TARBIYAH = Pendidikan ?

Tarbiyah, kata yang sudah sangat akrab ditelinga kita
suatu kata dari bahasa arab, yang sering dipadankan dengan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia

arti kata “tarbiyah” sendiri dalam bahasa arab memiliki beberapa arti,

arti pertama, bahwa tarbiyah berasal dari rabaa-yarbuu, artinya tumbuh dan berkembang
asal kata ini didalam al qur’an dipakai, misal dalam surat al hajj ayat 5, dan surat fushshilat ayat 39
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan tumbuh. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (fushshilat:39)
“kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan tumbuh dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (al hajj :5)

dari asal kata ini kemudian menjadi kata rabbaa-yurabbi artinya menumbuhkan, memelihara, merawat, membuat menjadi besar
arti demikian terdapat dalam ayat yang menerangkan redaksi do’a bagi kedua orang tua, seperti dalam surat al Isra ayat 24
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah merawat aku diwaktu kecil”

arti berikutnya, bahwa kata tarbiyah itu berarti mengantara sesuatu pada keadaan sempurna, sedikit-demi sedikit, secara bertahap, hingga akhirnya sempurna.
arti kata ini, para ahli tafsir sebelum tahun 1000 Hijriyah, mereka menggunakan makna ini, dalam makna merubah sesuatu hingga mencapai halnya yang paling sempurna. Dan tarbiyah dalam makna ini dinisbatkan kepada Allah.
Bahwa Allah sebagai Rabb, karena melakukan fungsi tarbiyah, yaitu fungsi menyempurnakan urusan.

dititik ini tercenung, mencoba menarik garis pemahaman,
kenapa sesudah tahun 1000 Hijriyah, kata tarbiyah yang berarti menghantarkan sesuatu pada kesempurnaan, menjadi dinisbahkan bagi arti kata “pendidikan” dengan pelaku “manusia”

tanya yang kemudian mendapat jawabnya, dari kamus lisaan al ‘arab
suatu kamus besar yang ditulis ibnu manzhur, sebelum tahun 711 hijriyah

dalam kamus tersebut, jilid pertama halaman 404, yang versi cetakan Daar el shaadir – beirut
disebutkan Allah adalah Rabb, yang melaksanakan fungsi tarbiyah dalam artian menghantarkan pada kesempurnaan.
kemudian ada insan-insan rabbaniy, Al Qur-an menyebut bahwa mereka disebut Rabbaniy karena dua proses, mengajarkan al Qur’an dan belajar.
kemudian dari sisi bahasa, orang-orang yang bertitel Rabbaniy disebut ibnu Manzhur sebagai Rabbaniy, karena melakukan fungsi tarbiyah, yaitu memberikan pengajaran kepada kaum pembelajar dimulai dari ilmu-ilmu yang ringan, baru kepada ilmu-ilmu yang berat dan luas.

dalam halaman 404 tersebut Ibnu Manzhur menulis pernyataan Muhammad Ibnu Al Hanafiyyah saat wafat Ibnu ‘Abbas : “Hari ini telah wafat Rabbaniyy nya ummat islam”

Dari data-data ini, sesungguhnya sangat berat mencapai suatu proses yang disebut “tarbiyah”, karena ia memerlukan seorang pribadi Rabbaniy sebagai subjek pelaku.
Jika standar yang diberikan Muhammad bin al Hanafiyah bahwa titel Rabbaniy, yaitu seorang yang dikategorikan dapat menjadi Murabbiy adalah sekelas ibnu Abbas, maka ada kesenjangan yang sangat lebar antara cita-cita pendidikan kita dan karakteristik bahasa.

Jadi, secara pribadi, saya berat sekali kalau memadankan kata pendidikan dengan tarbiyah.

dalam KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, atau usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

dari makna pendidikan dalam KBBI ini, sejatinya saya cenderung memadankan kata pendidikan dengan kata tazkiyah yang dipakai dalam al qur’an
atau kata ta’dib yang banyak dipakai Rasulullah dalam haditsnya-haditsnya.

Dalam artian lain, ada pentahapan dalam pemakaian kata

pertama, hingga usia 5 tahun akan bersifat “Hadhanah” pengasuhan, dalam jenjang ini bisa juga disebut tarbiyah dalam artian menumbuhkan.

kedua, ta’dib, hingga usia 12 tahun , yaitu pendidikan dasar
ketiga, ta’lim, hingga usia 18 tahun , yaitu pengajaran
keempat, tazkiyah, sesudah usia 18 tahun, yaitu pendidikan tinggi

apakah keempat proses itu bisa disebut “tarbiyah” …..
wallahu ‘alam ….. suatu cita besar boleh …. tapi kesamaan kata menuntut kesamaan fungsi dan peran,
proses tarbiyah, proses menjadikan insan Rabbaniy, dimana excellent subject adalah suatu kemestian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s