, kematian saat fisik dan ruh masih terpisah dan kemudian dipersatukan hidup didalam rahim. Kematian kedua saat fisik dalam kubur yaitu alam barzakh dan ruh berada di tempat lain. Beberapa riwayat menyebutkan ruh orang beriman di langit ke empat, dan ruh mereka yang tidak mempercayai Allah dan berbuat jahat berada di lautan.

Setiap unsur materi fisik tertentu adalah pasangan unsur ruh tertentu yang tidak mungkin bertukaran, yang berart konsep reinkarnasi bertentangan dengan ini.

Unsur materi fisik memiliki sifat-sifat nya tersendiri dan unsur ruh spiritual memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Dan dalam kehidupan keduanya berpadu dalam dinamika pribadi manusia mengarungi kehidupan bumi, yang merupakan fase kehidupan ujian, menentukan tempat keabadian, apakah abadi dalam keindahan, atau kah abadi dalam penderitaan.

Adam, di langit, dalam ruang keabadian diberikan beberapa pengalaman :

–          Bahwa Berilmu pengetahuan adalah ciri utama umat manusia, ciri akan keutamaan dan kelebihan atas ciptaan-ciptaan Allah lainnya.

–          Bahwa Bersikap sombong terhadap unsur-unsur materi yang terdapat pada diri, seperti apa yang dilakukan Iblis adalah hal yang dibenci Allah, dan bahwa sikap sombong ini termasuk penghalang utama dalam keta’atan dan keimanan

–          bahwa terlalu cepat menginginkan keabadian memberikan peluang kepada musuh yaitu Iblis melancarkan serangannya yang dapat menghantarkan pada kehidupan keabadian dalam penderitaan.

Dengan bekal-bekal pengetahuan ini, Adam diturunkan ke bumi mengemban tiga kata kunci : Menyembah Allah, mengelola bumi dan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian.

Adam diturunkan ke bumi dan mendarat di pegunungan Hindia, pegunungan tertinggi di dunia, adapun Hawa diturunkan di Jeddah dekat Mekkah, dan keduanya bertemu di padang arafah.

Tim Wallace Murphy dalam what islam did for us menyebutkan bahwa penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir kuno yang sangat tinggi tidaklah menunjukkan perkembangan sesuatu dari yang primitif menuju yang lebih maju, tetapi ia adalah legacy atau warisan.

Jika memperhatikan apa yang terjadi sesudah Adam diturunkan ke bumi, apa-apa yang turut hadir bersama Adam di bumi menunjukkan perpaduan ada hal-hal yang bersifat langsung demikian yaitu Allah hadirkan bagi Adam, dan ada hal-hal yang harus dipelajari oleh Adam.

Zaman Besi

Sejarawan dunia asal Denmark Christian Jürgensen Thomsen (December 29, 1788 – May 21, 1865), mengklasifikasi zaman sejarah menjadi tiga, yaitu : zaman perunggu (bronze age 3000 SM – 1200 SM), zaman besi (iron age; 1200 SM – 300 SM) dan zaman pertengahan (medieval age).

Adapun Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Adam yang kisaran masa hidupnya adalah 6000 tahun sebelum masehi telah memiliki pengetahuan tentang besi dan menggunakannya, dan termasuk alat yang pertama diajarkan pada Adam adalah kapak besi.

Sebagaimana besi menjadi bahan utama dalam membangun benteng penahan Ya’juj dan Ma’juj di masa Dzulqarnain, dan ditenggarai masa Dzulqarnain semasa dengan Ibrahim as (3000 SM). Karena nilai kemanfa’atannya penguasaan teknik pengolahan besi selalu menjadi sorotan, hingga dizaman Daud (1200 SM) penguasaan teknik pengolahan besi termasuk keistimewaan Daud.

 

Pertanian

Pertanian dan peternakan diajarkan Jibril pada Adam dengan seksama, mulai pembibitannya hingga panen. Teknik membajak tanah dengan kerbau telah diperkenalkan sejak masa Adam.

Adapun dalam pembibitan, bibit tanaman budidaya adalah bibit dari surga, yaitu seikat gandum dan 30 jenis tanaman panen.

10 jenis tanaman panen yang cangkangnya harus dikupas, yaitu : kacang walnut, kacang almond, kacang pistachio, kacang tanah, opium, oak, melinjo, kelapa, delima dan pisang.

10 jenis tanaman panen yang memiliki biji inti, yaitu : peach, apricot, pear besar, kurma, sorghum, buckthorn, apel mawar, jujube, bdellium, dan Chamelok.

10 jenis tanaman tanpa cangkang keras dapat dikupas dan tidak memiliki biji inti, yaitu : apel, quince , pear, anggur, berry, buah tiin, limau arab , carob,  timun, dan semangka.

Bangunan Komunitas

Allah menyentuh punggung Adam saat di arafah, dan kemudian setelah itu mulailah masa reproduksi dan regenerasi.

Sebelum masa reproduksi tiba, Allah berkenan memberikan pengalaman lain akan dahsyatnya permusuhan iblis, dan betapa halusnya cara yang dipergunakannya. Hawa diuji dengan wafatnya dua bayi pertama yang terlahir dari rahimnya, mereka diberi nama Abdullah, dan tatkala hamil untuk ketiga kalinya, iblis menggoda bahwa penyebab kematian anak-anak Hawa adalah karena ia memberi nama dengan Abdullah, Iblis meniupkan was-was agar hawa memberi nama anaknya Abdul harits, al Qur’an menyebutkan :

“tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (al ‘Araaf : 190)

Pemilihan nama anak ternyata termasuk hal yang harus diperhatikan, Allah mengkategorikannya sebagai mempersekutukan Allah dalam urusan nama. Dari peristiwa pemberian nama terhadap anak Adam dan Hawa ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa suatu musibah dan keadaan derita dapat menyebabkan berpaling dari Allah dan tidak mempercayai kebesaranNya, padahal kesulitan ataupun kesenangan di dunia adalah ujian, apakah setelah kesulitan atau kesenangan itu tetap beriman pada Allah?

Adam dan Hawa memiliki 40 anak laki-laki dan perempuan, atau 20 pasang kembar, dan Adam wafat saat anak cucu keturunannya berjumlah 4000 orang, yang secara rentang waktu Adam hidup hingga turunan ke 8 yaitu Lamik.

Adam beserta putra-putrinya membangun bangunan komunitas, dengan cara yang dikenal dizamannya. Saling memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, yaitu yang mula-mulanya adalah kulit domba dan singa. Adapun dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Adam diajarkan pula membuat roti dengan peragian dan pengovenan. Oven Adam yang diwariskan hingga zaman nabi Nuh as.

Anwasy cucu Adam dari Syits adalah yang pertama membudidayakan peternakan lebah, dan bertani biji-bijian.

Dalam teknik rumah Adam menggunakan gua sebagai tempat berlindung. Mahlail keturunan ke empat Adam dari Syits yang pertama membangun rumah dan kota-kota pusat peradaban. Hal tersebut dilakukan Mahlail dalam rangka rekayasa demografi agar tidak terjadi kepadatan penduduk. Persebaran dilakukan di empat arah mata angin, dan Mahlail membuatkan kota bagi keturunan Syits di tanah Iraq atau tanah Babil, dimana Mahlail menganggap sebagai tanah terbaik, jauh dari keturunan Qabil terutama dari Anusyil yang tinggal di pesisir pantai. Pada era rekayasa demografis inilah manusia memulai area persebarannya ke Habasyah, Mesir, Syam, Iraq dan Persia.

Di zaman Mahlail pula pertambangan di mulai, dan industri sederhana di mulai. Mesjid-mesjid dibangun, sistem pertanian dan pengairan ditetapkan, peternakan ditertibkan. Mahlail pun menetapkan hukum dan peraturan dan menegakkan keadilan.

Dengan anugerah yang dikaruniakan Allah pada Mahlail, ia berhasil memisahkan komunitas manusia dari setan gentayangan yang hidup dalam komunitas manusia, membunuh setan yang membangkang, hingga tak satupun berani hidup tengah komunitas kota.

Adapun Qabil, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Khanukh dan ‘Adzba, dan mereka menikah dikarunia 3 orang laki-laki, Ghirad, Mahwil, Anusyil dan 1 orang perempuan Mulitsa. Anusyil menikahi saudarinya, dan dikarunia anak bernama Lamik, terutama dari Lamik inilah keturunan Qabil bertambah banyak, dan turut membangun kebudayaan Fir’aun dan para diktator.

Keturunan Qabil dari Anusyil mengembangkan nyanyian, drum dan berbagai alat musik, hingga terlena dalam kesenangan bermusik. Sistem cluster dan larangan bergaul yang ditetapkan Mahlail bagi keturunan Syits dengan keturunan Qabil, dan juga diusirnya setan dari kota-kota keturunan Syits ternyata tidak berhasil membuat keturunan Syits tidak tertarik pada kesenangan bernyanyi dan bermain musik.

Ratusan keturun Syits turun ke pesisir terlena dengan musik dan nyanyian, hingga melampaui batas dan tergoda kecantikan wanita-wanita keturunan Qabil hingga terjerumus dalam perbuatan keji dan minum-minuman keras. Wanita-wanita keturunan Qabil inilah yang pertama kali melakukan tabarruj (riasan berlebihan), dimana Allah melarang istri-istri Rasulullah bertabarruj sebagaimana tabarruj pertama dizaman Mahlail.

“dan hendaklah kamu tinggal di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab : 33)

lengkapnya ada di Islamic Golden Perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Musa dan Bani Israel

Musa dan Bani Israil

 

Yusuf putra Ya’qub dari Rachel memiliki roman hidup manusia yang dicatat dengan lengkap oleh al Qur’an, satu surat mengisahkan manusia dalam intrik, persaingan, cinta dan pengembaraan.

Kisah makar saudara-saudaranya yang membuangnya ke sumur, lalu menjadi manusia dengan status budak yang diperjualbelikan. Ujian wanita cantik yang mencintainya dengan sangat, hidup dipenjara dalam keadaan tidak bersalah, menghadapi pengadilan yang penuh kepura-puraan. Melewati kehidupan penjara dengan terlupakan jasa dan kecerdasannya.

Saudara-saudara Yusuf telah berencana membunuh Yusuf, tetapi saudaranya yang bernama Yahudza, anak palig cerdas mencegah terjadinya pembunuhan, dan berargumen “sesungguhnya pembunuhan adalah hal yang sangat besar, manusia sangat berharga, hak hidup setiap orang harus dihormati”. Dan kita mendapati dalam sejarah Yusuf tidak dibunuh tetapi dilemparkan kesumur di suatu hutan.

Semua lika-liku kehidupan dilalui Yusuf dengan keimanan, kesabaran dan prasangka baik kepada Allah SWT dan tanpa dendam pada manusia.

Ketika kesempatan hadir, Yusuf mampu tampil dengan elegan, membersihkan namanya dan memberikan sumbangsih besar bagi masyarakat yang pemimpin-pemimpinnya telah berbuat tidak adil padanya. Yusuf dengan kekuatan argumentasi mampu meyakinkan penguasa Mesir yang kemudian mengambil regulasi sesuai dengan takwil Yusuf atas mimpi sang raja.

Tiada dendam tiada makar dalam hati dan kepribadian Yusuf, sumbangsih terbaik diberikan Yusuf bagi negeri Mesir. Pekerjaan sebagai menteri perekonomian dan logistik ditunaikan dengan sebaik-baik penunaian. Sistem tanam mengalami kemajuan, sistem pergudangan disempurnakan, sistem distribusi dan konsumsi diatur sedemikian cermat sehingga cadangan pangan meningkat tajam, mampu melewati paceklik yang berkepanjangan.

Angka 7 tahun yang disebut al Qur’an sebagai 7 tahun musim subur yang diikuti 7 tahun musim paceklik sesungguhnya menunjukkan angka yang tak terdefinisikan, artinya setiap musim berlangsung dengan panjang, bahagia panjang yang diikuti derita panjang.

Paceklik tiba, menggoncang dunia tengah, merambat ke seantero negeri. Cadangan pangan disemua kawasan menurun, perdagangan Mesir dengan negeri-negeri tetangga meningkat dan cadangan devisa Mesir naik ribuan kali lipat.

Diantara konsumen yang datang ke Mesir adalah saudara-saudara Yusuf yang dahulu mencelakainya. Cerita yang kemudian berakhir indah, Ya’qub yang masih hidup dan saudara-saudara Yusuf hijrah ke Mesir dengan seluruh keluarganya, menjadi bagian integral dari masyarakat Mesir.

Ya’qub wafat dan meminta untuk dikebumikan di kawasan Syam dekat Ishaq ayahnya, sebelum wafat berwasiat pada putra-putranya akan prinsip dasar spiritualitas dan religiusitas, tentang menyempurnakan penyembahan hanya untuk Allah semata.

Keturunan Ya’qub sang Israel bertambah banyak di Mesir, zaman berganti, raja Mesir berganti. Saat pendapat Yusuf diterima dengan baik, raja Mesir adalah ArRoyyan putra al Walid, raja keturunan ‘Amaliqah (raksasa keturunan Sam). Raja yang beriman kepada seruan Yusuf, beriman kepada Allah, meskipun menyembunyikan keimanannya, karena ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Raja penerusnya Qabus putra Mush’ab tidaklah beriman seperti pendahulunya.

Yusuf menjadi orang penting dalam pemerintahan Mesir yang digjaya, menyeru kepada tauhid, penyambahan kepada Allah semata. Hidup ditengah masyarakat dan rekan-rekan pemerintahan yang tidak beriman kepada Allah. Dengan kedudukan Yusuf yang tinggi di pemerintahan Mesir, kaum yang beriman pun terjaga dari tindak kekerasan dan penindasan. Ar Royyan wafat dan kekuasaan berpindah pada putranya Darum.

Darum memiliki watak yang berbeda jauh dari ayahnya. Ar Royyan menegakkan keadilan dan menyenangi kemajuan bagi seluruh rakyat. Sedangkan Darum memiliki potensi kediktatoran dan mennghadirkan kesengsaraan di tengah masyarakat. Ketika Yusuf masih hidup, Yusuf berhasil mencegah kedzaliman dan ketidakadilan terjadi ditengah masyarakat. Kemudian Yusuf wafat dalam usia 123 tahun dan menjadi awal mula petaka bagi Bani Israel yang telah menetap di Mesir.

Yusuf di kafani dan dimasukkan kedalam Tabut, kemudian dimakamkan di sisi barat sungai Nil, lembah barat yang menjadi subur, adapaun lembah timur gersang dan kering. Tatkala raja Darum memindahkan makam Yusuf ke sisi timur keadaanpun berubah. Maka darum menetapkan agar makan Yusuf dipindahkan antara dua sisi Nil setiap tahunnya, sehingga kesuburan didapat dikedua tepian secara bergilir. Kemudian kebijakan berubah dengan menjadikan tabut mengambang di sungai Nil dan suburlah kedua tepi nil dalam waktu bersamaan.

Raja berganti raja sesudah Darum, 83 tahun berlalu sejak wafat nabi Yusuf dan bani Israil hidup bersama masyarakat Mesir dengan pasang surut kedekatan dan kedudukan disisi penguasan Mesir. Penguasa Mesir tak pernah lepas dari para penyihir yang membaca bintang, adapun Bani Israil mayoritasnya menyembah Allah. Di zaman yang dekat dengan kelahiran nabi Musa, Bani Israil adalah kaum pekerja kerajaan dengan berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pekerjaan-pekerjaan sipil dan juga para algojo penjaga.

‘Imran ayah Musa adalah keturunan Levy, saudara Yusuf. Imran termasuk pasukan elit penjaga istana, yang bertugas menjaga raja, sebutan bagi raja mesir adalah fir’aun.

Para penyihir memberi tahu Fir’aun, bahwa kekuasaannya akan berakhir diakibatkan seorang anak yang terlahir dari Bani Israil. Fir’aun menetapkan bahwa bani Israil dilarang menikah selama tiga tahun, dan ditahun terakhir larangan Imran  ayah Musa mendapati istrinya hamil dan melahirkan Harun.

Ketika larangan menikah berakhir, dalam usia Harun  yang masih puluhan hari ibu Musa kembali hamil. Para penyihir menyatakan bahwa kini bayi itu telah berada dalam kandungan, maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang terlahir dari kalangan bani Israel. Ibu Musa menyembunyikan kehamilannya, dan peribahasa Gajah dipelupuk mata tak tampak berlaku disini. Ibunda Musa melahirkan Musa dikawasan istana, kebingungan dengan apa yang dilakukan setelah Musa lahir dan Allah memerintahkan agar mengalirkan Musa diatas tabut di sungai nil.

Musa ditemukan istri Fir’aun dan dijadikan anak angkatnya. Kedekatan keluarga Imran dengan keluarga kerajaan menyebabkan dengan mudahnya saudari Musa memberikan saran kepada Asiyah istri Fir’aun tentang ibu susuan yang cocok bagi Musa. Kecurigaan yang tiada hadir, tiada dipertanyakan mengapa ibu Musa memiliki air susu, karena Harun pun masih menyusu.

Ketika para penyihir menyatakan bahwa bayi yang berada dalam pengasuhan istri Fir’aun adalah bayi bani Israel, Allah memasukkan rasa kasih sayang kepada hati Fir’aun. Musa tumbuh dilingkungan istana dan diperlakuan sebagai anak raja. Musa yang cerdas dan kokoh, dalam usia belia telah dikirim Fir’aun memimpin pasukan untuk bertempur melawan gangguan kedaulatan Mesir dan pasukan Musa dianugerahi kemenangan.

Posisi yang terus menguat dan semakin menguat, Fir’aun tidak memilki putra. Saat kecemerlangan Musa semakin terlihat, Fir’aun bertekad menjadikannya putra mahkota. Tetapi takdir ujian dalam kehidupan Musa telah tertulis, dan respon Musa atas ujian yang Allah berikanpun telah tertulis.

Musa diuji pada suatu keadaan sulit, siapakah yang harus dibela? Suatu ketika seorang pemuda dari kalangan bani Israil berselisih dengan pemuda dari kalangan ningrat Qibthi. Perselisihan yang berujung perkelahian. Keadaan sulit mendera Musa, kepada siapa pembelaan harus diberikan, ningrat Qibthi? Atau pada pemuda Bani Israil yang berada pada kebenaran.

Musa merespon ujian ini dengan membela pemuda bani Israel dan pemuda ningrat Qibthi terbunuh ditangan Musa. Kejadian yang membuat geger. Musa yang telah teruji keperkasaan memimpin pasukan, melakukan perbuatan yang dipertanyakan membunuh kalangan ningrat. Jika demikian berarti benar apa yang dikatakan para penyihir bahwa Musa adalah bani Israil. Kejadian yang juga membuat rumor beredar bahwa Musa perkasa hanya akan membuat kerusakan di muka bumi dengan banyak menumpahkan darah.

Keadaan yang menyudutkan Musa, Fir’aun yang bertahun lamanya membela Musa tersudut dan terdesak, kali ini ia mesti memerintahkan penangkapan Musa, menjebloskannya ke penjara dan menghukumnya dengan hukuman setimpal.  Bagaimana mungkin hal ini dilakukannya? Sedangkan Fir’aun telah bertekad menjadikan Musa penggantinya.

Polisi penangkap Musa tidak mendapati Musa di tempat-tempatnya dan dicari ke persembunyian-persembunyian. Musa telah melarikan diri, ia melakukan perjalanan ke arah barat dan tiba dikawasan Madyan, kawasan di utara Jazirah Arab. Di negeri Madyan Musa berjumpa dengan nabi Syu’aib, menikahi satu putrinya dan setelah menunaikan mahar yang dijanjikan, yaitu bekerja pada Syua;ib sepuluh tahun, Musa diperintahkan Allah untuk kembali ke Mesir bersama keluarganya. Musa meminta kepada Allah agar turut mengangkat saudaranya Harun menjadi nabi dan bersama menyeru manusia agar beriman kepada Allah.

Perintah untuk kembali ke Mesir, dan berdakwah, menyeru ayah angkatnya Fir’aun untuk menyembah Allah yang Maha Esa. Seruan yang terasa oleh Fir’aun bak  penghinaan atas segala kekuasaan dan kedigjayaan yang telah dicapai kebudayaan Mesir. Fir’an dengan tegas menyatakan bahwa dikehidupan bumi : “Akulah Tuhan Manusia yang paling tinggi”

10 tahun berlalu tanpa kehadiran Musa di sisi Fir’aun dan Fir’aun telah menjadi tiran diktator dengan slogan kesombongan : “Akulah Tuhan”. Kesombongan yang diperkokoh oleh bangsa penyihir,  kaum ilmuwan dan konglomerat. Zaman Fir’aun dimana kalangan Magis penyihir satu pendapat dengan para saintis dan konglomerat menyokong kesombongan itu.

Fir’aun menantang musa agar menunjukkan bukti-bukti keberadaan Allah, kita mengenal kisah Musa dan para penyihir, yaitu kisah tongkat Musa yang berubah menjadi ular mengalahkan kekuatan para penyihir. Kejadian yang berakhir dengan keimanan para penyihir dan mereka berakhir dengan hukuman dibunuh.

Selain kisah para penyihir yang sangat terkenal potongan surat al Mukmin memberikan spektrum pemahaman yang kaya akan struktur dakwah nabi Musa, yaitu pertama surat al Mukmin (40) ayat 23 – 45.

“dan Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata. kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; Maka mereka berkata: “Musa adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.  Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak lelaki kaum yang beriman bersama Musa dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia.

 

Kebijakan membunuh anak lelaki bani Israel kembali ditetapkan, sebagaimana dahulu pernah diterapkan sewaktu Musa didalam kandungan ibunya. Tidak puas hingga dititik ini, Fir’aun kemudian menyatakan akan membunuh Musa dengan tangannya sendiri.

 

“dan berkata Fir’aun kepada meterinya: “Biarkanlah aku membunuh Musa agar ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.

 

Fir’aun memegang teguh tradisi peribadahan klasik Mesir, beragama dengan segala kekuatannya, dan memiliki persepsi bahwa ia lah yang telah menyebar kebaikan di muka bumi, sedangkan Musa datang dengan sesuatu yang dapat menyebabkan keterbelakangan.

Musa telah berhadap-hadapan dengan Fir’aun. Tekad Fir’aun membunuh Musa telah bulat. Musa kemudian mengeluarkan statement :

“dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari didengarnya kesaksian”.

 

Dalam situasi yang sangat genting, seorang ningrat Qibthi, kerabat Fir’aun, sejarah menulis ia adalah saudaranya Asiyah melakukan pembelaan.

 

“dan seorang laki-laki yang beriman dari kerabat Fir’aun, ia menyembunyikan keimannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika Musa seorang  berbohong Maka Musalah yang menanggung dosa bohongnya itu; dan jika Musa seorang yang benar niscaya bencana yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

 

Saudara Asiyah, seorang orator ulung dengan logika berpikir yang tajam menukik pada inti-inti permasalahan. Orasi yang berpengaruh pada siapa saja yang mendengarnya. Sebagaimana di hari genting itu Musa dan Fir’aun melakukan debat terbuka yang sangat elegan.

 

Musa berkata: “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!”

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.

 

Bagi saudara Asiyah, jalan pikiran Fir’aun adalah hanya berdasar persepsinya, tanpa kesimpulan yang benar tentang riset atas apa yang terjadi diseantero dunia. Apa yang terjadi pada kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

 

“dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa bencana seperti Peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. yakni seperti Keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. yaitu hari ketika kamu lari berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari azab Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.

 

Saudara Asiyah kemudian mengingatkan pada hal yang lebih dekat dari semua kisah masa lampau itu. Mengingatkan akan kehadiran Yusuf, yang merupakan titik keberadaan Bani Israel di tanah Mesir. Yusuf yang telah banyak berjasa bagi Mesir dan masyarakatnya. Yusuf yang menyerukan hal yang sama,  yaitu penyembahan kepada Allah, Tuhan semesta alam.

 

“dan Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu Senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika Dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang rasulpun sesudahnya.

Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampaikepada mereka. Amat besar kemurkaan bagi mereka di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”

 

Keraguan pembesar Mesir dan masyarakatnya akan Allah, telah terjadi sejak zaman sebelumnya. Jasa besar Yusuf terhadap kemanusian di tanah Mesir tidak serta merta menjadikan bangsa Qibth beriman kepada Allah, hingga tiba di zaman Musa, sang raja Fir’aun berkata :

“dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.

 

Fir’aun tak bergeming dalam kesombongannya. Ia berpersepsi bahwa pandanganya adalah benar.

 

Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan Dia dihalangi dari jalan yang benar; dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

 

Persepsi yang salah dibenak Fir’aun benar-benar membuat saudara Asiyah khawatir. Dengan tajam dan sabar saudara Asiyah mendoktrinkan kata-kata yang semestinya meresap kedalam sanubari

“orang yang beriman itu berkata:

–          “Hai kaumku, ikutilah Aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

–          Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara

–          dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.

–          Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu.

–          dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

–          Hai kaumku, Ada apa dengan kalian?, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?  Kenapa kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui Padahal aku menyeru kamu agar beriman kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?

–          sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku beriman kepadanya tidak dapat mengabulkan do’a apapun baik di dunia maupun di akhirat.

–          dan Sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka Itulah penghuni neraka.

 

Orasi yang seharusnya berpengaruh mendalam ini tidaklah menemukan hasil yang diinginkan, saudara Asiyah menatap wajah-wajah kaumnya, dan tetap mendapati keraguan di wajah-wajah itu. Kemudian ia menutup perkataanya dengan kata yang sangat menghujam :

kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

Keberanian dari saudara Fir’aun yang Allah apresiasi dengan kasih sayangNya. Memberikan orasi kontra terhadap mayoritas pendapat ditengah-tengah ketegangan, keberanian yang bersumber dari keimanan. Allah memeliharanya dari gangguan kaumnya.

Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, adapun Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk.

 

Musa selamat dari upaya pembunuhan yang akan dilakukan langsung oleh Fir’aun. Para penyihir telah tiada. Fir’aun kini disokong kekuatan birokrat, ekonom dan kalangan saintis saja. Al qur’an merekam kesombongan para pembesar zaman Fir’aun dalam surat al ‘Araf ayat 127 – 135 :

“berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini Mesir dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”.

Fir’aun menjawab kerisauan para pembesar Mesir dengan menyatakan akan terus melaksanakan kebijakan membunuh bayi-bayi Bani Israil

Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”.

Cobaan yang terjadi pada Bani Israel ini telah terjadi sebelum Musa kembali ke Mesir, cobaan yang bisa jadi mendatangkan keputusasaan. Musa menenangkan kaumnya dengan kata-kata bijak

Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi itu milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

 kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada Kami dan sesudah kamu datang.

Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu penguasa di bumiNya, Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu jika menjadi penguasa.

 

Allah kemudian memberikan harapan kepada Bani Israel. Allah mendatangkan bencana bertubi yang menimpa bangsa Mesir tetapi tidak menimpa Bani Israel. Satu kejadian di tempat yang sama tidak berpengaruh apapun kepada bani Israel. Hal ini terjadi dengan harapan Fir’aun dan para pengikutnya menjadi tersadarkan dari kekeliruan cara berpikir.

Bencana bertubi yang ternyata sama sekali tidak menggoyahkan membatunya hati dan pikiran Fir’aun dan para pengikutnya. Semua ini terekam dalam ayat-ayat berikut :

 

“dan Sesungguhnya Kami telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena usaha kami”.

dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.

ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

 mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, Maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

 dan ketika mereka ditimpa azab yang telah diterangkan itu merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhamnu dengan perantaraan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada Kami, pasti Kami akan beriman kepadamu dan akan Kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.

 Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang ditentukan, tiba-tiba mereka mengingkari janjinya.

 

Demikianlah kisah Musa menyeru Fir’aun agar menyembah Allah. Kesombongan akan kedigjayaan ilmu pengetahuan telah menghalangi keimanan. Fir’aun dan pasukannya tenggelam di laut merah. Dan hidup dalam suatu dimensi dunia yang berbeda dari dunia manusia. Hidup di bumi dengan penderitaan. Surat al Mukmin (40) ayat 146-154 mengabadikan kisah ini.

 

“ kepada mereka ditampakkan api setiap pagi dan petang,

“ dan pada hari terjadinya kiamat. Dikatakan kepada malaikat: “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam siksa yang sangat keras”.

“dan ingatlah, ketika mereka berbantah-bantah dalam api, Maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya Kami adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan dari Kami sebahagian azab api neraka?”

orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambaNya”.

dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan siksa dari Kami barang sehari”.

penjaga Jahannam berkata: “Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?”

mereka menjawab: “Benar, sudah datang”.

penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”.

dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.

yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

Sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.

 

 

Dalam memperjuangkan kebenaran sikap terbaik manusia adalah bersabar, sebagaimana ayat yang menutup kisah Musa dalam surat al Mukmin, yaitu ayat 155.

Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

 

 

bisa dibaca lengkap pada buku islamic golden perspective

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700