Kewajiban Seorang Muslim pada Negerinya (1)

Bismillahirrahmaanirrahin

Fase Mekkah,
Semakin ditadabburi, semakin melahirkan decak kagum, dan melahirkan kefahaman.

13 tahun dakwah Mekkah, berbalut kesabaran

Dakwah Islam hadir pertama kali, hadir pada masyarakat tanpa raja.
Masyarakat Mekkah tegak diatas kepemimpinan kolektif kabilah-kabilah Quraisy.
Dimana semakin kuat suatu kabilah, semakin didengar suara kabilah tersebut dalam menentukan sikap politik Mekkah.
Kekuatan kabilah ditentukan oleh :
1. Peranan Kabilah terkait ka’bah dan urusan Mekkah
2. Jumlah anggota kabilah
3. Harta kekayaan

Pada masyarakat Mekkah yang demikian, dakwah islam dimulai

Rasulullah memulai dakwahnya dengan seruan kalimat tauhid :
Tiada ilaah (sembahan) kecuali Allah.

Dan pernyataan keimanan atas kenabian, bahwa “Muhammad adlah nabi dan utusan Allah”

Suatu seruan yang dipahami masyarakat Mekkah sebagai seruan menyeluruh yang menyerang sendi-sendi “kekuasaan”
Dimana loyalitas kesetiaan pada kelompok kabilah akan bergeser kepada kesetiaan loyalitas pada agama.

Ketakutan kehilangan kekuasaan segera menyergap para penguasa Mekkah.

Ketakutan yang pada kenyataan tidak terbukti, sebab Rasulullah memfokuskan dakwah pada :

1. Pemurnian ritual penyembahan, bahwa menyembah Allah haruslah dengan cara yang Allah ridhai, sebagaimana cara yang Allah ajarkan.
Shalat telah diajarkan jibril sejak pertama kali wahyu turun

2. Mengubah mindset.
Masyarakat Mekkah adalah masyarakat “kelas dua”. Masyarakat yang tidak berani bermimpi besar, tidak memiliki daya saing melawan kebudayaan adidaya.
Mindset lemah ini dikikis habis Rasulullah,
Maka cita yang digelorakan adalah “kita akan menaklukan Romawi dan Persia”
Perhatikanlah gelora semangat ini “menaklukan Romawi dan Persia”
Seruan Rasulullah sama sekali bukan “mengislamkan Mekkah, atau merebut kekuasaan politik Mekkah”

3. Mengubah pandangan hidup.
Bahwa hidup bukan hanya di dunia, tetapi ada kehidupan sesudah mati. Manusia akan dibangkitkan dihari kemudian

Adapun bidang sosial politik, secara lebih mendetil terjabarkan pada sikap-sikap spesifik.

Dalam bidang sosial Rasulullah mengajarkan 4 sikap
1. Menjaga dan mendorong akhlaq mulia yang dimiliki masyarakat Mekkah

2. Mendukung pranata dan peristiwa sosial yang bertujuan menjaga keluhuran masyarakat, seperti pernikahan

3. Memerangi pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti : zina

4. Mendiamkan (sementara) pranata dan peristiwa sosial yang bertentangan dengan ajaran islam, seperti minum khamr, riba

Dalam bidang politik, atau kekuasaan,
Masa Mekkah mengajarkan bersikap elegan

Rasulullah adalah anggota masyarakat Mekkah, yang ta’at kepada konsensus masyarakat zamannya.

Dakwah Islam adalah dakwah anti “pemberontakan”
Kita mendapati bahwa saat dakwah merebak, para kepala kabilah tidak menerima, dan lalu melancarkan siksaan dan kekerasan,
Seruan Rasulullah kepada para sahabat adalah bersabar
Bukan seruan perlawanan, bukan seruan angkat senjata.

Kenapa?

Keta’atan Rasulullah pada norma-norma kekuasaan zamannya benar-benar ditunjukkan,

Bani Hasyim melindunginya, apapun agama mereka,
Muththalib yang saudara Hasyim, keturunan mereka, turut melindungi nabi Muhammad.
Kekuasaan zaman itu adalah kekuasaan kabilah, tidak ada yang berani melanggar batas-batas kekuasaan masing-masing.

Ketika kabilah-kabilah bersepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib.
Tidak boleh berdagang, tidak boleh menikahi, dan tidak boleh bersumpah setia pada Bani Hasyim.
Bani Hasyim tidak dapat mengelak dari kesepakatan itu.
Tunduk pada apa yang menjadi ketetapan, tidak memberontak, tidak membangkang.
3 tahun lamanya Bani Hasyim dan Bani Muththalib hidup penuh derita dan kesengsaraan.

Abu Bakar dan Umar adalah anggota masyarakat Mekkah pula, ta’at pada konsensus masyarakat. Maka mereka tak berjualan dengan Bani Hasyim.
Yang dilakukan keduanya adalah “bantuan sosial”, yang bantuan sosial ini pun kerap digagalkan oleh musuh dakwah, semisal Abu Jahal.

Pengakuan atas otoritas Mekkah kembali ditunjukkan nabi Muhammad sesudah peristiwa Thaif.

Sesudah wafat Khadijah dan Abu Thalib, Rasulullah semakin terhimpit.
Terlebih-lebih setelah Allah memberikan anugerah pada Rasulullah berupa peristiwa isra dan mi’raj.
Banyak ummat Islam murtad dan ragu atas keimanan mereka.
Kondisi yang benar-benar menyempitkan, menyudutkan Rasulullah, hingga Rasulullah keluar dari Mekkah.

Keluar dari daerah otoritas dan perlindungan di zaman itu, mesti jelas, apa maksud dan tujuannya, berniagakah? Melancongkah? Negosiasikah? Atau keluar dengan maksud dan tujuan politik?
Setiap keluar area memiliki konsekuensi masing-masing.

Keluarnya Rasulullah dari Mekkah saat itu, dan berlabuh di kota Thaif, adalah mencari suaka politik.
Tempat berteduh yang nyaman bagi menjalankan keyakinan dan dakwah Islam.

Tetapi Thaif menolak Rasulullah.

Kembali ke Mekkah setelah keluar dengan tujuan politik tertentu bukanlah hal yang mudah.
Keluar ke Thaif telah menghilangkan kuasa perlindungan Bani Hasyim,
Kabilah-kabilah lawan akan bebas menyakitinya.

Maka jaminan keamanan di cari Rasulullah,
Dan Rasulullah mendapat jaminan keamanan dari Muth’im Bin ‘ady tetangga Rasulullah yang berasal dari Bani Umayyah, yang kafir dan wafat dalam keadaan kafir.

Peristiwa Boikot dan kembalinya Rasulullah ke Mekkah dari Thaif, memperlihatkan bahwa Rasulullah mengakui norma kekuasaan yang berlaku.

Tak ada pemberontakan bersenjata,
Tak ada kekacauan,
Yang ada adalah kesabaran dan keteguhan dalam mempertahankan keyakinan, keteguhan menjalankan ritual, keteguhan menjunjung akhlaq mulia di tengah himpitan dan kesulitan.

Kisah pengakuan dan penghormatan atas kekuasaan ini, ditemukan dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun.
Bani Israil adalah budak tertindas pada masyarakat Mesir.
Saat nabi Musa diperintah Allah membawa keluar Bani Israil dari Mesir,
Yang pertama dilakukan nabi Musa adalah meminta izin pada Fir’aun, penguasa Bani Israil saat itu.

Atas kesabaran ini, jalan keluar apakah yang ditempuh?

Apakah menanti hingga manusia beriman seluruhnya? Atau minimal rakyat daerah otoritas tertentu meminta perubahan?

Perjalanan para nabi-nabi dan dakwah islam telah memperlihatkan,
Bahwa adanya mayoritas pendukung pemikiran dakwah, sebelum penaklukan adalah tidak mungkin,
Para nabi-nabi didustakan kaumnya, lalu apakah para da’I pewaris nabi akan menemukan hanya penerimaan dalam dakwahnya?

Tersebab suatu garis tabi’at perjuangan,
Harus ada penaklukan dan kemenangan, hingga manusia melihat, mendukung ide dan pemikiran,
Pun itu semua dengan menghadapi musuh-musuh ideologi dan pemikiran.
Karena manusia berbeda-beda, pemikiran, ide, kecenderungan,
juga ada ego dan persaingan.

Penaklukan adalah berarti juga adanya kekuasaan,

Hal-hal yang selalu memilki batasan,
Harus berkuasa tapi tak boleh memberontak.
Memperoleh kekuasaan di Mekkah bukanlah hal mudah,
Kalaupun dahulu di awal dakwah pernah para pembesar quraisy akan legowo menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah,
Tetapi itu adalah kekuasaan bersyarat,
Syarat yang Rasulullah tak kan pernah memenuhinya, yaitu syarat menanggalkan dakwah tauhid, dan menghentikan kata-kata melemahkan berhala-berhala sembahan..

Lalu apa jalan keluar yang Allah berikan atas kesabaran?

Perlahan tabir janji tersingkap,
Allah telah menjanjikan Yatsrib menjadi kota nabi, tetapi apa dan bagaimana adalah kegelapan,

Hingga di tahun 11 kenabian, secara terpisah 5-7 orang Yatsrib menyatakan keimanannya dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya.
Di tahun 12 kenabian, ada 12 orang Yatsrib bersumpah setia pada ajaran agama islam dan berjanji kembali di musim haji tahun berikutnya
Di tahun 13 kenabian, ada 72 orang Yatsrib bersumpah setia membela dakwah Islam, setia pada Rasulullah hingga titik darah penghabisan. Berdamai dan berperang atas nama Rasulullah.
Janji tahun 13 ini dikenal dengan bai’ah aqabah kedua.
Sumpah setia yang menyatakan bahwa teritorial Medinal adalah dibawah kekuasaan Rasulullah.

Perang berbeda dengan pemberontakan,
Dalam berperang, masing-masing pihak berperang memiliki wilayahnya masing-masing, perang antara dua kekuatan setara.

Ba’iat aqabah kedua juga menunjukkan, keluarnya Rasulullah dari otoritas Bani Hasyim, dan kemudian memiliki kekuasaannya sendiri, dengan jaminan 72 orang Yatsrib.
Ke 72 orang Yatsrib bukanlah seluruhnya pemimpin kaum,
Tetapi Yatsrib persis seperti Mekkah, kekuasaan ada ditangan kabilah-kabilah, jika mayoritas kabilah telah memutuskan maka kabilah yang tidak menerima harus menghormati.
Kekuasaan mayoritas.

Maka dimalam ba’iat aqabah, saat Rasulullah melepaskan diri dari loyalitas Bani Hasyim, yang mengantarnya bukanlah sahabatnya yang beriman padanya,
tetapi pamannya al abbas yang saat itu belum masuk islam.
Al abbas memastikan bahwa keponakannya berada dalam keamanan dan perlindungan.

Kekuasaan atas Madinah di genggam Rasulullah sebelum mayoritas masyarakat Madinah memeluk islam,
Dalam asbabun nuzul banyak ayat Al Qur’an, kita temui bahwa masyarakat madinah adalah masyarakat majemuk, muslim, musyrik dan yahudi bercampur jadi satu.

Jaminan dari 72 orang suku aus dan khajraz, menjadi sendi awal kekuasaan Rasulullah atas negara Madinah.

Tidak ada pemberontakan,

Tentang kekuasaan,
Semua mengalir sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku

Norma-norma masyarakat yang berjalan sesuai dengan kehendak Allah,
Bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabut dari siapa yang dikehendaki

Aku terlahir di Indonesia,
Terlahir saat negeri dibawah kekuasaan presiden suharto
Dengan suatu sistem bernama demokrasi
Aku seorang muslim,
Setia pada negeriku,
Memperjuangkan ideologi dan keyakinanku,
Menjadi seorang muslim di Indonesia,
Berpartisipasi dalam bahagia dan sedihnya, mencegah kemundurannya dan berjuang bagi kemajuannya.

Indonesia, negera yang didirikan atas dasar kesetaraan manusia berbagai agama,
Dan Allah telah mengizinkan berdirinya hingga lebih 60 tahun,
Memberi kuasa pada siapa yang dikehendakiNya dan mencabut dari siapa yang dikehendakiNya.

Sebagai muslim bertarung memperjuangkan ideologi dan keyakinan, agar diterima banyak kalangan,
Berjuang agar setiap syari’ah Allah dapat diterima menjadi perundang-undangan,
Diperjuangkan melalui parlemen,
Menghindari pertumpahan darah,
Menghargai hak hidup setiap manusia

Wallahu ‘alam bish showab

Ayat yang menguji hingga ia pun murtad

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari sekian banyak membaca, dan tadabbur,

diantara hal yang paling mencengangkan adalah kondisi “murtad”

diantara murtad yang paling bikin sedih adalah murtadnya Abdullah Bin Abi Sarhin, dan Ubaidillah Bin Jahsy.

Adapun Ubaidillah Bin Jahsyi, ia adalah seorang pencari kebenaran, tak mau menyembah berhala, bersama sahabat-sahabatnya berkelana. Yahudi dan Kristen tak menarik perhatiannya.
Tatkala datang islam, ia bersegera beriman, pun demikian istrinya Ummu Habibah putri Abu Sufyan.
Tribulasi dakwah menghantarkannya hingga hijrah ke Habasyah, dan kali ini melihat kebesaran budaya Habasyah, ia yang selama pengembaraan kebenaran dalam hidupnya, tak pernah tertarik dengan kristen, kini terkagum-kagum, dan menjadi pemeluk kristen di Habasyah.

saya ucapkan “Na’udzubillah dari kejadian macam ini”
Adapun Ummu Habibah, terselamatkan akidahnya, ia dijauhkan dari keburukan suaminya, Allah pun menganugerahinya pernikahan dengan manusia paling agung. Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah.

Adapun Abdullah Bin Abi Sarhin, ia adalah termasuk orang yang masuk islam di awal-awal dakwah, boleh jadi masuk Islam sebelum Rasulullah bersembunyi di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
Ia adalah orang kepercayaan Rasulullah, dipercaya menulis wahyu.
Hingga suatu ketika, tatkala surat Al Mukminun turun, sampai di ayat 14 dan Rasulullah salam sejahtera baginya memerintahkan kepada Abdullah Bin Abi Sarhin untuk menuliskan.
begini surat Al Mukminun ayat 14
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik

kata-kata yang ditebalkan, menimbulkan kegaduhan dan interpretasi yang bermacam-macam
Ditengah seruan tauhid, datang ayat yang demikian adanya.

Bagi ABdullah Bin Abi Sarhin ayat tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya akan keesaan Allah,
tetapi “penafsiran” yang dibumbui setan mengelabuinya

Jika Allah yang Esa, mengakui adanya kreasi-kreasi manusia,
lalu mensifati diriNya sebagai “pencipta yang terbaik” karena sifat-sifat ciptaan Allah
maka Abdullah mencoba mengambil kesimpulan antara dirinya dan Rasulullah

Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah dengan perantaraan makhuk yang tidak dapat dilihat manusia lain.
Terkadang ketika sedang bercakap dengan orang-orang, tiba-tiba saja Rasulullah bercakap dengan sesuatu yang tidak terlihat, yaitu Malaikat, pada titik inilah ejekkan menyesakkan dada pada Rasulullah terlontar, kaum kafir berkata bahwa beliau gila.

Turunnya wahyu, proses turunnya dipikirkan Abdullah, apakah wahyu itu berupa ilham, wangsit atau bagaimana?

Kelebihan kecerdasan yang dimiliki Abdullah Bin Abi Sarhin menggodanya, antara “wahyu ” dan “ide”
sebagai orang cerdas, ide-ide selalu berkelabatan dalam dirinya, respon-respon atas peristiwa sosial dimilikinya.
Dan pengalamannya sebagai penulis wahyu menambah ragam rupa kecerdasannya

hingga kesimpulannya : “wahyu” = “ide”

jika nabi Muhammad adalah seorang nabi yang diberi “wahyu”
maka ia pun seorang nabi yang diberi “wahyu”

maka murtadlah Abdullah Bin Abi Sarhin
setelah murtad propaganda yang dilancarkannya luar biasa
anti keimanan
ia yang saudara sesusu Utsman, bahkan mempropaganda Utsman untuk tak menginfakkan hartanya di jalan Allah

(saya kembali ucapkan na’udzubillah dari terjerumus pada kondisi demikian)

Zaman berlalu, hingga futuh Mekkah dan Rasulullah memerintahkan pembunuhannya

tapi ternyata, Allah masih memberikan kesempatan baginya untuk bertaubat dan berkarya nyata
semoga Allah menerima taubatnya

Kekuasaan dan Demokrasi

Bismillahirrahmaanirrahim

Kekuasaan, oh kekuasaan
Diberikan Oleh Allah pada siapa yang dikehendakiNya
Dan dicabut oleh Allah dari siapa yang dikehendakiNya

Kekuasaan adalah dunia,
Ia bukan tujuan
Tapi sarana

Rasulullah meraih kekuasaannya dengan jalan damai, sumpah setia dari 72 orang aus dan khajraz, yang dilanjut dengan piagam madinah yang mempertegas mana teritorial dan siapa anggota rakyatnya

Muawiyah meraihnya dengan jalan damai, dari secarik kertas yg telah bertanda tangan Hasan Bin Ali,
Meski sebelumnya berdarah-darah mengangkat senjata,
Tapi cara kekuasaan sampai di pundak Muawiyah tetaplah tercatat sebagai jalan damai.

Adapun Abdul Malik Bin Marwan, meraih kekuasaannya dengan darah dan tangan besi, hingga tertumpahlah darah Abdullah Bin Az Zubayr, khalifah yang resmi.

Adapun As Saffah, sang pendiri negara Abbasiyah, merebut kekuasaan setelah berhasil membunuh Marwan Al Himar, raja terakhir Bani Umayyah.

Abdul Malik Bin Marwan adalah seorang Faqih, Abdullah As Saffah adalah seorang cendekia. Tapi zaman mereka, zaman pedang.
Ketika kekuasaan yg mereka pikir sebagai salah satu cara meraih pahala harus ditempuh dengan jalan pedang, maka ditempuhlah dengan jalan pedang.
Berat bagi mereka dan menyakitkan
Do’aku semoga Allah mengampuni keduanya, Amal mereka lebih banyak dari kesalahan-kesalahannya.

Ada pula kisah Qushay, moyang Rasulullah salam sejahtera baginya dalam membebaskan Mekkah dari kaum Khuza’ah. Ia tak perlu angkat senjata dan tak perlu sumpah setia. Ketika simbol kekuasaan Mekkah saat itu adalah kunci Ka’bah, maka yg ia pikirkan bagaimana caranya dapat menguasai kunci ka’bah. Tak ada tumpah darah, ia mengambil kunci ka’bah dengan akal kecerdasannya.

Adapun Shalahuddin Al Ayyubi, sang pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Syam,
Cukup baginya mengenal Syirkuh, untuk menyelinap dalam pusaran kekuasaan penguasa Syi’ah Mesir saat itu, lalu memobilisasi kekuatan, dan berhasillah ia membersihkan Mesir dari kaum syi’ah.

Adalah tentang Demokrasi dan Kekuasaan.
Ketika Kekuasaan ditentukan beberapa detik dari bilik suara,
Ia adalah tanpa darah tertumpah.
Dan ia legitimate sebagai cara merebut kekuasaan jika manusia bersepakat demikian

Sungguh cara damai lebih baik dalam memperoleh kekuasaan.
Karena pikiran manusia tidak akan pernah sepakat dalam suatu urusan
Karena pertarungan antar kepentingan akan terus terjadi
Karena pertarungan antar ideologi akan terus terjadi.

Demikianlah demokrasi terjadi, agar perang kepentingan, perang ideologi tak berakhir dengan sengketa senjata

Allahumma inna na’udzubika min jahdi al balaa
Wahai Allah, aku berlindung padaMu dari ujian yang sangat berat,
Berlindung dari ujian sebagaimana menimpa korban Ashhabul ukhdud

Memilihlah di 2014! semoga Allah jadikan setiap pemilih kami laksana pasukan perang tabuk

Bismillahirrahmaanirrahim

judul terpanjang yang pernah ditulis

dan

lagi,
tentang demokrasi dan memilih

bagi orang tipikal saya yang menyusuri setiap lembaran sejarah Islam

membuat saya bertanya :
kesimpulan bahwa demokrasi bertentangan dengan syari’ah islam
datangnya dari mana?

berbicara tentang demokrasi akan memerlukan ulasan yang sangat panjang lebar :
1. Hakikat Kedaulatan Pribadi
2. Hakikat Kekuasaan
3. Ddemokrasi dan Kekuasaan
4. Kekurangan Demokrasi
5. Manfa’at Demokrasi

dan kali ini ada suatu point view saja yang ingin ditulis, tentang manfa’at, dan itupun tidak semuanya
hanya satu point view saja

suatu inspirasi dari tadabbur surat At Taubah ayat 120-121

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar Madinah, tidak turut menyertai Rasulullah berperang dan tidak layak bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak pula keberhasilan menginjak suatu tempat hingga membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak juga menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka atas yang demikian itu sebagai suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
dan mereka tiadalah menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka amal saleh pula, karena Allah akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

saat kita lemah, kecil, tak berdaya, adakah musuh takut pada kita?
berapa persen kemungkinan keberhasilan membuat musuh marah?

Desas-desus tentang seorang nabi akhir zaman telah sampai pada penguasa dua negara adidaya Kaisar dan Kisra
demikian pula mimpi-mimpi yang disampaikan Rasulullah Muhammad Shallalllahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pengikutnya akan menaklukan Romawi dan Persia,
kabar yang hawar-hawar telah didengar ….
kabar yang sama sekali tidak dipedulikan.

sesekali kaisar Romawi yang sedang ada di kota Homs atau berkunjung ke Busyro, mencoba memastikan kabar tentang nabi Akhir zaman di tanah Mekkah,
bukan tentang kabar mimpi menaklukan Roma yang dirisaukan sang Kaisar,
akan tetapi sang kaisar sangat peduli dengan kedatangan nabi akhir zaman yang diyakini olehnya sebagai seorang kaisar kristen penyembah Allah
hingga sang kaisar menginvestigasi Abu Sufyan.

Kekuatan Arab Mekkah secara geopolitik, militer, ekonomi, sama sekali tak diperhitungkan
orang gurun yang tak mungkin mengangkat senjata melawan pasukan terlatih Romawi ataupun Persia

itulah saat, kecil, lemah, tak berdaya
tak akan diperdulikan…..

demikian pula, besar tapi tak melakukan pergerakan berarti, yang sesuai dengan kaidah-kaidah sosial kehidupan.
futuh Mekkah dan perang Mu’tah tidak merisaukan Persia.
Persia asyik tenggelam dalam perebutan kekuasaan diantara anak dan sanak kerabat sang Kisra yang merobek surat Rasulullah

Bagaimana membuat musuh gentar? bagaimana membuat musuh ketakutan?

BERGERAKLAH !

maka keberanian dalam perang Mu’tah mulai membuat Romawi tersadar dan geram,
lalu dalam perang Tabuk, meski pasukan tidak bertemu, membuat Sang Kaisar berkata “Selamat Tinggal Suriah, selamat Tinggal selama-lamanya, aku tak akan kembali”
Dari Homs hingga Baitul Maqdis, adalah saksi nazar sang Kaisar kepada Allah, jika Allah membuatnya menang dalam perang melawan Persia, Sang Kaisar akan jalan kaki dari Homs ke Baitul Maqdis, dan Allah membuat Heraklius menang.
dan Kaisar Heraklius hengkang dari tanah Syam, sebelum pasukan Muslim menyentuhnya.

Membuat gentar musuh, ternyata mendatangkan pahala yang luar biasa

apa yang dimaksud dengan musuh disini? di negeri kita?

yaitu musuh-musuh bangsa Indonesia, musuh-musuh kemajuan bangsa ini, para koruptor, para kapitalis….

Mari membuat gentar musuh bangsa ini,
dengan menginjakkan kaki kita satu persatu pada kementrian-kementrian

Ibnu Abbas berkata, setiap setetes rasa takut yang dihadirkan dihati musuh, maka akan mendatangkan 70ribu pahala kebaikan bagi orang yang menghadirkan rasa takut itu

Apakah engkau takut jika PKS berkuasa di negeri ini?
apa yang engkau takutkan jika PKS berkuasa di negeri ini?

bukankah para koruptor , penjual bangsa yang takut jika PKS berkuasa

oh perang tabuk, perang yang kehadiran anggota pasukannya mengetarkan hati pasukan Romawi
keberhasilan memberikan rasa gentar yang mendatangkan pahala
perang yang dimaksud ayat 120-121 surat At Taubah

sungguh, aku memohon berdo’a kepada Allah
agar mencatat para pemilih pks laksana mencatat para anggota pasukan perang tabuk
agar memberikan pahala sebesar 70ribu kebaikan, bagi para pemilih PKS
sehingga gentarlah sendi-sendi kekuatan jahat negeri ini

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar Madinah, tidak turut menyertai Rasulullah berperang dan tidak layak bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak pula keberhasilan menginjak suatu tempat hingga membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak juga menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka atas yang demikian itu sebagai suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
dan mereka tiadalah menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka amal saleh pula, karena Allah akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Duhai bangsa Indonesia
Bisa jadi, Tidaklah elok bagi penduduk Indonesia tidak turut serta memenangkan PKS di PEMILU 2014,
dan tidak layak bagi mereka lebih mencintai pendapat mereka daripada mencintai kemenangan partai-partai Islam. Yang demikian itu ialah karena semoga saat kita berhasil mengusai suatu kementrian hingga membangkitkan amarah orang-orang durjana, Allah menuliskan bagi kita atas itu sebagai suatu amal saleh.

Demokrasi versus Syariah ?

Bismallahirrahmaanirrahiim

Ini zaman demokrasi,

ya ini zaman demokrasi,

so what gitu loh?

Kalau engkau menganggap demokrasi bertentangan dengan syariah islam, lalu apakah engkau bisa menahan laju putaran waktu?

Bukankah baginda Rasulullah telah menyampaikan, bahwa :
1. zaman kenabian telah berakhir. jadi jangan lagi engkau berharap datang lagi nabi utusan ….. Kanjeng Rasulullah Muhammad salam sejahtera baginya telah meninggalkan al Qur’an dan As Sunnah

2. sesudah zaman kenabian ada zaman KHILAFAH ‘alaa MINHAJ AN NUBUWWAH ……. zaman ini telah berlalu, lama sekali, dahulu sekali

3. Lalu datang zaman raja-raja zhalim

4. Lalu datang zaman raja-raja diktator

inilah zaman kita, zaman raja-raja diktator …. ketika sebagian besar “negeri2 arab dikuasai para raja-raja”

dan kita dibelahan sisi dunia lain, suatu daerah “unspoken”
ketika kita diberi anugerah menjadi muslim di negeri Indonesia yang menganut azas demokrasi

Apakah yang harus kita lakukan?

Apakah engkau dapat membalik putaran waktu?
Apakah menghentikannya?
sehingga zaman seketika berhenti atau berubah?

Ataukah engkau tahu hal yang ghaib, tentang kapan masa dimana negeri2 itu akan kembali berada dalam sistem pemerintahan “Khilafah ‘Ala Minhaj An Nubuwwah?”

Kita hidup disini, di Indonesia
di zaman ini,
maka hiduplah dengan zaman ini

menerapkan apa yang kita sanggup dan mampu dari ajaran agama kita
pada masyarakat majemuk aneka suku bangsa dan bahasa
bergaul bersama ummat-ummat lainnya bangsa Indonesia

dan kita tak bisa memaksakan dengan seenaknya pikiran kita sekehendak kita

mari duduk bersama di parlemen,
membicarakan buah-buah pikiran kita
agar segala apa yang baik dari agama kita,
dapat menjadi inspirasi rahmat bagi semesta alam

sungguh, kewajiban kita bukanlah merubah seluruh dunia menjadi muslim
tetapi kewajiban kita adalah suatu kewajiban berat, yaitu MENYAMPAIKAN

sampaikanlah sesuai dengan zaman yang Allah ciptakan engkau terlahir di zaman itu

Umar Bin Abdul Aziz yang terlahir di zaman raja-raja zhalim
tak bisa menghindari kenyataan pahit itu
perasaan hancur, karena zamannya disebut hadits sebagai “zaman raja-raja zhalim”
dan saat waktu berjalan padanya, takdir terlaksana,
ia melaksanakan apa yang ia bisa

tapi kerja belum selesai belum apa-apa,
masanya adalah setetes air di kekeringan,
air yang kemudian segera menguap ditelan durjana

demikianlah hidup, waktu berputar tanpa bisa kita hentikan

Jika ini zaman demokrasi,
dan ini kenyataan yang kita hadapi?

adakah kau hanya berteriak demokrasi bertentangan dengan syariah islam

tanpa engkau mencermati tugas mulia kita bagi semesta alam?

menyampaikan kasih sayang bagi semesta

berteriaklah sekehendak hatimu jika kau anggap itu adalah cara menyampaikan

tapi bagiku

yuk berpartisipasi

mantapks

Meminta pemimpin, Meminta Menjadi Pemimpin

Meminta Pemimpin

kenapa memakai bahasa meminta?

semua ini untuk mengingatkan kembali,
bahwa yang menetapkan , yang mentakdirkan seseorang menjadi pemimpin dan memiliki kekuasaan adalah Allah.

Cara meminta hadirnya pemimpin itu bermacam-macam,
jika pada AL Qur’an disebutkan bahwa orang-orang Bani Israil setelah zaman Nabi Musa mendatangi nabi zamannya untuk meminta pada Allah agar dihadirkan raja bagi mereka dari kalangan mereka
dan Allah memberikan pada mereka Thalut

sesudah diberi, bahwa Allah mengangkat Thalut menjadi raja, ternyata banyak protes dari Bani Israil,
protes nasab, protes kedudukan di masyarakat sebelum jadi raja, protes kondisi raja terangkat yang miskin harta

Zaman kini,
saat kenabian telah tiada
yang ada adalah peninggalannya
Al Qur’an dan As Sunnah

Manusia tak sempurna, banyak kekurangan
kekurangan pemahaman, kekurangan kekuatan,

Kita boleh berharap sangat ideal,
tetapi ternyata ada satu do’a yang sangat unik
dalam urusan meminta kehadiran seorang pemimpin

DO'A_minta_pemimpin

permintaan yang sederhana, tanpa banyak tuntutan
MEMINTA KEPADA ALLAH PEMIMPIN YANG PENUH KASIH SAYANG

PEMIMPIN YANG TIDAK MENGHANCURKAN RUMAH IBADAH-RUMAH IBADAH
PEMIMPIN YANG MENAUNGI SETIAP ORANG YANG TINGGAL DI WILAYAHNYA

SAAT ITU,
SAAT DAKWAH ISLAM DALAM MASA SULITNYA
PENYIKSAAN DARI KAUM KAFIR QURAISY MAKKAH
DI TAHUN KE 6 KENABIAN
RASULULLAH BERKATA : SESUNGGUHNYA DI HABASYAH ADA RAJA YANG TIDAK MENZHALIMI SEORANG PUN YANG ADA DI WILAYAHNYA
MAKA PARA SAHABAT RASULULLAH BERHIJRAH KESANA, HINGGA BERJUMLAH 83 ORANG

LALU KITA UMMAT ISLAM
TIDAKLAH INGIN MENAUNGI SELURUH KALANGAN?

Sungguh permintaan sederhana yang tidak neko-neko
permintaan tentang hadirnya pemimpin yang penuh rasa kasih sayang
bukan pemimpin yang membuat hidup bagai di neraka

tentang Kami,
Cinta kami kepada PKS, dengan segala kelebihan dan kekurangannya
adalah tentang ayat yang dibaca setiap pagi dan petang
BAHWA KEKUASAAN BERADA DALAM GENGGAMAN ALLAH, DAN DIBERIKAN KEPADA SIAPA YANG DIKEHENDAKINYA
maka harapan itu adalah, bahwa kami adalah termasuk siapa-siapa yang Allah kehendaki berkuasa

LALU, SESUDAH BERKUASA
kami adalah orang-orang yang senantiasa menegakkan shalat
kami menunaikan zakat
dan kami memerintahkan manusia berbuat kebajikan
dan mencegah manusia dari kejahatan

tentang kami,
dalam buah pikiran yang berbeda-beda
menanggapi dinamika kehidupan

aku paling suka keberadaan tripartit Muawiyah – Amr Bin Al ‘Ash – Habib bin Maslamah
Habib sang penjaga sunnah Rasulullah saat Muayiwah berkuasa, ia tak kalah meski seringkali Muawiyah lebih condong pada pendapat ‘Amr Bin Al ‘Ash yang sangat berorientasi pada kekuasaan dan kedigjayaan
Habib tak pernah menyerah, patah arang, atau berburuk sangka,
Habib setia hingga kematiannya datang sebelum kematian Muawiyah

atau kisah Roja Ibn Haiwah dalam pusaran kekuasaan Bani Marwan – yaitu era kedua Dinasti Umayyah
Roja, tak patah arang melihat kerusakan Bani Umayyah
saat shalat tak lagi ditegakkan pada waktunya
saat harta jatuh kepemilikannya kepada yang tidak berhak memilikinya
saat pejuang-pejuang di perbatasan berjuang melakukan penaklukan-penaklukan
kontras dengan pusat-pusat kota yang gemerlap dengan kesenangan dunia

Roja samasekali tidak berputus asa
Roja mempelajari dengan seksama momentum keshalihan
Roja bersabar dengan indah menanti saatnya tiba

Air mata yang tak terkira bercucuran saat Abdullah bin az Zubayr tersalib di dinding kabah
adalah pilihan pahit untuk tetap berada di barisan Bani Umayyah
tapi Roja bersabar, menanggung segala resiko

Ia tak lelah menghadapi tingkah polah Khalifah Al Walid bin Abdul Malik
hanya melihat kebaikan yang ada pada al Walid,
hingga Era al Walid menjadi era gilang gemilang
sembari melihat kebaikan-kebaikan yang ada pada Bani Umayyah
Roja melihat peluang pada sosok Sulaiman yang ternyata bersahabat dengan sepupunya yang lebih shalih lagi
maka Roja tak pernah melepaskan Sulaiman dan juga Umar Bin Abdul Aziz

hingga sempurnalah penunjukkan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz,
yang surat penunjukkannya tidak pernah terlepas dari tangan Roja

2014, di negeri kita
pada siapakah kereta kekuasaan berlabuh? telah tertulis di dekat arsy sana

menyederhanakan permintaan akan karakter pemimpin

pemimpin yang penuh kasih sayang

Adapun bagi para pemimpin
bagi orang yang Allah turunkan padanya beban kepemimpinan
permintaannya tidaklah sederhana
yaitu suatu permintaan, “Wahai Allah jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertaqwa”

Bunda Asiyah, i love you

Taktik Asiyah dalam mendapatkan apa yang diinginkan

Masya Allah, semakin membuka lembaran tentang contoh pribadi wanita terbaik
Semakin sadar diri kalau diri ini ga tahu apa-apa

Ayat-ayat indah yang Allah berikan
Bahwa contoh wanita terbaik yang disebut dalam al Qur’an adalah Asiyah dan Maryam

Asiyah masih keturunan raja Mesir yang mengangkat Yusuf menjadi menteri perbendaharaan negara.
Sebagai ningrat Mesir, Asiyah mengikuti takdirnya dan menjaga kehormatannya, tidak melanggar batas-batas yang dianut kaumnya, hingga ia dipersunting raja diraja bangsa Mesir Fir’aun.

Asiyah tidak dikaruniai anak lelaki, anak perempuannya sangat disayangi Fir’aun.
Ketika mendapati tabut berisi anak lelaki dan telah terdeteksi sebagai bayi dari kalangan bani israil, Allah telah menghadirkan cinta di hati Asiyah.
Pasukan penjagal datang ke kamarnya, dan merayunya agar menyerahkan bayi untuk dibunuh.

Asiyah harus berpikir cerdas, agar semuanya dapat berjalan dengan baik
Ia tetap berkata sopan kepada para tentara dan berkata dengan jujur bahwa ia mencintai bayi itu

Asiyah lalu memberikan pilihan yang masuk akal, bahwa ia akan membawa bayi itu pada Fir’aun dan meminta Fir’aun memberikan bayi itu padanya.
Jika Fir’aun memberikan bayi itu padanya nya maka itu adalah kebaikan para tentara padanya
Dan jika Fir’aun memerintahkan membunuhnya, maka Asiyah tidak akan mencela perbuatan para tentara.

Para tentara penjagal mengabulkan permintaan Asiyah.
Kecerdikan Asiyah dalam berkomunikasi, ditunjukkan dalam kisah bagaimana Aisyah mengambil hati para penjagal

Kecerdasan dan ketepatan strategi ini terlihat kembali dari cara Asiyah menunjukkan bayi pada Fir’aun
Asiyah menaruh kembali Musa kedalam tabut dan mengalirkannya di sungai pada aliran yang akan tepat masuk kedalam tempat Fir’aun biasa berkumpul di pagi hari

Tahap awal rencana berhasil, tabut mengalir ke arah kebun tempat Fir’aun menikmati pagi, ketika putri tunggal Fir’aun bermain-main di sungai bersama dayang-dayangnya mereka melihat tabut yang tersangkut di belukar sungai Nil. Para dayang lalu membawa tabut ke hadapan Fir’aun.
Tak ada yang bisa membukanya, tabut baru terbuka setelah Asiyah menedekatinya dan hanya ialah yang bisa membukanya.
Beberapa detik sesudah kejadian aneh adalah sesuatu yang melenakan, Fir’aun akan lupa pada kebijakan yang sedang dilaksanakannya, turut larut dalam euforia kebahagiaan menemukan bayi lelaki.
Asiyah tahu pasti meski Fir’aun sangat mencintai putrinya tetapi tentu saja kehadiran bayi lelaki dinantikannya pula.

Anak perempuan Fir’aun turut larut dalam bahagia, ia memegang bayi dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lengan bayi, spontanitasnya adalah memegang luka-luka borok yang terdapat di tubuhnya, dan itulah yang ia lakukan setelah memegang bayi, keajaiban terjadi, lukanya seketika itu hilang.
Euporia terjadi untuk kedua kalinya, kesembuhan yang dinanti selama ini.
Euporia kedua ini bukan tanpa rencana, cara penyembuhan seperti yang terjadi telah dikisahkan banyak peramal.

Asiyah merekam semua dengan baik, ketika melihat sosok bayi Musa, pikiran terletak antara harapan dan taktik. Rasa cinta pada musa yang telah tumbuh melahirkan harapan, bahwa makhluk yang pernah diombang-ambing lautan yang keringatnya bisa menyembuhkan putri Fir’aun adalah bayi yang baru saja ditemukan dayang-dayangnya.
Rencana mencipta euporia yang berhasil.

Euporia itu tidak lama, para algojo penjagal selalu bersiaga dengan kabar bayi yang terlahir ditahun itu.
Mereka kemudian mendatangi Fir’aun dan membuat Fir’aun tersadar.
Bayi diperiksa dengan seksama, dan teridentifikasi dengan jelas bahwa itu adalah dari kalangan Bani Israil.
Namun apa daya, euporia telah tercipta, menutupi hati dengan keraguan, putri kesayangan telah sembuh. Taktik jitu Asiyah berhasil

Tarikan antara rayuan wanita pendamping dan gemuruh para menteri dan algojo,
Para algojo kehilangan kengototan, kini tawaran menjadi dua, tidak hanya membunuh bayi yang ada dihadapan, mereka mendengungkan “bunuh atau buang kembali ke sungai”
Fir’aun sesungguhnya teguh pada titahnya, ia menetapkan bahwa keputusannya adalah membunuh bayi bani Israil, yang ternyata masuk jantung pertahanannya.
Jurus pamungkas diketahui Asiyah, ia tahu bahwa Fir’aun mendamba hadirnya seorang Qurrata ‘Ayun, seorang penyejuk hati, maka Asiyah berujar dengan lembut
“Jangan membunuhnya, bisa saja ia bermanfa’at buat kita, kita jadikan ia anak angkat, agar ia menjadi penyejuk hati untuk ku dan untukmu”

Rayuan wanita yang tak dapat ditolaknya, wanita beretika tinggi, yang memiliki pesona luar biasa,
Akhirnya jawaban Fir’aun : “bayi itu untukmu”

Ini benar-benar cara komunikasi yang elegan
Bisa dipakai juga dalam dunia pengajaran

Cinta Asiyah, love you bunda, semoga berkumpul denganmu
Semoga mengunjungi rumah yg pernah engkau minta kepada Allah

Semoga Allah menjadikan aku mengikuti jejakmu

Hakikat kata-kata

Bismillahirrahmaanirrahim

Hari-hari yang dipenuhi dengan pencarian

pencarian hakikat makna kehidupan

saya diusia 34 tahun, dengan segala problematika hidup yang menimpa
belum bisa dibilang “sukses” ,
apalagi bebas finansial, hehe
banyak hal-hal “yang masih ditahan oleh Allah”
yang rahasia hikmahnya diketahui beriringan dengan berjalannya waktu

Meski sejak muda, sejak kecil, teman-teman sudah melihat saya sangat agamis
tapi saya keluarga bukanlah dari keluarga “ulama”

semuanya harus dipelajari,
dapat dikatakan dari nol

maka pencarian hakiki dimulai setelah modal ilmu “dari sekolah sampe kuliah” di dapat

pencarian itu melabuhkan kesimpulan pada
awal mula semuanya adalah
MEMPERBAIKI KATA-KATA,

sebab :
“Tidaklah seseorang mengucapkan suatu kata-kata kecuali disisinya ada Raqib ‘atiid (pengawas pencatat)”
(Qaaf : 18)

Istilah Raqib Atid sudah dikenal sejak kecil sebagai nama Malaikat pencatat amalan,
dan ternyata “amalan” yang dimaksud adalah perkataan

berat merenungkan ternyata perkataan itu mendapat “perhatian spesial”
Berkata-kata harus bermakna, karena itu termasuk pusat perhatian para malaikat

Kata-kata selain dicatat, ia memiliki efek dan khasiat tertentu
demikianlah hasil perburuan mengarahkan persepsi

dimulailah perburuan tentang perkataan-perkataan mulia
yang memiliki efek khasiat baik bagi kehidupan
ketika kita sudah mengerti dengan hakiki kata-kata yang memiliki khasiat baik
maka, “perkataan kita dalam bergaul akan terarahkan sebaik-baiknya, Allah akan menunjukkan jalan terang kepada perkataan”

mengingat resiko pencatatan amalan yang dimulai dari “perkataan”
selama kemampuan “berkata-kata” yang baik masih minim
maka “diam lebih utama”

tetapi diam meski utama
berkata-kata yang baik jauh lebih mulia

Jalan terang menuju berbicara dengan cara dan tema yang baik
adalah dimulai dengan banyak menyebut nama Allah

Cerita yang diabadikan oleh Imam as Samarqandy di bukunya Tanbeh al Ghafilin bi Ahaadits Sayyid al Anbiyaa wa al Mursaliin, menginspirasi tentang dzikir kepada Allah yang dapat menjadi jalan penerang dan penjaga lisan

Ibnu Abbas berkata “Sesungguhnya Allah ketika menciptakan arsy memerintahkan para malaikat pemikul arsy untuk memikulnya, Para Malaikat sangat terbebani dengan beratnya arsy, mereka kepayahan.
Allah kemudian berkata pada mereka, katakanlah “subhaanallah”
Merekapun mengatakan “Subhaanallah”
kata-kata itu pun menunjukkan khasiatnya, arsy yang berat tak terasa lagi, semuanya menjadi ringan,
maka merekapun mengucapkan SUBHAANALLAH tiada henti.

Hingga Allah menciptakan Adam, dan Adam bersin,
Allah lalu mengilhamkan pada Adam agar berkata “Alhamdulillah”
Adam pun mengatakan ALHAMDULILLAH
seketika Adam mengucapkan kata-kata tersebut, Allah menjawabnya : Tuhanmu menyayangimu, karena kasih sayanglah Aku menciptakanmu

sontak para Malaikat terkagum-kagum dengan jawaban Allah atas perkataan Adam, mereka pun memahami arti penting dari perkataan Adam, arti penting Alhamdulillah.
mereka lalu berkata : “Kalimat kedua yang agung dan mulia, tidak layak bagi kita melalaikannya,
maka merekapun memasukkan kata kedua ini, sehingga setelah itu mereka berkata sepanjang waktu : SUBHAANALLAH ALHAMDULILLAH

Hingga kemudian Allah mengutus Nuh, dan zaman Nuh adalah awal permulaan “patung-patung disembah”
Allah memerintahkan kepada Nuh agar menyuruh manusia dizamannya untuk berkata “Tiada yang disembah kecuali Allah – Laa Ilaaha Illa Allah” maka Allah akan ridha pada mereka

Mendengar perkataan Allah, bahwa dengan berkata ‘Laa Ilaaha Illa Allah, maka Allah akan ridha”
Para malaikat pun riuh rendah : “Ini perkataan ketiga yang agung dan mulia, tidak layak bagi kita melalaikannya, maka merekapun menggabungkan dengan dua perkataan pertama.
Sesudah itu para malaikat berkata sepanjang waktu : subhaanallah walhamdulillah wa laa Ilaaha Illa Allah

Hingga datang zaman Ibrahim,
Allah kemudian memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya, yang kemudian diganti dengan domba
tatkala melihat domba, nabi Ibrahim sangat gembira lalu berkata “Allahu Akbar”
Kata-kata yang diucapkan nabi Ibrahim membuat para malaikat riuh rendah kembali,
mereka berkata : Ini kalimat keempat, maka mereka menambahkan sehingga berkata sepanjang waktu
“subhaanallah wa alhamdulillah wa laa Ilaaha Illa Allah wa Allahu Akbar”

Ketika Jibril mengisahkan peristiwa ini kepada nabi Muhammad, nabi Muhammad terkagum-kagum dan mengomentarinya ‘Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah al ‘Aliyy al ‘Azhim”

Jibril pun memerintahkan, “tambahkan pada yang sebelumnya hingga menjadi 5 kalimat

Kisah latar belakang perkataan-perkataan yang mulia ini diperkuat dengan suatu rangkaian cerita, saat Israfil turun kebumi
turunnya Israfil yang bikin kaget seluruh malaikat, ketakutan bahwa itu terjadinya kiamat, ternyata Israfil turun dengan seperangkat test dan perintah untuk nabi Muhammad, pengen ngumpulin keseluruhan cerita ini,
cerita yang dikisahkan nabi Muhammad terpisah-pisah

Israfil berkata : Wahai Muhammad ucapkanlah kalimat-kalimat berikut

dzikir_keren

Jika menyebutkan kalimat-kalimat tersebut satu kali saja dalam sehari,
maka
Kalimat-kaliamt tersebut memiliki efek :
1. dikategorikan tukang banyak dzikir
2. mengucapkan dzikir yang paling utama
3. dikasih satu petak ladang di surga
4. berguguran dosa-dosanya, seperti daun-daun yang berguguran di musim gugur
5. Allah memandangnya, dan barang siapa yang berhasil merebut pandangan Allah, maka Allah tidak akan mengadzabnya

Kisah diatas disarikan dari Tanbeh Ghafilin – Imam as Samarqandy no 616

Oh kata-kata…..
demikianlah hakikat kata-kata
meresapi maknanya, maka 5 kata mulia itu menjadi sesuatu yang sangat berharga

hari-hari yang bikin gusar,
ketika promo-promo bisnis-bisnis, banyak yang menyerempet kepada “kata-kata yang menunjukkan kekufuran”
sedih
semoga segera, bisa bikin rilis , penelitian sederhana, menyelamatkan ummat dari tempat bisnis “kotor”, yang sejengkal demi sejengkal mengarahkan pada “kekufuran”

sebab, jangankan bisnis “al kisah suatu ketika Rasulullah di Hudaibiyyah, sesudah turun hujan, mengatakan sesungguhnya seorang hamba berada dipagi hari ada dalam keadaan mukmin ada dalam keadaan kafir”
semua terhenyak, seorang hamba Allah tapi kafir?
Rasulullah melanjutkan “jika saat hujan berkata ini adalah karunia Allah, maka ia beriman padaku dan kafir kepada bintang. Adapun jika ia berkata hujan turun, karena saat ini bintang ini berada pada suatu posisi x terhadap bumi yang menyebabkan musim hujan, maka sesungguhnya ia kafir padaKu dan beriman pada bintang

do’aku : “Semoga Allah mengampuni Ummat Muhammad, menyayangi Ummat Muhammad, memberikan rizqi dari jalan terbaik, yang dibalut dengan kata-kata baik, kata-kata keimanan, dijauhkan dari kata-kata yang menjerumuskan pada kekufuran”
Aamien Yaa Rabb al ‘Aalamien

wallahu ‘alam bi ash showab

Konstantin, oh Konstantin, malangnya nasibmu

Bismillahirrahmaanirrahim

Suatu Hari saya menulis status FB begini :

aku tak dapat menuduh kaisar Konstantin sebagai “agen paganisme keberhalaan”,

karena, suatu fakta yang tampak “kebetulan bersamaan” bisa jadi penyebabnya berbeda.

misal : “Sebelum dipindahkan, Adalah perintah Allah kepada Rasulullah untuk shalat menghadap baitul maqdis. Orang Yahudi bilang ummat islam ikut2an orang yahudi”. Faktanya selama 16 bulan sejak hijrah, Rasulullah shalat hanya menghadap baitul maqdis. Menurut ummat Islam itu adalah bentuk keta’atan kepada Allah, kata orang yahudi itu ikut-ikutan.

Nah dalam kasus “Kaisar Konstantin” yang mengadopsi agama Kristen menjadi agama resmi Byzantium, banyak tuduhan padanya menjadi pencampur Kristen dengan agama pagan, dari manakah sumber persepsi ini? bagaimanakah jika kelak dihadapan Allah terbukti bahwa Konstantin adalah seseorang yang sungguh-sungguh dihatinya ada keimanan pada nabi Isa?

atas status saya di fb diatas, sahabat saya di sma menulis komentar begini :

Ko mempertahankan seolah2 konstantin n konsep trinitas diperbolehkan, sdh tau jelas haram karena mempersekutukan Alloh, jangan memahami sejarah karena sejarah mereka sembunyikan sampai bertahun2 sampai mereka anggap kebohongan jd kebenaran, toh umat kristiani dan yahudi sdh membohongi manusia sedunia, kajilah sejarah dari Alquran, bukan sebaliknya, antum semua bergerak di bidang edukasi, kajilah dgn benar jgn mengikuti jejak mereka (kristiani dan yahudi) sehingga membenarkan langkah mereka

dan diujungnya begini :

Esensi dasar nya sih ak titip jangan sampe nyari sejarah yang bisa membenarkan kebohongan mereka, Islam benar tapi tidak dipaksakan kebenaran nya, mereka salah biarlah berlalu dalam kesalahan nya jangan dicari pembenaran nya, itu pesan saya buat tmen2 di dunia edukasi krn bukan ranah saya

Dari pertanyaannya tersebut,
Saya bertanya pada diri sendiri.

kenapa saya begini?

banyak hal yang menurut saya, mesti diperbincangkan
banyak hal yang menunjukkan harus mempelajari tema ahli kitab dengan sebaik-baiknya
sebab Al Qur’an tidak berbicara kesalahan ahli kitab dengan generalisir saja

sesungguhnya al Qur’an berbicara sangat detil, kedetilan yang tidak bisa saya abaikan.

Tentang konsep Trinitas yang sekarang paling banyak diyakini kalangan kristen,
sebagian besar orang Indonesia,berkeyakinan bahwa orang Romawi (Konstantin) lah yang menyusupkannya pada Kristen.
padahal buku-buku sejarah islam terpercaya tidak berbicara demikian.

Al Qur’an tidak pernah merujuk kesalahan trinitas, disebabkan “satu orang”
Konstantin adalah “penerima jadi” yang memoderatori kekisruhan

Atas banyaknya buku-buku yag beredar yang menyalahkan konstantin atas perannya dalam percampuran paganisme dan Kristen,
perlu kiranya saya melakukan pertanyaan-pertanyaan Kritis

saya tidak bisa menelan bulat-bulat, seperti apa yang ditulis Dan Brown
karena “fakta” boleh akurat, tetapi “penyebab” yang melatar belakangi bisa “tergantung sudut menyimpulkan”

seperti saya bilang diawal dalam kasus kiblat ummat Islam,

atau dalam kasus yang pernah menimpa Bunda Aisyah,
faktanya Bunda Aisyah naik onta “lelaki lain”
dituntun onta itu, oleh seorang lelaki.
sudut pandang “hati yang berpenyakit” melihat peluang gosip
maka tersebarlah bunda Aisyah yang mulia, berbuat tidak senonoh
dan justru gosip inilah yang diterima secara masal
gosip yang menelan korban 3 orang kaum mukminin dihukum 80 cambukan karena penyebaran berita bohong

itu kisah Aisyah, adalah kisah yang terjadi saat orang-orangnya masih hidup,

apalagi tentang kisah sejarah, yang kita hanya bisa menelusuri “jejaknya”
bukti-bukti yang sulit dikonfirmasi.
bertambah berat lagi, “wahyu telah tidak turun”

Konsep trinitas itu, telah al Qur’an sebut,

point besarnya : “kenapa para sahabat tidak bertanya siapa pencetus konsep trinitas?”

ayat-ayat menunjukkan bahwa trinitas adalah kesalahan “kolektif”

maka saya tidak bisa menuduh Konstantin sebagai “agen pagan”
apapun kesalahan yang dilakukannya, kelak akan kita ketahui di akhirat.

berita-berita, macam yang ditulis dan Brown di Da Vinci Code, atau berita lainnya
tidak dapat saya telan bulat-bulat.

Bangsa Romawi , adalah bangsa yang menerima “janji superioritas”
karena kasih sayang yang mereka tunjukkan pada nabi Isa.
“cara berkasih sayang” dan “mengikuti” nabi Isa yang salah saja, bisa melahirkan “superioritas demikian

ini adalah tentang janji Allah dalam surat Ali Imran ayat 55
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

ubek-ubek buku tafsir tentang ayat ini, tentang bagian yang ditebalkan,
ada yang menyebut yang berada di atas itu adalah “Romawi”
Dalam perspektif kita “Romawi salah dalam cara mengikuti Nabi Isa, yang mereka miliki hanya rasa sayang”
mereka dalam kesalahan , mendapat janji Allah, karena “teks nya demikian”, sedikit rasa sayang kepada nabi Isa melahirkan superioritas

apalagi, jika kita menyayangi nabi Isa, dan mengikutinya dengan cara yang benar
sesuai cara yang ditunjukkan Al Qur’an
Rasulullah telah menyampaikan “Kita lebih berhak atas Isa dari siapapun, karena antara aku dengannya tidak ada nabi lain, dan dia adalah khalifahku pada ummatku sesudahku

Bagaimana kita mewujudkan, keberhakkan kita atas nabi Isa?
ini adalah sesuatu yang harus digali
mencari bagaimana “mengikuti nabi Isa dengan cara yang Al Qur’an tunjukkan”

maka dari itu,
semua ini harus diungkap, mengambil apa yang “benar” dari sikap bangsa Romawi, dan membuang yang salah.

juga
saya tidak mau diakhirat malu sama Konstantin, kalau sekiranya ternyata dia tidak bersalah,
dan termasuk kalangan yang beriman, saya akan sangat malu pernah menuduhnya

Nah, point ini yang harus selalu kita ingat, manusia akan dikumpulkan, dan dihadapkan pada hisab dan pengadilan.
Kita akan berjumpa Konstantin
jadi saya perlu memeriksa semua bukti sejarah dan menyimpulkan

akan halnya bangsa Romawi dan kekuatannya, Rasulullah telah condong hatinya pada bangsa Romawi, sebagaimana dalam perang Romawi-Persia tahun 615 Masehi.

Rasulullah juga pernah meminta agar Romawi dijadikan bagian integral ummat Islam

tapi ternyata ….
Bangsa Romawi ini menjadi “kunci” atas peristiwa kiamat
Roma, Vatikan, baru akan tertaklukan 5-6 tahun sebelum Dajjal keluar

berbeda dengan bangsa Persia,
yang telah tertaklukan beberapa saat saja, setelah Rasulullah wafat
keseluruhan Persia tertaklukan dizaman Utsman Bin Affan
meskipun beberapa kali terjadi pemberontakan

Atas fenomena yang akan terjadi setelah wafatnya, Rasulullah bersabda “orang non arab yang paling berbahagia dengan Islam adalah Persia, dan orang non Arab yang paling menderita tersebab islam adalah orang Romawi” (Jaami’ Ma’mar Bin Rasyid 19925)

Wallahu ‘alaam bish showab

Nabi Isa dan Sejarah Awal Kristen (4)

Bismillahirrahmaanirrahim

dalam tiga tulisan sebelumnya, terlihat bahwa bibit konsep trinitas telah ada bahkan sejak nabi Isa masih hidup.

Manusia tidak tahan saat melihat banyak keajaiban terjadi, daya nalar nya akan berkata “orang ajaib” bukan “manusia biasa”

AL Qur’an menyebut nabi Isa memiliki para Hawariyyin, 14 orang ada juga yang menyatakan 12 orang
Dalam catatan Islam, baik dalam al Qur’an maupun dalam hadits , sedikit sekali berbicara tentang para Hawariyyin.

Dalam catatan kristen, murid no 1 nabi Isa , yang dianggap pemimpin penerusnya adalah Peter.
Peter, dengan banyak tekanan yang menimpa di Palestina, bergerak terus ke utara hingga mencapai Roma, hidup dan mendakwahkan Kristen di Roma, kemudian wafat di Vatikan.

Dogma dan ajaran Kristen terus melaju bersama waktu
perbedaan-perbedaan yang ada terus mengalami friksi yang hebat.

Kelompok paling ekstrim adalah yang menganggap bahwa Isa adalah Allah, kelompok Jacob

Kemudian kelompok yang paling banyak adalah kelompok yang menganggap bahwa Isa adalah anak Allah. Kelompok kedua ini beragam alirannya.

(MAHA SUCI ALLAH DARI SEGALA MACAM SIFAT YANG MEREKA NISBAHKAN)

kelompok yang ketiga dan sangat sedikit, yaitu kelompok kristen yang bertauhid.

Ketika Kaisar Romawi tahun 300 an, Konstantin mengadopsi Kristen menjadi agama resmi, corak ragam yang diambilnya adalah pendapat kedua, dengan tipikal keyakinan yang menganggap ada Tuhan Bapak, tuhan anak, dan ruh kudus, juga menyembah Maryam.

Tatkala islam datang semua kelompok dikomentari al Qur’an dengan cara yang berbeda

Pada kelompok yang menyatakan bahwa Allah adalah Isa, Allah memberikan peringatan sangat keras. Peringatan akan adzab yang tanpa peluang untuk dapat keluar darinya.
Kita dapat melihat tipikal ancaman bagi kelompok ini dalam surat al Maidah ayat 17 dan 72

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Maidah : 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al Maidah : 72)

Pada kelompok ini, seolah tiada harapan akan keimanan mereka. Orang-orang yang akalnya tidak dipergunakan untuk memahami “makna dari sebuah keajaiban”.
mereka telah diambil sumpahnya untuk tidak menyekutukan Allah dan ternyata tidak tahan dengan ujian “keajaiban-keajaiban nabi Isa”

Pada Kelompok kedua yang menyatakan bahwa, Isa adalah anak Allah, yang berarti ada Tuhan Bapak, roh kudus, dan menyembah Maryam, ada label yang Allah sematkan pada mereka, bahwa mereka juga telah kafir.
tetapi saat menelusuri ayat-ayat Al Qur’an yang terkait kelompok ini, seolah ada “harapan” bahwa mereka menghentikan semua hal ini.

misal dalam surat an Nisa ayat 171 :
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An Nisaa : 171)

kemudian dalam surat al Maidah ayat 73
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al Maidah : 73)

puncak dari “pengadilan”, bagi kaum nashrani yang menganggap Isa adalah anak Allah, dan mereka menyembah Maryam dan Roh kudus, adalah saat semua hal ini dipertanyakan kepada Isa.

Dalam al Qur’an disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 116-117

“Dan ketika Allah berkata: “Wahai ‘Isa putera Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al Maidah : 116-117)

Dari ayat diatas kita melihat, bahwa kelompok yang sangat “ekstrim” dalam kesesatan, yaitu menyebut bahwa Allah adalah Isa, sudah tidak pernah disebut lagi. mereka adalah seburuk-buruk kelompok.

Adapun pada kelompok yang memilih meyakini trinitas, Allah mengadakan pengadilan bagi mereka, dengan nabi Isa sebagai “saksi”. Keberadaan saksi adalah membuka suatu peluang “pembelaan” atau justru memperberat.

perhatikanlah ayat 118 surat al Maidah, tentang apa yang dilakukan nabi Isa bagi kelompok trinitas ini :

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (AL Maidah : 118)

Konsep Trinitas : Tuhan Bapak-Jesus-Roh Kudus, dan juga menyembah Maryam disaat yang sama,
adalah konsep yang berkembang pesat hingga saat ini.

Karena harapan yang terbentang luas inilah, maka Rasulullah sangat berhati-hati dalam mendebat kaum Nashrani.
surat-surat yang “sangat lembut” diberikan kepada Heraklius sang kaisar, Muquqis gubernur Mesir,
mereka adalah tipikal-tipikal orang kristen yang berkeyakinan demikian.

pun meskipun orang kristen najran (Yaman) yang ditenggarai memiliki keyakinan sangat ekstrim, bahwa mereka meyakini Isa adalah Allah, saat mereka datang untuk “berdebat” dengan Rasulullah,
jejak debatnya dapat kita ketahui dalam surat Ali Imran

Harapan akan berimannya orang-orang Nashrani adalah suatu harapan yang sangat besar,
adalah suatu janji dari Allah bagi mereka yang beriman pada nabi Isa :

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya” (Ali Imran : 55)

maka dari itu , harapan akan keislaman mereka adalah sesuatu yang harus ditumbuhkan,
berhati-hati dalam berdebat, dengan kalimat santun, yang meluruskan.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“. (Ali Imran : 64)

Adalah alkisah, seorang prajurit Islam melawan pasukan Romawi. saat prajurit islam tertawan, setiap kali shalat ia membayar tebusan kepada seorang pasukan Romawi. Ketika tebusan terpenuhi, ia memilih pulang ke negeri Islam. sebelum pulang sang prajurit berkata kepada salah seorang pasukan itu : “kita akan berpisah, dan semoga Allah mewafatkan engkau dalam agama yang diridhaiNya”

kata-kata yang langsung merasuk dalam hati si anggota pasukan Romawi, mereka tak banyak berdebat, tak ada saling melukai dalam ejek-mengejek ibadah.
dengan kata-kata cinta yang menyentuh hati, anggota pasukan Romawi itu masuk Islam

wallahu ‘alam bishshowab