takwil matahari rembulan (Ali – Muawiyah)

membaca setiap kisah-kisah

semoga setiap kisah yang semakin membuka jalan atas pemahaman utuh yang kokoh akan kebenaran
suatu jalam lurus yang Allah terangi dengan cahaya=cahayanya

Adalah Umar bin a Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya Allah telah ridhai
hubungan unik yang penuh dengan cinta kasih
saling mengagumi dan menghormati

hingga saat seorang uskup, mengatakan era Ali adalah era pertumpahan darah, Umar naik pitam

hingga saat Umar melamar Ummu Kultsum binti Ali, putri Ali dari Fathimah
Ali menerima dan berbahagia berbesan dengan seorang al Faruq

hingga saat kisah-kisah kejadian dimasa setelah Umar semakin jelas tergambar dihadapan
akan fitnah dan musibah besar yang gerjadi pada ummat islam selepas mangkatnya Umar
maka Umar senantiasa waspada

Dari sisi kepemimpinan paska Umar
Ali memang bukanlah pilihan utama bagi Umar
teks-teks menunjukkan bahwa Umar sangat menginginkan Abu Ubaidah bin al Jarrah atau Salim maula Abi Hudzaifah yang menggantikannya menjadi khalifah
takdir telah tertulis , bahwa keduanya wafat sebelum Umar

ketika tikaman menghantarkan Umar pada sakaratul maut
ketika informasi dikumpulkan
tiada dapat Umar menentukan siapa pemimpin sesudahnya
yang dapat Umar lakukan adalah memilih 6 orang agar duduk memutuskan menetapkan khalifah paska Umar

Ah meski demikian, meski Ali bukan pilihan utama dalam kepemimpinan
Umar sangat mencintainya dan memahami dengan seksama apa yang akan terjadi
ketika rakyat tidak sanggup menta’ati seorang pemimpin seperti Ali
ketika rakyat tidak sanggup ridha, bahagia dan melaksanakan kebijakan-kebijakan Ali
dan Umar melakukan pembelaan pada batas-batas apa yang mampu dilakukannya

Dalam mushannif Ibnu Abi Syaibah, no 37864
Dikisahkan seorang hakim diantara hakim-hakim tanah Syam, mendatangi Umar, mengisahkan bahwa ia bermimpi yang meresahkannya, ia berkata dalam mimpinya matahari dan bintang saling berbunuh-bunuhan, dan bintang-bintang ada pada kedua pihak sebelah-sebelah.

Umar segera memahami arah kisah yang diceritakan sang hakim
lalu Umar bertanya : “kamu ada dipihak mana?”

hakim menjawab : “aku ada dipihak bulan melawan matahari”

Umar lalu menjawab dengan sebuah takwil berdasar ayat : “Kami menjadikan malam dan siang sebagai dua kedigjayaan, lalu kami menghapus kedigjayaan malam, dan menjadikan kedigjayaan siang sebagai penerang” (al Isra : 12)

dari takwil ini, terlihat bahwa Umar mentakwilkan matahari adalah Ali, dan bulan adalah Muawiyah

lalu Umar berkata pada sang hakim : “pergilah, jangan pernah bekerja untukku lagi selama-lamanya”

dan sang hakim itu terbunuh di perang Shiffin, berada pada pihak Muawiyah….

Umar membuang sang Hakim,
tetapi tetap memakai Muawiyah, sebagai salah satu gubernur yang menguatkan pemerintahannya,
bagaimana tidak,
Muawiyah adalah suatu tanda kedigjayaan yang telah Allah tetapkan, ia adalah rembulan

dan jauh sebelum itu
Rasulullah, pernah melihat dalam mimpinya di malam lailatul qadar,
bahwa klan Abu Sufyan secara turun-temurun bergantian naik-turun dari mimbar Rasulullah
mimpi yang Rasulullah tidak suka

tetapi itu adalah suatu ketetapan Allah
maka, respon Rasulullah atas semua itu , adalah mendidik Muawiyah dengan seksama, dalam sisa waktu kehidupannya yang tiada lama lagi, Muawiyah dijadikan salah satu penulis wahyu…..
menorehkan al Qur’an dan kepahaman pada rembulan

Adapun imam Ali, yang Allah muliakan wajahnya,
ia adalah matahari menyengat, teguh dalam garis kebenaran
orang-orang kepanasan dengan sinar matahari

sungguh orang-orang lebih senang berdiri dibawah rembulan sempurna bulat
daripada dibawah terik matahari yang membakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s