Cuplikan Pengikat Surga (Pembuka Bahagia)

Pembuka Bahagia

 

“Apa jawaban atas kegelisahan itu, Ayah?”

Berhari-hari Ayah masih menjawab hal yang sama, “Jawabannya akan semakin jelas beberapa saat lagi.” Begitulah jawaban Ayahku.

Hari itu, sewaktu Ayah pulang dari Syam dan langsung menuju rumah ayah Ruqayyah, Ayah tidak menemukannya. Ayah Ruqayyah sedang tidak di rumahnya. Sesudah itu Ayah tampak tidak serius dengan perniagaannya hingga hari ini. Aku memperhatikan apa yang dilakukan Ayah. Ayah hanya mengamati gerak-gerik ayah dan bunda Ruqayyah. Aku, dan juga Ayah, dalam beberapa hari ini menemukan ayah Ruqayyah melakukan sesuatu di depan Ka’bah. Sesuatu yang lain dari biasanya. Semacam ritual penyembahan, tetapi berbeda dengan yang biasanya dilakukan kaumku.

Selama ini, penyembahan patung-patung pahatan di sekeliling Ka’bah sebagaimana yang orang-orang lakukan, tidak pernah dilakukan ayah Ruqayyah, sebagaimana tidak pernah dilakukan Ayahku. Aku melihat Ayah mengamati dengan seksama semua perubahan yang terjadi pada ayah Ruqayyah.

Saat menyantap fathur, Ayah menatapku dengan lembut dan tegas.

“Hari ini kau tidak boleh mengikuti Ayah.”

“Ayah mau kemana?”

“Sesuatu yang dapat engkau perkirakan, Asma.”

“Ayah akan mengatakannya padaku jika Ayah telah mengetahui jawaban atas kegelisahan itu?”

“Tentu saja.” Ayah mengiringi jawaban dengan senyum dan tatapan mantap. Aku pun tersenyum.

Aku tetap pergi ke pasar membantu kakakku, Abdullah. Meski hanya sebentar, dalam gelisah aku memutuskan untuk menjumpai Ruqayyah di rumah suaminya. Beberapa saat sebelum sampai di rumah Ruqayyah seseorang memanggilku dari belakang.

“Asma, putri Abu Bakar, hentikanlah langkahmu!” Aku menghentikan langkahku dan membalik badan. Rupanya sepupu Ayahku, Thalhah Putra Ubaidillah.

“Asma, bukankah kau selalu menjejaki setiap sudut Mekkah?”

“Kenapa? adakah yang ingin kau ketahui? Dan engkau ternyata telah kembali dari Syam, seperti Ayah.”

“Apa? Ayahmu telah kembali?”

“Ya. Dan apa gerangan yang membawamu cepat pulang?”

“Ketika aku di pasar Bushra, seorang lelaki berpakaian rahib menanyai setiap yang tampak datang dari Mekkah. Ketika aku katakan bahwa aku dari Mekkah, ia mengatakan kata-kata yang membuatku gelisah.”

“Gelisah? Kata-kata yang membuatmu gelisah?” Aku membuka mataku lebih lebar.

“Ya. Ia katakan, inilah bulannya. Bulan yang dinanti. Di mana seseorang bernama Ahmad ditetapkan sebagai utusan langit. Diutus di kota ini. Ia adalah nabi terakhir.”

“Ahmad? Siapa Ahmad? Adakah orang bernama Ahmad?”
“Rahib itu berkata putra Abdullah Putra Abdul Muthallib.”

“Berarti putra kakeknya Ruqayyah. Ayah Ruqayyah tidak memiliki saudara. Apakah Ahmad sama dengan Muhammad? Ahmad? Muhammad?”

“Begitu yang kukira, Asma. Muhammad Putra Abdullah Putra Abdul Muthallib-lah yang dimaksud rahib itu.”

“Nabi terakhir, penyampai pesan langit terakhir. Mungkinkah jawaban atas kegelisahan itu datang dari langit?”

“Apakah kau telah mendengar sesuatu telah terjadi pada Muhammad Putra Abdullah?”

“Entahlah. Itu sesuatu yang sedang diyakinkan oleh Ayahku. Tapi sesuatu yang berbeda telah ditunjukkan ayah Ruqayyah. Ia thawaf di sekeliling Ka’bah, lalu melakukan ritual yang berbeda di depan Ka’bah. Dalam beberapa hari ini.”

“Kalau begitu aku harus mencari Ayahmu. Kau tahu di mana Ayahmu?” Aku merenung sejenak. Ayah sedang di rumah ayah Ruqayyah. Ayah tak ingin aku mengikutinya, berarti tak ingin pula orang lain tahu Ayah sedang berada di mana sekarang.

“Aku tidak tahu di mana Ayahku saat ini.”

Kami berpisah arah. Aku berbalik badan, kembali menuju rumah suami Ruqayyah. Melihat kedatanganku, Ruqayyah menyunggingkan rembulan indah di bibirnya. Ia menyajikan aneka kue-kue lezat dan segelas ‘ashir.

“Tak kusangka engkau pandai mengolah tepung, Ruqayyah.”
Ruqayyah hanya tersenyum dan bahagia melihat lahapnya aku menyantap kue-kuenya.

“Apa kau sudah tahu perubahan yang terjadi pada ayahmu?” Ruqayyah menjawab dengan gelengan kepala. “Ayahmu melakukan sesuatu di depan Ka’bah dalam beberapa hari ini, seperti suatu ritual penyembahan. Tetapi ini berbeda dan bukan menyembah patung. Ayahmu tidak pernah melakukannya sebelumnya bukan?”

“Bagaimana reaksi orang-orang atas perilaku ayahku, bahwa ia melakukan sesuatu yang berbeda?”

“Bukankah ayah kita berdua memang telah berbeda sejak dulu Dan kukira klan ibumu, adalah klan yang selalu berbeda. Bukankah banyak dari paman-pamanmu yang tak puas dengan agama nenek moyang kita?”

“Aku pernah memikirkannya, Asma. Tentang pamanku. Waraqah Putra Naufal, misalnya. Kau mengenalnya? Aku ingin berdiskusi tentang itu semua. Tentang keyakinan. Tapi saat aku mulai memikirkan hal itu, aku menikah, dan suamiku adalah orang yang tak suka berbincang masalah-masalah demikian.”

“Aku tahu Waraqah dan pamanmu lainnya, Utsman Putra Huwairits. Mereka memeluk Nashrani.”

“Kau tahu tentang Paman Utsman? Bagaimana kau tahu?” Ruqayyah menyelidik.

“Ayahku, Abu Bakar Putra Abi Quhafah adalah ahli nasab. Ahli sejarah. Cendekiawan terhebat saat ini. Apakah engkau tak tahu itu?” Aku mengerlingkan mata menggodanya. “Jadi, bagaimana aku tidak mengetahui hal-hal ini? Pamanmu, Utsman, kini menetap jauh di barat daya sana. Di daratan yang berbeda dengan daratan kita. Daratan berbeda dari semenanjung Arabia. Pamanmu kini menetap di jantung Romawi Barat, di kota Roma.”

“Engkau luar biasa! Aku mencintaimu, Sahabatku.” Ruqayyah menggoyang-goyang hidungku dengan jemarinya.

“Ayah kita menyebutnya kegelisahan.” Aku memunculkan kata ‘kegelisahan’ pada Ruqayyah.

“Kegelisahan apa?” Ruqayyah bertanya.

“Kegelisahan yang mendera kaum cendekiawan menjelang usia 40an. Seperti kegelisahan ayahmu, kegelisahan Ayahku, kegelisahan paman-pamanmu terdahulu.” Ruqayyah mengangguk-angguk mendengar pernyataanku.

“Ya. Kegelisahan itu. Kegelisahan tentang hidup dan kematian.”

“Kau tahu itu, Ruqayyah?” Aku membuka lebih lebar mataku, tanda bahwa aku sangat antusias dengan itu semua.

“Aku mendengarnya dalam bincang ayah dan ibu. Ayah juga semakin gelisah dengan banyaknya mimpi beliau yang menjadi kenyataan. Ar ru’yah ash-shadiqah. Itulah mengapa ayahku berkhalwat ke Gua Hira, mencari jawab atas semua kegelisahan itu.” Ruqayyah menatapku dalam-dalam.

“Ayahku sedang menemui ayahmu, Ruqayyah. Mungkinkah perilaku aneh ayahmu beberapa hari ini jawaban atas semua kegelisahan itu?”

“Mungkin saja. Semoga demikian. Aku akan meminta izin suamiku untuk menemui ayah dan ibu segera.” Ruqayyah tersenyum.

“Apa kau mendengar kabar Zayd Putra ‘Amr Putra Nufail?”

“Tidak, Asma. Siapakah gerangan?”

“Dia sahabat pamanmu, Waraqah Putra Naufal dan Utsman Putra Huwairits. Dia pun sama-sama tak dapat memahami hakikat penyembahan patung. Dia turut serta mencari agama yang terkenal dan berkelana ke negeri-negeri religius.”

“Apa yang terjadi padanya? Apakah menemukan kebenaran?”

“Ia tidak merasa tenang dengan penjelasan para rahib-rahib Yahudi. Juga tidak tenang dengan penjelasan rahib-rahib Nasrani.”

“Lalu?”
“Ia terus meneliti sejarah ritual di dunia.”

“Apa yang Zayd temukan?”

“Agama Ibrahim yang lurus. Zayd hanya tertarik pada agama Ibrahim yang lurus. Menelusuri jejak-jejak ritual Ibrahim, ritual penyembahan satu Tuhan.”

“Ibrahim. Kau pernah berkata padaku, ayahmu mengajarkan ilmu nasab dan nenek moyang kita adalah Ibrahim. Nenek moyang yang sangat jauh. Jadi, kerja Zayd adalah kerja yang amat berat. Perjalanan panjang. Apa yang terjadi pada Zayd kemudian?”

“Zayd mencoba mempraktekan apa-apa yang ditemukannya dan meninggal beberapa tahun lalu.”

Obrolan lalu berganti pada hal-hal tentang kami, tentang wanita. Ruqayyah tak kunjung hamil. Saat matahari Zawal, aku pamit. Memeluk Ruqayyah sepenuh cinta dan bergegas menuju rumah. Aku tak sabar mendengar jawaban atas kegelisahan itu. Semoga Ayah telah pulang.

Hingga larut aku menanti, Ayah tak kunjung pulang. Aku menantinya hingga tertidur di sofa.

Saat fajar menjelang dan mataku terbuka, Ayah telah pergi ke luar lagi. Sesudah membantu Abdullah sebentar di pasar, aku berkeliling mencari Ayah. Aku tak menemukannya. Kecuali samar-samar ucapan sekelompok orang yang berkata bahwa Ayahku, pada hari ini, dalam terik mentari dhuha melakukan ritual seperti ayah Ruqayyah.

Ketika aku menyusulnya ke beranda Ka’bah, aku sama sekali tak menemukannya, dan tak kutemukan jejaknya di mana pun. Satu yang pasti dan kuyakini, mereka, ayah Ruqayyah dan Ayahku telah menemukan jawaban atas kegelisahan itu. Jawaban penghilang gelisah pembuka bahagia.

 

 

47rb, pesan ke 087824198700

47rb, pesan ke 087824198700