Kepercayaan, Menitipkan

Ada suatu gambar,
mulanya beberapa bulan lalu,
melihat hanya sebagai status facebook, dan kemudian sekarang dibikin versi gambar

1962808_10151933119387136_571939730_n

gambar , yang isi kata-katanya, jika direnungkan mengandung banyak celah yang bagi saya mesti dikritisi

Jika itu sungguh terlahir dari pertanyaan polos anak, maka sesungguhnya cara berpikir anak yang demikin sebaiknya diluruskan

Menitipkan orang dan menitipkan benda , adalah sesuatu hal yang berbeda
sebagaimana juga “menitipkan” jabatan

sikap manusia kepada titipan jika berupa manusia, berupa benda, berupa jabatan pun akan berbeda-beda.

maka berikanlah amanah kepada yang sanggup memikulnya dan tidak mengkhianati amanah yang diberikan

alkisah Rasulullah sangat percaya bahwa Abu Dzar al Ghiffari sanggup berdakwah di Bani Ghifar dan mengajak kaumnya untuk masuk islam, tetapi tidak percaya mempercayakan harta kepada abu dzar,

lantas dengan kondisi yang demikian, apakah orang-orang bani ghifar tidak lebih berharga dari uang?

seseorang bisa jadi amanah dan telaten dalam mengasuh anak, tetapi ia tidak bisa dititipi uang karena teledor, suka lupa menyimpan, atau bisa jadi gampang “memakai dulu” dari apa yang digengamnya dengan niatan nanti dikembalikan.

seorang anak usia 9 tahun, bisa dititipi anak, sebagaimana Rasulullah diasuh oleh kakak susunya Syaima yang masih belia. dan itu boleh
tetapi islam melarang memberikan harta pada anak yang belum bisa mengurusnya.

Seorang pembantu, ia memiliki rasa-rasa kemanusian,
ketika ia dititipi anak, ia akan merawat sebagaimana pengetahuan yang dimilikinya,
adapun jika dititipi uang dan perhiasan ia akan galau dan setan berebut menggodanya agar tidak amanah

Pertimbangan ketidak percayaan menitipkan uang dan perhiasan kepada pembantu adalah hal lumrah manusia,

logika berpikir yang harus senantiasa diperiksa ulang
kekritisan kita juga terhadap suatu kata-kata

ya Rabb
para Khadimah, pembantu mulia itu

Rasulullah disusui oleh seorang “pembantu” ibu susu
kemudian sesudah Aminah wafat diasuh seorang pembantu berkulit hitam “Ummu Ayman”

berbagi, memuliakan pembantu,
memberi amanah sesuai apa yang dia bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s