Diatas ilmu ada ilmu (Kisah nabi Hud – bagian 3)

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr.

Mu’awiyah merasa sangat terhormat,  ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka.

Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.

Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.

Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.

Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya,

Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka.

Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.

(al Ahqaf: 23-25)

 

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri.

Mereka merasa paling tahu ilmu awan, menggiring awan hitam pekat dengan suka cita, menghantarkan musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s