Full Time Mother, maksud loe?

sadis ya judulnya?

heeee, soalnya, Emang ada gitu parttime mother?

Beberapa tulisan status suka saya perhatikan, misal seperti tulisan teh Ema Rachmawati, moga segera ya bisa belajar bahasa Arab nya ^_^

Teh Ema belakangan ini suka banyak ngutip kata-kata Felix Siauw, jadi tahu deh ragam pemikirannya Felix Siaw. kaya waktu status tentang Muhammad Al Fatih …

Nah balik lagi ya, “Full time mother”

Saya pengen banget menyentuh masalah keluarga dan parenting, tapi berhubung-berhubung, still lonely, jadinya masih menahan untuk ditabung….

tapi sebagai wanita aku bener-bener belajar untuk meneladani sikap para wanita yang ditunjukkan al Qur’an dan para shahabiat yang dididik langsung Rasulullah.

Sebagai wanita aku mempelajari falsafah keberadaanku.

Wanita adalah manusia saudara kandung laki-laki,

wanita muslim memiliki kewajiban rukun islam sebagai mana para pria,

frame dasar ini kemudian dihadapkan pada tata sosial dan majemuknya kehidupan masyarakat

Dalam tata sosial keluarga, wanita sesudah menjadi anak orangtuanya, maka

ia akan menjadi istri…

nah ini dikubek-kubek buku tafsir hadits dsb, ketemu deh kalau

Dalam keluarga ga ada “kesetaraan gender”

suami adalah pemimpin,

sangking ekstrimnya, tokoh shahabat favoritku, Asma binti Abu Bakar bilang “pernikahan adalah perbudakan, maka wahai wanita lihatlah pada siapa engkau menjadi budak”

falsafah dasar yang bikin muter otak, tapi aku beriman

so kesimpulan Asma ini aku terima dengan keimanan

daripada percaya sama Virginia Woolf gitu, tokoh feminisme dan kesetaraan gender di gelombang pemikiran pertama mereka

mending percaya Asma kemana-mana,

Jadi tentang hubungan dengan suami, harus ingat ya, patuh taat, karena para suami berkuasa atas istrinya,,,

suuuut ini ada cerita keren tentang bagaimana hubungan tuan-budak yang paling indah heee

Khalifah al Makmun, anak Harun ar Rasyid,,,, diceritakan memanggil budaknya,,,, ehhhh budaknya datang sambil marah-marah melotot pula bilang : tiap menit tiap jam tiap saat aku dipanggil, ga ada istirahat apa? pengen makan pengen santai pengen jalan-jalan”

Ahhh, semua tegang, mengira khalifah Al Makmun akan menebas leher budak itu….. jrennnnng

kata al Makmun : Jika akhlaq tuan baik, pemaaf, banyak toleran biasanya budaknya bengal, ngelunjak.

Kalau akhlaq tuan buruk maka budaknya baik, nurut karena ketakutan.

Adapun aku akan tetap pada akhlak baikku

al Makmun terus biarkan budaknya istirahat.

wow amazing……. cari suami kaya al Makmun ya🙂 istri ngomel sabar aja

Nah gimana hubungan dengan anak?

fulltime mother? 24 jam gitu sama anak?

trus yang suka nitip2in anak bukan fulltime mother?

oke kita cerita sedikit aja tentang Imam Syafi’i

Imam Syafi’i terlahir di ‘Asqalan deket Ghaza, mamanya seorang perempuan Azadiyah.

ngubek maktabah syamilah deh tentang perempuan arab dari suku Azad,

weiss karakter kuat, pekerja handal, tegas, keras….. kebayang deh anak ga nurut bakal diapaain ^_^

trus ayahnya Imam Syafi’i itu nasabnya deket banget dengan Rasulullah SAW, Imam Syafi’i itu orang Quraisy. dari Bani Muthallib bin Abdu manaf

nah kalau Rasulullah SAW dari Bani Hasyim bn Abdu Manaf

moyang Imam Syafi’i yang sebaya sama nabi Muhammad SAW bernama Saib, konon saib ini muuuuirrrip banget sama Rasulullah SAW.

Saib saat perang badar masih kafir, bahkan ditawan, nebus diri dengan harta nya sendiri terus masuk Islam deh, alhamdulillah

balik ke Imam Syafi’iy

Imam Syafi’iy yatim, belum dapet riwayat yang kuat yatim sejak kapan.

yang jelas saat usia 2 tahun, dibawa sama Emaknya dari ‘Asqalan ke Mekkah,

Emaknya takut, Muhammad bin Idris nama asli Imam Syafi’iy, akan kehilangan jejak nasab, jadi mending balik aja deh dibesarin di Mekkah, biar tentram hati.

Trus alasan ibunya Imam Syafi’iy membesarkan di Mekkah biar deket para Ulama biar bisa belajar.

Imam Syafi’i lahir tahun 150 Hijriyah, khalifah saat itu Abu Ja’far al Manshur, dinastinya Abbasiyah.

Imam Syafi’i menceritakan tentang dirinya :

“aku miskin, ga punya uang, ibuku ga punya apapun yang bisa dipakai bayar guru, ngeliat aku pinter, para guru memperbolehkan aku belajar dengan syarat aku jadi asisten dosen mereka”

Trus Emaknya ngapain, nongkrongin Imam Syafi’iy gitu??????

heheheh, bagus sih nongkrongin, cuma ya makan dari mana? sapa yang nanggung? suami kagak ada….

Nih sekedar gambaran biar bisa bayangin aga beneran, “ABu Darda ditanya istrinya “wahai Abu Darda kalau engkau wafat boleh ga aku makan harta sedekah? ABu Darda melotot : “jangaaan!”

kata istrinya “trus aku ngapain?”

kata Ab Darda :”bekerjalah”

udah kebayang kan?

Imam Syafi’i hafal Qur’an usia 7 tahun, gurunya?

nama gurunya Isma’il putra Konstantin, Sanad Isma’il putra Konstantin ini nyambung ke ABdullah Bin Abbas, trus ke Ubay Bin Ka’ab, dan Ubay langsung dapet dari Rasulullah ^_^

Nah klo guru hadits nya banyak banget, trus usia 13 tahun dah setor Muwatha ke imam Malik di Medinah, usia 15 tahun udah bisa berfatwa

klo guru fiqhnya : pertama waktu masih di Mekkah adalah Muslim bin Khalid el Zanji

Dari cerita ini aku menyimpulkan beberapa hal tentang parenting :

1. Asuh anak sebaik-baiknya di masa balita// sama siapa? // bisa sama emaknya bisa juga bukan, yang penting yang bisa ngasuh, cari orang yang bisa memberlakukan anak sebagai raja di usia 0-5 tahun

sebagai info : Hasan bin Ali disusui dan diasuh oleh lubabah istri Abbas bin Abdul Muthhalib…… dan Fathimah putri Rasulullah tetap ibu yang hebat, sebagai ….. Fathimah pemimpin wanita surga bukan parttime mother gitu loh, meski tak mengasuh Hasan dan Husein diwaktu balita mereka

dan yang lebih heboh, Rasulullah diasuh Halimah as sa’diyah, yang memperlakukan Rasulullah bak raja yang membawa berkah

2. Balita berakhir, mulai dah cari guru, carikan guru yang terbaik…. guru yang membuat anak memasuki masa “disiplin dan penjaranya”

3. usia SD berakhir masuk masa remaja, cari sekolah yang banyak ngajak anak diskusi sebagai teman sebaya

4. perempuan belajar memanage dan komunikasi yang baik ya….. komunikasikan semua dengan suami, dan ingat ta’at patuh sama suami, jalan surga loh, posisikan suami lebih tinggi derajat nya dari kita

Perempuan bekerja karir, atau dirumah semuanya fulltime mother,

sesuai kemampuan dan passion, yang penting termanage dengan baik, dan izin suami.

nah klo yang dirumah tidur mlulu, nonton mlulu, gimana tuh efeknya sama anak?

tulisan malam ini, semoga bermanfa’at

bikin menu baru deh di blog : parenting

Wallahu ‘Alam bishShowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s