Ketika Kekalahan menimpa Orang Shalih negeri ini

Bismillahirrahmaanirrahim

Ingin ku bertanya padamu

Telah berapa tahunkah kita bersama?

satu, dua, tiga, atau melampai 13 tahun?
adakah engkau tetap tidak mengenalku?
atau engkau mengenalku samar-samar?
dalam malam pekat tertutup kabut?

atau perkenalan kita seterang rembulan?
engkau mengenalku dengan sungguh mengenal,
mengetahui apa yang menjadi cita dan mimpiku
apakah engkau telah mengenalnya?

Ini adalah hari-hari yang akan sungguh sulit bagi kita
tahun politik yang penuh ujian

Lama tertegun dalam kalimat yang disampaikan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, terhadap peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, Ali berkata “aku tidak membunuh Utsman, dan aku tidak ingin membunuhnya, dan aku tidak pernah memerintahkan membunuhnya, tetapi aku dikalahkan , dan semoga aku dan Utsman kelak di surga termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat ini “Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

Dua sahabat mulia
Enam tahun itu dilalui bersama
penuh kenangan manis akan keteguhan perjuangan
masa-masa sulit Mekkah adalah masa indah
Ali kecil samar “mendengar” Utsman
dan lalu terpisahkan lautan
laut merah
antara Mekkah dan Habasyah
waktu berlalu
ketika 8 tahun kemudian setelah perpisahan itu
dipertemukan kembali di sebuah kota baru
kini Ali telah dewasa usia mencapai 23 tahun
sesudah itu keduanya tak terpisahkan, dalam medan-medan jihad, dalam kehidupan keseharian,
saling mengenal tindak-tanduk

hingga tibalah pada suatu masa,
Allah telah menakdirkan Utsman menjadi Khalifah,
dengan banyak tindak-tanduk yang ditenggarai tidak disepakati
adapun beberapa tindak-tanduk yang sangat penting dan krusial, sangat disepakati ALi, semisal penulisan kembali al Qur’an yang telah dibukukan dizaman Abu bakar

tetapi api perbedaan meliputi dan menggelayut
tentang cara pengelolaan negara, tentang cara-cara pengelolaan keuangan negara, tentang beberapa hukum fiqih

Api yang panas,membuat “lupa”
Lupa akan suatu kisah, bahwa surga pasti akan dimasuki Utsman
lupa bahwa apapun yang dilakukan Utsman sesudah perannya dalam perang tabuk tidak akan menimpakan bahaya bagi posisi sejati Utsman.

maka perkataan Ali bahwa “aku telah dikalahkan”
adalah suatu perkataan mendalam

dan tentang kita,
kau dan aku
apakah kita terpisah jarak yang sangat jauh, sehingga kau tak lagi mengenalku
sehingga engkau berprasangka buruk
atas buah-buah pikiran yang dianugerahkan Allah berada dalam kepalaku
atau buah pikiran itu justru ujian padaku, bagaimana ku bersikap
dan ujian padamu, bagaimana engkau bersikap
tentang perbedaan merespon peristiwa
tentang kesalahan dan kekeliruan

tentang potensi “kekalahan”
dikalahkan persepsi dan euporia peristiwa sesaat
keadaan sering mendorong pada melupakan,
siapa fulan sebenarnya?
apa hakikat sesuatu yang terjadi?

Demikianlah orang-orang shalih negeri ini, sering terkalahkan oleh persepsi
Kekalahan itu terdiri dari sikap menjauh
dari sikap tidak percaya
kekalahan yang sering berupa keluar dari gelanggang
kekalahan yang sering berwajah tak mengambil sikap

Duhai orang shalih negeri ini,
jangan kalah !
mari kita atasi dan kelola segala macam perbedaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s