Hadits 41 – Tanda Keimanan

عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بِنِ عمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَواهُ تَبَعَاً لِمَا جِئْتُ بِهِ” (1) حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ 

Dari Abdullah Bin ‘Amr bin al ‘Ash a. Bekata : berkata Rasulullah SAW : “tidaklah seseorang dikatakan beriman hingga keinginannya tunduk pada apa yang aku datang dengannya”

1.     Tarjamah Sahabat

Abdullah Bin ‘Amr Bin al ‘Ash adalah putra dari ‘Amr Bin al ‘Ash bin al wail. Masuk Islam sebelum ayahnya yaitu tahun ke 7 Hijriyah. Usia nya dengan ayahnya hanya terpaut sekitar 11-15 tahun.

Meriwayatkan 700hadits, disepakati Imam Bukhari dan Imam Muslim sebanyak 7 hadits. Imam Bukhari meriwayatkan 8 hadits lainnya, dan Imam Muslim meriwayatkan 20 hadits lainnya.

Kepada Abdullah Bin ‘Amr bin Al ‘Ash inilah Rasulullah mengizinkan menulis hadits, sementara kepada sahabat lainnya Rasulullah melarang.

Abdullah Bin ‘Amr, menunjukkan tanda-tanda kerahiban, menyenangi seluruh waktunya diberikan untuk ibadah. Rasulullah memperhatikan hal ini dan membimbing Abdullah Bin ‘Amr untuk mengikuti sunnahnya.

Misal dalam hal tilawah al Qur’an, Abdullah Bin ‘Amr termasuk sahabat yang sangat mencintai AL Qur’an, sehingga suatu ketika menghabiskan satu malam tanpa tidur untuk mengkhatamkan al Qur’an. Rasulullah kemudian melarang hal ini dan menyebutkan bahwa al Qur’an itu boleh khatam setiap 3 hari atau 7 hari atau 10 hari atau 1 bulan.

Abdullah Bin ‘Amr, mengaplikasikan apa-apa yang diperintahkan Rasulullah, hadits yang ditulis diatas adalah cerminan pribadinya.

Ketika Gelora beibadah tak pernah Padam, menginginkan seluruh waktu untuk ibadah, tapi keingginan ini harus tunduk pada sunnah Rasulullah. Termasuk dalam peang Shiffin, beliau bergabung dengan pasukan Muawiyah bukan karena mendukung Mu’awiyah, tetapi ingat pada perintah Rasulullah agar menta’ati ayahnya selama ayahnya hidup.

Dalam ranah politik pernah berkiprah menjadi gubernur Kufah dimasa Mu’awiyah meskipun akhirnya dicopot, digantikan Mughirah Bin Syu’bah.

Wafat tahun 63 Hijriyah.

2.     Faidah Hadits

a.     Menuju Kesempurnaan Iman

Maksud dari tidaklah seseorang dikatakan beriman, adalah tidak dikatakan sempurna keimanannya. Iman itu memiliki akar dan cabang-cabang, dan diantara cabang keimanan adalah menjadikan keinginan tunduk kepada apa-apa yang Rasulullah sampaikan.

Keinginan manusia itu ada dua jenis, keinginan yang baik dan keinginan yang buruk, kedua keinginan itu, pada dasarnya harus dikontrol oleh otoritas wahyu Allah swt.

Salah satu jalan yang harus ditempuh seorang mukmin menuju kesempurnaan iman adalah mengenyahkan aneka keinginan, dan kemudian mengisi lemari keinginannya dengan apa-apa yang Rasulullah perintahkan.

Jika hadits ini diberikan kepada seseorang yang merasa sulit beribadah dan sulit ta’at maka kita akan lebih mudah memahami.

Tetapi hadits ini dinarasikan oleh Rasulullah kepada Abdullah Bin ‘Amr Bin al ‘Ash yang terkenal ahli ibadah.

Maka jelaslah sikap ekstrim itu tidak boleh, yang ada adalah kita mencelup pundi-pundi keinginan kita dengan celupan Allah SWT.

b.    Sikap mengikuti hawa nafsu dimulai dari lalai dalam berdzikir

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (al Kahfi : 28)

Lalai berdzikir – mengikuti hawa nafsu – melampaui batas , adalah 3 hal yang saling mempengaruhi, untuk itu mengistiqamahkan bedzikir adalah langkah awal menundukkan hawa nafsu

c.     Mengikuti hawa nafsu akan membuat tersesat dalam kedzaliman

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (al Qashah : 50)

d.    Menata langkah dalam mengelola hari

Abu Darda berkata : “Setiap muslim dipagi harinya akan dipenuhi keinginan juga lintasan-lintasan pengetahuan yang dimilikinya, jika keinginannya tunduk pada ilmu nya maka hari itu adalah hari baik, tetapi jika ilmu tunduk pada hawa nafsunya maka itu adalah hai buruk”

Memulai hari dengan beriman dan berpikir adalah salah satu cara menundukan hawa nafsu

tadabbur dari hadits no 41 kitab arba’in nawawiyah

 

seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700
seharga 52 ribu, pesan ke 087824198700

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s