Pilres RI 2014 dan Perang Badar

Bismillah

Heboh analogi perang badar di 2014, oleh Pa Amien Rais.

Rasa sakit yang dirasakan para pendukung koalisi merah-hijau-biru-orange yang beragama islam atas pernyataan itu sangat dalam,
“Moso disamain kafir quraisy”
Begitulah logika rasa sakitnya,
Plus yang mengucapkankan adalah seorang tokoh yang diidolakan banyak orang.

Rasa sakit itu masih jauh lebih besar dari rasa sakit yang saya rasakan,
Ketika Arswendo Atmowiloto bilang “yang waras dan yang pintar dukung ……”
Kata-kata yang bagi saya ga terlalu sakit, sebab yang bilangnya Arswendo.
Dari track record hidupnya, seperti kasus tabloid monitor-penghinaan Rasulullah,
Saya hanya memberikan apresiasi pada sinetron Keluarga Cemara.
Jadi yo rapopo dibilang ga waras sama arswendo.

Balik ke perang Badar,
Bulak-balik dengerin pidato pa Amien Rais, saya bilang lah kok apa salahnya?
Bulak-balik baca buku sejarah islam, justru makin menemukan bahwa brillian sekali pa Amien Rais menganalogikan pemilu 2014 dengan perang badar.

Adalah hijrah ke Medinah suatu pindah, tansmigrasi dengan alasan ideologis dan keamanan.
Pindah yang tanpa persiapan.
Keluar kota Mekkah tanpa bekal yang cukup dan dengan sembunyi-sembunyi.
Meninggalkan seluruh harta benda, yang kemudian harta benda yang ditinggal tersebut dirampas tuan-tuan Mekkah.

Sampai di Madinah, ia adalah kota yang sangat lain dari sisi cuaca.
Madinah juga merupakan kota dengan endemik Penyakit, bakteri dan virus penyebab demam banyak bersarang di kota Madinah.
Dari sisi ekonomi, penjamin keamanan bagi orang Mekkah yang pindah ke Medinah (kaum Muhajirin) yaitu kaum anshar, bukanlah penguasa ekonomi. Mereka adalah mayoritas yang menguasai sedikit kekayaan Madinah.

Jadilah 20bulan pertama di Medinah kehidupan yang sangat sempit,
Kelaparan, wabah penyakit, tekanan psikologis ideologis dari orang-orang Yahudi Medinah.

Orang-orang Yahudi Medinah yang mengusai ekonomi semakin merasa diatas angin,
Ketika mereka mendapati bahwa Rasulullah dan para sahabatnya shalat menghadap baitul maqdis.
Mereka mengejek bahwa Islam bukanlah agama baru, Islam sekedar mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi, sebagaimana mereka mengejek waktu yang ditetapkan sebagai waktu shalat isya.

Tekanan ideologis sedikit berkurang, karena Allah memindahkan kiblat shalat ke ka’bah di bulan ke 16 sejak hijrah.

Semakin tak menentunya keadaan ekonomi, mengingat juga asset-asset yang ditinggalkan telah dirampas,
Di bulan ke 20 sejak hijrah, Rasulullah menyiapkan penyergapan kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, kafilah dagang yang sangat besar, rombongan dagang dengan sedikit persenjataan.

Penyergapan yang ternyata gagal total, karena Abu Sufyan mengambil jalan lain,
Selain itu Abu Sufyan mengirim permintaan bala bantuan.
Abu Jahal datang dengan bala bantuan untuk menyelamatkan harta benda milik masyarakat Mekkah yang dibawa dalam perjalanan dagang Abu Sufyan.
Dalam pasukan yang dipimpin Abu Jahal, ada banyak muslim, ada keluarga Rasulullah,
Dari sisi keduanya tak ada niat perang “ideologis”

Rasulullah sekuat tenaga berusaha tetap fokus mengejar Abu Sufyan, namun kondisi membuat dilakukan musyawarah, : mana yang dihadapi : mengejar Abu Sufyan, atau menghadapi Abu Jahal.
Keputusan menyebutkan menghadapi Abu Jahal.

Psikologis yang sangat berat bagi pasukan Rasulullah,
Tadinya ingin merampas harta yang banyak dari tangan Abu Sufyan,
Ehhh tahunya harus menghadapi perang besar yang boleh jadi hartanya lebih sedikit.

Dititik ini analogi ditemukan,
Misal, para pemimpin parpol yang berkomunikasi langsung dengan prabowo tentu banyak yang kegeeran, bahwa wakil yang dipilihnya akan dari partainya.
Menerima sosok Hatta Radjasa, berarti menyingkirkan ambisi dan mau menerima.
Yang terbayang bisa jadi Prabowo-SDA, atau
Prabowo-Aher, atau
Prabowo-ARB,
Semua ambisi yang harus dienyahkan,
Para sahabat Rasulullah harus melupakan penyergapan mudah lalu membawa hasil harta rampasan, hingga bisa mengentaskan kelaparan yang melanda.

Allah mengabadikan psikologis bahwa yang dinginkan Rasulullah dan pasukannya adalah rombongan dagang Abu Sufyan dan bukan pasukan perang Abu Jahal dalam surat Al Anfaal :
“Dan Allah menjanjikan salah satu dari dua kelompok (Rombongan Abu Sufyan atau pasukan Abu Jahal) bahwa salah satunya untuk kalian, dan kalian mengingkan bahwa yang tanpa kesulitan adalah untuk kalian, dan Allah ingin menegakkan kebenaran dan memotong jejak-jejak orang kafir” (al anfal : 7)

Dititik ini saya rasa pa Amien Rais menyemangati para anggota koalisi,
Enyahkan ambisi menjadi paling berkuasa,
dan bersatu memenangkan pilpres.

Tapi, hati lawan politik telah terlukai,
tulisan ini setitik menjelaskan situasi kondisi psikologis Rasulullah dalam perang badar, Tak ada niatan perang ideologis.
Bahkan paman Rasulullah yang keduanya saling mencintai Al ‘abbas bin Abdul Muththalib ada dalam pasukan Abu Jahal.
Al Abbas, ia, kecintaannya pada Rasulullah tidak terkira, dahulu sebelum Rasulullah hijrah ia turut serta dalam derita boikot 3tahun, hingga salah salah satu putranya lahir di masa pemboikotan,
Kini ia ikut dalam pasukan Abu Jahal sama sekai bukan dengan alasan ideologis, tetapi untuk melindungi harta benda.
Hingga selesai perang badar Al ‘Abbas ditawan pasukan muslim, dan harus menebus dirinya.

Dititik sini, saya merasa,
Pemahaman atas sejarah islam harus terus diperdalam.
Jangan sampai esok hari,
Hanya kenal perang badar sebagai perang kaum muslimin melawan kafir quraisy, tanpa mengetahui detil cerita dan kondisi-kondisi yang meliputi.

Yuk, pilih Prabowo-Hatta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s