Nabi Isa dan Sejarah Awal Kristen (4)

Bismillahirrahmaanirrahim

dalam tiga tulisan sebelumnya, terlihat bahwa bibit konsep trinitas telah ada bahkan sejak nabi Isa masih hidup.

Manusia tidak tahan saat melihat banyak keajaiban terjadi, daya nalar nya akan berkata “orang ajaib” bukan “manusia biasa”

AL Qur’an menyebut nabi Isa memiliki para Hawariyyin, 14 orang ada juga yang menyatakan 12 orang
Dalam catatan Islam, baik dalam al Qur’an maupun dalam hadits , sedikit sekali berbicara tentang para Hawariyyin.

Dalam catatan kristen, murid no 1 nabi Isa , yang dianggap pemimpin penerusnya adalah Peter.
Peter, dengan banyak tekanan yang menimpa di Palestina, bergerak terus ke utara hingga mencapai Roma, hidup dan mendakwahkan Kristen di Roma, kemudian wafat di Vatikan.

Dogma dan ajaran Kristen terus melaju bersama waktu
perbedaan-perbedaan yang ada terus mengalami friksi yang hebat.

Kelompok paling ekstrim adalah yang menganggap bahwa Isa adalah Allah, kelompok Jacob

Kemudian kelompok yang paling banyak adalah kelompok yang menganggap bahwa Isa adalah anak Allah. Kelompok kedua ini beragam alirannya.

(MAHA SUCI ALLAH DARI SEGALA MACAM SIFAT YANG MEREKA NISBAHKAN)

kelompok yang ketiga dan sangat sedikit, yaitu kelompok kristen yang bertauhid.

Ketika Kaisar Romawi tahun 300 an, Konstantin mengadopsi Kristen menjadi agama resmi, corak ragam yang diambilnya adalah pendapat kedua, dengan tipikal keyakinan yang menganggap ada Tuhan Bapak, tuhan anak, dan ruh kudus, juga menyembah Maryam.

Tatkala islam datang semua kelompok dikomentari al Qur’an dengan cara yang berbeda

Pada kelompok yang menyatakan bahwa Allah adalah Isa, Allah memberikan peringatan sangat keras. Peringatan akan adzab yang tanpa peluang untuk dapat keluar darinya.
Kita dapat melihat tipikal ancaman bagi kelompok ini dalam surat al Maidah ayat 17 dan 72

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Maidah : 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al Maidah : 72)

Pada kelompok ini, seolah tiada harapan akan keimanan mereka. Orang-orang yang akalnya tidak dipergunakan untuk memahami “makna dari sebuah keajaiban”.
mereka telah diambil sumpahnya untuk tidak menyekutukan Allah dan ternyata tidak tahan dengan ujian “keajaiban-keajaiban nabi Isa”

Pada Kelompok kedua yang menyatakan bahwa, Isa adalah anak Allah, yang berarti ada Tuhan Bapak, roh kudus, dan menyembah Maryam, ada label yang Allah sematkan pada mereka, bahwa mereka juga telah kafir.
tetapi saat menelusuri ayat-ayat Al Qur’an yang terkait kelompok ini, seolah ada “harapan” bahwa mereka menghentikan semua hal ini.

misal dalam surat an Nisa ayat 171 :
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An Nisaa : 171)

kemudian dalam surat al Maidah ayat 73
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al Maidah : 73)

puncak dari “pengadilan”, bagi kaum nashrani yang menganggap Isa adalah anak Allah, dan mereka menyembah Maryam dan Roh kudus, adalah saat semua hal ini dipertanyakan kepada Isa.

Dalam al Qur’an disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 116-117

“Dan ketika Allah berkata: “Wahai ‘Isa putera Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al Maidah : 116-117)

Dari ayat diatas kita melihat, bahwa kelompok yang sangat “ekstrim” dalam kesesatan, yaitu menyebut bahwa Allah adalah Isa, sudah tidak pernah disebut lagi. mereka adalah seburuk-buruk kelompok.

Adapun pada kelompok yang memilih meyakini trinitas, Allah mengadakan pengadilan bagi mereka, dengan nabi Isa sebagai “saksi”. Keberadaan saksi adalah membuka suatu peluang “pembelaan” atau justru memperberat.

perhatikanlah ayat 118 surat al Maidah, tentang apa yang dilakukan nabi Isa bagi kelompok trinitas ini :

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (AL Maidah : 118)

Konsep Trinitas : Tuhan Bapak-Jesus-Roh Kudus, dan juga menyembah Maryam disaat yang sama,
adalah konsep yang berkembang pesat hingga saat ini.

Karena harapan yang terbentang luas inilah, maka Rasulullah sangat berhati-hati dalam mendebat kaum Nashrani.
surat-surat yang “sangat lembut” diberikan kepada Heraklius sang kaisar, Muquqis gubernur Mesir,
mereka adalah tipikal-tipikal orang kristen yang berkeyakinan demikian.

pun meskipun orang kristen najran (Yaman) yang ditenggarai memiliki keyakinan sangat ekstrim, bahwa mereka meyakini Isa adalah Allah, saat mereka datang untuk “berdebat” dengan Rasulullah,
jejak debatnya dapat kita ketahui dalam surat Ali Imran

Harapan akan berimannya orang-orang Nashrani adalah suatu harapan yang sangat besar,
adalah suatu janji dari Allah bagi mereka yang beriman pada nabi Isa :

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya” (Ali Imran : 55)

maka dari itu , harapan akan keislaman mereka adalah sesuatu yang harus ditumbuhkan,
berhati-hati dalam berdebat, dengan kalimat santun, yang meluruskan.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“. (Ali Imran : 64)

Adalah alkisah, seorang prajurit Islam melawan pasukan Romawi. saat prajurit islam tertawan, setiap kali shalat ia membayar tebusan kepada seorang pasukan Romawi. Ketika tebusan terpenuhi, ia memilih pulang ke negeri Islam. sebelum pulang sang prajurit berkata kepada salah seorang pasukan itu : “kita akan berpisah, dan semoga Allah mewafatkan engkau dalam agama yang diridhaiNya”

kata-kata yang langsung merasuk dalam hati si anggota pasukan Romawi, mereka tak banyak berdebat, tak ada saling melukai dalam ejek-mengejek ibadah.
dengan kata-kata cinta yang menyentuh hati, anggota pasukan Romawi itu masuk Islam

wallahu ‘alam bishshowab

Kenapa (kita) tak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Natal, oh natal

setiap tahun berulang, dan setiap kali itu pula beredaran disana-sini tentang “haramnya mengucapkan selamat natal”

fenomena yang “rasa-rasanya tiada kemajuan dalam dialog antar ummat” di negeri kita tercinta Indonesia

pertanyaan pertama adalah

“Kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran nabi Isa?”

sosok nabi Isa adalah almasih, “kealmasihan” nabi Isa adalah sesuatu yang pasti tersebut dalam al Qur’an

Sosok nabi Isa yang Allah persiapkan sebagai sosok kunci dalam ujian terbesar bagi kemanusiaan
nabi Isa adalah pemimpin melawan Dajjal (anti christ)

lalu mengapakah kita tidak bergembira dengan kelahiran nabi Isa?
kelak dalam perlawanan terhadap hegemoni Dajjal, pemimpin ummat Muhammad melawan Dajjal adalah sang Messiah Isa putra Maryam

Dari titik inilah saya berpikir,
saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa, dan mengucapkan pada nabi Isa salam sejahtera atas kelahirannya,
sebagaimana yang diucapkan nabi Isa sendiri atas kelahirannya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam : 33)

Sungguh saya sangat berbahagia dengan kelahiran nabi Isa,
sesungguhnya kalangan yang bersedih dan membeci hari kelahiran nabi Isa adalah anti christ,
semestinya hanya kalangan Yahudi pengikut Dajjal (anti kristus) saja yang bersedih.

lalu bagaimanakah rupa kebahagian atas kelahiran nabi Isa harus kita tunjukkan?

dititik ini saya tertegun , surat al an’am ayat 84-90 mengobok-ngobok otak, marilah kita perhatikan bersama

84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
85. dan Zakariya, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
86. dan Isma’il, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),
87. (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
89. Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.
90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah jejak mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat”

perintah Allah kepada Rasulullah dalam ayat 90 surat al an’aam ini adalah mengikuti jejak para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya,
maka dari itu kita melihat bahwa Rasulullah sungguh-sungguh dalam menjalankan jejak nabi Ibrahim,
kadar “mengikuti” ini tentu saja telah Allah tetapkan, bagian-bagian mana saja yang diikuti dan bagian mana yang terhapus oleh “risalah” baru.

dalam jejak nabi Ibrahim, diantara yang kita temukan adalah “ibadah haji”

Dalam masyarakat arab semenjak sebelum kelahiran nabi Muhammad, ibadah haji memiliki posisi penting dalam kehidupan ritual dan kemasyarakatan, meskipun terjadi penyelewengan disana-sini.
Islam kemudian menegakkan ibadah haji, dan membuang hal-hal yang merupakan penyelewengan.

suatu ketika , Urwah Bin az Zubayr mempertanyakan, redaksi ayat tentang sa’i.
“Dan tiadalah dosa bagimu ……”
ayat tentang sa’i dalam redaksi demikian,
dalam pemahaman Urwah, berarti sa’i itu sebetulnya dilarang, tetapi kemudian Allah memberikan “keringanan”

Pehamanan yang dikemudian hari diluruskan oleh Aisyah, kata Aisyah “banyak orang menyatakan bahwa sa’i adalah syi’ar jahiliyah, dan islam ikut-ikutan, islam masih mempertahankan syi’ar jahiliyah. Allah kemudian menjelaskan hakikat sa’i” maka sesudah ayat turun Rasulullah bersabda “bersa’ilah”

permasalah besar yang melingkupi tema “kelahiran nabi Isa” adalah :

1. Tanggal kelahiran, tanggal kelahiran nabi Isa ini tidak dapat dipastikan dengan pasti, apalagi “peringatannya”
mengapa? karena tahun itu berputar,
dan putaran itu kita memilih yang mana?

ada putaran bulan, ada putaran matahari, ada putaran bulan dengan memperhatikan matahari.
dalam menghitung putaran matahari itu sendiri, beberapa kali terjadi koreksi, sebagaimana perubahan kalender dari julian ke gregorian, sewaktu masih memakai kalender julian, mayoritas orang kristen merayakan natal tanggl 7 januari.
sesudah kalender gregori dipakai orang kristen di belahan barat dunia merayakannya tanggal 25 desember,
mengapa? karena tahun itu adalah putaran

misal , saya lahir 7 Rajab 1400 yang bertepatan 21 Mei 1980 …… tanggal 7 Rajab berputar dengan cara bulan, dan entah kapan lagi akan bertepatan dengan 21 Mei. Sementara 21 Mei berputar dengan cara matahari dan menurut gregori ya jatuh sesuai dengan kalender yang umumnya saat ini berlaku di seluruh dunia kalender gregorius
jadi setiap tanggal, keberulangannya secara momentum adalah “relatif”

Bagi ummat islam, Allah telah memilihkan putaran bulan murni, sebagai cara menghitung ulangan suatu momentum kejadian dengan tepat dan pasti, tapi penghitungan ini sendiri harus dibarengi dengan proses “memandang dan mengamati fenomena”

Sebagaimana paus gregorius mengkoreksi kalender julian, sehingga kita menikmati kalender international yang saat ini berlaku, maka tidak menutup kemungkinan suatu ketika harus ada koreksi terhadap kalender gregori dengan pengamatan posisi matahari terhadap bumi.

Demikianlah tanggal, pengulangannya adalah sesuatu yang tidak pasti, ia bergantung kepada ketepatan menghitung dan mengkonfirmasi peristiwa alam.

Adapun hari, maka ia akan tetap berjumlah 7 hari, dia akan terus berputar ahad-senin-selasa-rabu-kamis-jum’at-sabtu.
maka ungkapan nabi Isa tentang putaran waktu adalah demikian adanya :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

2. Cara merayakan, cara merayakan suatu peristiwa besar adalah “debatable”, kita tidak bisa menutup mata dari adanya campur tangan tradisi dalam perayaan sesuatu.
Dalam kasus kelahiran nabi Isa, banyak sekali tradisi yang mengitarinya, contohnya keberadaan “pohon natal”
tradisi pohon natal tidak dikenal sedari dulu, dia baru ada sekitar abad ke 16
Dalam bahasa ummat islam, dalam perayaan natal pasti terdapat “bid’ah-bid’ah”

Contoh tentang perayaan hari lahir :
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bahagia dengan kelahiran dirinya, berbahagia dengan hari kelahirannya, maka nabi Muhammad “merayakan hari kelahirannya dengan shaum”
Cara perayaan ini telah mendapat “lisensi kebolehan” dari Allah,
maka kita ummatnya merayakan kelahiran nabi Muhammad, menunjukkan kebahagian atas kelahirannya dengan mengikuti sunnahnya yaitu shaum setiap senin.
(gimana shaum untuk memperingati hari kelahiran sendiri, ohhh jangan lah ya, karena tidak ada lisensi kebolehannya atas itu)

Kembali kepada judul,

pertanyaannya

kenapa kita tidak ikut berbahagia atas kelahiran nabi Isa?
jikapun kita tidak sepakat dengan “cara merayakannya”
jikapun kita tidak sepakat dengan sikap ummatnya nabi Isa yang “menganggapnya Tuhan”

kenapakah kita tidak berbahagia dengan kelahiran pemimpin perlawanan terhadap anti kristus Dajjal?
Saya belum menemukan jejak cara orang-orang Kristen merayakan natal di zaman nabi Muhammad,
yang saya temukan bahwa dizaman Rasulullah perayaan terbesar bagi ummat Kristen saat itu adalah perayaan “kamis putih”
karena secara sosial sedikit sekali ummat Kristen di Medinah, sikap kenegaraan dan “ideologikal” nabi Muhammad terhadap perayaan Kristen tidak saya dapati.
Tentang perayaan apa yang menjadi pusat perhatian dalam suatu agama, juga ditentukan oleh karakter sosial, kondisi politik kemasyarakatan.
Perayaan natal pasti mengalami pasang surut dalam sejarahnya

Adapun terhadap shaum ‘aasyura, dimana orang yahudi melakukan shaum dihari itu, maka Rasulullah bertanya pada orang Yahudi “kenapa kalian shaum hari aasyura?”

ketika orang-orang Yahudi menjawab bahwa hari itu adalah hari dimana Musa selamat dari kejaran Fir’aun, ketika Musa dan para pengikutnya berhasil menyebrangi laut Merah berjalan kaki.

yang Rasulullah sampaikan kepada para sahabat adalah “kita lebih berhak atas Musa dari orang-orang Yahudi”
maka Rasulullah pun memerintahkan shaum di hari aasyura.

Lalu bagaimanakah nabi Isa “merayakan” hari kelahirannya?
jejak al Qur’an yang dapat kita temukan adalah apa yang nabi Isa ucapkan sewaktu dibuat dapat berbicara diwaktu bayi, dimana kisahnya diabadikan dalam surat Maryam ayat 33 :
“Dan salam sejahtera bagiku, pada hari ketika aku dilahirkan, dan hari dimana aku wafat, dan hari saat aku dibangkitkan hidup kembali” (Maryam 33)

Nabi Isa, tidak tepat mengucapkan hal itu dihari ketika dilahirkan, maka bagi yang membaca ayat diatas dalam bahasa arab akan menemukan kata “hari ketika aku dilahirkan” dibentuk dengan past tense “yauma wulidtu”
Nabi Isa merayakan kelahirannya dengan sebuah do’a “salam sejahtera bagiku”

Ketepatan tanggal momentum, sebagaimana yang saya sebut adalah sulit “dimoderatori”
jatuhnya shaum ‘aasyura di kalangan yahudi akan berbeda dengan hari ‘aasyura dikalangan Islam
karena ada perbedaan cara menghitung
Yahudi memiliki kalender lunar solar
sedang ummat islam memakai kalender lunar murni

demikian pula natal,
ummat kristiani tidak akan gegabah menentukan tanggal kelahiran nabi Isa pada 25 Desember atau 7 januari
maka ilmuwan kalender handal kita dapati adalah dari kalangan gereja, yaitu “paus Gregorius XIII”
yang menghadirkan bagi kita kalender yang dipakai secara international hingga saat ini.

dan kita sebagai ummat islam sudah tahu, bahwa keberulangan suatu momentum kejadian, yang paling tepat dan akurat adalah dengan “kalender bulan murni”

dititik ini saya memandang

bahwa saya harus berbahagia dengan kelahiran sang messiah

kesalahan ummat Kristiani dalam cara merayakan natal adalah urusan ummat yang merupakan sahabat dekat ummat islam ini dengan Allah
kesalahan ummat Kristiani dalam berpendapat bahwa Isa adalah Tuhan, adalah kelak dihadapkan pada pengadilan Allah

tetapi saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam
Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
Selamat Natal bagi Yesus Kristus

dan bukan selamat merayakan hari natal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
sang juru selamat, yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan manusia dari bencana terbesar kemanusiaan
menyelamatkan manusia dari Dajjal

Salam sejahtera bagi nabi Isa dihari kelahirannya
saya berbahagia atas kelahiran Al Masih Isa putra Maryam

Wallahu ‘alaam bi ash showab

Kisah Seorang Yahudi yang Menyayat Hati

Kisah seorang Yahudi yang menyayat hati

Abdullah bin Abbas berkata :
  Ada seorang yahudi di syam membaca taurat di hari sabtu, ia menghamparkan lembaran-lembaran taurat di hadapannya, kemudian memperhatikan sengan seksama. Maka ia menemukan sifat Rasulullah SAW dan karakternya di empat tempat, ia kemudian memotong empat lembaran tersebut dan membakarnya.

  Kemudian di sabtu berikutnya, ia menemukan sifat dan karakter Rasulullah di delapan tempat, ia memotongnya dan membakarnya.

  Di sabtu berikutnya ia menemukan sifat dan karakter Rasulullah di duabelas tempat. Ia kemudian berpikir dan berkata : Jika aku memotongnya lagi maka seluruh taurat akan berbicara tentang sifatnya.

  Ia bertanya kepada sahabat-sahabatnya. Mereka menjawab : “Ia pendusta, lebih baik kamu tidak melihatnya, dan dia tidak melihatmu.

  Ia berkata : “Demi kebenaran yang ada pada taurat Musa, janganlah kalian mencegahku mengunjunginya”. Maka merekapun mengizinkannya. Maka ia mengendarai kendaraannya dan berjalan malam dan siang.

  Ketika ia sampai Madinah, orang yang pertama menyambutnya adalah Salman. Wajah Salman sangat tampan rupawan. Ia mengira bahwa Salman adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia sampai Medinah itu selang tiga hari sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

  Ditanya tentang nabi Muhammad Salman menangis, Salman menjawab : “aku adalah budaknya”
  Lelaki Yahudi itu bertanya : “dimanakah ia?”
  Salman berpikir keras, dan berkata dalam hatinya “jika aku mengatakan nabi Muhammad telah wafat, maka ia akan pulang, dan jika aku berkata nabi Muhammad hidup maka aku berdusta”
  Salman lalu berkata padanya : “Marilah kita mengunjungi para sahabatnya”

  Ia pun memasuki Mesjid, dan sahabat-sahabat Rasulullah saat itu sedang diliputi kesedihan mendalam.
  Orang Yahudi itu berkata “Salam sejahtera untukmu wahai Muhammad”, ia mengira bahwa nabi Muhammad ada bersama para sahabatnya.
  Maka pecahlah tangisan dan suara tangisan para sahabat itu bagai gelombang. Mereka berkata : “siapakah kamu?, engkau telah membuka kembali luka dan duka mendalam dihati kami, pastinya engkau orang asing, apakah engkau tidak tahu bahwasanya Rasulullah telah wafat tiga hari yang lalu?”

  Orang yahudi itu berteriak keras :
  “betapa sedihnya aku !
  “Betapa sia-sianya perjalananku!
  Seandainya ibuku tak pernah melahirkanku,
  sekiranya kalau pun ibuku melahirkanku maka aku tak pernah membaca taurat,
  sekiranya kalaupun aku membaca taurat aku tidak menemukan sifat nabi Muhammad,
  sekiranya sekiranya aku menemukan sifat nabi Muhammad maka aku sempat melihatnya.

  
  Ali kemudian berkata : “kemarilah, katakanlah padaku sifat-sifatnya, Yahudi berkata : baiklah.
  Yahudi berkata : siapa namamu?
  Ali berkata : Ali
  Yahudi berkata : sesungguhnya aku menemukan namamu dalam taurat
  Ali berkata : sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tinggi dan tidak pendek, kepalanya bulat dan keningnya jelas, bola matanya hitam, alisnya tebal hitam, kedua alisnya berjarak, Jika tertawa cahaya keluar dari giginya, rambutnya tebal, telapak tangan dan kakinya kuat, tulang-tulangnya besar, diantara dua pundaknya terdapat cap kenabian.
  Yahudi berkata : engkau benar wahai Ali, demikianlah sifat-sifat fisiknya didalam taurat. Apakah tersisa darinya pakaian, sehingga aku dapat mencium aroma tubuhnya.

  Ali berkata : ya, lalu berkata : “wahai Salman pergilah kepada Fathimah, dan katakan padanya : kirimlah padaku jubah ayahmu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam.

  Salman kemudian mendatangi pintu Fathimah, dan berkata : “wahai pintu kebaikan, wahai pintu perhiasan para wali Allah, dan saat itu Hasan dan Husein sedang menangis. Salman kemudian mengetuk pintu.
  Fathimah kemudian berkata : “siapakah yang mengetuk pintu anak yatim?”
  Salman berkata : saya Salman
  Kemudian Salman mengabarkan kepada Fathimah apa yang diminta Ali, Fathimah kemudian menangis.
  Fathimah berkata : siapakah yang sanggup memakai jubah ayahku?
  Kemudian Salman menceritakan apa yang terjadi, maka Fathimahpun mengeluarkan pakaian jubah yang telah ditambal 7 kali dengan serat.
  Salman mengambilnya dan menciumnya, demikian pula para sahabat, dan orang Yahudi itu kemudian mengambilnya dan menciumnya.

  Orang Yahudi berkata : betapa sedap baunya kemudian berdiri menuju makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ia kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata :
  Aku bersaksi wahai Tuhanku, bahwasanya Engkau satu yang Esa, satu tempat bergantung. Aku bersaksi bahwasanya penghuni makam ini adalah utusanMu, orang yang Engkau cintai, dan aku mengimaninya.
  Ia berkata : “wahai Allah sekiranya engkau menerima keislamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang”
  Orang yahudi itupun tersungkur wafat. Ali kemudian memandikannya dan menguburkannya di Baqi.

  Semoga Allah menyayanginya dan membangkitkan kita semua sebagai kelompok orang-orang shalih.

Saat Pohon Khuldi masuk rumah-rumah kita

Saat Pohon Khuldi masuk rumah-rumah kita

  Menarik tapi tak boleh didekati, ada dihadapan tetapi tak dapat disentuh, ialah pohon khuldi. Tantangan pertama yang dihadapkan kepada awal mula kisah kehidupan, Adam dan Hawa. Satu-satunya larangan yang ditujukan kepada keduanya di kehidupan surga. Kisah yang menggambarkan bahwa akan banyak hal-hal terlarang tetapi tetap ada dan tercipta. Mengapakah?
  Jawaban atas pertanyaan yang akan kita telusuri bersama. Penciptaan Adam adalah awal bagi era kehidupan manusia di bumi. Kehidupan yang dari sisi Sang Pencipta merupakan rangkaian dari ujian-ujian.
  Allah berfirman : “Dialah Yang menciptakan kematian dan kehidupan dengan tujuan menguji kalian siapakah diantara kalian yang paling baik amalannya” (Al Mulk :2)
  Larangan-larangan datang menguji, seringkali dipandang tidak masuk akal atau tiada guna, akal budi manusia berjuang kerasa untuk memahaminya. Sebagaimana saat sungai jernih terbentang dihadapan satu pasukan perang, kesejukan yang menggoda agar rasa dahaga hilang, tetapi ternyata sungai itu bagi mereka adalah bagai pohon khuldi bagi nabi Adam, ada dan nyata tetapi tak boleh didekati, terlihat tapi tak bisa disentuh.
  Allah berfirman : “Ketika Thaluth menyeleksi pasukannya, ia berkata “sesungguhnya Allah menguji kalian dengan sungai, barang siapa yang minum darinya maka bukanlah termasuk pasukanku, barang siapa tidak meminumnya maka sesungguhnya ia termasuk pasukanku, kecuali yang minum sedikit diambil dengan tangannya. Maka pasukan itu minum darinya kecuali sedikit dari mereka. Maka tatkala mereka melintasinya dia (Thaluth) dan orang-orang yang beriman bersamanya mereka berkata “kami tiada memiliki kekuatan hari ini untuk melawan Goliath dan pasukannya. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata “alangkah banyaknya kelompok kecil berhasil mengalahkan kelompok besar atas izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (al Baqarah : 249)
  Tipikal ujian yang semakin banyak terhidang di era gadget kini, ketika aneka ragam konten masuk ke rumah-rumah kita, serbuan ujian yang datang bak gelombang di lautan. Jutaan konten yang pastinya salah satunya adalah pohon khuldi bagi kita, sanggupkah kita tidak mendekatinya?

kisah Anas bin Malik dan Al Hajjaj

MasyaAllah, makin hari makin tergambar peta jalan

inilah yang paling asyik dari mempelajari sejarah, yaitu memiliki suatu sudut pandang terhadap “kehidupan”
bagaimana kita hidup dan membangun hubungan dengan Sang Pencipta
lalu membangun kehidupan sosial dengan dinamika dan lika-likunya
memahami manusia dengan perangainya
sehingga semua peristiwa dibaca dengan kacamata kearifan

sosok Al Hajjaj ibnu Yusuf Ats Tsaqafi,
digambarkan sebagai pribadi bengal, keras, menumpahkan darah

menyusuri kepribadiannya, ternyata Al hajjaj memiliki juga titik-titik rasa takut
Ia adalah seorang kepala prajurit yang mentaati perintah atasannya
dan sungguh Al Hajjaj adalah orang yang takut pada ALLAH,
bagaimanakah rasa takut pada Allah ini berefek pada pribadi al Hajjaj?
bagaimana kaitan antara rasa takut ini dengan darah yang ditumpahkannya?

suatu ketika ia sangat kesal dengan sahabat Rasulullah Anas Bin Malik
al Hajjaj berkata “seandainya tidak ada wasiat dari Abdul Malik bin Marwan agar aku tidak melakukan ini padamu, tidak melakukan itu, maka pasti aku telah berbuat sesuatu padamu”

Anas bin Malik dengan enteng menjawab : “sesungguhnya jika tidak ada wasiat itupun, kau tak akan bisa melakukan apa-apa padaku”

Al Hajjaj terbelalak berkata : “Kok bisa?”

Anas menjawab : “ya karena aku berdo’a di setiap hari di saat yang tepat, suatu do’a yang bisa mencegah tangannmu menyentuhku”

Apa itu? kata Al Hajjaj

Imam Anas bin Malik menolak untuk memberitahukan redaksi do’anya, sehebat apapun al hajjaj merayu.

Dari peristiwa rayuan al Hajjaj agar sahabat Anas bin Malik memberikan rahasia “kekebalan” nya memperlihatkan bahwa al Hajjaj percaya 100% akan kekuatan do’a
pandangan politiknya dipengaruhi dengan situasi yang terjadi pada saat itu, bahwa chaos politik berbahaya, dan kepemimpinan itu harus padu, maka ia harus memilih dan setia berada di pihak mana.

sikap politik yang setiap orang berbeda-beda
Hajjaj memahami benar akan resiko sikap yang diambilnya
tentang darah-darah yang tertumpah, tentang mesjidil haram yang diserangnya
resiko yang ia ambil demi kepemimpinan yang harus ditegakkan

orang-orang zaman itu tahu benar akan makna kepemimpinan,
sikap mereka berbeda-beda

misalnya Sa’id Ibnu al Musayyab,
Sa’id Ibnu al Musayyab adalah seorang ulama tabi’in, berasal dari bangsawan Quraisy, bani Makhzum.
tak terhitung ribuan cambukan mendarat di tubuhnya karena masalah kepemimpinan ini

gubernur Madinah untuk Abdullah bin az Zubayr mencambuknya karena ia tak mau berba’iat padanya, Sa’id bin Musayyab berkata : “hingga manusia bersatu baru aku akan berba’iat pada Abdullah”
cambukan baru berhenti baru setelah Abdullah tahu yang dilakukan gubernurnya pada Sa’id dan Abdullah memarahi gubernurnya.
Abdul Malik, dan dua putranya al Walid dan Sulaiman pernah juga mencambuknya untuk urusan ini
hingga terjadi boikot ilmu pengetahuan pada Sa’id bin Musayyab, tak boleh seorangpun menjadi muridnya.

kembali ke Anas bin Malik, beberapa saat sebelum wafat, abban putra Utsman bin Affan merayunya, agar memberitahu do’a “KEKEBALAN” yang dimilikinya, akhirnya Anas memberitahukan do’anya pada Abban :

do'a anas

Dengan nama Allah atas jiwaku dan agamaku, dengan nama Allah atas keluargaku dan hartaku dan anak-anakku, Dengan nama Allah atas segala sesuatu yang diberikan Tuhanku padaku, Allah Allah Rabbku, aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, Allah Allah Rabbku, aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah lebih tinggi lebih mulia daripada apa yang aku takutkan. Wahai Allah sesungguhnya aku berlindung padaMu dari keburukan jiwaku dan dari setiap syetan yang mengganggu, dan dari diktator yang berbuat kekerasan, Engkau berfirman : “jika mereka berpaling dari hukum Allah maka katakanlah : cukuplah Allah bagiku, tiada yang disembah kecuali Dia, padaNya aku bertawakkal dan dia Rabb pemilik ‘arsy yang agung.
tinggilah penjagaanMu, tinggilah pujian padaMu, tiada tuhan selainMu

do’a diatas dibaca setiap pagi dan petang, dibaca tiga kali
klo pagi sesudah subuh sebelum matahari syuruq
kalau sore sesudah ashar sebelum matahari terbenam
klo buat yang dawam ma’tsurat yang disusun imam syahid hasan al banna
tambahin lah ya do’a ini

ya Rabb, era-era mau pemilu, betapa kita memerlukan do’a-do’a yang dipanjatkan,
dihindarkan dari pemimpin yang tidak takut kepada Allah

itu mereka? (arab, persian, turkish, kurdish, mongol), kita?

mencoba membaca peta Indonesia ke depan yang bikin bertekad
PKS harus menang,
PKS harus berkuasa,
insyaAllah
kekuasaan politik untuk mengelola ekonomi, mengelola sumber daya Indonesia untuk semua kalangan agama dan etnik
memperjuangan agar Indonesia menjadi “ruling country”

kekuasaan yang harus diperjuangkan,
dan jika ia bersesuaian dengan kehendak Allah Sang penetap kekuasaan, maka kekuasaan itu terjadilah ….

makin bersemangat setelah menyimpulkan bacaan hari ini, bahwa

1. hingga tahun 1500an masehi ilmuwan muslim itu banyak yang Persian dan etnik-etniknya yang serumpun, banyak dari mereka yang masih Majusi, terislamkannya orang Persia tidak dalam hitungan hari
2. adapun kejayaan militer penaklukan perebutan wilayah banyak dimenangkan turki atau kurdish, misal perebutan kembali yerussalem dari kekuasaan kristen oleh ayyubi yang kurdish… penaklukan konstantinopel oleh al fatih yang turkish *****

mungkin ada yang bertanya kok pola pikirnya rasial banget? ***** bukan rasial karena setiap bangsa sudah diberikan peran masing-masing, dan juga terkait KEDATANGAN MALAIKAT UTUSAN ALLAH, dalam perang memperebutkan kekhilafahan, Tsabit putra Abdullah bin Az Zubayr mengingatkan ayahnya akan kemungkinan yang terjadi tatkala melihat anggota pasukan ayahnya adalah orang Mekkah dan orang Medinah, tsabit berujar “pasukan engkau yang tiada akan diberi kemenangan, adapun orang Mekkah mereka punya dosa mengusir Rasulullah SAW, adapun orang Medinah mereka pernah membiarkan Utsman terbunuh dirumahnya di kota Medinah”

nah terus peran kita orang Indonesia?
kalau kepemimpinan itu diraih, maka akan terlihat peta pengenalan akan potensi bangsa
kepemimpinan era baru Indonesia
belum pernah dalam sejarah 68tahun kemerdekaannya Indonesia dipimpin anak bangsa tipikal kader-kader PKS

seru banget kalau baca sejarah orang-orang turki, dari hidup di tenda-tenda hingga kemudian berperadaban.
klo etnik Persia dan rumpunnya emang sudah berperadaban dari zaman jebot ….
nah kalau etnik-etnik Turki itu bisa dikatakan “pure” hasil didikan islam
kisah mereka yang memulai menapaki tanah arab dari pembantu domestik, terus ke tentara …

hiks jadi ingat nasib TKW-TKW
beda status, TKW itu pekerja

nah kalau zaman awal Abbasiyah, sekitar 1200 an tahun yang lalu
emaknya al Mu’tashim, yang bisa kita bilang sebagai banyak nya para Khalifah Abbasiy, karena sesudah eranya, seluruh khalifah Abbasiyah adalah keturunannya.
Al Mu’tashim putra dari Khalifah Harun al Rasyid dan seorang budak yang mengerjakan pekerjaan domestik, sang budak yang beretnik Turki….
inilah awal keintiman etnik Turki dengan islam dan pusat kekuasaan

Balik lagi, kita orang Indonesia ?
Allah telah menganugerahkan keimanan ini pada kita,
bangsa India, bangsa Vietnam, Bangsa Thailand lewaaaaaat

Alhamdulillah kita ini bangsa pilihan, dianugerahi keimanan,
maka harus disyukuri dengan sebaik-baik ibadah kepada Allah,
sebaik-baik pengelolaan bumi….

meskipun konon, katanya, indonesia “banyak masalah”
sikapilah “masalah dengan kedewasaan”,
hidup itu pasti banyak masalah,
padahal kalau kita melihat kesejatiannya, karunia Allah pada bangsa Indonesia lebih banyak dari ribuan masalah yang menghimpitnya

Mensejajarkan diri dengan bangsa Persia, bangsa Turki,, bangsa Kurdi, bangsa Mongol ….

dengan tak pernah melupakan bahwa pilihan kenabian akhir zaman ini telah Allah jatuhkan pada bangsa arab
maka jalan kepemimpinan bagi ummat islam itu akan diberikan Allah dengan satu syarat yang tak akan pernah hilang
penguasaan bahasa arab dengan baik, memahami teks-teks islam dengan sebaik-baiknya,

kicauan aneka ragam disenja yang sepi
mungkin banyak yang tak menemukan kaitannya, maka beli aja benang merahnya, xixixi

sambil berdo’a : “Rabbi laa tadzarnii fardan wa alhiqnii bi ash shaalihiin”

Kisah mereka yang Murtad di zaman Rasulullah (1)

ini kisah yang paling menyadarkan saya, tentang pentingnya “mengenal” dan memahami kedudukan setiap manusia.

Manusia sebagai makhluq Allah, apapun agamanya
lalu memahami hak setiap muslim
memahami hak-hak setiap mukmin
mencoba mengenal kedudukan setiap mukmin dihadapan Allah

kisah ini, benar-benar membuka mata
kisah yang membuat memahami betapa suatu kondisi adalah kompleksitas
kisah yang mengajarkan bahwa kita harus mempelajari bagaimana merespon suatu peristiwa
kisah yang membuka mata bahwa setiap pribadi memiliki posisi dan kedudukan dimata Allah
menyadarkan kesejatian bahwa semua urusan kelak dikembalikan kepada Allah
adapun di dunia, maka semua berjalanlah sesuai dengan batasan yang telah Allah tetapkan

Utsman bin Affan punya saudara susuan yang bernama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin
Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin, ia telah masuk islam sewaktu di Mekkah,
bahkan memiliki tugas mulia : mencatatkan wahyu.
Ternyata Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin “mempermainkan keislamannya”
ia mencatat wahyu sekehendak hatinya, Jika Rasulullah menyampaikan bahwa ayat tersebut ‘aziizun hakiim
Abdullah suka menulis ‘aliimun hakiim
lalu murtad, dan berkata kepada orang-orang kafir bahwa “agama jahiliyyah” lebih baik daripada islam.

saat futuh Mekkah, Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin lari, takut dibunuh dan kemudian meminta jaminan keamanan kepada Utsman.
Utsman lalu menyembunyikannya hingga keadaan tenang.
setelah kondisi tenang, Utsman membawa Abdullah kepada Rasulullah SAW.
Saat datang Rasulullah terdiam tidak menjawab dalam jangka waktu yang sangat lama.
keadaan menegang ….. tetapi kemudian tegangan menurun dan Rasulullah mengeluarkan jaminan keamanan bagi Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin.
Utsman dan Abdullah kemudian pamit.
Setelah keduanya pergi, Rasulullah kemudian berkata : “aku terdiam sangat lama, karena berharap salah satu dari kalian berdiri membunuh Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin”
Seseorang diantara mereka berkata : “kenapa engkau tidak memberi tanda kepada kami”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Adalah haram bagi seorang nabi untuk membunuh dengan cara memberi tanda, Seorang nabi diharamkan berkhianat didepan mata”

(AL Kamil Fi at Taarikh, Ibnu Al Atsier, jilid 2 hal 123… cetakan Daar el kutub el arabi)

Peristiwa ini bisa ditafsirkan macam-macam,
bisa dangkal, bisa menyimpang

adalah tugas kita menyuarakan kejernihan.
memahami teks dan konteks
memahami dengan integral

dari kisah ini, banyak yang dapat saya ambil
1. Pentingnya memahami prosedur dan adab-adab yang Allah tetapkan dalam segala sesuatu, dan lalu menerapkannya setiap keadaan yang sesuai terjadi
2. menjaga batas-batas kewenangan, memahami peran dan posisi

ahhh, malam ini titik kritis itu kembali ditemukan

Abdullah bin Sa’d Abi Sarhin menjadi kunci ditaklukannya Afrika, menjadi kunci penyebaran islam di Afrika
sungguh semakin ingin melihat apa yang akan terjadi di esok hari
saat semakin takjub dengan keadilan dan kebijaksanaan di pengadilan Allah

kisah unik ini, semakin membuat mau membaca kompleksitas kehidupan
mengenal manusia dan prahara-prahara yang menimpanya

Allahumma Shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad
dan
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada seluruh kaum beriman

Tiada akan beriman Kecuali Allah berkehendak

Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah,
yang memberikan kesempatan membaca lembar-lembar tafsir an Naisabury ….

banyak hal yang njelimet, atau hal yang bikin waswas,
dapat dijelaskan oleh imam an Naisabury dengan logika yang sederhana dan dapat dipahami oleh saya,

sebagaimana ayat berikut ini :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al an’am :111)

ayat ini, terutama bagian yang ditebalkan dan dimiringkan ….
menjadi bahasan panjang lebar dalam sekte-sekte akidah dikalangan ummat islam,
tentang takdir,
tentang maksud dari “kecuali jika Allah menghendaki”

penjelasan Imam an naisabury benar-benar cahaya dalam kegelapan

Imam an Naisabury menyimpulkan bahwa keimanan itu terdiri atas dua jenis, yaitu keimanan sukarela dan keimanan dipaksa.

Dua jenis iman itu berlaku dalam memahami ayat ini,

pemahaman ayat ini adalah, bahwa andaipun semua bukti dikeluarkan, tentang kebenaran Rasulullah Muhammad SAW dengan risalah yang diembannya, maka mereka tidak akan pernah beriman dengan keimanan yang berasal dari kerelaan mereka.

Mereka hanya akan beriman jika “dipaksa” oleh Allah untuk beriman

Mereka yang dimaksud dalam sabab nuzul ayat ini adalah 5 orang dedengkot penindasan kepada kaum muslimin sewaktu di Mekkah, yaitu : Al Walid bin Mughirah (ayahnya Khalid bin Al Walid), Al ‘Ash bin Al Wail (ayahnya ‘Amr bin al ‘Ash), Al Aswad bin ‘Abd Yaghuts, AL Aswad bin Al Muththalib, dan al Hirts bin Hanzhalah.

#sungguh brillian imam an Naisabury ini, cahaya ^_^

jadi,
Orang-orang yang dihatinya ada sifat takabbur, tidak akan pernah percaya, tidak akan pernah beriman dengan kerelaan,
mereka baru akan beriman jika dipaksa untuk beriman.

DISARIKAN dari tafsir an Naisabury jilid 3 hal 147

TARBIYAH = Pendidikan ?

Tarbiyah, kata yang sudah sangat akrab ditelinga kita
suatu kata dari bahasa arab, yang sering dipadankan dengan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia

arti kata “tarbiyah” sendiri dalam bahasa arab memiliki beberapa arti,

arti pertama, bahwa tarbiyah berasal dari rabaa-yarbuu, artinya tumbuh dan berkembang
asal kata ini didalam al qur’an dipakai, misal dalam surat al hajj ayat 5, dan surat fushshilat ayat 39
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan tumbuh. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (fushshilat:39)
“kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan tumbuh dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (al hajj :5)

dari asal kata ini kemudian menjadi kata rabbaa-yurabbi artinya menumbuhkan, memelihara, merawat, membuat menjadi besar
arti demikian terdapat dalam ayat yang menerangkan redaksi do’a bagi kedua orang tua, seperti dalam surat al Isra ayat 24
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah merawat aku diwaktu kecil”

arti berikutnya, bahwa kata tarbiyah itu berarti mengantara sesuatu pada keadaan sempurna, sedikit-demi sedikit, secara bertahap, hingga akhirnya sempurna.
arti kata ini, para ahli tafsir sebelum tahun 1000 Hijriyah, mereka menggunakan makna ini, dalam makna merubah sesuatu hingga mencapai halnya yang paling sempurna. Dan tarbiyah dalam makna ini dinisbatkan kepada Allah.
Bahwa Allah sebagai Rabb, karena melakukan fungsi tarbiyah, yaitu fungsi menyempurnakan urusan.

dititik ini tercenung, mencoba menarik garis pemahaman,
kenapa sesudah tahun 1000 Hijriyah, kata tarbiyah yang berarti menghantarkan sesuatu pada kesempurnaan, menjadi dinisbahkan bagi arti kata “pendidikan” dengan pelaku “manusia”

tanya yang kemudian mendapat jawabnya, dari kamus lisaan al ‘arab
suatu kamus besar yang ditulis ibnu manzhur, sebelum tahun 711 hijriyah

dalam kamus tersebut, jilid pertama halaman 404, yang versi cetakan Daar el shaadir – beirut
disebutkan Allah adalah Rabb, yang melaksanakan fungsi tarbiyah dalam artian menghantarkan pada kesempurnaan.
kemudian ada insan-insan rabbaniy, Al Qur-an menyebut bahwa mereka disebut Rabbaniy karena dua proses, mengajarkan al Qur’an dan belajar.
kemudian dari sisi bahasa, orang-orang yang bertitel Rabbaniy disebut ibnu Manzhur sebagai Rabbaniy, karena melakukan fungsi tarbiyah, yaitu memberikan pengajaran kepada kaum pembelajar dimulai dari ilmu-ilmu yang ringan, baru kepada ilmu-ilmu yang berat dan luas.

dalam halaman 404 tersebut Ibnu Manzhur menulis pernyataan Muhammad Ibnu Al Hanafiyyah saat wafat Ibnu ‘Abbas : “Hari ini telah wafat Rabbaniyy nya ummat islam”

Dari data-data ini, sesungguhnya sangat berat mencapai suatu proses yang disebut “tarbiyah”, karena ia memerlukan seorang pribadi Rabbaniy sebagai subjek pelaku.
Jika standar yang diberikan Muhammad bin al Hanafiyah bahwa titel Rabbaniy, yaitu seorang yang dikategorikan dapat menjadi Murabbiy adalah sekelas ibnu Abbas, maka ada kesenjangan yang sangat lebar antara cita-cita pendidikan kita dan karakteristik bahasa.

Jadi, secara pribadi, saya berat sekali kalau memadankan kata pendidikan dengan tarbiyah.

dalam KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, atau usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

dari makna pendidikan dalam KBBI ini, sejatinya saya cenderung memadankan kata pendidikan dengan kata tazkiyah yang dipakai dalam al qur’an
atau kata ta’dib yang banyak dipakai Rasulullah dalam haditsnya-haditsnya.

Dalam artian lain, ada pentahapan dalam pemakaian kata

pertama, hingga usia 5 tahun akan bersifat “Hadhanah” pengasuhan, dalam jenjang ini bisa juga disebut tarbiyah dalam artian menumbuhkan.

kedua, ta’dib, hingga usia 12 tahun , yaitu pendidikan dasar
ketiga, ta’lim, hingga usia 18 tahun , yaitu pengajaran
keempat, tazkiyah, sesudah usia 18 tahun, yaitu pendidikan tinggi

apakah keempat proses itu bisa disebut “tarbiyah” …..
wallahu ‘alam ….. suatu cita besar boleh …. tapi kesamaan kata menuntut kesamaan fungsi dan peran,
proses tarbiyah, proses menjadikan insan Rabbaniy, dimana excellent subject adalah suatu kemestian

takwil matahari rembulan (Ali – Muawiyah)

membaca setiap kisah-kisah

semoga setiap kisah yang semakin membuka jalan atas pemahaman utuh yang kokoh akan kebenaran
suatu jalam lurus yang Allah terangi dengan cahaya=cahayanya

Adalah Umar bin a Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya Allah telah ridhai
hubungan unik yang penuh dengan cinta kasih
saling mengagumi dan menghormati

hingga saat seorang uskup, mengatakan era Ali adalah era pertumpahan darah, Umar naik pitam

hingga saat Umar melamar Ummu Kultsum binti Ali, putri Ali dari Fathimah
Ali menerima dan berbahagia berbesan dengan seorang al Faruq

hingga saat kisah-kisah kejadian dimasa setelah Umar semakin jelas tergambar dihadapan
akan fitnah dan musibah besar yang gerjadi pada ummat islam selepas mangkatnya Umar
maka Umar senantiasa waspada

Dari sisi kepemimpinan paska Umar
Ali memang bukanlah pilihan utama bagi Umar
teks-teks menunjukkan bahwa Umar sangat menginginkan Abu Ubaidah bin al Jarrah atau Salim maula Abi Hudzaifah yang menggantikannya menjadi khalifah
takdir telah tertulis , bahwa keduanya wafat sebelum Umar

ketika tikaman menghantarkan Umar pada sakaratul maut
ketika informasi dikumpulkan
tiada dapat Umar menentukan siapa pemimpin sesudahnya
yang dapat Umar lakukan adalah memilih 6 orang agar duduk memutuskan menetapkan khalifah paska Umar

Ah meski demikian, meski Ali bukan pilihan utama dalam kepemimpinan
Umar sangat mencintainya dan memahami dengan seksama apa yang akan terjadi
ketika rakyat tidak sanggup menta’ati seorang pemimpin seperti Ali
ketika rakyat tidak sanggup ridha, bahagia dan melaksanakan kebijakan-kebijakan Ali
dan Umar melakukan pembelaan pada batas-batas apa yang mampu dilakukannya

Dalam mushannif Ibnu Abi Syaibah, no 37864
Dikisahkan seorang hakim diantara hakim-hakim tanah Syam, mendatangi Umar, mengisahkan bahwa ia bermimpi yang meresahkannya, ia berkata dalam mimpinya matahari dan bintang saling berbunuh-bunuhan, dan bintang-bintang ada pada kedua pihak sebelah-sebelah.

Umar segera memahami arah kisah yang diceritakan sang hakim
lalu Umar bertanya : “kamu ada dipihak mana?”

hakim menjawab : “aku ada dipihak bulan melawan matahari”

Umar lalu menjawab dengan sebuah takwil berdasar ayat : “Kami menjadikan malam dan siang sebagai dua kedigjayaan, lalu kami menghapus kedigjayaan malam, dan menjadikan kedigjayaan siang sebagai penerang” (al Isra : 12)

dari takwil ini, terlihat bahwa Umar mentakwilkan matahari adalah Ali, dan bulan adalah Muawiyah

lalu Umar berkata pada sang hakim : “pergilah, jangan pernah bekerja untukku lagi selama-lamanya”

dan sang hakim itu terbunuh di perang Shiffin, berada pada pihak Muawiyah….

Umar membuang sang Hakim,
tetapi tetap memakai Muawiyah, sebagai salah satu gubernur yang menguatkan pemerintahannya,
bagaimana tidak,
Muawiyah adalah suatu tanda kedigjayaan yang telah Allah tetapkan, ia adalah rembulan

dan jauh sebelum itu
Rasulullah, pernah melihat dalam mimpinya di malam lailatul qadar,
bahwa klan Abu Sufyan secara turun-temurun bergantian naik-turun dari mimbar Rasulullah
mimpi yang Rasulullah tidak suka

tetapi itu adalah suatu ketetapan Allah
maka, respon Rasulullah atas semua itu , adalah mendidik Muawiyah dengan seksama, dalam sisa waktu kehidupannya yang tiada lama lagi, Muawiyah dijadikan salah satu penulis wahyu…..
menorehkan al Qur’an dan kepahaman pada rembulan

Adapun imam Ali, yang Allah muliakan wajahnya,
ia adalah matahari menyengat, teguh dalam garis kebenaran
orang-orang kepanasan dengan sinar matahari

sungguh orang-orang lebih senang berdiri dibawah rembulan sempurna bulat
daripada dibawah terik matahari yang membakar