adab menasihati pemimpin

Bismillah,

Abis debat terakhir,
Makin mantap pilih Prabowo

Dan yang uniknya,
Di hari kemaren, beredar
Nasihat ustadz Salim Fillah buat Pa Prabowo.

Alkisah, saya, dalam beberapa bulan terakhir,
Banyak membaca kewajiban-kewajiban Rakyat terhadap pemimpin,
Dan Mencoba memahami konsep kepemimpinan dalam islam,

Ada keunikan, bahwa dalam Islam sumpah setia, diberikan rakyat pada pemimpin yang diangkatnya,
Bahwa rakyat bersumpah siap dipimpin, siap ta’at, siap membela pemimpin.

Dari titik inilah, kewajiban-kewajiban rakyat, saya dahulukan buat saya baca.

Diantara kewajiban rakyat selain ta’at pada pemimpin adalah memberikan nasihat pada pemimpin.

Bahasa Arab punya karakteristik egaliter,
Karakter bahasa yang egaliter ini membuat arah yang mudah dalam melancarkan nasihat dan wejangan.

Hal yang kemudian diarahkan oleh Al Qur’an adalah agar memiliki adab dalam memberikan nasihat pada pemimpin.

Saya membayangkan, nasihat ustadz Salim tidak menggunakan kata “Anda”, dan tidak berupa surat langsung,
Tidak juga dengan kata _ “memilih anda, tapi…..”_

Tetapi, dengan mengadakan suatu redaksi “merendah” dan “tanya jawab”

Misal,
Kami memilih engkau, dengan harapan bahwa kisah Abu Bakar saat terpilih menjadi khalifah akan kami temukan pada engkau,
Pernahkah pa Prabowo mendengar kisah itu?

Dan bla, bla, bla

Dalam adab berkata kepada Rasulullah,
Qta akan menemukan banyak redaksi “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”
Meskipun para sahabat tahu suatu urusan,
Tapi kaidah dasarnya adalah “tidak mendahului Rasulullah”
Maka mereka memastikan dulu, setiap saran dan nasihat, atau setiap protes, akan diawali pertanyaan : “apakah hal ini (yang diprotes) wahyu atau pendapat Rasulullah? “Jika pendapat Rasulullah bolehkah mengajukan pendapat?”

Kaidah yang dipahami para sahabat dengan baik, dan demikian juga generasi yang lahir tak jauh dari masa itu,
Maka kita akan temukan redaksi “kami mendengar dari amirul mukminin”
Padahal yang menjadi “kami” itu di masa itu lebih pintar dari amirul mukminin,

Ribuan karakter manusia,
Selain para sahabat yang sangat menjunjung tinggi etika menyampaikan nasihat,
Terdapat juga “orang a’rab (arab kampung), yang ga punya etika dalam banyak hal

Dan kini pun,
Ada orang kota, ada orang kampung,
Ada orang berilmu, ada orang yang tak tahu,

Selayaknya orang berilmu, menyampaikan nasihat sesuai dengan yang kaidah-kaidah yang ada

Asyik banget, kalau saat Pa Prabowo memimpin nanti, banyak baca buku sejarah Islam,
Kaya referensi,
Termasuk dalam hal memanage keragaman,

Para Khulafaur Rasyidin, Para khilafah Bani Umayyah, Para khilafah Bani Abbasiyah, Para raja Mamalik, para Raja turki utsmani,
Adalah leader-leader yang memimpin dalam kemajemukan,
Rakyat mereka beraneka agama dan etnik,
Islam, kristen, yahudi, majusi, hindu.
Arab, persia, romawi, qibthi, Barbar, turki
Para Khalifah yang sanggup mengarahkan seluruh potensi menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama

Dan yang paling asyik,
Meskipun redaksi nasihat ustadz Salim, bagi saya terlalu “setara”, dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah memberikan nasihat,
Tetapi Pa Prabowo membaca dan merespon positif,
Menunjukkan kelas pa Prabowo.

Qulillahumma malikal mulki tu’ti al mulka man tasya

Wallahu’alam bish showab

Pilih no 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s